Kapolda Sumbar Irjen Pol Toni 1

Polda Sumbar Banjir Apresiasi Dari Masyarakat Berhasil Ungkap Akun Palsu Penyebar Hoax

Sumatera Barat Headline Muhasabah Sosok Bhayangkara
Ungkap Akun Palsu Penyebar Hoax, Polda Sumbar Banjir Apresiasimascipoldotcom  – Senin, 22 Juni 2020 (1 Dzulqoidah 1441)

Padang – Terungkapnya akun palsu penyebar hoax atau berita bohong Maryanto oleh Kepolisian Daerah (Polda) Sumatra Barat (Sumbar) membuat masyarakat dan tokoh-tokoh Kabupaten Agam merasa lega atas kinerja pihak kepolisian, ucapan terima kasih dan apresiasi terus mengalir.

Seperti yang diungkapkan oleh tokoh niniak mamak yang merupakan Ketua Keluarga Besar Rang Chaniago (KBRC) Kabupaten Agam dan Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang juga merupakan Ketua Suku Koto, Datuk Simarajo Novi Endri.

“Saya atas nama masyarakat mengucapkan ribuan terimakasih kepada Pak Kapolda, sudah bertahun-tahun kami menunggu penangkapan pelaku di balik akun bodong ini,” jelas Ketua KBRC Agam.

Ketua KBRC Agam juga menambahkan, keberhasilan tim siber Direskrimsus Polda Sumatera Barat mengungkap akun palsu ini menjadi perbincangan di tengah masyarakat di Kabupaten Agam.

Sementara itu, Ketua KAN yang juga merupakan Ketua Suku Koto, Datuk Simarajo Novi Endri, mengaku dua kali difitnah oleh akun palsu itu. “Pertama saya disebut sebagai pemecah-belah nagari dan kedua dituduh menghasut masyarakat menghambat pembangunan,” terang Ketua Kerapatan Adat Nagari.

Sebelumnya Polda Sumatera Barat mengungkap peran tiga tersangka yang diduga melakukan pencemaran nama baik terhadap anggota DPR, Mulyadi, melalui akun facebook palsu Mar Yanto itu.

Kabid Humas Polda Sumatera Barat,  Kombes Pol. Stefanus Sateke Bayu Setianto, S.I.K., menyampaikan ketiga tersangka yang ditangkap yaitu Eri Syofiar (58/PNS di Kabupaten Agam), kemudian Robi Putra (33/hononer di Kabupaten Agam), dan Rozi Hendra (50/wiraswasta).

“Syofiar ini berperan membuat akun facebook palsu dengan nama Mar Yanto, kemudian Hendra berperan sebagai aktor yang mem-posting di akun Mar Yanto” terang Kabid Humas Polda Sumbar.  (wm/bq/hy/Div Humas Polri)).

———

Renungan

MENJAUHI ORANG-ORANG YANG SUKA GHIBAH

Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya mempunyai seorang teman yang sering berbicara mencemarkan nama baik orang lain. Saya sering menasehatinya tapi dia tetap tidak mau berubah. Perbuatannya itu sudah menjadi kebiasannya. Dan kadang-kadang dia melakukannya dengan alasan niatnya baik. Apakah orang seperti dia boleh kita kucilkan?

Jawaban

Membicarakan dan mencemarkan nama baik kaum muslimin yang tidak mereka sukai adalah merupakan kemungkaran yang besar dan termasuk ghibah yang diharamkan bahkan termasuk dosa besar, berdasarkan firman Allah.

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Dan janganlah sebagian kalian ghibah (menggunjing) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kalian akan merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang” [Al-Hujurat/49: 12]

Dan juga berdasarkan sebuah hadits riwayat imam Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa itu ghibah (menggunjing)?. Para sahabat menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Ghibah adalah engkau membicarakan tentang saudaramu sesuatu yang dia benci. Ada yang bertanya. Wahai Rasulullah bagaimana kalau yang kami katakana itu betul-betul ada pada dirinya?. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Jika yang kalian katakan itu betul, berarti kalian telah berbuat ghibah. Dan jika kalian katakan tidak betul, berarti kalian telah memfitnah (mengucapkan kebohongan)” [HR Muslim : 4690]

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih.

لَمَّا عُرِجَ بِيْ, مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَ صُدُوْرَهُمْ فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلآء يَا جِبْرِيْلُِ؟ قَالَ : هَؤُلآء الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسَ وَيَقَعُوْنَ فِيْ

“Ketika beliau di mi’rajkan, beliau melewati sekelompok orang yang mempunyai kuku-kuku dari tembaga. Mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri dengan kuku tembaga tersebut. Lalu beliau bertanya kepada Jibril : Wahai Jibril siapa mereka itu?. Jibril menjawab : Mereka adalah orang-orang yang sering makan daging manusia, dan mereka yang suka membicarakan kejelekan orang lain” [HR Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad jayid dari Anas Radhiyallahu ‘anhu]

Al-Allamah Ibnu Muflih berkata : Sanad hadits tersebut shahih. Beliau berkata : Dan Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad hasan sebuah hadits dari Abu Hurairah secara marfu.

أن من الكبائر استطالة المرء في عرض رجل مسلم بغير حق

“Sesungguhnya termasuk riba yang paling besar adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan yang hak” [HR Abu Dawud 4234]

Oleh karena itu wajib bagi anda dan selain anda dari kaum muslimin untuk tidak duduk-duduk dan berbincang-bincang dengan orang yang sedang menggunjing kaum muslimin. Sebaiknya kita harus menasehati dan mengingkari perbuatan tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

“ Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, rubahlah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan lidahnya. Jika dia tidak mampu, rubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah iman” [HR Muslim 70]

Jika kita tidak sanggup mencegah dan menasehati mereka, maka segeralah kita pergi dan tidak duduk-duduk bersama mereka. Ini termasuk cara mengingkari perbuatan mereka. Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan menolong mereka dalam meraih kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhhirat.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Tsani, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Edisi Indonesia Fatawa Bin Baz II, Penjerjemah Abu Abdillah Abdul Aziz, Penerbit At-Tibyan Solo]