IMG 20200725 WA0048

Setukpa Lemdiklat Polri Adakan Baksos Operasi Bibir Sumbing Dalam Rangka HUT Bhayangkara Ke-74, Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari Ke-68 Dan HUT Polwan Ke-72

Headline Jawa Barat Muhasabah

Ka Setukpa Baksos Bibir Sumbing 1 mascipoldotcom, Sabtu, 25 Juli 2020 (04 Dzulhijah 1441 H)

Sukabumi – Bertempat di Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri telah diselenggarakannya bakti sosial dalam wujud operasi bibir sumbing bagi warga masyarakat sekitar Sukabumi dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-74, Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari ke-68 dan HUT Polwan Ke-72, Sabtu (25/07/2020).

Pasien yang mengikuti operasi bibir sumbing ini sebanyak 12 orang dari hasil seleksi yang sebelumnya 19 orang.

Dalam kesempatan acara tersebut dihadiri oleh Kasetukpa Lemdiklat Polri Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto, SIK, M.Hum, Ketua Bhayangkari Cab 04 Lemdiklat Ny. Irwanda Anastasia SSos, SH, MKn beserta pengurus dan seluruh Pejabat Utama Setukpa Lemdiklat Polri serta Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri sebagai pelaksana kegiatan.

Ka Setukpa Baksos Bibir Sumbing 3Dikatakan oleh Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto, SIK, M.Hum bahwa rencana kedepannya akan dilaksanakan operasi khitanan massal dan kegiatan operasi lainnya, yang akan bekerja sama dengan Polres dan Pemerintah Kota dan Kabupaten Sukabumi, Kasetukpa berharap dapat membantu masyarakat-masyarakat yang “kurang mampu” dan mereka yang memerlukan uluran tangan, dan tentunya Rumah Sakit Setukpa Lemdiklat Polri siap untuk bekerja sama dengan pihak-pihak lain atau perusahaan yang akan menyalurkan CSR dan berharap Polri dapat selalu membantu masyarakat”.(Ezl)

———–

Ka Setukpa Baksos Bibir Sumbing 2Renungan

PENGERTIAN MERUBAH CIPTAAN ALLAH

Oleh Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi

Pertanyaan.

Apakah batasan pelarangan taghyîr khalqillah (merubah fisik ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala )?

Jawaban

Untuk menjawab persoalan ini memerlukan penjelasan yang detail. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ خَلْقِ اللهِ تَعَالىَ حَسَنٌ

“Setiap ciptaan Allah Ta’ala itu baik”. [Shahîihul Jâmi’ : 4522]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melaknati wanita-wanita yang mentato, meminta ditato, mencabuti bulu alis dan memperbaiki susunan gigi-giginya, beliau mensifati mereka dengan sifat ‘yang melakukan perubahan terhadap fisik ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala’.[1]

Jadi, setiap usaha merubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang baik supaya tampak lebih bagus masuk dalam konteks larangan ini.

Akan tetapi, misalnya seseorang telah terbakar salah satu bagian tubuhnya, tangan, wajah atau kulit. Kejadian ini berdampak membuat kondisi kulitnya tidak normal, tidak seperti berfungsi seperti asalnya, lantas melakukan operasi, maka tindakan ini tidak masuk kategori taghyîr khalqillah (yang terlarang).

Atau seseorang, maaf, gigi-giginya monyong ke depan. Hingga sulit baginya untuk makan, berbicara atau mengeluarkan huruf-huruf dari makhraj-makhrajnya (tempat-tempatnya). Apabila ia melakukan operasi untuk menormalkannya bukan diniatkan tajammul (memperbaik penampilan), namun supaya bicaranya normal, maka ini hukumnya boleh. Contoh-contoh kejadian lainnya diqiyaskan dengan keterangan ini.

Akan tetapi, kita tidak boleh melakukan apa yang berkembang di kalangan orang-orang kafir dan sebagian kaum muslimin. Misalnya, hidung yang pesek, ingin dirubah menjadi mancung, supaya mirip dengan hidung orang-orang Barat, lantas menempuh cara operasi, ini tidak boleh.

Namun, umpamanya hidung yang pesek ini menyebabkan nafasnya sesak. Bila mesti bernafas dengan mulut, akan menyebabkan rasa sakit, kemudian ia menempuh operasi supaya pernafasannya normal, ini boleh. Operasi seperti ini berbeda dari operasi untuk keperluan memperbaik penampilan.

Jadi, terdapat perbedaan antara operasi plastik yang diharamkan dengan operasi plastik yang hukumnya jaiz, yang ditujukan untuk menormalkan fungsi anggota tubuh, entah karena terbakar atau lainnya. Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Yaitu dalam hadits:

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُوتَشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat wanita-wanita yang membuat tato, meminta ditato, mencabuti alis dan memperbaiki susunan giginya untuk mempercantik diri, yang telah merubah ciptaan Allah [HR. al Bukhari dan Muslim dan lainnya]

HUKUM MERAPIKAN GIGI WANITA

Pertanyaan.

Ustadz saya mau bertanya. Saya punya gigi yang kurang rapi. Pertanyaan saya, bagaimana hukum merapikan gigi dengan kawat yang sekarang ini sedang ngetrend? Terima kasih. 0815809xxxxx

Jawaban.

Kami menemukan pertanyaan senada yang ditanyakan kepada Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullâh. Pertanyaan itu berbunyi, “Apakah boleh meluruskan gigi dan merapatkannya sehingga tidak terpisah-pisah ?”

Beliau hafizhahullâh menjawab, “Apabila hal itu dibutuhkan maka hukumnya boleh, misalnya apabila pada gigi seseorang ada ketidaknormalan kemudian perlu ada perbaikan. Ini tidak apa-apa. Namun jika tidak diperlukan, maka itu tidak diperbolehkan, bahkan ada larangan mengikir gigi (menipiskannya) dan merenggangkan gigi-gigi supaya penampilannya bagus. Bahkan ada ancaman terhadap orang yang nekad melakukannya. Karena perbuatan ini termasuk perbuatan sia-sia dan merubah ciptaan Allâh Ta’âla. Namun jika itu dilakukan dalam rangka pengobatan atau menghilangkan ketidaknormalan atau keperluan lainnya, maka itu tidak apa-apa, misalnya kesulitan mengunyah makanan kecuali jika giginya diperbaiki atau diluruskan.” [al-Muntaqâ min Fatâwâ Syaikh Shâlih al-Fauzân 3/323-324]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XV/1432H/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]