tudi Banding ke Desa Tangguh Binaan 2

Studi Banding ke Desa Tangguh Binaan Polres Serdang Bedagai, Gubernur Kep. Babel Dapat Inspirasi Berharga

Headline Kepulauan Riau Muhasabah Sumatera Utara

tudi Banding ke Desa Tangguh Binaan 9mascipoldotcom – Senin, 21 September 2020 (04 Safar 1442 H)

Serdang Bedagai – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, DR. Erzaldi Rosman Djohan SE,MM dan rombongan mendapatkan inspirasi yang sangat berharga setelah melakukan studi banding ke Kampung Tangguh binaan Bhabinkamtibmas Polres Serdang Bedagai dan Babinsa Kodim 0204/DS serta Pemkab Sedang Bedagai di Desa Pantai Cermin Kanan, Kecamatan Pantai Cermin, dan Desa Bingkat, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Serdang Bedagai, Senin (21/9/2020).

Rombongan Gubernur Kep. Babel turut hadir, diantaranya, Kapolda Kep. Babel, Irjen Pol. Anang Syarif Hidayat, Sekdaprov Kep. Babel, Kadis Pertanian Prov. Kep. Babel langsung disambut Kapolres Serdang Bedagai AKBP Robinson Simatupang SH,MHum, Sekdakab HM. Faisal Hasrimy, Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma Puslitbang Kementerian Pertanian, Ismail Maspromo, Kadis Pertanian Serdang Bedagai, Radianto SP, dan Forpimcam.

tudi Banding ke Desa Tangguh Binaan 8“Kami sangat senang dan terinspirasi berada di Kabupaten Serdang Bedagai dan kedepan akan melakukan kerjasama. Apalagi sekarang ini bahwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekarang sudah menjadi destinasi wisata, ” kata Gubernur Kep.Babel, usai mendengarkan paparan keunggulan Kelapa Genjah Pandan Wangi, di Kebun Induk Desa Tangguh binaan Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Kepala Desa di Desa Pantai Cermin Kanan, Kecamatan Pantai Cermin.

Dilanjutkan Erzaldi, bahwa sebagai lokasi destinasi pariwisata, harus ada aneka produk atau varietas yang dijual dan salah satunya adalah komoditi kelapa pandan wangi. Sebab, katanya, kelapa pandan wangi ini berbeda dari varietas lainnya.

Menurutnya, selain harganya tinggi dibandingkan jenis kelapa lainnya dan ini salah satu peluang. Tidak hanya peluang bagi petani kita, tetapi juga peluang bagi jual dikawasan pariwisata kita.

tudi Banding ke Desa Tangguh Binaan 7“Dengan semakin banyak komoditi komoditi yang disajikan kepada pengunjung tentunya akan menjadi nilai tambah kepada masyarakat yang menanam komoditi ini. Harapan nya kita mendorong untuk menanam kelapa ini dan nilai tambahnya lebih dari yang biasa,” tandas Gubernur Erzaldi.

Selanjutnya, Rombongan Gubernur Kep.Babel mengunjungi Desa Tangguh, Di Desa Bingkat, Kecamatan Pegajahan, guna melihat Desa Tangguh binaan Bhabinkamtibmas Polres Serdang Bedagai, Babinsa Kodim 0204/DS dan Kepala Desa Bingkat.

Kapolres Serdang Bedagai AKBP Robinson Simatupang SH,MHum dalam sambutannya mengatakan bahwa Desa Bingkat adalah salah satu Desa binaan Bhabinkamtibmas Polres Serdang Bedagai dan Babinsa Kodim 0204/DS serta Kepala Desa dalam melakukan sinergi membentuk ketahanan pangan dan relawan pencegahan Covid-19.

tudi Banding ke Desa Tangguh Binaan 6“Desa Bingkat adalah salah satu Desa Tangguh yang menjadi binaan Bhabinkamtibmas Polres Serdang Bedagai, Babinsa dan Kepala Desa dengan bergotong royong bersinergi dengan masyarakat menciptakan ketahanan pangan,” ujar Kapolres.

Selain itu, sambung Kapolres, relawan Covid-19 yang dibentuk di desa melakukan pemantauan dan pemeriksaan kepada setiap orang yang akan masuk ke desa. Dengan melakukan pemeriksaan suhu tubuh, cuci tangay dan diwajibkan memakai masker, ungkapnya.

“Syukurlah walaupun di Kabupaten Serdang Bedagai sekarang sudah masuk zona merah, tetapi untuk Desa Bingkat masih zona hijau,” ujarnya.

Kemudian Kapolres didampingi Kepala Desa Bingkat, Rusdi ST, Kadis Pertanian Sergai, Radianto SP menyampaikan segala potensi dan geografis Desa Tangguh.

tudi Banding ke Desa Tangguh Binaan 5Diantara potensi tersebut adalah hasil pertanian, perkebunan juga perikanan, diantaranya melimpah nya hasil perikanan ikan patin, nila, lele dn lainnya.

Mendengar paparan Kapolres bahwa di Serdang Bedagai hasil produksi peternakan ikan patin melimpah, Gubernur Kep. Babel berjanji akan membeli produksi peternakan ikan patin dari Kabupaten Serdang Bedagai.

Acara ditandai dengan memberikan hasil ketahanan pangan Desa Tangguh di Desa Bingkat, beras organik, sayuran dan kelapa genjah pandan wangi. (Khoir Rismawan)

———-

Renungan

tudi Banding ke Desa Tangguh Binaan 4Apa Pedomanmu Dalam Beribadah Kepada Allâh Ta’ala?

Seorang hamba wajib menghambakan dirinya kepada Allâh Ta’ala. Dalam proses menghambakan dan mendekatkan dirinya, atau lebih lazim dikenal dengan beribadah, kepada Rabbnya itu, ia tidak boleh berbuat dan melakukan sesukanya berdasarkan kata hati, perasaan, akal atau menurut kebanyakan orang.

Ada enam pedoman dalam beribadah[1] yang wajib diikuti oleh seorang Muslim dalam mengamalkan seluruh ibadahnya. Pedoman-pedoman tersebut adalah:

Pertama: Ibadah itu bersifat تَوْفِيْقِيَّة (tauqifiyyah, tidak ada ruang bagi akal di dalamnya).

Para hamba wajib untuk hanya patuh terhadap ketentuan pemegang hak syariat saja, Allâh Azza wa Jalla. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

tudi Banding ke Desa Tangguh Binaan 3فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka, tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang-orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah melampaui batas”[Hûd/11:112]

Bahkan Rasul kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun wajib tunduk patuh terhadap aturan yang Allâh gariskan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui [Al-Jâtsiyah/45:18]

Kedua: Ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla ,bersih dari noda-noda kesyirikan.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Rabbnya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya” [Al-Kahfi/18:110].

Apabila ibadah terkontaminasi oleh unsur syirik dan tercampur dengannya, maka akan membatalkan dan membuyarkannya. Allâh Azza wa Jalla berfirman setelah menyebutkan 18 rasul:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Seandainya mereka mempersekutukan Allâh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan [Al-An’âm/6:88]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ﴿٦٥﴾ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orng yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allâh saja kamu ibadahi dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.[Az-Zumar/39:65-66]

Ketiga: Hendaknya teladan dalam ibadah dan insan yang menjelaskannya adalah Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allâh [Al-Ahzâb/33:21]

Tentang ayat di atas, Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Ayat ini merupakan kaedah besar tentang (keharusan) mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala ucapan, perbuatan dan keadaannya”.

Perkara-perkara yang Allâh Azza wa Jalla cintai untuk dijadikan ritual ibadah oleh umat manusia kepada Rabbnya hanya diketahui oleh Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertindak sebagai utusan Allâh Azza wa Jalla yang menjadi perantara antara Allâh Azza wa Jalla dan hamba-hamba-Nya.

Ayat di atas ( Al-Ahzâb/33:21) sebenarnya sering kali disampaikan dalam acara-acara peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam acara peringatan yang tidak dibenarkan syariat Islam tersebut, memang penceramah juga menekankan untuk meneladani budi pekerti Rasulullah yang luhur semata. Sementara terkait urusan ibadah, jarang sekali atau tidak pernah disinggung bahwa kita pun wajib meneladani Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan ibadah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menekankan agar mengikuti tata cara ibadah yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Dalam tata cara shalat misalnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي

Kerjakanlah shalat oleh kalian sebagaimana kalian melihatku mengerjakan shalat [Muttafaqun ‘alaih]

Tentang haji, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

Ambillah dariku manasik haji kalian [Muttafaqun ‘alaih]

Di sisi lain, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan bahaya orang yang beribadah tanpa mengikuti petunjuk yang dibawa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak berdasarkan petunjuk kami, maka akan tertolak [HR. Muslim]

Dalam riwayat lain:

مَنْ أَحْدَثَفِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengadakan perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya, maka akan tertolak [Muttafaqun ‘alaih]

Oleh sebab itu, orang-orang yang suka mengadakan perkara baru dalam urusan agama yang tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam perlu menjawab pertanyaan berikut, “Apakah mereka lebih tahu tentang syariat dari pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?!”. “Dan apakah mereka lebih paham tentang ajaran Islam dari pada para Shahabat yang mengambil ajaran agama langsung dari utusan Allâh, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?!”

Empat: Ibadah itu diatur dengan waktu-waktu dan ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar dan diabaikan.

Semisal ibadah shalat, Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. [An-Nisâ`/4:103].

Dalam haji, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

Musim haji itu adalah beberapa bulan yang dimaklumi. [Al-Baqarah/2:197]

Sedangkan tentang puasa, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu. [Al-Baqarah/2:185]

Kelima: Ibadah harus dibangun di atas mahabbah kepada Allâh Azza wa Jalla , dzull (kehinaan), al-khauf (rasa takut) ar-rajâ (pengharapan) kepada-Nya

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah, “Jika kamu benar-benar mencintai Allâh, maka ikutilah aku, niscaya Allâh akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [Ali ‘Imrân/3:31]

Di sini, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan tanda cinta kepada Allâh Azza wa Jalla dan dampak positifnya.Tandanya adalah mengikuti Rasûlullâh Muhammad. Adapun, buahnya ialah memperoleh cinta dari Allâh Azza wa Jalla, ampunan atas dosa-dosa dan rahmat dari-Nya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allâh) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabbmu adalah suatu yang (harus) di takuti.[Al-Isrâ`/17:57]

Keenam: Ibadah tidak akan pernah gugur dari seorang mukallaf sejak ia baligh hingga ajal datang menghentikan kehidupan dunianya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kepada Allâh sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) [Al-Hijr/15:99].

Sâlim bin ‘Abdillâh bin ‘Umar, Mujâhid, Qatâdah dan Ulama tafsir lainnya menyatakan bahwa maksud al-yaqîn dalam ayat adalah kematian.

Karena itu, Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsirnya (II/579) mengatakan, “Dari ayat ini disimpulkan bahwa ibadah seperti shalat dan ibadah lainnya, wajib dilakukan selamanya selama akal masih ada. Ia melakukannya sesuai dengan kondisi yang ia mampu”.

Kemudian beliau juga menilai sebagai bentuk kekufuran, kesesatan dan kebodohan kepada orang yang berpandangan seseorang akan bebas dari beban taklif (tidak dikenai kewajiban ibadah) bila telah sampai pada derajat ma’rifah. Beliau mengungkapkan fakta bahwa paran nabi dan shahabat-shabahat mereka adalah orang-orang yang paling mengenal Allâh dan mengetahui hak-hak dan sifat-sifat-Nya. Dan mereka adalah orang yang paling banyak beribadah dan istiqomah untuk melakukan amal kebaikan sampai wafat.

Wallâhua’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______

Footnote
[1] DiadaptasidariHaqîqatu at-Tashawwuf, Syaikh Shâlih bin Fauzân bin ‘Abdullâh al-Fauzân hlm.9-13 dengan beberapa tambahan.