IMG 20201012 WA0148

Satgas Pamtas Yonif 312 Kala Hitam Ajarkan Membuat Peyeum Bandung di Perbatasan

Headline Kombat TNI Polri & Abdi Negara Muhasabah Papua

mascipoldotcom – Senin, 12 Oktober 2020 (25 Safar 1442 H)

Papua – Pos Ungalom, Satgas Pamtas Yonif 312/Kala Hitam memperkenalkan salah satu kuliner khas Bandung “Peyeum Bandung” sekaligus mengajarkan warga cara membuatnya di Kampung Ungalom, Distrik Web, Kabupaten Keerom, Papua.

Hal tersebut disampaikan Dankipur I Yonif 312/KH, Kapten Inf Rasam dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Keerom, Papua, Senin (12/10/2020).

Rasam mengatakan, kegiatan ini merupakan pembinaan teritorial yang dilakukan oleh Satgas agar semakin dekat dengan warga binaannya salah satunya adalah dengan saling berbagi informasi kepada warga mengenai pemanfaatan panganan yang sering dijumpai disekitar kita, namun dapat diolah menjadi olahan yang menarik salah satunya pengolahan singkong menjadi Peyeum Bandung.

“Selain menimbulkan efek hangat, singkong fermentasi atau Peyeum ini juga mempunyai cita rasa yang khas, oleh karena itu, kami ingin memperkenalkan kepada warga binaan yang ada di perbatasan ini sekaligus mengajarkan cara membuatnya,” kata Rasam.

Di tempat terpisah Danpos Ungalom, Serka Riyan Empep yang memimpin langsung kegiatan ini mengungkapkan Kampung Ungalom merupakan salah satu desa yang memiliki potensi hasil pertanian yang melimpah salah satunya singkong. Melihat potensi tersebut maka terbesit ide untuk berbagi informasi bahwa pengolahan singkong yang lebih menarik tidak hanya direbus atau digoreng.

“Hanya berbekal ragi dan singkong, alhamdulillah warga sangat antusias untuk mempelajari cara pembuatan Peyeum Bandung ini,” kata Riyan.

“Selain itu diharapkan hasil dari hasil pelatihan ini dapat membuat para ibu rumah tangga menjadikan singkong sebagai produk aneka makanan yang bernilai rupiah yang tentunya dapat membantu meningkatkan pendapatan ekonomi keluarganya,” tambah Riyan. (Rahmat Hidayat/Selvi)

———–

Renungan

Doa Meminta Perlindungan Dari Bala Yang Berat

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Ya Allâh, kami berlindung kepada-Mu dari beratnya musibah yang tak mampu ditanggung, dari datangnya sebab-sebab kebinasaan, dari buruknya akibat apa yang telah ditakdirkan, dan gembiranya musuh atas penderitaan yang menimpa.  [Muttafaq ‘alaih]

[HR. Al-Bukhâri, kitab ad-Da’âwât bab at-Ta’awwudz min jahdil balâ’ 6/75, Dar Thauqin Najât dan Muslim, kitab adz-dzikr wa ad-du’â wa at-taubah wa al-istighfâr bab at-ta’awwudz min sû’il qadhâ’, no 2707 hlm. 1452 Darul Mughni KSA cet. 1 th. 1419 H/1998].

Fawa’id :

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari empat hal tersebut di atas

Ketika seorang hamba meminta perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dan berdoa kepada-Nya berarti ia menampakkan betapa ia fakir, membutuhkan Allâh Azza wa Jalla dan hamba tersebut merendahkan diri kepada Rabbnya

Berlindung dari ketentuan takdir yang berdampak buruk, tidak bertentangan dengan sikap ridha terhadap ketentuan takdir Allâh Azza wa Jalla .

Karena meminta perlindungan dari ketentuan takdir yang buruk juga merupakan ketentuan takdir Allâhk . Allâh Azza wa Jalla bisa saja mentakdirkan suatu bala’ kepada seseorang, namun Allâh Azza wa Jalla juga mentakdirkan bahwa bila ia berdoa, Allâh akan hilang bala’ tersebut.

Perlunya berlindung dari bala yang begitu berat. Karena di samping berat untuk ditanggung, kadang juga menyebab kelalaian terhadap sebagian perintah agama.

Terkadang hatinya merasa tertekan menanggung cobaan ini, sehingga ia tidak bisa bersabar. Ini menyebabkan dosa.

Kita juga diperintahkan agar berlindung dari datangnya sebab-sebab kebinasaan. Yaitu kepayahan yang begitu menghimpit dan mara bahaya yang berat; baik yang menimpa badan, keluarga atau harta.

Kadang juga sebab-sebab kesengsaraan dalam urusan ukhrawi yaitu adanya siksa dan tanggungan di akhirat disebabkan dosa yang diperbuat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari hal tersebut karena itu adalah bala dan cobaan yang paling klimaks.

Dan orang yang diuji dengan itu, seringkali ia tidak sabar, sehingga ia mendapatkan kesusahan di dunia dan siksa di akhirat.

Ini termasuk doa yang lengkap. Karena hal yang dibenci manusia bisa dilihat dari sisi asal mulanya, yakni buruknya akibat dari apa yang ditakdirkan. Atau bisa dilihat dari sisi akhirat, yaitu tertimpa kebinasaan.

Karena kesengsaraan akhirat sejatinya adalah kebinasaan hakiki. Atau dari sisi penghidupan. Hal ini bisa dari sisi orang lain, yaitu bergembiranya musuh atas musibah yang menimpa kita.

Atau dari sisi dirinya sendiri, yaitu beratnya musibah yang melanda.
[Tuhfah adz-Dzâkirîn, asy-Syaukani Muassasah al-Kutub  ats-Tsaqafiyyah 1408/1988 hal 381;  Mir’âtul Mafâtîh Syaikh Ubaidullah Al-Mubarakfuri 8/214].

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]