images

Presiden Joko Widodo Minta Karantina Wilayah Terbatas Dalam Penanganan Covid-19 Hingga RT dan RW

Headline DKI Jakarta Muhasabah

mascipoldotcom – Rabu, 27 Januari 2021 (14 Jumadil Akhir 1442 H)

Jakarta – Kasus infeksi virus corona tembus 1 juta kasus, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta karantina wilayah terbatas dalam rangka penanganan corona diterapkan hingga lingkup RT dan RW.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, Presiden Jokowi meminta kepada jajaran menteri terkait agar melakukan perubahan strategi dan pendekatan agar penanganan corona berjalan lebih baik.

“Salah satu langkah khusus yang diminta Presiden dalam penanganan corona sekarang ini adalah karantina wilayah terbatas sampai tingkat mikro di lingkup RT dan RW,” kata Muhadjir, dikutip dari siaran pers, Rabu (27/1).

Muhadjir mengatakan, karantina terbatas akan dilakukan untuk mendalami kasus yang ada di suatu wilayah dan memisahkan masyarakat yang positif Covid-19 dengan melakukan isolasi mandiri atau isolasi kolektif.

Muhadjir mengatakan, untuk teknis karantina terbatas tersebut masih akan dibahas lebih lanjut.

“(Teknisnya) kita akan terus atur. Sebetulnya Presiden sudah memesan agar sungguh-sungguh diterapkan karantina terbatas, kemudian isolasi mandiri, dan kalau tidak memungkinkan dilakukan isolasi kolektif secara terpusat,” kata dia.

Menurut dia, perbaikan dan evaluasi di tingkat hulu harus terus dilakukan dengan jumlah kasus yang didapatkan saat ini. Utamanya, dalam melakukan karantina terbatas, tracing tracking testing (3T), protokol kesehatan 3M, dan pengobatan pada pasien Covid-19.

Selain itu, langkah lain yang tengah dilakukan pemerintah pusat adalah pengalokasian tempat tidur untuk pasien Covid-19. Menurut dia, selama ini mayoritas rumah sakit masih belum optimal dalam mengalokasikan tempat tidur dan ruang perawatan untuk pasien Covid-19.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, kata dia, telah memberikan edaran ke rumah sakit agar melonggarkan alokasi tempat tidur untuk pasien Covid-19.

“Karena ternyata sebagian besar rumah sakit, termasuk rumah sakit pemerintah baru di bawah 15 persen menyediakan bed untuk pasien Covid-19 sehingga sudah ada edaran Menkes tinggal bagaimana ditegakkan,” kata dia.

Pada Selasa (26/1/2021), kasus Covid-19 di Tanah Air telah mencapai 1.012.350 berdasarkan penambahan sebanyak 13.094 orang.

Indonesia mencapai jumlah tersebut dalam waktu 10 bulan, terhitung sejak pandemi muncul pada Maret 2020. Di antara negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia memiliki jumlah kasus Covid-19 yang paling tinggi. (kontan.co.id)

———-

Renungan

Tembus 1 Juta Orang Telah Terinfeksi Covid-19, Kita Patut Bersedih Dan Prihatin

Bismillah

Hari ini, Rabu 27 Januari 2021, meskipun dengan segala hal yang sudah dan sedang dilakukan oleh Pemerintah dan seluruh Rakyat Indonesia selama hampir satu tahun (10 bulan +), jumlah orang yang sudah terinfeksi Covid-19 di Indonesia sudah menembus angka 1 Juta orang pada hari kemarin, Selasa 26 Januari 2021.

Dan angka ini akan terus bertambah seiring semakin banyaknya orang yang berpotensi menyebarluaskan virus Covid-19, secara sadar ataupun tanpa sadar.

Secara sadar menyebarluaskan Covid-19, karena sebagian dari mereka yang menyebarluaskan tahu bahwa mereka berpotensi terpapar atau memaparkan dari dan ke orang lain.

Dan mereka secara sadar tetap tidak pakai masker, atau tetap tidak menjaga jarak, atau tetap tidak mau mencuci tangan pakai sabun, atau tetap berkerumun tanpa ikuti aturan kesehatan terkait Covid-19, atau tetap keluyuran (bepergian) untuk hal yang tidak penting.

Singkatnya, secara sadar mereka tetap tidak mau melakukan 5M atau tetap tidak mau melakukan ProKes (Protokol Kesehatan).

Orang-orang seperti ini yang harus segera disasar untuk diingatkan, bila mana perlu, diberi peringatan atau sangsi atau bahkan hukuman yang jelas dan tegas, bukan sangsi atau hukuman main-mainan yang tidak membuat sadar/jera.

Padahal rumah sakit daya tampungnya hampir habis, baik untuk perawatan Covid-19 yang umum maupun yang darurat.

Andai pun ingin dipenuhi seluruh kapasitas perawatan rumah sakit, maka belum tentu ada tenaga medis yang cukup untuk bisa menangani perawatan karena stok tenaga medis terbatas jumlahnya.

Apalagi banyak tenaga medis yang jadi/sudah terpapar Covid-19 juga dan terpaksa dirumahkan (isolasi mandiri) selama beberapa waktu.

Lalu siapa yang akan merawat anda, anak-anak anda, suami/istri anda, keluarga anda, bapak/ibu anda, kakak/adik anda, atau sanak-saudara anda manakala nanti , qadarullaah (sudah berusaha, namun ditaqdirkan) terinfeksi Covid-19

Dokter dan perawat sudah kelelahan dan banyak yang terpapar dan tidak sedikit pula yang sudah meninggal akibat Covid-19.

Setidaknya sudah ada 600 orang tenaga kesehatan yang gugur terkait dengan penanganan pasien Covid-19.

Lalu siapa yang bisa dan bersedia menggantikan posisi mereka (tenaga medis) untuk merawat para pasien Covid-19

Bukankah tidak mudah dan tidak bisa instan mencari tenaga pengganti untuk tenaga medis pengganti.

Anda, bisa/mau, Anak-anak anda, bisa/mau, Istri/suami anda, bisa/mau, Bapak/Ibu anda, bisa/mau, Kakak/Adik anda, bisa/Mau, Sanak-saudara anda, bisa/mau…?.

Lahan pekuburan yang sudah diperluas sudah habis digunakan untuk mengubur jenazah korban Covid-19.

Sekarang sedang/sudah ditambah lagi dengan membebaskan lahan di tempat lainnya.

Dan tidak semua masyarakat bersedia atau bisa dengan mudah lahan di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka dijadikan lahan pekuburan jenazah korban Covid-19.

Kemampuan Pemerintah dan Rakyat secara finansial, fisik dan mental juga punya batasan, apalagi hal ini sudah berlangsung hampir satu tahun.

Wabah Covid-19 nya belum selesai juga. Meskipun sudah ada secercah harapan dari adanya vaksin, namun masih butuh proses berbulan-bulan agar anda, anak-anak anda, istri/suami anda, bapak/ibu anda, kakak/adik anda, sanak-saudara anda bisa mendapatkan vaksinasi itu. Begitu juga dengan yang lainnya.

Lantas mau bagaimana sekarang ???

Minimal, tetap lakukan ProKes bagi yang sudah melakukannya.

Bagi yang belum melakukan ProKes, atau sudah melakukan ProKes namun masih “bolong-bolong”, maka _SEKARANGLAH WAKTUNYA BAGI ANDA UNTUK MENJADI “ORANG YANG BERTANGGUNG”_ terhadap diri anda sendiri, anak-anak anda sendiri, istri/suami anda sendiri, bapak/ibu anda sendiri, kakak/adik anda sendiri, sanak-saudara anda sendiri, DENGAN MELAKUKAN ProKes SECARA DISIPLIN*.

Syukur-syukur bila anda bersedia dan mampu mengajak orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggal anda untuk melakukan ProKes dengan disiplin, minimal di tempat orang-orang sering berkerumun.

Seperti masjid, mushalla (atau tempat ibadah lainnya), kantin, ruang rapat, gedung pertemuan, dan lain sebagainya yang sering dijadikan tempat berkumpulnya orang-orang.

Terlepas dari apa dan siapa dibalik wabah ini, maka yang terpenting sa’at ini adalah kita lakukan saja ikhtiar yang bisa kita lakukan semampu kita sa’at ini untuk melindungi diri kita sendiri, anak-anak kita sendiri, istri/suami kita sendiri, bapak/ibu kita sendiri, kakak/adik sendiri, sanak-saudara kita sendiri.

Syukur-syukur juga kita bisa mengajak orang-orang lain di sekitar kita sa’at kita berinteraksi dengan mereka.

Sambil banyak-banyak ISTIGHFAR dan DZIKIR serta DO’A mengingat Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa , Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang , yang bagaimanapun juga kita pasti kelak akan menemui-Nya, melalui wabah atau sebab yang lainnya.

Semoga Allaah ampuni semua dosa dan kesalahan kita selama kita hidup di dunia, Allaah terima semua amal ibadah kita sebagai amalan shalih yang diterima, Allaah wafatkan kita kelak dalam keadaan husnul khatimah, Allaah beri keni’matan di alam qubur kita, Allaah hindarkan kita dari api neraka, dan Allaah masukkan kita ke dalam syurganya yang tertinggi.

Aamiin