IMG 20210508 WA0093

Sinergitas Bersama TNI Polri Baksos Komascipol  Gelombang Terakhir di Bulan Ramadhan 1442 H

Headline Aksi Nyata Jawa Tengah Muhasabah

mascipoldotcom – Sabtu, 08 Mei 2021 (26 Ramadhan 1442 H)

Blora – Komascipol yang berdiri sejak 20 Juli 2013, dan telah dirintis sejak awal Oktober 2010, dengan ketua umum Bagus Sujoko, bersama-sama dengan pengurus baik tingkat Pusat atau DPP sampai tingkat Daerah atau DPD dibawah kendali Kordinator Nasional atau Kornas Ustadz Abu Munzdir Al Ghifari Hafizdohulloh bersama elemen masyarakat telah sangat sering melakukan bhakti sosial dimanapun pengurus Komascipol berada.

Dari mulai membantu penanganan evakuasi korban banjir, korban banjir bandang, pembagian selimut, pembagian baju layak pakai, pembagian sembako, pembagian air mineral, pembagian masker korban bencana kebakaran hutan, pembagian nasibungkus, pembagian terpal, support alat-alat pertukangan (program land clearing dan perbaikan bangunan), pembuatan sumur korban kekeringan dan pipanisasi air bersih, sunatan masal, pembagian mushab Al Qur’an, pembagian buku do’a dan zikir pagi petang serta baksos lainnya seperti pembuatan dapur umum, diberbagai daerah terdampak gempa bumi.

Sebagaimana yang telah dilakukan oleh pengurusn DPD Komascipol-Kombat TNI Polri Dan Abdi Negara Blora jawa Tengah dibawah kendali Kordinator Nasional Ustazd Abu Munzdir Al Ghifary hafizdohulloh pada hari Sabtu tanggal 8 Mei 2021 dari pukul 09.00 s/d 12,30 WIB telah bersinergi bersama sama aparatur negara, melaksanakan bakti sosial pembagian sembako dan infaq sodakoh kepada kaum duafa dan yatim piatu di wilayah Kelurahan Balun hingga berlanjut ke desa Ledok Sambong, Cepu.

^Selama dalam bencana Covid-19 sejak Maret 2020, pengurus dibawah kendali Kornas Komascipol sudah melukan pembersihan dan penyemprotan cairan disinfektan di berbagai tempat seperti Kantor Polres, Kantor Kodim, Kantor Koramil, Kantor Polsek, Kantor Camat, Puskesmas, dan Kantor Kelurahan serta Masjid-Masjid, Mushollah, pasar, kampus, sekolahan dan tempat-tempat keramaian lainnya, dimanapun pengurus Komascipol berada, termasuk pembagian masker dan hand Sanitizer serta penyemprotan cairan desinfektan”. ungkap Ketua Umum Bagus Sujoko, Sabtu, 8/5/2021, pukul 19.45 WIB

“Pada Baksos gelombang puncak dibulan Ramadhan 1442 H ini kita telah membagikan paket parcel dan sembako sebanyak 100 paket, yang berisikan beras premium 5kg, paket Parcel Lebaran dan uang santunan Rp. 50.000,- kepada warga kurang mampu di wilayah Kelurahan Balun hingga berlanjut ke desa Ledok Sambong, adapun sasaran yang kita beri santunan siantaranya tukang becak dan para Fuqaraa’ di Jalanan serta kita hantarkan langsung di Kampung – kampung, sesuai data yang kita peroleh dari aparatur RT/RW setempat sebelum pelaksanaan”, sambung Kornas Komascipol–Kombat TNI Polri Dan Abdi Negara.

Sebagaimana biasa yang telah kami laksanakan sebelumnya Baksos selalu menyediakan dan bersinergi bersama TNI dan Polri serta aparatur setempat sekaligus memberikan imbauan agar warga masyarakat tetap tinggal di rumah saja, tidak mudik di hari raya idul fitri 1442 H, sesuai anjuran pemerintah guna memutus mata rantai wabah covid-19 yang saat ini sudah mulai reda

“Hari ini Sabtu, 8/5/2021, dari pukil 09.30 s/d 12.30 WIB, Polsek Cepu Polres Blora dan Koramil Cepu kembali bersinergi bersama Komascipol–Kombat TNI Polri Dan Abdi Negara DPD Blora, membagikan sembako dan infaq kepada fakir miskin untuk gelombang terakhir dari empat gelombang di bulan Ramadhan 1442H ini”. tambah Kordinator Nasional Komascipol-Kombat TNI Polri Dan Abdi Negara Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary hafizdohulloh.

Bakti sosial yang dipimpin Kapolsek Cepu AKP Agus Budiana, SH juga diikuti segenap jajarannya di antaranya Wakapolsek Iptu Budi Yuwono, SH dan beberapa petugas Bhabinkamtibmas, dan anggota Babinsa Koramil Cepu.

“Kegiatan ini merupakan bukti kepedulian Komascipol dan Polsek dan Koramil Cepu terhadap kesejahteraan masyarakat, sekaligus memberikan penyuluhan akan pentingnya menjaga protokol kesehatan di wilayah hukum Polsek Cepu serta imbauan larangan mudik ditengah pandemi Covid-19″. tegas Kornas.

“Pelaksanaan kegiatan bakti sosial yang di hantarkan dari rumah kerumah kaum dua’afa yang sudah didata sebelumnya, sehingga tidak menimbulkan kerumunan karena masih dalam suasana pandemi Covid-19”. tandas Kornas.

Koordinator Nasional Komascipol Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary hafizdohulloh juga mengungkapkan bahwa kegiatan bakti sosial ini adalah salah satu wujud sinergitas antara Polsek Cepu dan Koramil Cepu bersama dengan Komascipol-Kombat TNI Polri serta Abdi Negara DPD Blora beserta jajaran forkopinca Cepu.

“Alhamdulillah, kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolsek Cepu AKP Agus Budiana, SH, dan seluruh personel Polsek Cepu, Komandan Koramil dan seluruh anggota Koramil Cepu dan Camat serta jajaran nya yang tergabung dalam forkopinca Cepu dan seluruh elemen masyarakat yang telah mendukung penuh kegiatan bakti sosial, demi terwujudnya wilayah Cepu yang aman, nyaman dan kondusif, dengan semangat senyum kaum dhuafa yang juga merupakan kebahagian bagi kami”, tutup Kornas Komascipol.

Sementara itu Kapolsek Cepu AKP Agus Budiana,SH membeberkan bahwa kegiatan bakti sosial memang menjadi atensi dari Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama,SIK dan bakti sosial hari ini adalah tindaklanjut dari atensi tersebut.

“Kegiatan positif seperti ini harus terus dilaksanakan secara berkesinambungan, karena manfaatnya sangatlah berarti untuk meraih pahala yang berlimpah di bulan suci serta membahagiakan sesama masyarakat Cepu dan sekitarnya” ajak Kapolsek Cepu.

———-

Renungan

MALAM LAILATUL QADAR

Oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al-Qur’an Al-Karim, yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi. Umat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk memperingati malam ini, akan tetapi mereka berloma-lomba untuk bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah.

Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits nabawiyah yang shahih menjelaskan tentang malam tersebut.

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, tahukah engkau apakah malam Lailatul Qadar itu ? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turunlah melaikat-malaikat dan Jibril dengan izin Allah Tuhan mereka (untuk membawa) segala usrusan, selamatlah malam itu hingga terbit fajar” [Al-Qadar/97 : 1-5]

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui” [Ad-Dukhan/44 : 3-6]

2. Waktunya

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa malam tersebut terjadi pada tanggal malam 21,23,25,27,29 dan akhir malam bulan Ramadhan. [1]

Imam Syafi’i berkata : “Menurut pemahamanku. wallahu ‘alam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam ini?”, beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut” [2]

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada malam terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terkahir bulan Ramadhan dan beliau bersabda.

تَحَرَّوْا وفي رواية : الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” [3]

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat dari Ibnu Umar, (dia berkata) : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

الْتَمِسُوْ مَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُ كُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh hari sisanya” [4]

Ini menafsirkan sabdanya.

أَرَى رُؤْيَا كُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّ هَا فيْ السَّبْعِ الأَوَاخِِرِ

“Aku melihat mimpi kalian telah terjadi, barangsiapa yang mencarinya carilah pada tujuh hari terakhir” [5]

Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke luar pada malam Lailatul Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda : “Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga tidak bisa lagi diketahui kapannya; mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah di malam 29. 27. 25 (dan dalam riwayat lain : tujuh, sembilan dan lima)” [6]

Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan, di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan dari pada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah, dengan ini cocoklah hadits-hadits tersebut tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisah.

Kesimpulannya.

Jika seorang muslim mencari malam lailatul Qadar carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir : 21, 23,25,27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25,27 dan 29. Wallahu ‘alam

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar.?

Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi) orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala-Nya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إَيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berdiri (shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [7]

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha, (dia) berkata : “Aku bertanya, “Ya Rasulullah ! Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus aku ucapkan ?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah :

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah aku” [8]

Saudaraku -semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaati-Nya- engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada isterimu dan keluargamu untuk itu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma.

كَانَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَ أَحْيَ لَيْلَهُ، وَ اَيْقَظَ أَهْلَهُ

Baca Juga  Ancaman Bagi Orang Yang Membatalkan Puasa Ramadhan Dengan Sengaja

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencanngkan kainnya [9] menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya” [10]

Juga dari Aisyah, (dia berkata) :

كَانَ رَسُوْلُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِيغَيْرِهَا

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya” [11]

4. Tanda-Tandanya

Ketahuilah hamba yang taat -mudah-mudahan Allah menguatkanmu degan ruh dari-Nya dan membantu dengan pertolongan-Nya- sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya malam Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.

Dari ‘Ubay Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

صَبِيْحَةُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَمسُ لاَ شعاع لَهَا، كَاَنَهَا طَشْتٌ حَتَّى تَرْتَفَعُ

“Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi” [12]

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

أَيُكُم يَذْكُرُ حِيْنَ طَلَعَ الْقَمَرُ، وَهُوَ مِشْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ

“Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah” [13]

Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “(Malam) Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan” [14]

[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]
_______

Footnote

[1]. Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini berbeda-neda, Imam Al-Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul Syarh Shadr Bidzikri Lailatul Qadar, membawakan perkataan para ulama dalam masalah ini, lihatlah.
[2]. Sebagaimana dinukil Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/386
[3]. Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169
[4]. Hadits Riwayat Bukhari 4/221 dan Muslim 1165
[5]. Lihat Maraji’ tadi
[6]. Hadits Riwayat Bukhari 4/232
[7]. Hadits Riwayat Bukhari 4/217 dan Muslim 759
[8]. Hadits Riwayat Tirmidzi 3760, Ibnu Majah 3850 dari Aisyah, sanadnya Shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan hal. 55-57 karya Ibnu Rajab Al-Hambali.
[9]. Menjauhi wanita (yaitu istri-istrinya) karena ibadah, menyingisngkan badan untuk mencarinya
[10]. Hadits Riwayat Bukhari 4/233 dan Muslim 1174
[11]. Hadits Riwayat Muslim 1174
[12]. Hadits Riwayat Muslim 762
[13]. Muslim 1170. Perkataan : “Syiqi jafnah” syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata : “Dalam hadits ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan”.
[14]. Tahayalisi 349, Ibnu Khuzaimah 3/231, Bazzar 1/486, sanadnya Hasan