235 Dosen dan Tenaga Pendidik AAL dan Kodiklatal Terima Pengarahan Kadisdikal

235 Dosen dan Tenaga Pendidik AAL dan Kodiklatal Terima Pengarahan Kadisdikal

Headline Jawa Timur Kombat TNI Polri & Abdi Negara Muhasabah

235 Dosen dan Tenaga Pendidik AAL dan Kodiklatal Terima Pengarahan Kadisdikal 1mascipoldotcom, Jum’at, 24 Juli 2020 (03 Dzulhijah 1441 H)

Surabaya – Sebanyak 235 dosen dan tenaga pendidik dijajaran Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Kodiklatal, menerima pengarahan dari Kepala Dinas Pendidikan Angkatan Laut (Kadisdikal) Laksamana Pertama TNI Dr. Ivan Yulivan, S.E.,MM.,CHRMP.,CTMP., M.Tr (Han) di Gedung Maspardi, Kesatrian AAL Bumimoro, Surabaya, Jumat (24/7/2020).

Sebelum memberikan pengarahan, Kadisdikal diterima Gubernur AAL Laksda TNI Edi Sucipto, S.E.,M.M, didampingi Wagub AAL Brigjen TNI (Mar) Endi Supardi dan pejabat Utama AAL lainnya di Ruang Transit Gedung Maspardi AAL.

Mengawali pengarahannya, Kadisdikal menjelaskan perintah Harian Kasal, Laksamana TNI Yudo Margono, S,E.,M.M. yang salah satu poinnya menekankan untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan profesional, serta tangguh dari segala ancaman.

Pembangunan SDM TNI Angkatan Laut yang unggul lanjutnya, meliputi beberapa aspek mulai dari proses rekrutmen, pendidikan, kesejahteraan prajurit dan manajemen SDM (penempatan jabatan dan pengendalian karier).

Menurutnya, sejarah membuktikan bahwa dalam keadaan perang maka kemenangan amat sangat bergantung pada kemampuan para pakar perang, baik perencanaan strategis, komando lapangan dan semangat serta ketangguhan para prajurit itu sendiri yang berhadapan dengan musuhnya, disamping senjata dan teknologi yang digunakan.

Untuk itu lanjutnya, Kasal memberikan atensi terhadap bidang pendidikan yaitu dengan mengutamakan untuk pengisian pengawak KRI, dan satuan tempur (pasukan khusus, penerbang, kapal selam, dll), kemudian persingkat pendidikan (Diktukba & Diktukpa), mengadakan Diktukpakat, Diklihpa, utamakan para pengawak KRI, satuan tempur, satuan terpencil luar jawa (Papua dan pulau-pulau terluar untuk pendidikan & kursus), dan reward & punishment bagi prajurit berprestasi.

Semua persoalan SDM prajurit laut tambahnya, menjadi atensi semua pihak/pejabat TNI AL, namun persoalan yang utama adalah “mereka” yang membidangi persoalan “Personel” yang didalamnya meliputi pendidikan dan pelatihan seperti para dosen dan tenaga pendidik yang ada di AAL dan Kodiklatal ini.

“Dosen dan tenaga pendidikan harus terus diperbaiki kualitasnya, mampu menyampaikan cara belajar yang profesional, mempunyai ketrampilan yang menarik guna membangun prajurit TNI AL yang berkarakter kepemimpinan, disiplin, kejuangan dan profesional,” pungkasnya.(Ezl)

———–

Renungan

KEUTAMAAN BERAKHLAK BAIK KEPADA ORANG LAIN TERUTAMA KEPADA ISTRI

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : أَكْمَل الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ … رواه الترمذي وغيره

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan berakhlak baik dalam sikap dan perbuatan, karena hal ini digandengkan dengan kesempurnaan iman. Ini berarti, akhlak yang baik merupakan konsekuensi iman yang benar.[2]

Sebagaimana hadits ini juga menunjukkan bahwa sikap dan perbuatan baik ini lebih utama untuk ditujukan kepada keluarga dan orang-orang yang terdekat dengan kita,[3] apalagi istri kita sendiri. Makna inilah yang ditunjukkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

Dan pergaulilah istrimu dengan (akhlak yang) baik. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allâh menjadikan padanya kebaikan yang banyak [An-Nisâ’/4:19]

Beberapa mutiara faidah yang dapat kita petik dari hadits ini:

1. Imam al-Hulaimi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa baiknya akhlak merupakan (bagian dari) iman dan hilangnya hal ini (dari diri seorang hamba) merupakan (tanda) kurangnya iman. Juga menunjukkan bahwa orang-orang Mukmin bertingkat-tingkat keimanan mereka. Sebagian dari mereka, imannya lebih sempurna dari sebagian yang lain. Oleh karena itulah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya karena Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling sempurna imannya.”[4]

2. Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Hakikat akhlak yang baik adalah mencurahkan kebaikan, tidak mengganggu dan (menampakkan) wajah berseri-seri (kepada orang lain).”[5]

3. Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk berakhlak baik kepada istri dengan selalu menampakkan wajah berseri-seri, tidak menyakiti, berbuat baik dan bersabar dalam menghadapinya.[6]

4. Berakhlak baik kepada istri lebih ditekankan karena kaum perempuan itu lemah sehingga mereka pantas mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lebih.[7] Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada budak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Bersikap lembutlah kepada para wanita”[8].

5. Orang yang tidak bisa berakhlak baik kepada keluarganya maka kepada orang lain tentu lebih tidak bisa lagi.[9]

6. Berakhlak baik adalah termasuk sifat utama orang yang beriman dan bertakwa kepada Allâh.[10]

Semoga ini bermanfaat bagi kita semua.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] HR. At-Tirmidzi, 3/466; Ahmad, 2/250 dan Ibnu Hibban, 9/483. Hadits dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.

[2] Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 4/273

[3] Lihat kitab Bahjatun Nâzhirîn, 1/363

[4] Dinukil oleh Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadîr, 2/97

[5] Dinukil oleh Imam al-‘Azhim Abadi dalam ’Aunul Ma’bûd, 12/286

[6] Lihat kitab Bahjatun Nâzhirîn, 1/363

[7] Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 4/273

[8] HSR. Al-Bukhâri, 5/2281 dan Muslim, no. 2323

[9] Lihat kitab Bahjatun Nâzhirîn, 1/363

[10] Lihat kitab Bahjatun Nâzhirîn, 1/363