Tim Sar Gabungan Temukan Balita Korban Terahir Kecelakaan Tunggal Di Kalimalang 3

Tim Sar Gabungan Temukan Balita Korban Terahir Kecelakaan Tunggal Di Kalimalang Dalam Keadaan Meninggal Dunia

DKI Jakarta Headline Muhasabah

Tim Sar Gabungan Temukan Balita Korban Terahir Kecelakaan Tunggal Di Kalimalangmascipoldotcom, Jum’at 10 Juli 2020 (19 Dzulqoidah 1441 H)

Bekasi – Nabila Farahma Mida (3) merupakan salah satu korban terakhir yang ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Jumat (10/7/2020) pada siang ini sekitar pukul 13.53 WIB.

Korban ditemukan kurang lebih 1 KM dari lokasi kejadian setelah sebelumnya terbawa arus Kalimalang,”Tim SAR gabungan langsung melakukan evakuasi terhadap jasad korban untuk dibawa menuju RSUD Kota Bekasi.

“Berkat kerjasama yang baik dari tim SAR gabungan akhirnya korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dan mewakili pemerintah kami mengucapkan turut berbela sungkawa atas kejadian ini.” Ungkap Hendra Sudirman, S.E., M.Si., Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta selaku SAR Mission Coordinator (SMC) dalam operasi SAR.

Tim Sar Gabungan Temukan Balita Korban Terahir Kecelakaan Tunggal Di Kalimalang 2Beliau juga mengucapkan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada seluruh personil tim SAR gabungan yang telah secara maksimal meskipun dalam suasana pandemic covid 19 melakukan pencarian hingga korban ditemukan.

“Sebelumnya tim SAR gabungan dari pagi hingga siang tadi melakukan proses pencarian dengan membagi area pencarian menjadi 2 (dua) dimana pada SRU pertama melakukan penyisiran menggunakan rubber boat dari lokasi kejadian hingga Jembatan Kartika Eka Paksi sejauh 3 KM, SRU kedua melakukan penyisiran secara visual dari lokasi kejadian sampai Jembatan Lampiri sejauh 1 KM.

“Sementara operasi SAR gabungan melibatkan puluhan personil yang terdiri dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta, Polsek Bekasi Kota, BPBD Kota Bekasi, TAGANA Kota Bekasi, Pramuka Peduli , Keluarga berantakan Rescue, Repotin, Korgad, Jana buana, Panakawan, Lazanja, dan UAR. Kemudian untuk diketahui pada Jum’at sekitar pukul 03.00 WIB,

Mobil Innova berwarna hitam dengan nomor polisi B 1110 BZH terperosok ke dalam Kalimalang, kelurahan Jatibening, kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi.

“Diduga supir mengantuk, mobil yang bermuatan 4 penumpang terperosok ke dalam Kali Kalimalang, 2 (dua) orang atas nama Sutaryo (26) dan Marifatul Kamila (10) berhasil menyelamatkan diri, sedangkan 2 (dua) orang penumpang lainnya atas nana Ustadzah Samsiah dan Nabila (3) terbawa arus dan tenggelam, Ustadzah Samsiah ditemukan meninggal dunia pada radius 50 meter dari lokasi kejadian namun nabila (3) hanyut terbawa arus,”jelasnya Irin (Hendrajaya/Humas Kantor Pencarian Dan Pertolongan Jakarta)

 

Polsek Pondok Gede

Selamat Pagi izin melaporkan hari ini Jum’at tanggal 10 Juli 2020 sekira Pkl. 03.00 Wib telah ditemukkan Mobil Toyota Innova tercebur ke dalam Kalimalang Kel. Jatibening Kec. Pondok Gede Kota Bekasi

Sopir
Sutaryo, Islam, (Alumni Pesantren Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor) , cilacap 16-04-1994, Desa Waru Jaya Rt 01/01 Kec. Parung Bogor

Saksi 1
Robin, 28 Tahun, kristen, sopir M26, Al. Kincan Raya Sumber Artha Bekasi Barat

Saksi 2
Agung Santoso, 25 Tahun, islam, Sopir Angkot, Al. Jl. Wijaya Kusuma Kp. 2 Rt 06/15 Kel. Jakasampurna Bekasi Barat.

Kronologis
Adapun kronologis kejadian Sdr. Sutaryo (Alumni Pesantren Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor) diperintahkan oleh Ust. Jalil (Staf Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Parung Bogor) untuk menjemput Ustadzah Samsiah (istri Ust. Jalil) di daerah Purwokerto Jawa Tengah

Menurut keterangan Sdr. Sutaryo (Sopir) berangkat dari Jakarta ke Purwokerto dengan menggunakan kendaraan mobil Rental Toyota Innova warna Hitam B 1110 BZH dan pada hari Kamis tanggal 09 Juli 2020 Pkl. 16.00 Wib berangkat dari Purwokerto menuju Parung Bogor menjemput Ustadzah Samsiah (Istri Ust. Jalil) yang bekerja juga sebagai staff pengajar santri Putri di pesantren tersebut beserta 2 orang anaknya Sdri. Marifatul Kamila (10 Tahun) dan Sdri. Nabila Farahma Mida (3 tahun) menuju Parung Bogor ke Pesantren di Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman untuk kembali ke pesantren setelah libur selama 3 bulan akibat Pandemi Covid 19.

Pada Hari Jum’at tanggal 10 Juli 2020 Pkl. 03.00 wib Sopir Sdr. Sutaryo melintas di Jl. Arteri Kalimalang (depan Masjid Ibnu Sina) Kel. Jatibening Kec. Pondok Gede Kota Bekasi dalam keadaan mengantuk dan pada saat berbelok mobil mengalami kecelakaan tunggal (masuk kecebur kedalam Kalimalang)

Menurut keterangan Sdr. Sutaryo pada saat tercebur di dalam mobil Istri Ust. Jalil menyuruh Sdr. Sutaryo untuk keluar terlebih dahulu dan meminta tolong, Sdr. Sutaryo sempat menarik Sdri. Marifatul Kamila (10 Tahun) anak dari Ustadzah Samsiah yang duduk disamping sopir.

Sdr. Sutaryo dan Sdri. Marifatul Kamila berhasil selamat namun Ustadzah Samsiah beserta anaknya Sdri. Nabila Farahma Mida (3 tahun) terbawa arus Kalimalang sejauh 50 M.

Adapun Ustadzah Samsiah ditemukkan telah meninggal dunia dan dibawa ke RSUD Kota Bekasi namun anaknya Sdri. Nabila Farahma Mida (3 Tahun) masih belum ditemukkan karena terbawa arus Kalimalang.

Adapun Mobil saat ini masih dalam keadaan tercebur di dalam Kalimalang dan saat ini masih dalam proses evakuasi, Saat ini sopir Sdr. Sutaryo diamankan Pihak Kepolisian untuk dimintai keterangan.

Adapun Petugas yang hadir di TKP antara lain :
1. Polsek Pondok Gede
2. Satlantas Polrestro Bekasi Kota
3. Damkar 5 Unit dari Jakarta Timur pimpinan Sdr. Basith dan dari Damkar Kota Bekasi 1 unit.(Dody IDN)

———–

Renungan

SEBUAH RENUNGAN TERHADAP KEMATIAN

Oleh Dr Muhammad Arifin Badri MA

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saudaraku! Anda masih ingat detik-detik ketika kakek, atau nenek, atau mungkin ayah, ibunda, atau mungkin juga istri atau suami tercinta meregang nyawanya? Pernahkah anda bertanya dan berpikir apakah yang mereka rasakan ketika ruh mereka meninggalkan raganya?

Agar anda dapat menerka apa yang mereka rasakan kala itu, coba anda kembali mengingat raut wajah mereka ketika detik-detik terakhir sebelum meninggal dunia.

Tahukah saudara! Apa yang dialami oleh ayahanda atau kerabat anda saat itu? Tahukah saudara, dengan siapa ia berhadapan? Berikut inilah kejadian yang dialami oleh ayahanda atau ibunda atau kerabat anda kala itu (Kisah ini dituturkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan Ibnu Majah):

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلاَئِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلاَمُ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِى إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ – قَالَ – فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِى السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِى يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِى ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِى ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ – قَالَ – فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلاَ يَمُرُّونَ – يَعْنِى بِهَا – عَلَى مَلأٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ فَيَقُولُونَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِى كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِى الدُّنْيَا

“Sesungguhnya bila seorang yang beriman hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Wajah mereka putih bercahaya bak matahari. Mereka membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Selanjutnya mereka akan duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya.

Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang baik,bergegas keluarlah dari ragamu menuju kepada ampunan dan keridhaan Allah”. Segera ruh orang mukmin itu keluar dengan begitu mudah dengan mengalir bagaikan air yang mengalir dari mulut guci. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat maut menyambutnya. Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangan Malaikat Maut.

Para malaikat segera mengambil ruh orang mukmin itu dan membungkusnya dengan kain kafan dan wewangian yang telah mereka bawa dari surga. Dari wewangian ini akan tercium semerbak bau harum, bagaikan bau minyak misik yang paling harum yang pernah ada di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruhnya itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu harum.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terbaik yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).”

Saudaraku! Walau demikian mudah arwah orang mukmin keluar dari raganya, akan tetapi bukan berarti bebas dari rasa sakit! Sekali-kali tidak.

Adakah keraguan pada diri anda bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang mukmin yang paling sempurna keimanannya? Akan tetapi kemulian dan kesempurnaan iman beliau tidak dapat melindungi beliau dari rasa pedihnya sakaratul maut. Oleh karena itu, tatkala beliau menghadapi sakaratul maut, beliau begitu gundah. Beliau berusaha menenangkan dirinya dengan mengusap wajahnya dengan tangannya yang telah dicelupkan ke dalam bejana berisi air. Beliau mengusap wajahnya berkali-kali, sambil bersabda:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ رواه البخاري

“Tiada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Allah. Sesungguhnya kematian itu disertai oleh rasa pedih.” [Riwayat Imam Bukhari]

Pada suatu hari sahabat Umar bin Al Khatthab Radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Ka’ab Al Ahbaar:

يا كعب حدثنا عن الموت، قال: يا أمير المؤمنين غصن كثير الشوك يدخل في جوف الرجل فتأخذ كل شوكة بعرق يجذبه رجل شديد الجذب، فأخذ ما أخذ، وأبقى ما أبقى.

“Wahai Ka’ab: Ceritakan kepada kita tentang kematian!. Ka’ab pun berkata: Wahai Amirul Mukminin! Gambaran sakitnya kematian adalah bagaikan sebatang dahan yang banyak berduri tajam, tersangkut di kerongkongan anda, sehingga setiap duri menancap di setiap syarafnya. Selanjutnya dahan itu sekonyong-konyong ditarik dengan sekuat tenaga oleh seorang yang gagah perkasa. Bayangkanlah, apa yang akan turut tercabut bersama dahan itu dan apa yang akan tersisa!” [Riwayat Abu Nu’aim Al Asfahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya’]

شداد بن أوس الموت افظع هول في الدنيا والآخرة على المؤمن وهو أشد من نشر بالمناشير وقرض بالمقاريض وغلي في القدور. ولو أن الميت نشر فأخبر أهل الدنيا بالموت ما انتفعوا بعيش ولا لذوا بنوم

Syaddaad bin Al Aus berkata: “Kematian adalah pengalaman yang paling menakutkan bagi seorang mukmin, baik di dunia ataupun di akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding anda digergaji, atau dipotong dengan gunting, atau direbus dalam periuk. Andai ada seseorang yang telah mati diizinkan untuk menceritakan tentang apa yang ia rasakan pada saat menghadapi kematian, niscaya mereka tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan dan juga tidak akan pernah tidur nyenyak.”

Bila demikian dahsyatnya rasa sakit yang menimpa seorang mukmin ketika menghadapi sakaratul maut, maka bagaimana dengan diri anda? Betapa banyak dosa dan kemaksiatan yang menodai lembaran amal anda? Anda ingin tahu bagaimana rasanya sakaratul maut bila anda tidak segera bertaubat dari kemaksiatan dan beristiqamah dalam ketaatan? Simaklah kelanjutan hadits riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah di atas:

وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ وفي رواية وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ إِذَا كَانَ فِى انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلاَئِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمُ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِىءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِى إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ – قَالَ – فَتُفَرَّقُ فِى جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِى يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِى تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلاَ يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلأٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ فَيَقُولُونَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِى كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِى الدُّنْيَا رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني

“Bila orang kafir, pada riwayat lain: Bila orang jahat hendak meninggal dunia dan memasuki kehidupan akhirat, ia didatangi oleh segerombol malaikat dari langit. Mereka berwajahkan hitam kelam, membawa kain yang kasar, dan selanjutnya mereka duduk darinya sejauh mata memandang. Pada saat itulah Malaikat Maut ‘alaihissalam menghampirinya dan duduk didekat kepalanya. Setibanya Malaikat Maut, ia segera berkata: “Wahai jiwa yang buruk, bergegas engkau keluarlah dari ragamu menuju kepada kebencian dan kemurkaan Allah”. Segera ruh orang jahat itu menyebar keseluruh raganya. Tanpa menunda-nunda malaikat maut segera mencabut ruhnya dengan keras, bagaikan mencabut kawat bergerigi dari bulu domba yang basah. Begitu ruhnya telah keluar, segera Malaikat Maut menyambutnya.

Dan bila ruhnya telah berada di tangan Malaikat Maut, para malaikat yang telah terlebih dahulu duduk sejauh mata memandang tidak membiarkanya sekejappun berada di tangannya. Para malaikat segera mengambil ruh orang jahat itu dan membukusnya dengan kain kasar yang mereka bawa. Dari kain itu tercium aroma busuk bagaikan bau bangkai paling menyengat yang pernah tercium di dunia. Selanjutnya para malaikat akan membawa ruh itu naik ke langit. Tidaklah para malaikat itu melintasi segerombolan malaikat lainnya, melainkan mereka akan bertanya: “Ruh siapakah ini, begitu buruk.” Malaikat pembawa ruh itupun menjawab: Ini adalah arwah Fulan bin Fulan (disebut dengan namanya yang terburuk yang dahulu semasa hidup di dunia ia pernah dipanggil dengannya).”

Saudaraku! Coba anda ingat kembali, rasa pedih dan sakit yang pernah anda rasakan ketika tertusuk atau tersengat api! Sangat menyakitkan bukan? Padahal syaraf yang merasakan rasa sakit hanyalah sebagiannya. Walau demikian, rasanya begitu menyakitkan, sehingga susah untuk dilupakan?

Nah bagaimana halnya bila kelak pada saat sakaratul maut seluruh syaraf anda merasakan sakit. Disaat ruh anda berusaha berpegangan erat-erat dengan setiap syaraf anda sedangkan Malaikat Maut mencabutnya dengan keras dan kuat. Betul-betul menyakitkan.

Penampilan Rasa Malaikat Maut yang begitu seram dan menakutkan akan semakin menambah pedih rasa sakit yang anda rasakan.

Saudaraku! Siapkah anda menjalani pengalaman yang begitu menakutkan dan begitu menyakitkan?

Bila saudara tidak kuasa menjalani sakaratul maut yang sangat menyakitkan seperti ini, maka mengapa noda-noda maksiat terus mengotori lembaran amal dan menghitamkan hati anda? Mengapa kaki anda terasa kaku, tangan serasa terbelenggu, mata seakan melekat dan pintu hati seakan terkunci ketika ada seruan beribadah kepada Allah?

Saudaraku! Agar hati anda kembali menjadi lunak dan pintu hati anda terbuka lebar-lebar untuk menerima dan mengamalkan kebenaran, maka alangkah baiknya bila anda sering-sering berziarah ke kuburan. Dengan berziarah ke kuburan, diharapkan anda akan senantiasa menyadari, cepat atau lambat anda pasti menjadi salah seorang dari penghuni kuburan.

(زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ) رواه مسلم

“Berziarahlah ke kuburan, karena ziarah ke kuburan itu dapat mengingatkan kalian akan kematian.” [Riwayat Muslim].

Saudaraku! Ada satu pertanyaan yang tidak mungkin anda temukan jawabannya sebelum anda mengalaminya sendiri: Termasuk golongan manakah diri anda, apakah termasuk golongan orang-orang mukmin yang dimudahkan ketika menghadapi sakaratul maut ataukah termasuk golongan yang kedua?

Karenanya, marilah kita berjuang, dan berdoa memohon kepada Allah agar diri kita –dengan rahmat dan kemurahan Allah- dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan keteguhan dan kemudahan ketika menghadapi Malaikat Maut dimudahkan. Amiin.

[Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A. Dosen Tetap STDI Imam Syafii Jember, dosen terbang Program Pasca Sarjana jurusan Pemikiran Islam Program Internasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan anggota Pembina Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI)]