Pelaku Rumsong Cibarusah 6

Polsek Cibarusah Amankan Pelaku Rumsong Di Perum Griya Mutiara Asri Sindang Mulya Cibarusah Kabupaten Bekasi

DKI Jakarta Headline Jawa Barat Muhasabah

Pelaku Rumsong Cibarusah 5mascipoldotcom, Kamis, 23 Juli 2020 (02 Dzulhijah 1441 H)

Cibarusah – Polsek Cibarusah mengamankan seorang laki-laki pelaku pencurian rumah kosong di Perum Griya Mutiara Asri Blok CB 2 No. 20 Rt.005/014 Desa Sindang Mulya Kecamatan Cibarusah Kabupaten Bekasi.

Pelaku berinisial AB, (24) Pekerjaan Pencari barang-barang rongsok, alamat Kampung Sawah Kecamatan Jaya Karta Kabupaten Kerawang

Pengamanan pelaku pencurian rumah kosong (Rumsong) yang sebelumnya sudah diamankan oleh keamanan dan warga setempat, dipimpin langsung oleh Kapolsek Cibarsah AKP Sukarman, SH, dengan didampingi Iptu Jamil Kanit bimas (padal), Aipda Baum Anggota Unit Reskrim, Aipda Bowo.S Anggota unit Patroli dan Bripka Widi.P.

Awal pengaman pelaku pencuri spesialis rumah kosong, informasi dari masyarakat yang telah berhasil menangkap dan mengamankan barang bukti hasil curian serta mengamankan kendaraan yang disambung dengan gerobak yang dipakai oleh pelaku untuk mencari barang-barang rongsokan menuju ke TKP.

Pelaku Rumsong Cibarusah 2“Kamis 23/7/2020 pukul 13.00 WIB, kami mendapat informasi dari masyarakat bahwa telah di tangkap pelaku pencurian berat rumah kosong, di Perum Griya Mutiara Asri Desa Sindang Mulya, kami pimpin langsung bersama piket fungsi mendatangi TKP, selanjutnya dari TKP kami mengamankan tersangka inisial AB berikut barang bukti”, beber Kapolsek Cibarusah AKP Sukarman, SH, kepada mascipol.com pukul 18.30 WIB

“Pelaku sebagai tukang rongsok lanjut Kapolsek Cibarusah AKP Sukarman, SH, datang ke TKP, dengan mengendarai sepeda motor yang digandeng dengan gerobak sebagai tempat barang rongsok, hasil pemeriksaan pelaku mengaku mencari rumah kosong yang terlihat di tinggal penghuninya”, sambung Kapolsek Cibarusah.

Pelaku Rumsong Cibarusah 3Masih menurut Kapolsek Cibarusah “Setelah pelaku mendapatkan rumah kosong kemudian melalui pintu belakang rumah korban dengan cara menarik dengan tenaga menggunakan tangan pelaku, setelah pintu terbuka pelaku masuk dan memasukan barang-barang milik korban kedalam karung yang sudah pelaku siapkan, selanjutnya barang-barang yang sudah masuk dalam karung pelaku bawa ke gerobak pelaku”, tutur Kapolsek Cibarusah.

“Saat pelaku akan mengambil barang-barang yang ke 3 (tiga) kalinya, keamanan setempat yang sudah kami didik dan kami bekali saat ikut rapat minggon pada Rabu (15/07/2020) di aula kantor Kecamatan Cibarusah dan juga sebelumnya mendapat penyuluhan dari anggota Bhabinkamtibmas Polsek Cibarusah bersama warga yang curiga akan gerak gerik pelaku langsung menangkap pelaku”. tandas Kapolsek Cibarusah.

Pelaku Rumsong Cibarusah 4Barang bukti yang berhasil diamankan dari pelaku diantaranya Blender, Kompor gas, Pompa air, Sepeda motor dan gerobak rongsok, Karung warna putih.

“Tarsa (35) sebagai korban mengalami kerugian materil sebesar Rp. 3.000.000 (tiga juta rupiah) dan pelaku kami kenakan pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun,” Kapolsek Cibarusah memungkas keterangannya. (Wati Ummu Arfi).

———-
Renungan

MENCURI HARUS DIHINDARI

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Pelaku Rumsong Cibarusah 7Para Ulama ahli fiqih sepakat atas haramnya harta seorang Muslim dan kafir dzimmi. Harta mereka tidak boleh direbut, diambil, dicuri, dimakan dengan cara yang tidak dibenarkan syari’at, walaupun sedikit. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. [An-Nisa’/4: 29]

Bahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan kehormatan harta dengan nyawa. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

Pelaku Rumsong Cibarusah 8Sesungguhnya darah kamu dan kehormatan kamu, haram atas kamu, sebagaimana haramnya hari kamu ini, di bulan kamu ini, dan di kota kamu ini. [HR. Muslim, no. 1218 dari Jabir Radhiyallahu anhu]

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa mencuri barang orang lain termasuk dosa besar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa iman seseorang hilang ketika dia sedang mencuri. Dalam hadits yang shahih disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَالتَّوْبَةُ مَعْرُوضَةٌ بَعْدُ»

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah beriman seorang pezina ketika ia sedang berzina. Tidaklah beriman seorang pencuri ketika ia sedang mencuri. Tidaklah beriman seorang peminum khamar ketika ia sedang meminum khamar. Namun taubat terbuka setelah itu”. [HR. Bukhari, no. 6810; Muslim, no. (57)-104]

POTONG TANGAN BAGI PENCURI

Karena kerusakan yang ditimbulkan oleh pencurian, maka dengan hikmah-Nya Allâh Azza wa Jalla mensyari’atkan hukum potong tangan bagi pelakunya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٣٨﴾ فَمَنْ تَابَ مِنْ بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allâh. Dan Allâh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allâh menerima taubatnya. Sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Mâidah/5:38-39]

Ibnu Syihab rahimahullah berkata:

Allâh menyiksa dengan potong tangan dalam pencurian harta manusia, dan Allâh Maha Perkasa di dalam membalas pencuri, dan Maha Bijaksana di dalam hukum yang telah Dia wajibkan, yang berupa potong tangan pencuri. [Al-Kabâir, imam Dzahabi rahimahullah]

NISHAB POTONG TANGAN

Tidak semua jenis pencurian dihukum dengan potong tangan. Hukum ini berlaku bagi pencuri yang mukallaf (dewasa dan berakal), berniat untuk mencuri, tidak terpaksa dalam mencuri, mencuri dari tempat penyimpanan, serta harta yang dicuri adalah harta yang terhormat (bukan yang haram dimiliki, seperti anjing, alat musik, dan semacamnya), barang yang dicuri mencapai nishâbnya dan keputusan hakim berdasarkan bukti dua orang saksi laki-laki atau dengan cara pengakuan dari si pelaku.

Nishâb (batasan minimal) dalam masalah pencurian, yaitu tiga dirham atau seperempat dinar atau yang senilai dengannya.

عَنْ عَائِشَةَ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا تُقْطَعُ يَدُ السَّارِقِ إِلَّا فِي رُبْعِ دِينَارٍ فَصَاعِدًا»

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, ”Tidak dipotong tangan pencuri terkecuali pada seperempat dinar atau lebih”. [HR. Muslim, no. 1684; Nasai, no. 4936; Ibnu Hibban, no. 4464]

MENCURI DARI TETANGGA DOSANYA BERLIPAT GANDA

Semua bentuk pencurian merupakan dosa besar, namun jika yang dicuri adalah rumah tetangga maka dosanya berlipat ganda. Perkara ini dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini:

Dari Al-Miqdad bin al-Aswad Radhiyallahu anhu, dia berkata:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ: ” مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَا؟ ” قَالُوا: حَرَّمَهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ: ” لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ “، قَالَ: فَقَالَ: ” مَا تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ؟ ” قَالُوا: حَرَّمَهَا اللهُ وَرَسُولُهُ فَهِيَ حَرَامٌ، قَالَ: ” لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ “

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para Sahabatnya, “Apa yang kamu katakan mengenai zina?” Mereka menjawab, “Allâh dan Rasul-Nya telah mengharamkannya, maka perbuatan (zina) itu haram sampai hari kiamat”. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para Sahabatnya, “Sesungguhnya zinanya seorang laki-laki dengan sepuluh wanita, lebih ringan dosanya, daripada dia berzina dengan istri tetangganya”.

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi kepada para Sahabatnya, “Apa yang kamu katakan mengenai mencuri?” Mereka menjawab, “Allâh dan Rasul-Nya telah mengharamkannya, maka perbuatan (mencuri) itu haram”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mencurinya seseorang dari sepuluh rumah, lebih ringan dosanya, daripada dia mencuri dari tetangganya”. [Hadits Shahih Riwayat Ahmad, no. 23854; Al-Bukhâri dalam Adabul Mufrad, no. 103; dll]

TAUBAT PENCURI

Mencuri adalah dosa besar, maka kewajiban pencuri untuk bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dan juga wajib mengembalikan barang curiannya. Imam Adz-Dzahabi berkata, “Para Ulama berkata bahwa taubat pencuri tidak bermanfaat kecuali dengan mengembalikan barang yang telah dia curi. Jika pencuri itu bangkrut (tidak memiliki uang dan barang), dia meminta halal kepada pemilik harta, wallahu a’lam. [al-Kabâ-ir]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIX/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]