IMG 20200823 WA0197

Susah Buka Program Studi Umum, 10 Rektor UIN Temui Pimpinan DPD RI

Headline DKI Jakarta Muhasabah

IMG 20200823 WA0196mascipoldotcom, Senin, 24 Agustus 2020 (05 Muharam 1442 H)

Jakarta – Merasa kesulitan dan alami hambatan untuk membuka program studi umum dan terapan, 10 Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) temui pimpinan DPD RI. Dalam pertemuan di rumah dinas Ketua DPD RI itu, 10 kampus tersebut berharap mendapat jalan keluar melalui kerja konkret para Senator.

“Kami terus terang sangat berharap kepada DPD RI, setelah kami melihat sendiri bagaimana perjuangan DPD RI yang berhasil membantu peningkatan status 9 kampus IAIN menjadi UIN. Nah sekarang giliran kami, kampus UIN lama, yang mengalami hambatan dalam membuka prodi umum di kampus kami,” ungkap Prof. Fauzul Imam, yang didapuk sebagai juru bicara 10 kampus UIN, Minggu (23/8/2020).

Dikatakan Fauzul, beberapa kampus UIN kesulitan membuka prodi ilmu sosial dan sains yang berbasis terapan. Mereka hanya bisa membuka prodi umum ilmu induk. Padahal ilmu terapan lebih dibutuhkan dalam menjawab tantangan jaman. “Dan hal itu sesuai dengan kebutuhan dan minat masyarakat. Dan niat kami memang memadukan antara ilmu agama dan sains,” urai Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten itu.

IMG 20200823 WA0198Sementara itu, Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Eka Putra Wirman mengungkapkan seharusnya tidak ada perbedaan antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), selama statusnya sama-sama universitas. Seperti halnya Madrasah Ibtidaiyah (MI) setara dengan SD, Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara dengan SMP, dan Madrasah Aliyah (MA) setara dengan SMA.

“Padahal kalau mau jujur, PTN yang ada sekarang tentu tidak mampu menampung semua anak bangsa yang ingin belajar di fakultas-fakultas ilmu terapan yang ada. Dan kami, UIN, selain tersebar merata di hampir semua provinsi, biaya pendidikan di UIN relatif lebih murah dan terjangkau bagi peserta didik di daerah, tanpa mengurangi mutu. Karena kami rata-rata juga terakreditasi A dan B. Ini seharusnya faktor yang juga harus dilihat,” tukas Eka.

Atas hal itu, Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti meminta masing-masing kampus membuat daftar masalah yang dihadapi, untuk kemudian diserahkan kepada Komite III yang membidangi pendidikan. “Nanti dari situ akan kami telaah, dan kami petakan. Di tataran kebijakan akan menjadi ranah pimpinan, dan di tataran fraksis akan menjadi tugas teknis Komite III,” tandasnya.

Senada dengan LaNyalla, Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono menyakini apa yang diperjuangan kampus UIN akan terwujud. Selama tolok ukurnya berdasarkan kebutuhan. Seperti halnya IAIN meningkat status menjadi UIN karena kebutuhan. Begitu pula UIN membuka prodi ilmu terapan, juga harus karena kebutuhan.

Ditambahkan Nono, memang harus ada proses untuk itu. Seperti yang pernah ia alami saat menjadi Gubernur Akademi TNI, untuk memperjuangkan kesamaan derajat antara lulusan Akademi Militer dengan Strata S1. “Alhamdulillah akhirnya bisa. Kuncinya harus berdasarkan kebutuhan. Dan saya pikir, Presiden Jokowi berulang kali menekankan pentingnya kualitas SDM Indonesia untuk dapat melakukan lompatan. Itu saya kira salah satu kebutuhan,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Komite III DPD RI Sylviana Murni optimis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dapat memahami niat kampus-kampus UIN untuk membuka prodi ilmu terapan. Mengingat Mendikbud telah meluncurkan program ‘Merdeka Belajar: Kampus Merdeka’, bagi perguruan tinggi.

“Program tersebut memberikan otonomi bagi PTN maupun swasta yang berakreditasi A dan B untuk membuka prodi baru. Dengan titik tekan, prodi yang sesuai kebutuhan masa depan. Dan akan dipermudah, apabila kampus tersebut telah menjalin kerjasama dengan organisasi dunia atau 100 kampus terbaik dunia. Saya pikir UIN lebih mudah bekerja sama dengan kampus seperti Al-Azhar dan lainnya kan,” tukas Senator asal DKI Jakarta itu.

Optimisme para Senator juga disampaikan Wakil Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin. Menurutnya selama hambatan itu masih berkisar di sektoral antar kementerian, maka DPD yakin dapat memperjuangkan aspirasi para rektor. “Dalam case UIN ini kan ada tiga kementerian yang terlibat. Kemenag, Kemendikbud dan Kemenpan/RB. Selama masih dalam tataran Permen dan Kepmen, tidak terlalu sulit,” ungkapnya.

Dalam pertemuan yang dihelat Minggu petang itu, selain Rektor UIN Banten dan Padang, juga hadir Wakil Rektor UIN Bandung Prof. Rosihan Anwar dan Dr Alamsyah dari UIN Lampung. Sedangkan pimpinan UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Mataram, UIN Walisongo Semarang, UIN Sultan Thoha Saifudin Jambi, UIN Antasari Banjarmasin, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berhalangan hadir. Sementara Senator yang juga hadir tampak Wakil Ketua Komite III Fadhil Rahmi Lc, Abdul Rahman Thaha dan Ajbar serta Sekjen DPD RI Reydonnyzar Moenek. (Abink)

—————-

Renungan

Rumah Dan Peranan Pentingnya Dalam Pendidikan Umat

Oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin, MA

Rumah memainkan peranannya yang sangat penting dalam pendidikan  umat. Ia merupakan unit instusi pertama dan merupakan lembaga pendidikan pertama bagi masyarakat di mana hubungan antar individu di dalamnya merupakan salah satu jenis hubungan antar individu yang lansung. Di dalamnya akan terbentuk pribadi, dan di dalamnya akan terjadi pembentukan tahap pertama bagi pribadi yang siap bersosialisasi dengan lingkungannya.

Dari interaksi aktif di lembaga rumah-tangga ini pula, seseorang akan banyak memperoleh pengetahuan, kemahiran, kecenderungan, nilai-nilai, perasaan dan cara berpikirnya dalam menghadapi kehidupan.

Lembaga pendidikan dan pengajaran yang berbentuk rumah ini akan menjadi sangat positif jika dipersiapkan dengan baik, dimulai dari hadirnya seorang lelaki yang shaleh dan memahami agamanya meskipun secara garis besar. Kemudian dilanjutkan dengan pemilihan istri shalehah yang kelak akan mengerti tugas-tugasnya dalam mengelola rumah tangga dan anak-anak. Dari perkawinan antara laki-laki yang shaleh dengan wanita yang shalehah akan terbentuk rumah tangga yang shaleh. Di dalamnya akan berlangsung tarbiyah yang baik.

Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân hafizhahullâh menjelaskan bahwa ayah sebagai penanggan jawab terbesar dalam rumah tangga berkewajiban mendidik keluarga serta putra-putrinya untuk menaati Allâh Azza wa Jalla, berkewajiban menumbuhkembangkan semua anggota keluarganya berdasarkan asas ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan tidak lupa untuk senantiasa mengiringinya dengan doa. Sebab, di antara doa yang dilantunkan oleh para nabi adalah doa khusus untuk kebaikan anak-anak dan keturunan.

Nabi Ibrahim, bapak para nabi, juga mendoakan anak-anak keturunannya. Beliau berdoa:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Rabb kami, perkenanan doaku [Ibrâhîm/14:40]

Begitu pula Nabi Zakariyya, beliau berdoa:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

Zakariyya berdoa, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. [Ali ‘Imrân/3:38]

Pada ayat ini, Nabi Zakariyya tidak berhenti dalam  doanya untuk lahirnya keturunan saja, tetapi beliau lanjutkan dengan permohonan; keturunan yang baik. Sebab, keturunan yang baik merupakan keturunan yang sesungguhnya.

Dari rumah ini akan lahir anak shaleh yang selalu mendoakan orang tua, meskipun orang tua telah meninggal dunia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka (pahala) amal perbuatannya terputus darinya, kecuali dari tiga hal ;  dari sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakannya [HR. Muslim]

Intinya, di dalam rumah terdapat landasan-landasan pendidikan dan pengajaran Islam yang agung.

Beberapa ayat yang mengisyaratkan pentingnya tarbiyah dalam rumah tangga antara lain, firman Allâh Azza wa Jalla :

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ

Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. [Yâsîn36/:12]

Mahmud Mahdi Al-Istambuli, penulis buku Tuhfatul ‘Arûs mengatakan, “Ayat di atas mengisyaratkan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak hanya menuliskan amal perbuatan seseorang, tetapi bahkan Allâh Azza wa Jalla juga memberikan balasan terhadap bekas-bekas dari jejak perilaku yang ditinggalkannya sesudah mati.

Jika ia meninggalkan bekas-bekas kebaikan, maka ia akan memperoleh kebaikan, dan jika meninggalkan bekas-bekas keburukan, maka ia pun akan mendapatkan keburukan. Anak-anak adalah bekas peninggalan yang termasuk paling besar.

Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla pasti akan menetapkan pahala bagi kedua orang tuanya terhadap kebaikan yang mereka lakukan terhadap anak-anak, tanpa mengurangi sedikit pun kebaikan anak-anak tersebut. Tetapi, Allâh Azza wa Jalla juga akan menetapkan keburukan bagi kedua orang, jika mereka mengabaikan pendidikan anak-anak.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharan dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaga-penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [ At-Tahrîm/66:6]

Pemeliharaan terhadap keluarga, yaitu pemeliharaan terhadap istri dan anak-anak dari api Neraka adalah dengan cara memberikan tarbiyah (pendikan) dan pengajaran yang benar kepada mereka.

Pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak di tengah rumah dimulai dengan mendoktrinkan kalimat lâ ilâha illa Allâh(tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allâh) Muhammad Rasulullah, manakala sang anak sudah mulai fasih berbicara.

Hendaknya hal pertama-tama yang mengetuk pendengaran anak-anak adalah kalimat pengenalan kepada Allâh, kalimat tauhid bahwa Allâh kberada di atas Arsy, selalu mengawasi tindak-tanduk mereka, mendengar perkataan mereka dan selalu menyertai mereka di manapun mereka berada.

Itulah pembinaan aqidah, seperti tarbiyah dan pengajaran yang dilakukan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu yang kala itu masih kanak-kanak. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا غُلَامُ ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِاجْتَمَعَتْ عَلىَ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ إِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيِحٌ. وَفِي رِوَايَةٍ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ : «اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّ ةِ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَاأَخْطَأَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ ، وَمَا أَصَابَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa patah kata. Jagalah (agama) Allâh, niscaya Allâh akan menjagamu. Jagalah (ketentuan) Allâh, niscaya akan engkau dapati Allâh ada di hadapanmu. Jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan hanya kepada Allâh, dan jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah.  Ketahuilah!. Andaikata seluruh umat berhimpun untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat bagimu, maka mereka tidak akan mampu memberikan manfaat apapun, kecuali sesuatu yang telah Allâh tetapkan untukmu.

Dan jika mereka berhimpun untuk menimpakan suatu malapetaka padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya sedikit pun kecuali menurut sesuatu yang telah Allâh tetapkan bagimu. Pena-pena takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan takdir telah kering”. [HR. At-Tirmidzi. Hadits hasan. Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi no.2516]

Di samping itu, anak-anak yang sudah berusia tujuh tahun harus mulai diperintahkan untuk shalat, ketika umur sepuluh tahun harus mulai dipisahranjangkan serta dipukul jika tidak mau melaksanakan shalat, dengan pukulan pembinaan, bukan pukulan yang menciderai. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika  berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika meninggalkan  shalat ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah mereka  di ranjang masing-masing. [HR. Abu Dawud. Lihat Shahîh Sunan Abi Dawud no.495]

Dan masih banyak adab-adab Islam lain yang harus diajarkan dan ditanamkan kepada anak-anak sejak usia dini. Sementara pendidikan dan pengajaran di rumah tidak berhenti, meskipun usia anak merambah dewasa. Karena itu, orang tua dituntut harus memahami masalah ini. Jika demikian keadaan setiap rumah tangga, niscaya akan terbentuk umat dan bangsa yang shaleh. Wallâhu a’lam.

(Pendidikan Basis Pembangunan Umat, Ahmas Faiz Asifuddin, MA, Penerbit Naashirussunnah Muharram 1434 H, 118-124)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]