IMG 20210704 WA0024

Polri di Hati Rakyat, Hari Bhayangkara Momentum Jadi Lebih Baik ke Depan

DKI Jakarta Headline Muhasabah

mascipoldotcom, Senin, 5 Juli 2021 (25 Zdulkaidah 1442 H)

Jakarta – Setiap tahunnya Hari Bhayangkara selalu dirayakan sebagai wujud soliditas dan review pengabdian Polri untuk bangsa dan negara.

Adapun, tema setiap tahun selalu disesuaikan dengan kondisinya. Namun kali ini Polri mengangkat tema sebagai perannya mendukung pandemi yang lagi melanda dunia terutama Bangsa Indonesia.

Terkait dengan Hari Bhayangkara, Presiden Joko Widodo meminta jajaran Polri untuk terus melakukan pembenahan serta memperkuat manajemen dan kelembagaannya guna meningkatkan kinerja dalam mengayomi, melindungi, sekaligus melayani masyarakat.

“Dirgahayu Kepolisian Negara Republik Indonesia. Teruslah bertransformasi menuju Polri yang Presisi, menjadi abdi utama nusa dan bangsa,” tutur Presiden Jokowi, dalam amanat yang disampaikan pada Upacara Peringatan ke-75 Hari Bhayangkara Tahun 2021, di Istana Negara, Jakarta.

Hal tersebut sejalan dengan Peringatan Hari Bhayangkara kali ini yang mengusung tema ‘Transformasi menuju Polri yang Presisi mendukung percepatan penanganan Covid-19 untuk masyarakat sehat dan pemulihan ekonomi nasional menuju Indonesia Maju’.

Polri yang Presisi yaitu prediktif, responsibilitas, transparan, dan berkeadilan merupakan program yang diusung Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat menjabat sebagai Kapolri.

Di tengah keseriusan terlibat aktif dalam mendukung pemerintah menangani pandemi Covid-19, Presiden meminta jajaran Polri untuk juga tetap fokus menjalankan tugas-tugas pokoknya.

“Polri jangan lengah sedikit pun dalam menjaga keamanan, ketertiban masyarakat, dan penegakan hukum. Polri jangan pernah lengah dalam memberikan perlindungan, memberikan pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya,” ujar Kepala Negara menegaskan.

Lebih jauh Presiden Jokowi mengingatkan, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang sangat cepat, bentuk-bentuk ancaman terhadap kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara juga semakin kompleks.

“Polri harus berpacu menguasai iptek agar tidak kalah dengan pelaku kejahatan. Penggunaan kewenangan Polri harus juga didukung oleh perkembangan teknologi mutakhir,” ujar Presiden.

Presiden juga mengingatkan, penggunaan kewenangan Polri seperti melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan harus dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.

“Ingat, bahwa negara kita adalah negara Pancasila, negara demokrasi, negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Polri bukan hanya harus tampil tegas dan tanpa pandang bulu, tetapi juga harus tampil sebagai pengayom dan pelindung masyarakat,” tegas Presiden.

Presiden melanjutkan, Polri juga harus berwajah ramah dan selalu bersifat melayani masyarakat luas.

“Polri harus Presisi dalam menjalankan wewenangnya, harus akurat dalam membuat keputusan, harus merujuk pada peraturan perundang-undangan, dan harus menjunjung tinggi norma-norma martabat masyarakat,” sambungnya.

Di kesempatan tersebut, Presiden juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) guna mendukung transformasi menuju Polri yang Presisi.

“Rekrutmen, pendidikan, dan promosi harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Harus mencari karakter yang sesuai dengan tugas-tugas Polri dan harus menguasai perkembangan iptek terbaru,” jelasnya.

Selanjutnya, dalam rangka menghadapi tantangan zaman dan tuntutan masyarakat yang semakin kompleks, Presiden juga meminta Polri melakukan pembenahan secara komprehensif, termasuk dalam kebijakan perencanaan, pengorganisasian, dan penganggaran serta monitoring dan evaluasi dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini untuk mendukung Polri yang modern.

Kinerja dan Berbagai Hasil Pencapaian Polri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa momentum Hari Bhayangkara merupakan saat yang tepat untuk melihat kembali capaian Polri yang selama ini telah dilakukan.

“Syukur Alhamdullilah, hasilnya sangat memberikan energi dan semangat untuk terus berubah menjadi lebih baik karena terjadi peningkatan kepercayaan terhadap Polri,” kata Kapolri dalam keterangan tertulisnya.

Hasil capaian yang baik tersebut, menurut Kapolri didasarkan pada hasil survei yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga survei nasional yang kredibel pada tahun 2021. Dalam lembaga survei Alvara Strategi Indonesia, tingkat kepercayaan Polri sebesar 86,5 persen meningkat dari tahun sebelumnya (survei dari Litbang Kompas sebesar 70,8 persen). Sedangkan dari tingkat kepuasan terhadap Polri sebesar 82,3 peraen meningkat dari tahun sebelumnya (survei dari Alvara Strategi Indonesia sebesar 78,8 persen).

Dalam lembaga Charta Politika Indonesia, Polri menduduki peringkat ketiga sebagai lembaga tinggi negara berkinerja paling baik (pada tahun 2018 sampai 2019 Polri menduduki peringkat keempat).

Kemudian peringkat pertama sebagai lembaga penegak hukum berkinerja paling baik (meningkat dari tahun sebelumnya yaitu peringkat ketiga). Menurut Cyrus Network, Polri menduduki peringkat pertama sebagai lembaga penegak hukum yang dipercaya publik mendapatkan nilai sebesar 86,2 persen meningkat dari tahun sebelumnya (survei dari Litbang Kompas sebesar 70,8 persen).

Dalam Litbang Polri, terjadi peningkatan Indeks Kepercayaan Masyarakat (IKM) terhadap Polri di tahun 2021 menjadi 83,14 persen yang merupakan IKM tertinggi sejak tahun 2015. “Peningkatan kepuasan terhadap kinerja dan kepercayaan terhadap Polri ini merupakan kerja keras dari seluruh anggota Polri. Hal ini harus kita syukuri bersama dan mendorong Polri untuk menjadi lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ungkap Jenderal Polisi Sigit.

Mantan Kabareskrim Polri ini menegaskan capaian Polri selama ini bukan merupakan tujuan akhir, tapi pondasi awal dalam keberlanjutan program Transformasi Menuju Polri yang Presisi. “Ke depan, kita akan terus konsisten dan meningkatkan capaian kinerja agar mampu mengubah potret Polri sesuai dengan harapan masyarakat yaitu menjadi Polri yang dekat dengan masyarakat, sekaligus untuk menjawab perkembangan lingkungan strategis yang semakin cepat dan tidak menentu,” kata Kapolri.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, lanjut Sigit, Polri harus mampu meningkatkan motivasi dan kinerja seluruh personelnya.

Salah satu upaya yang telah dilakukan ialah melakukan pemenuhan kesejahteraan personel Polri dengan memberikan perhatian besar seperti dalam program perumahan.

Beberapa waktu yang lalu, Polri telah meluncurkan program 100.000 rumah bagi pegawai negeri pada Polri. Sebanyak 34.491 unit yang terdiri dari 17.400 unit apartemen dan 17.091 unit rumah tapak telah dibangun dan direncanakan selesai pada tahun 2024.

“Program ini akan terus kami lanjutkan hingga seluruh anggota Polri dapat memiliki rumah yang layak. Harapannya personel Polri yang bertugas di lapangan tidak lagi memikirkan keluarga karena kondisi rumah yang kurang layak,” ujar Kapolri.

Selanjutnya adalah program kesehatan, dimana harapannya agar personel Polri mendapatkan kualitas layanan kesehatan yang baik. Polri juga terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Polri beradaptasi, berinovasi, dan mengubah budaya kerja dari dilayani menjadi budaya melayani sehingga dapat mewujudkan pelayanan yang humanis. Hal ini dilakukan dengan meluncurkan 16 layanan berbasis Teknologi Informasi di berbagai layanan kepolisian.

Dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, anggota Polri yang tersebar di seluruh Indonesia terus berupaya menjadi problem solver bagi setiap permasalahan masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui program Polsek sebagai basis resolusi dan realisasi Bhabinkamtibmas sebagai pusat informasi dan problem solver.

“Terdapat 1.063 Polsek (di 343 Polres dan 33 Polda) tidak lagi melakukan penyidikan, melainkan berfokus pada penanganan Harkamtibmas. Kehadiran sosok Polri ditengah-tengah masyarakat diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan masyarakat, tidak perlu menggunakan senjata atau penggunaan kekuatan,” tutur Kapolri.

Di tengah pandemi Covid-19, mantan Kapolda Banten ini juga menegaskan Polri tidak melupakan tugas pokoknya menjaga stabilitas keamanan dalam negeri.

Sepanjang tahun 2021, Polri berhasil menggagalkan peredaran gelap 9,7 ton narkoba dan menyelamatkan 39,24 juta generasi penerus bangsa dari bahaya narkoba.

“Tidak ada toleransi dan tidak boleh ada ruang bagi bandar narkoba di negara ini, termasuk anggota Polri yang terlibat di dalamnya, saya ingatkan pilihannya hanya satu pecat dan pidanakan,” pungkas Kapolri.

Terkait dengan tindak pidana terorisme, Polri telah berhasil menangani terorisme ditunjukkan pada kasus bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulsel pada hari Minggu, 28 Maret 2021 pukul 10.25 WITA.

Pasca kejadian tersebut, Polri secara cepat merespon dengan melakukan penegakan hukum terhadap 108 tersangka di 8 Provinsi (Sulsel, Sulteng, DKI Jakarta, Jabar, NTB, Jatim, Jateng, dan DIY).

“Selama periode Januari sampai Mei 2021, jumlah tindak pidana terorisme yang terjadi di Indonesia sebanyak 6 kejadian dengan 217 tersangka, sebanyak 209 tersangka dalam proses penyidikan dan 8 tersangka dilakukan tindakan tegas terukur (6 meninggal dunia dan 2 bom bunuh diri),” ucap Kapolri

Lebih lanjut, Jenderal Polisi Sigit juga memaparkan penerapan Restorative Justice dikedepankan dalam penyelesaian perkara untuk menciptakan penegakan hukum berkeadilan.

Peningkatan penyelesaian perkara dengan Restorative Justice 64 persen lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini juga diikuti dengan percepatan penyelesaian penanganan berbagai kasus yang menjadi perhatian publik antara lain pungli yang meresahkan masyarakat di Jakarta Utara, kebocoran data BPJS, dan kasus pinjaman online PT. Southeast Century Asia.

“Profesionalisme Penyidik Polri harus dijaga dan dipertahankan dengan tampilan yang tegas namun tetap humanis serta menghormati nilai-nilai Pancasila dan Hak Asasi Manusia,” kata Kapolri.

Kappolri menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan tersebut tidak akan dapat diraih tanpa adanya dukungan dari Bapak Presiden RI dan Bapak Wakil Presiden RI, para pimpinan Lembaga Tinggi Negara, TNI, para pimpinan Kementerian/Lembaga, seluruh anggota MPR / DPR / DPD RI, para mitra kerja, dan seluruh masyarakat.

“Oleh karena itu, selaku Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, saya mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh elemen bangsa yang telah membantu Polri mencapai titik ini,” terang Kapolria.

Sebagai Bhayangkara yang tangguh, Polri kata Jenderal Polisi Sigit juga harus melakukan upaya terbaik dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada dalam rangka membantu penanganan Pandemi Covid-19 melalui pendisiplinan protokol kesehatan.

Antara lain, 5M, penguatan upaya 3T, penjagaan dan penyekatan, operasi yustisi dan membantu akselerasi program vaksinasi Nasional melalui gerai vaksinasi presisi dan vaksinasi massal.

Ketua DPR RI Puan Maharani berharap Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus semakin dekat dengan rakyat Indonesia.

Hal itu disampaikan Puan dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-75. Puan menyampaikan, Polri sudah hadir di tengah masyarakat selama 75 tahun, dan bertugas menghadirkan rasa aman, ketertiban, serta pelayanan publik.

“Selamat HUT ke-75 Bhayangkara RI, semoga Polri terus dekat di hati rakyat,” kata Puan, dalam pernyataan tertulisnya.

Perempuan bernama lengkap Puan Maharani Nakshatra Kusyala Devi ini mengungkapkan bahwa tugas Polri bertambah besar pada masa pandemi Covid-19. Karena selain menjaga keamanan, ketertiban, dan pelayanan publik, Polri juga harus hadir sebagai bagian dari solusi dalam menangani pandemi Covid-19.

“Polri harus terus hadir di tengah masyarakat, memenangkan hati rakyat, membangkitkan semangat gotong royong besar bangsa. Bersama rakyat membawa Indonesia keluar dari pandemi Covid-19,” ungkap Puan.

Hari Bhayangkara diperingati pada 1 Juli di setiap tahun. Peringatan Hari Bhayangkara dimulai pada 1 Juli 1946, saat terbitnya Penetapan Pemerintah Nomor 11/S.D. yang menetapkan Djawatan Kepolisian Negara bertanggung jawab langsung kepada Perdana Menteri.

Pada awalnya kepolisian berada dalam lingkungan Kementerian Dalam Negeri dengan nama Djawatan Kepolisian Negara yang hanya bertanggung jawab masalah administrasi, sedangkan masalah operasional bertanggung jawab kepada Jaksa Agung.

Peringatan Hari Bhayangkara tahun 2021 mengangkat tema “Transformasi Polri yang Presisi Mendukung Percepatan Penanganan Covid-19 untuk Masyarakat Sehat dan Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Indonesia Maju.

Terpisah, di daerah kebahagiaan Hari Bhayangkara juga dirasakan 65 personel Polri yang tergabung dalam satuan tugas Operasi Madago raya 2021 di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, hari ini telah menerima kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi.

Upacara laporan kenaikan pangkat personil satgas Madago raya dipimpin oleh Kepala satuan tugas operasi (Kastgas Ops) Brigadir Jenderal Polisi Reza Arief Dewanto,S.I.K di Pos Komando Taktis (Poskotis) Tokorondo Kecamatan Poso Pesisir Kabupaten Poso Sulawesi Tengah.

65 personel Polri ini tidak bisa melaksanakan upacara kenaikan pangkat dikesatuan masing – masing karena masih mengemban tugas Operasi pengejaran kelompok MIT Poso pimpinan Ali Kalora.

Dalam arahanya Kasatgas Ops Madago raya ini mengungkapkan ” Kenaikan pangkat merupakan wujud perhatian negara untuk kesejahteraan Personel, baik itu berupa kenaikan gaji maupun kesempatan naik jabatan dan pengembangan karier.”

“Dalam kesempatan ini tidak lupa saya juga ingin mengingatkan beberapa hal berkaitan dengan pelaksanaan tugas kita disini, waktu yang kita miliki dalam penyelesaian tugas di sini tidak banyak, kurang lebih hanya tersisa 30 hari lagi dari target waktu yang ditentukan,” ungkap Brigjen Polisi Reza yang Komandan Pasukan Gegana Korbrimob Polri.

“Mari kita kerahkan semua kemampuan untuk dapat mewujudkan keberhasilan dalam pelaksanaan tugas Operasi Madago Raya,” kata Brigjen Pol Reza lagi.

“Sekali lagi saya ucapkan selamat atas kenaikan pangkatnya kepada 65 personel satgas Madago raya, semoga Tuhan senantiasa memberikan kekuatan dan perlindungan-Nya kepada kita sekalian ” tambah Kasatgas Ops Madago raya yang juga mantan Dansat Brimob Polda Sulteng ini.

Terpisah Kasatgas Humas Ops Madago raya Kombes Polisi Supranoto mengungkapkan, “65 personil yang tergabung dalam satgas Madago raya telah dinaikkan pangkatnya setinggi lebih tinggi yaitu sebanyak 65 personil terdiri dari golongan pama 2 personil, golongan bintara 19 personil dan golongan tamtama sebanyak 37 personil,

Selanjutnya atas nama pimpinan Polda Sulteng saya ucapkan selamat kepada seluruh anggota satgas Madago raya yang mendapatkan kenaikan pangkat, tetap rendah diri, bersyukur kepada Allah SWT dan jadikan kenaikan pangkat ini untuk memotivasi diri bekerja lebih baik lagi,” pungkas Kombes Pol Supranoto.

Turut hadir dalam pelaksanaan upacara laporan kenaikan pangkat adalah para pejabat dan perangkat operasi Madago raya yang ada di Kabupaten Poso. (Muhairo)

———-

Renungan

MENCINTAI SAUDARA SEIMAN TERMASUK KESEMPURNAAN IMAN

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.

Takhrij Hadits ini dikeluarkan.

Iman Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Min Al Iman An Yuhibba Liakhihi Ma Yuhibbu Linafsihi, no. 13.

Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Iman, Bab Al Dalil ‘Ala Ana Min Khishal Al Iman An Yuhibba Liakhihi Al Muslim Ma Yuhibbu Linafsihi Min Al Khair, no. 45.

Syarah Hadits

– لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ , artinya tidak sempurna iman salah seorang dari kita, karena penafian (peniadaan) disini untuk menafikan (meniadakan) kesempurnaan, bukan menafikan asal iman.

Jika ada yang bertanya : Apa dalilmu tentang ta’wil (penafsiran) ini, yang memalingkan ucapan dari makna zhahirnya?

Jawabnya : Dalil kami yang menunjukkan hal ini, yaitu amalan tersebut tidak mengakibatkan seorang manusia keluar dari iman dan tidak dianggap telah murtad. Itu hanya nasihat, sehingga penafiannya disini, maksudnya hanya menafikan kesempurnaan iman.

Jika ada yang menyanggah : Bukankah kalian mengingkari ta’wilnnya ahli ta’wil?

Jawabnya : Kami tidak mengingkari ta’wilnya ahli ta’wil, hanya saja kami mengingkari ta’wil mereka yang tidak didasari dalil. Karena, jika ta’wil tidak didasari dalil, maka dinamakan tahrif (penyimpangan) dan bukan ta’wil. Adapun ta’wil yang berdasarkan dalil, maka ia dianggap sebagai bagian dari tafsir kalam (perkataan). Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendo’akan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

اللهمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَ عَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

Ya Allah faqihkanlah ia dalam agama dan ajarilah ia ta’wil.[1]

Jika ada yang bertanya : Dalam firman Allah Azza wa Jalla:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syethan yang terkutuk. [Al Nahl/16 : 98].

Sesungguhnya maksud dari firman Allah tersebut, jika kamu ingin membaca Al Qur’an, apakah ini termasuk ta’wil yang tercela atau ta’wil yang benar?

Jawabnya : Ini ta’wil yang benar, karena ditunjukkan oleh dalil. Yaitu perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berta’awudz ketika akan membaca dan tidak di akhir bacaan.

Jika ada yang bertanya : Dalam firman Allah Azza wa Jalla :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu. [Al Maidah/5 : 6]

Sesungguhnya maksud dari firman Allah tersebut, jika kamu ingin melaksanakannya, apakah ini termasuk ta’wil yang tercela atau ta’wil yang benar?

Jawabnya: Ini ta’wil yang benar.

Oleh karena itu, kami tidak mengingkari semua ta’wil, tetapi hanya mengingkari ta’wil yang tidak didasari dalil, dan kita menamakannya tahrif (penyimpangan).

– لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ . Iman, menurut definisi bahasa Arab, maknanya ikrar yang mengharuskan untuk menerima dan tunduk. Inilah definisi yang sesuai dengan syari’at. Ada yang mendefinisikan dengan tashdiq. (Demikian) ini masih perlu penelitian, karena perkataan آمَنْتُ بِكَذَا dan صَدَّقْتُ فُلاَنًا dan tidak dikatakan آمَنْتُ فُلاَنًا. Ada juga yang menyatakan, iman menurut bahasa Arab adalah ikrar. Yang berpendapat demikian berdalil dengan perkataan آمَنَ به وَ أَقَرَّ بِهِ dan tidak dikatakan آمَنَهَ bermakna صَدَّقَهُ. Ketika dua kata kerja ini tidak dapat sama dalam transitif dan intransitifnya, maka diketahui bahwa keduanya tidak semakna.

Sehingga iman, menurut bahasa yang sebenarnya adalah ikrar hati terhadap apa sampai ke hatinya, dan bukan tashdiq. Terkadang, iman juga bermakna tashdiq dengan indikasi tertentu, seperti firman Allah Azza wa Jalla.

فَئَامَنَ لَهُ لُوطٌ

Maka Luth membenarkan (kenabian) nya… (Al Ankabut/29:26). Ini menurut satu pendapat ulama, sementara ada kemungkinan dikatakan (pendapat yang lain) : (فَئَامَنَ لَهُ لُوطٌ ), bermakna tunduk patuh kepadanya -yaitu Ibrahim- dan membenarkan dakwahnya.

Adapun menurut syari’at, makna iman sama dengan definisi menurut bahasa. Sehingga, barangsiapa yang mengaku beriman tanpa menerima dan tunduk, maka belum (dianggap) mu’min. Berdasarkan hal ini, maka orang Yahudi dan Nashrani sekarang ini bukan mu’min, karena mereka tidak menerima dan tidak tunduk kepada agama Islam.

Dulu, Abu Thalib juga mengakui kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan hal itu dalam pernyataannya : Sungguh mereka mengetahui bahwa anak kita ini tidak berbuat dusta. Dalam diri kita, dan tidak juga mengucapkan perkataan batil.

Dan menyatakan juga, Sungguh aku mengetahui agama Muhammad, termasuk agama manusia yang terbaik. Seandainya bukan karena celaan dan khawatir dimaki. Sungguh engkau melihatku menerima dengan baik agama itu.

Inilah pengakuan yang jelas dan pembelaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun demikian, ia bukanlah seorang mu’min, karena ia tidak menerima dan tidak tunduk. Dia belum menerima dan tunduk kepada dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mati dalam keadaan kafir.

Iman tempatnya ada di hati, lisan dan anggota tubuh. Sehingga iman itu dengan hati, lisan dan anggota tubuh. Maksudnya, perkataan lisan dinamakan iman, dan amalan anggota tubuh dinamakan iman. Ini semua dengan dalil firman Allah Ta’ala.

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu… [Al Baqarah/2 : 143].

Para ahli tafsir menyatakan, imanmu (dalam firman Allah diatas maksudnya) adalah shalatmu menghadap Baitul Maqdis. Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
,
الإِمَانُ بِضْعُ وَ سَبْعُوْنَ شُعْبَةً فَأَعْلاَهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَ أَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَ الحَيَاءُ مِنَ الإِيْمَانِ

Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang, yang tertinggi adalah kalimat la ilaha illallah, dan yang terendah adalah membuang pengganggu dari jalanan. Dan malu, termasuk cabang dari iman.[2]

Tertinggi adalah pernyataan la ilaha illallah, dan ini merupakan pernyataan lisan. Dan terendah, ialah membuang pengganggu dari jalanan, merupakan amalan anggota tubuh, serta rasa malu termasuk amalan hati. Adapun pendapat yang menyatakan iman tempatnya hanya di hati saja dan orang yang membenarkan (Islam) berarti ia telah mu’min; maka pendapat ini adalah pendapat yang salah dan tidak benar.

– حَتَّى يُحِبَّ . Kata “ حَتَّى “ bermakna sampai, berarti maknanya sampai mencintai untuk saudaranya. Kata cinta tidak perlu dijelaskan. Penjelasan makna cinta hanya akan menimbulkan kesulitan dalam memahaminya. Cinta adalah cinta, tidak ada kata yang lebih jelas menafsirkannya dari itu.

– لأَخِيْهِ , maksudnya adalah orang mu’min.

– مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه , maknanya, sesuatu yang ia cintai untuk dirinya berupa kebaikan, keselamatan dan pembelaan kehormatan serta yang lainnya. Makna ini, juga terdapat dalam hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَايُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

Barangsiapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan dimasukkan surga, maka hendaklah meninggal dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan memberikan orang lain apa ia senang mendapatkannya.[3]

Yang menjadi syahid (dalil) dalam hadits disini adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتى إِلَيْهِ

Memberikan orang lain apa (yang) ia senang mendapatkannya.

Faidah Hadits

Dari hadits ini, dapat diambil beberapa faidah, diantaranya.

Pertama : Boleh menafikan sesuatu karena tidak sempurna, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.

Dan yang sejenis (hadits) ini adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لاَيُؤْمِنُ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak sempurna iman seseorang, yang tetangganya tidak aman dari kejahilannya (gangguannya).[4]

Diantara contoh lain bolehnya menafikan sesuatu karena hilangnya kesempurnaan sesuatu itu, adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca Juga Jangan Mencela Sahabat Rasulullah!

لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ

Tidak ada shalat ketika makanan telah terhidang

Maknanya, tidak ada shalat yang sempurna, karena hati orang yang shalat akan sibuk (terganggu) dengan makanan yang telah dihidangkan, dan banyak contoh lainnya.

Kedua : Kewajiban seseorang untuk mencintai saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya. Karena penafian (kesempurnaan) iman dari orang yang tidak mencintai saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya (dalam hadits) menunjukkan bahwa hal tersebut wajib. Sebab tidak dinafikan iman, kecuali karena hilangnya kewajiban iman, atau adanya hal yang bertentangan dengannya.

Ketiga : Peringatan dari sikap hasad (iri, dengki), karena orang yang hasad tidak mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya; bahkan ia mengharapkan agar nikmat Allah hilang dari saudaranya se-islam. Para ulama berselisih dalam tafsir hasad. Sebagian mendefinisikan hasad, adalah mengharap hilangnya nikmat dari orang lain. Sebagian ulama yang lain menyatakan, hasad adalah rasa tidak suka terhadap nikmat Allah atas orang lain. Inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,“Jika seorang hamba membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, berarti ia telah hasad kepadanya, walaupun ia tidak mengharapkan hilangnya nikmat tersebut.”

Keempat : Hendaklah menyampaikan perkataan yang berisi ajakan beramal, karena itu termasuk kefasihan. Yang menjadi dalil dari hadits adalah sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam : لأَخِيْه karena hal ini menunjukkan lemah-lembut, kasih dan sayang.

Contoh serupa terdapat pada firman Allah tentang ayat qishash:

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءُُ

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik. [Al Baqarah/2 : 178].

Padahal ia yang membunuh untuk menampakan kelembutan dan kasih sayang kepada al mukhothob (yang ditujukan pembicaraan, pent).

Jika ada yang menyatakan : Masalah ini terkadang susah (sulit diamalkan-red) maksudnya bahwa mencintai untuk saudara sesuatu yang kamu cintai untuk dirimu, dengan pengertian, menginginkan saudaramu agar menjadi alim, menjadi kaya, menjadi orang yang banyak harta dan anaknya dan menjadi seorang yang istiqomah, ini semua adalah perkara yang terkadang susah.

Jawabnya : Ini tidak susah, jika kamu telah membiasakan jiwamu berbuat demikian. Latihlah jiwamu untuk berbuat demikian, niscaya akan mudah. Namun jika kamu mentaati jiwamu dalam hawa nafsunya, maka benarlah hal itu akan menjadi berat.

Jika seorang murid bertanya : Apakah termasuk dalam hal ini, saya mencontekkan kepada teman saya dalam ujian, karena saya ingin lulus ujian sehingga saya memberikan contekan kepadanya agar ia lulus ujian juga?

Jawabnya: Tidak ! Karena itu merupakan penipuan. Perbuatan ini, sebenarnya adalah perbuatan jelek kepada saudaramu, bukan perbuatan baik kepadanya. Karena jika kamu telah membiasakan ia berkhianat, maka ia akan menjadi terbiasa melakukannya. Dan karena engkau juga dengan memberikan contekkan berarti engkau telah menipunya, dimana ia akan membawa ijazah, yang sebenarnya ia tidak pantas menyandangnya.

Wallahu al muwaffiq.

(Disusun oleh Kholid Syamhudi, diangkat dari kitab Syarah Al Arba’in An Nawawiyah, Cetakan Pertama, Tahun 1424 H, Dar Ats Tsuraya, Riyadh, KSA, hlm. 160-164)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 ]
______

Footnote

[1] HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al Wudhu’, Bab Wadh’u Al Ma’ Inda Al Khala’, no. 143.
[2] HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, Bab Bayan ‘Adad Syu’abi Al Iman Wa Afdhaluha Wa Adnaha Wa Fadhilah Al Haya Wa Kaunihi Min Al Iman, no. 35.
[3] HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al Imarah, Bab Wujub Al Wafa’ Bi Bai’ati Al Khulafai Al Wal Fal Awal, no. 1.844.
[4] HR Al Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al Adab, Bab Itsmu Man La Ya’man Jarau Bawaiqahu, no. 6-16.