Tim Gabungan dan 3 Pilar Sosialisasi Imbauan PPKM Darurat 1

Tim Gabungan dan 3 Pilar Sosialisasi Imbauan PPKM Darurat

Headline Muhasabah Sumatera Utara

mascipoldotcom, Selasa, 13 Juli 2021  (03 Zdul Hjjah 1442 H)

Medan – Unsur tiga pilar dari Polsek Medan Timur, Koramil 02/MT, dan Kecamatan di hari ke dua kembali melaksanakan sosialisasi penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat , Selasa (13/7).

Pada pelaksanaan sosialisasi PPKM Darurat di hari ke dua ini dipimpin Kasubdit I AKBP Jistoni Naibaho, Danramil 01/MT Kapten Bina Sembiring dan Kapolsek Medan Timur Kompol M Arifin.

Pada pelaksanaan sosisialisasi, terlebih dahulu petugas gabungan dari Dinas Pariwisata Kota Medan, Satpol PP, Brimob Polda Sumut, Koramil 02/MT dan di backup penuh oleh Direktorat (Dit) Reserse Kriminal Umum Polda Sumut, melakukan apel di halaman Mapolsek Medan Timur.

Selanjutnya petugas gabungan menyisir warung makan Aneka Kerang di Jalan Karakatau simpang Jalan Bukit Barisan.

Di sini petugas gabungan sempat mendapat perlawanan dari pemilik warung karena tak mau warung makan miliknya di tertibkan sebab masih melayani makan di tempat.

“Kami dari Polsek Medan Timur bersama petugas gabungan lainnya datang ke sini untuk mengingatkan pemilik warung agar tetap mematuhi peraturan penerapan PPKM Darurat. Silahkan buka, tapi tidak diperbolehkan untuk makan dan minum di tempat, silahkah makanan dibawa pulang,” ucap Kanit Reskrim Polsek Medan Timur, Iptu J. Simamora.

Dari situ, petugas gabungan bergerak kembali menuju Bank Mustika, Bank Sumut, Bank Syariah dan beberapa perkantoran lainya.

Supervisor Bank BRI Karakatau kepada awak media mengaku pihaknya sangat mendukung pemerintah dalam penegakkan PPKM darurat. “Kami dari Bank BRI sangat mendukung Pemerintah dalam penegakan peraturan PPKM darurat, “ucap Nelly.

Hal senada juga disampaikan dengan karyawan Bank BRI, Karyawan Bank Syariah Cabang Karakatau yang engaku telah menerapkan work from home (bekerja dari rumah).

“Untuk Bank Syariah sendiri, kami sudah menerapkan 50 persen untuk Work From Home (WFH) dan juga mengatur sedemikian rupa untuk nasabah yang datang ke kantor kami untuk tetap menjaga protokol kesehatan. Kami sangat mendukung langkah pemerintah dalam melaksanakan PPKM Darurat,” ucap Aidil.

Sementara itu, Kapolsek Medan Timur, Kompol M Arifin, usai melaksanakan kegiatan mengatakan sasaran di hari ke dua sosialisasi PPKM Darurat di Kota Medan yakni sektor esensial (perkantoran dan perusahaan).

“Kita juga memberikan imbauan kepada pemilik warung makan, kafe, untuk tidak menyediakan makan di tempat dan menerapkan sistem take away (bawa pulang-red).

Arifin mengungkapkan, selama sosialisasi PPKM Darurat unsur tiga pilar tidak memberikan tindakan terhadap para pelaku usaha yang masih melayani masyarakat makan di tempat.

“Kita mengimbau dan menempel sebaran yang bertuliskan tentang tidak diberlakukan makan di tempat tetapi harus melayani take away (pembelian dibawa pulang),” ungkapnya.

“Belum ada tindakan, selama tiga hari sosialisasi. Kita menunggu perintah dari pimpinan terkait tindakan dan teguran,” pungkasnya. (Leodepari)

———–

Renungan

DIANTARA SEBAB MERAIH HARTA ADALAH AMAL SHALIH

Mengenai ini, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/ 16: 97]

Untuk menggapai kehidupan yang baik (hayât thayyibah), Allâh Azza wa Jalla telah menetapkan syarat dalam ayat di atas. Kehidupan yang baik di sini maksudnya adalah rezeki yang halal lagi baik. Demikian yang ditafsirkan Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu , Sa’îd bin Jubair, Atha’, Adh-Dhahhâk dan lainnya. Atau ada yang mengatakan bahwa kehidupan yang baik mencakup semua bentuk ketenangan dari semua aspeknya.

Syarat untuk bisa menggapainya adalah amal shalih yang dibangun di atas pondasi iman kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Yaitu amal shalih yang mengacu pada Kitab Allâh Azza wa Jalla dan Sunnah Rasul-Nya. Maka ketika itulah seseorang akan mendapat kehidupan yang baik di dunia, kemudian juga balasan yang baik di akhirat.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan sebab ruhani ini, yaitu amal shalih, untuk mendapatkan rezeki dan harta. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا، وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ، فَإِنَّ اللهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ

Sesungguhnya bila seorang kafir berbuat satu kebaikan, ia akan diberi rezeki sebagai balasannya di dunia. Adapun seorang Mukmin, maka sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla menyimpankan balasan kebaikannya di akhirat dan juga memberinya rezeki di dunia atas ketaatannya.[1]

Jadi, Allâh Azza wa Jalla membalas kebaikan orang Mukmin dan juga orang kafir dengan rezeki di dunia. Akan tetapi apa gerangan perbedaan antara keduanya? Perbedaannya adalah bahwa orang Mukmin mendapatkan balasan tambahan yang tidak didapat orang kafir. Tambahan tersebut adalah surga, di mana Allâh Azza wa Jalla membalas kebaikan yang ia lakukan atas dasar iman kepada-Nya.

Dan di antara bentuk amal shalih adalah iman kepada Allâh Azza wa Jalla , para Malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul, hari akhir, percaya kepada taqdir yang baik dan yang buruk, percaya hari kebangkitan, adanya mîzân (neraca timbangan amal), surga dan neraka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Al-A’râf/ 7 : 96]

Bila mereka beriman, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberi rezeki di manapun dan bagaimanapun keadaannya. Namun, bila mereka mendustakan, maka Allâh Azza wa Jalla akan menimpakan siksa-Nya dikarenakan ulah mereka. Dan iman kepada Allâh Azza wa Jalla haruslah diikrarkan dalam hati, dilafalkan dengan lisan, dan dibenarkan dengan amal nyata. Iman ini dibuktikan dengan mempersaksikan bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Allâh Azza wa Jalla dan Muhammad adalah utusan Allâh Azza wa Jalla, dengan mendirikan shalat, zakat, puasa, haji kala mampu, dan dengan amalan-amalan lainnya yang merupakan tuntutan iman.

Ketika amalan-amalan shalih ini dilakukan dengan ikhlas, maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan untuknya kehidupan yang baik dengan mendapatkan ketenangan dalam semua sisi hidupnya, rezeki yang halal lagi baik pun akan menghampirinya. Di akhirat kelak iaakan dihidupkan Allâh Azza wa Jalla dalam kehidupan yang baik, dan diberi balasan lebih baik daripada apa yang telah ia kerjakan.

(Diangkat dari kitab Anta wal Mal karya Adnan ath-Tharsyah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim dalam kitab shifat al-qiyâmah bab jazâ’u al-mukmin fi ad-dun-yâ wal âkhirah.