Polri Bagikan 3.200 Paket Sembako Untuk Orang dengan Gangguan Jiwa

Polri Bagikan 3.200 Paket Sembako Untuk Orang dengan Gangguan Jiwa Di Tambun Kabupaten Bekasi 

DKI Jakarta Headline Muhasabah
Polri Bagikan 3.200 Paket Sembako Untuk Orang dengan Gangguan Jiwa 1

mascipoldotcom  – Senin, 29 Juni 2020 (8 Dzulqoidah 1441)

Jakarta – Dalam rangka memperingati hari jadi Bhayangkara ke-74 pada 1 Juli mendatang, Polri memberikan paket sembako kepada orang dengan gangguan jiwa

Penyerahan dilakukan secara simbolis di Yayasan Al Fajar Berseri, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Minggu (28/6/2020) yang diserahkan langsung oleh Divisi Hukum (Divkum) Mabes Polri, Brigjen Pol. Dr. Agung Makbul, S.H., M.H., kepada pemilik Yayasan Al Fajar, Marsan Susanto.

“Kehadiran kami di sini bekerja sama dengan Kopi Panas Foundation memberikan sembako sebanyak 3200 untuk ODGJ. Khusus di yayasan ini dibagikan 456 paket,” Terang Kadivkum Mabes Polri.

Selain itu, Kadivkum juga berpesan bahwa ODGJ adalah orang yang perlu diperhatikan dan disayangi. Mereka ialah mahluk sosial yang juga patut dicintai.

HUT Bhayangkara ke-74 ini mengambil tema Kamtibmas Kondusif Masyarakat Semakin Produktif. Makbul berharap hal ini bisa terwujud di masyarakat.

Kadivkum juga menambahkan, Kami harap masyarakat bisa produktif dengan berkarya, ide, dan aktivitas. Walaupun di tengah pandemi tetap berkarya untuk bangsa dan negara.

Sementara itu, pemilik Yayasan Al Fajar sangat bangga dan berterima kasih kepada Polri yang memberikan bantuan kepada yayasan yang diasuhnya.

“Saya bangga karena ternyata masih banyak orang yang lebih baik dari saya. Ribuan terima kasih untuk Pak Jenderal. Mohon maaf karena kalau kita kurang nyaman karena di sini dibina orang-orang kurang waras. Mereka saudara kita juga,” jelas pemilik Yayasan Al Fajar. (Div Humas Polri)

———

Renungan

PENGOBATAN DENGAN RUQYAH UNTUK PENYAKIT JIWA

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah seorang mukmin bisa menderita sakit jiwa? Apakah obatnya secara syara? Perlu diketahui bahwa pengobatan modern mengobati penyakit-penyakit ini hanya dengan obat-obatan masa kinisaja?

Jawaban
Tidak disangsikan lagi bahwa manusia bisa mederita penyakit-penyakit jiwa berupa hamm (sakit hati) terhadap masa depan huzn (duka cita) terhadap masa lalu. Penyakit-penyakit kejiwaaan lebih banyak mempengaruhi tubuh dari penyakit-panyakit anggota tubuh. Pengobatan penyakit-penyakit ini dengan perkara-perkara syar’iyah (ruqyah) lebih manjur daripada pengobatannya dengan obat-obatan yang bisa digunakan.

Di antara obat-obatnya adalah hadits shahih Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. :

“Artinya : Tidak ada seorang mukmin yang menderita hamm, atau, ghamm, atau duka cita, lalu ia menjawab, ‘Ya Allah’ sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hamba laki-lakiMu, anak hamba perempuanMu, ubun-ubunku di tanganMu, berlalu hukum Engkau padaku, qadhaMu sangat adil padaku, aku memohon kepadaMu dengan segala nama yang Engkau namakan diriMu dengannya, atau Engkau beritahu kepada seseorang makhlukMu, atau Engkau turunkan dalam kitabMu, atau hanya Engkau yang mengetahuinya dalam ilmu ghaib di sisiMu, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penerang duka citaku, dan hilangnya hamm (sakit hati)ku. Melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melapangkan darinya” [HR Ahmad dalam Al-Musnad 3704-4306]

Ini termasuk pengobatan secara syara. Demikian pula seorang manusia membaca.

“Artinya : Tiada ilah (yang berhak diibadahi) selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat aniaya” [HR At-Tirmidzi, Ad-Da’awt 3505 dan Ahmad no. 1465]

Siapa yang meginginkan tambahan lagi, rujuklah (bacalah) kepada kitab yang ditulis para ulama dalam bab dzikir, seperti Al-Wabil Ash-Shayyib karya Ibnul Qayyim, Al-Kalim Ath-Thayib karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al-Adzkar oleh An-Nawawi, demikian pula Zad Al-Ma’ad karya Ibnul Qayyim.

Tetapi, manakala iman lemah, niscaya lemahlah penerimaan jiwa terhadap obat-obat syar’iyah. Sekarang manusia lebih banyak berpegang kepada obat-obatan nyata daripada berpegang mereka terhadap obat-obatan syar’iyah. Dan manakala iman kuat, niscaya obat-obatan syar’iyah memberikan implikasi secara sempurna, bahkan implikasinya lebih cepat dari pada pengaruh obat-obatan biasa. Sangat jelas bagi kita semua cerita seseorang yang diutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu pasukan (sariyah). Lalu mereka singgah di suatu kaum bangsa Arab. Tetapi kaum/suku yang mereka singgahi tidak memberikan jamuan kepada para sahabat. Maka, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki pemimpin kaum tersebut di gigit ular.

Sebagian mereka berkata kepada yang lain, “Pergilah kepada mereka yang telah singgah/mampir, mungkin saja kalian mendapatkan ahli ruqyah di sisi mereka”. Para sahabat berkata, “Kami tidak akan meruqyah pimpinan kalian, kecuali kalau kalian memberikan kepada kami kambing sebanyak begini dan begini”. Mereka mejawab, “Tidak mengapa”. Lalu salah seorang sahabat pergi membacakan atas orang yang di gigit ular tersebut. Ia hanya membaca surah Al-Fatihah. Orang yang digigit ular tadi langsung berdiri,seolah-olah berlepas dari ikatan. Seperti inilah, bacaan Al-Fatihah memberikan pengaruh atas laki-laki ini; karena ia muncul dari hati orang yang penuh iman. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda setelah mereka kembali kepada beliau, “Tahukah engkau bahwa ia adalah ruqyah” [HR Al-Bukhari, kitab Ath-Thibb 5749, Muslim, kitab As-Salam 2201]

Namun di zaman kita sekarang ini, iman dan agama telah lemah. Manusia berpegang atas perkara-perkara yang terasa dan nampak. Sebenarnya mereka diuji padanya. Akan tetapi di hadapan mereka terdapat para ahli sulap dan mempermainkan akal, kemampuan, dan harta manusia. Mereka meyakini sebagai qurra (pembaca Al-Qur’an) yang bersih, namun mereka sebenarnya adalah pemakan harta dengan cara batil. Manusia berada di antara dua sisi yang kontradiktif, di antara mereka ada yang bersikap ekstrim dan tidak melihat adanya implikasi secara absolut terhadap bacaan. Ada pula yang bersikap ekstrim dan bermain dengan akal manusia dengan bacaan bohong serta menipu. Ada pula yang berada di tengah.

[Fatawa Al-Ilaj bil Qur’an wa Sunnah, Ar-Ruqa ma Yata’allahqu Biha, karya Syaikh Ibnn Baz, Ibn Utsaimin, Al-Lajnah Ad-Daimah hal. 22-24 dan fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin]