74IMG 20200818 27515

Polsek Pulau Panggung Tangkap Inisiator Pencurian di Area PT PGE Ulu Belu

Headline Lampung Muhasabah

mascipoldotcom, Selasa, 18 Agustus 2020 (28 Dzulhijah 1441H)

Pulau Panggung – Mantan Satpam Kontrak di area PT. PGE Ulu Belu, Hendri Wiranto (25) ditangkap Polsek Pulau Panggung Polres Tanggamus atas persangkaan pencurian 4 tangki karbois (penampungan bahan kimia) di area PT tersebut.

Atas penangkapan tersebut, terungkap bahwa tersangka merupakan inisiator pencurian yang merugikan PT PGE hampir Rp. 350 juta sebab untuk mengambil karbois itu pelaku terlebih dahulu membuang bahan kimia yang berada dalam karbois.

Selain itu terungkap sejumlah peran pelaku lain sebanyak 3 orang yang telah diketahui identitasnya, diantaranya seorang satpam yang merupakan rekan tersangka dan 2 warga yang ikut bersama.

Kapolsek Pulau Panggung Polres Tanggamus Iptu Ramon Zamora, SH mengungkapkan bahwa tersangka saat melakukan pencurian, ia merupakan Satpam kontrak PT. PGE bersama 3 orang rekannya pada 13 Desember 2019 lalu.

Adapun pencurian dilakukan di area penyimpanan Chemical Cementing merk HR 6L tepatnya di klaster 1 PT. PGE Pekon Ngarip Kecamatan Ulu Belu Kabupaten Tanggamus.

“Hasil penyelidikan didapat informasi pelaku telah berada dirumahnya, hingga dinihari tadi, Selasa tanggal 18 Agustus 2020 sekira pukul 01.00 Wib, tersangka berhasil ditangkap di Pekon Gunung Tiga, Ulu Belu,” ungkap Iptu Ramon mewakili Kapolres Tanggamus AKBP Oni Prasetya, SIK.

Menurut Iptu Ramon bahwa berdasarkan keterangan pelapor M. Joni (48) selaku penanggung jawab PT. Haliburton Indonesia bahwa pencurian diketahuinya saat pemeriksaaan barang pada Jumat tanggal 06 Desember 2019 didapati 4 IBC/Karbois sudah tidak ada lagi ditempat nya.

“Atas hal itu, pelapor selaku penanggung jawab PT. Haliburton Indonesia telah kehilangan sebanyak 4 IBC/Karbois yang berisikan bahan kimia sehingga dan mengalami kerugian sekitar Rp 347.193.000,- dan melaporkan ke Polsek Pulau Panggung,” jelasnya.

Dikatakan Iptu Ramon, dalam perkara itu pihaknya berhasil mengamankan 2 IBC/ karbois dan 1 unit mobil mitsubishi L300 warna hitam yang digunakan oleh tersangka saat mengangkut barang hasil curian.

“Selain mengamankan barang bukti itu, kami juga masih memburu 3 rekan tersangka yang terdiri dari 1 mantan Satpam dan 2 warga sipil,” katanya.

Saat ini tersangka dan barang bukti ditahan di Mapolsek Pulau Panggung guna proses penyidikan lebih lanjut.

“Atas kejahatannya, tersangka dijerat pasal 363 KUHPidana, ancaman maksimal 7 tahun penjara,” pungkasnya.

Sementara menurut keterangan pelaku, bahwa sebelum membawa karbois itu, isi karbois yang merupakan bahan kimia itu di buang terlebih dahulu. Lalu barang tersebut dijual seharga Rp. 700 ribu per unitnya.

“Dijual sebanyak 4 unit senilai Rp. 2,8 juta sebab 1 unit berharga Rp. 700 dan uangnya dibagi 4,” kata tersangka Hendri.

Tersangka juga mengaku bahwa setelah pencurian ia kabur ke wilayah Lampung Barat dan berkebun disana hingga awal bulan Agustus 2020 sering kembali ke rumah.

“Setelah pencurian, kabur ke Lampung Barat membuka kebun. Agustus sudah sering pulang dan dinihari tadi ditangkap polisi,” tutupnya. (Iptu Iptu Ramon/Jumaidi)

————-

Renungan

Hadd Sariqah (Mencuri)

Oleh Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Di antara hal penting yang diperintahkan oleh agama Islam untuk menjaganya adalah harta. Islam telah memerintahkan supaya memperoleh harta tersebut dengan cara yang halal (pada dasarnya segala sesuatu diperbolehkan), dan melarang memperolehnya dengan cara yang haram. Islam juga telah menjelaskan berbagai jenis usaha yang haram, sebagaimana yang Allah firmankan:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“… Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu…” [Al-An’aam: 119]

Termasuk dari usaha yang haram adalah mencuri. Yaitu mengmbil harta orang lain dengan sembunyi-sembunyi dan tanpa diketahui.

Perbuatan ini termasuk dari dosa besar, dan hukumannya telah ditetapkan dalam al-Qur-an, as-Sunnah dan Ijma’.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka ker-jakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” [Al-Maa-idah : 38]

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma, ia menjelaskan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memotong (tangan) pencuri baju besi seharga tiga dirham. [1]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata, “Para ahli fiqih telah sepakat bahwa pemotongan tangan pencuri wajib dilaksanakan apabila dua orang muslim yang adil dan merdeka bersaksi atas pencurian tersebut.” [2]

Apabila seorang yang baligh, berakal, dan dalam keadaan tidak terpaksa mencuri, maka ia wajib mendapat hukum hadd dengan adanya pengakuan darinya atau kesaksian dua orang yang adil.

Disyaratkan pula pada harta yang dicuri, hendaknya mencapai satu nishab dan dalam keadaan terjaga (disimpan).

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلاَّ فِي رُبْعِ دِيْنَارٍ فَصَاعِدًا.

“Tidaklah dipotong tangan pencuri kecuali pada (harta senilai) seperempat dinar atau lebih.” [3]

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata, “Para ahli fiqih telah sepakat bahwa pemotongan tangan hanya berlaku bagi orang yang mencuri harta dari tempat penyimpanan.” [4]

Adapun yang dimaksud tempat penyimpanan adalah setiap benda yang dapat digunakan sebagai tempat untuk menjaga dan menyimpan harta, seperti rumah yang tertutup (terkunci), lemari, lokasi yang tertutup, dan lain sebagainya.

Pengarang kitab ar-Raudhatun Nadiyyah” (II/277) berkata, “Tempat penyimpanan adalah tempat yang dianggap oleh masya-rakat sebagai tempat untuk menyimpan suatu benda. Sebagaimana lumbung adalah tempat untuk menyimpan gandum, kandang un-tuk binatang ternak, palang untuk kambing dan jarin [5] untuk buah-buahan.”

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

مَنْ أَصَابَ بِفِيهِ مِنْ ذِيْ حَاجَةٍ غَيْرَ مُتَّخِذٍ خُبْنَةً فَلاَ شَيْءَ عَلَيْهِ وَمَنْ خَرَجَ بِشَيْءٍ مِنْهُ فَعَلَيْهِ غَرَامَةُ مِثْلَيْهِ وَالْعُقُوبَةُ، وَمَنْ سَرَقَ مِنْهُ شَيْئًا بَعْدَ أَنْ يُؤْوِيَهُ الْجَرِيْنُ فَبَلَغَ ثَمَنَ الْمِجَنِّ فَعَلَيْهِ الْقَطْعُ.

“Barangsiapa yang terpaksa mencuri untuk dimakan tanpa menyembunyikannya, maka itu tidak mengapa baginya (tidak ada hukum potong tangan). Namun barangsiapa keluar (dari kebun, ladang, dsb) dengan sesuatu, maka ia wajib membayar denda dua kali lipat. Dan barangsiapa mencuri dari buah-buahan tersebut setelah dimasukkan dalam jariin dan harganya setara dengan baju besi (yang ketika itu berharga seperempat dinar-pent.), maka ia harus dipotong tangannya.” [6]

Orang yang Dicuri Hartanya Boleh Memaafkan Pencuri Sebelum Diajukan Perkaranya kepada Hakim

Dari Shafwan bin Umayyah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Suatu hari aku tidur di masjid di atas selendangku yang seharga 30 dirham. Kemudian datang seseorang dan mengambilnya dariku. Lalu laki-laki itu ditangkap dan dibawa ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memutuskan agar dipotong tangannya.” Shafwan berkata, “Kemudian aku mendatangi beliau dan aku katakan, ‘Apakah engkau akan memotong (tangan)nya hanya karena 30 dirham? Aku akan menjualnya dan aku tangguhkan pembayarannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

فَهَلاَّ كَانَ هَذَا قَبْلَ أَنْ تَأْتِيَنِي بِهِ.

‘Andai saja (keputusanmu itu) datang sebelum engkau mendatangiku dengan laki-laki ini.’”[7]

Faedah:
Pengarang kitab ar-Raudhatun Nadiyyah (II/279) berkata, “Para ahli ilmu telah bersepakat bahwa apabila pencuri melakukan pencuriannya untuk yang pertama kali, maka dipotong tangan kanannya, kemudian apabila mencuri lagi, dipotong kaki kirinya. Kemudian mereka berselisih bagaimana bila mencuri lagi setelah dipotong tangan dan kakinya. Sebagian besar dari mereka berpendapat dipotongnya tangan kiri.” Guru kami rahimahullah berkata dalam at-Ta’liqaat ar-Radhiyyah (III/298), “Menurut riwayat al-Baihaqi (VIII/284), pendapat ini benar bersumber dari Abu Bakar dan ‘Umar. Kemudian jika ia kembali mencuri, maka dipotong kaki kanannya, dan apabila masih tetap mencuri, maka ia dipukul dan dipenjarakan.”

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 – September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (XII/97, no. 6795), Shahiih Muslim (III/ 1313, no. 1686), Sunan at-Tirmidzi (III/3, no. 1470), Sunan Abi Dawud (XII/ 51, no. 4363), Sunan an-Nasa-i (VIII/76).
[2]. Al-Ijmaa’ (140/621).
[3]. Muttafaq ‘alaih: Shahiih al-Bukhari (XII/96, no. 6789), Shahiih Muslim (III/ 1312, no. 1684 (2)) dan ini lafazhnya, Sunan at-Tirmidzi (III/3, no. 1469), Sunan Abi Dawud (XII/51, no. 4362), Sunan an-Nasa-i (VIII/77), Sunan Ibni Majah (II/862, no. 2585).
[4]. Al-Ijmaa’ (139/615).
[5]. Jarin yaitu tempat penyimpanan dan pengeringan kurma dsb.
[6]. Hasan: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 3679)], Sunan Abi Dawud (XII/56, no. 4368), Sunan Ibni Majah (II/865-866), Sunan an-Nasa-i (85/8).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 3695)], Sunan Abi Dawud (XII/62-63, no. 4371), Sunan Ibni Majah (II/865, no. 2595).