Unit PPA Ditarik dan Bergabung Pada Direktorat di Bareskrim Polri

DKI Jakarta Headline Muhasabah

mascipoldotcom – Ahad, 02 Januari 2022 (28 Jumadil Awal 1443 H)

Jakarta – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengupayakan unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) menjadi direktorat tersendiri di Bareskrim Polri. Hal itu untuk memberikan pelayanan optimal ketika terdapat laporan kasus kekerasan kepada perempuan dan anak.

“Kami terus kembangkan akan besarkan Sub Direktorat PPA jadi direktorat sendiri di Mabes Polri,” kata Listyo dalam rilis akhir tahun Polri di Gedung Bareskrim. Jumat (31/12/2021).

Direktorat PPA akan didominasi anggota polisi wanita (polwan). Langkah ini diharapkan turut memberikan kenyamanan pendampingan bagi korban ketika melapor.

“Sehingga, korban nyaman dan ada pendampingan psikologi, diawaki polwan. Sehingga, betul-betul memberikan perlindungan, memberikan pendampingan yang baik,” ujar Listyo.

Polri, kata Listyo, akan berupaya memperbaiki guna memberikan pelayanan yang optimal dan masyarakat diharapkan mendapatkan pelayanan prima dari anggota Korps Bhayangkara.

“Bisa memberikan pelayanan yang lebih baik terhadap korban-korban yang akan melapor,” ucap Listyo. (Wati Ummu Arfi)

_____________

Renungan

HAK-HAK SEORANG IBU ATAS ANAK-ANAKNYA

Allah Ta’ala berfirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” [Lukman/31: 14]

Selain itu, Allah Ta’ala juga berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا  ٢٣ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabb-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” [Al-Israa’/17: 23-24]

Ibnu Katsir rahimahullah (III/39) mengatakan, “Firman-Nya: (فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ) ‘Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.’ Maksudnya, janganlah engkau memperdengarkan kata-kata yang buruk, bahkan sampai kata ‘ah’ sekalipun yang merupakan tingkatan ucapan buruk yang paling rendah.”

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Ada seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?’ ‘Ibumu,’ jawab beliau. Dia bertanya, ‘Lalu siapa lagi?’ ‘Ibumu,’ jawab beliau. Dia bertanya, ‘Lalu siapa lagi?’ ‘Ibumu,’ jawab beliau. Dia bertanya, ‘Lalu siapa lagi?’ Beliau pun menjawab, ‘Bapakmu.’” [Muttafaq ‘alaih].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدًا إِلاَّ أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ.

“Tidaklah seorang anak dapat memberikan balasan kepada orang tua kecuali jika dia mendapatkannya sebagai budak, lalu dia membelinya, kemudian memerdekakannya.” [HR. Muslim].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ.

“Rugilah, rugilah, rugilah orang yang masih mendapati kedua orang tuanya saat telah lanjut usia, salah satu atau keduanya tetapi dia tidak dapat masuk Surga.” [HR. Muslim].

Berbakti kepada Kedua Orang Tua Lebih Didahulukan Atas Jihad dan Hijrah

Yang saya maksudkan dengan jihad di sini adalah jihad yang berhukum fardhu kifayah. Sedangkan jihad yang fardhu ‘ain, maka tidak ada keharusan adanya keridhaan kedua orang tua akan hal tersebut.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Ada seorang laki-laki yang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berjihad, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ.

‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih.’

Beliau pun bersabda:

فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.

‘Maka pada keduanya, hendaklah engkau berjihad (berbakti).’” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Di dalam kitab Subulus Salaam (III/78), ash-Shan’ani mengatakan, “Lahiriahnya sama, apakah itu jihad fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah, dan baik merasa keberatan pada kedua orang tuanya atau tidak. Jumhur ulama berpendapat bahwasanya diharamkan berjihad bagi seorang anak jika dilarang oleh kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya dengan syarat keduanya harus muslim, karena berbakti kepada keduanya adalah fardhu ‘ain sementara jihad tersebut adalah fardhu kifayah, tetapi dalam jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, maka lebih didahulukan jihad.

Jika ada yang mengatakan, ‘Berbakti kepada kedua orang tua adalah fardhu ‘ain juga sementara jihad pada saat diwajibkan, maka ia menjadi fardhu ‘ain. Dengan demikian, keduanya berkedudukan sama, lalu di mana letak pendahuluan jihad?’

Dapat saya katakan, ‘Karena kemaslahatannya lebih umum, di mana jihad dimaksudkan untuk menjaga agama sekaligus membela kaum muslimin, sehingga kemaslahatannya bersifat umum, maka yang didahulukan atas yang lainnya dan ia lebih didahulukan atas kemaslahatan penjagaan fisik. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan keagungan berbakti kepada kedua orang tua, dimana ia lebih utama daripada jihad (yang hukumnya fardhu kifayah).’”

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Ada seorang laki-laki menghampiri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berucap, ‘Aku berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan berjihad dengan mengharapkan pahala dari Allah.’ Beliau bertanya, ‘Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup?’ Dia menjawab, ‘Ya, masih, bahkan kedua-duanya.’ Maka beliau bersabda:

فَتَبْتَغِي اْلأَجْرَ مِنَ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمْ.

‘Berarti engkau menginginkan pahala dari Allah?” Dia men-jawab, ‘Ya.’

Beliau bersabda:

فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا.

‘Kembalilah kepada kedua orang tuamu, lalu pergaulilah mereka dengan baik.’” [HR. Muslim].

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, dia berkata:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ، قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.

“Aku pernah tanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab, ‘Shalat pada waktunya.’ ‘Lalu apa lagi?’ Tanyaku. Beliau menjawab, ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Lebih lanjut, kutanyakan, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Jihad di jalan Allah.’” [Muttafaq ‘alaih].

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Ada seseorang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berucap, ‘Aku berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan membiarkan kedua orang tuaku menangis.’ Maka beliau bersabda,

اِرْجِعْ عَلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

‘Kembalilah kepada keduanya, lalu buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis.’” [HR. Abu Dawud dengan sanad yang hasan].

[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu’minaat, Edisi Indonesia Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]