IMG 20200826 WA0151

Polres Metro Bekasi Kerja Sama Dengan Ponpes Ibnu Abbas Cikarang Selatan Lakukan Pembinaan Rutin Kepada Warga Binaan

Headline DKI Jakarta Muhasabah

Polres Metro Bekasi Kerja Sama Dengan Ponpes Ibnu Abbas Cikarang Selatan Lakukan Pembinaan Rutin Kepada Warga Binaan

mascipoldotcom, Kamis, 27 Agustus 2020 (08 Muharam 1442 H)

Bekasi – Jika kita melihat latar belakang apa yang dinamakan Binrohtal, kita semua akan tertuju pada kegiatan keagamaan yang pada umumnya ada di lingkungan Pemerintah baik Pusat maupun daerah.

Lebih rinci lagi arti dan makna Binrohtal merupakan kependekan dari Pembinaan, Rohani dan mental, secara rinci Pembinaan adalah proses perbuatan, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara berdaya guna dan berhasil guna untuk memperoleh hasil dan perilaku umat manusia yang lebih baik.

Dan Pembinaan Rohani adalah kegiatan membentuk dan memelihara serta meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan makna
mental adalah semua unsur-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap dan perasaan yang dalam keseluruhan serta kebulatannya akan menetukan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan umat manusia.

Bertempat di rumah tahanan Mako Polres Metro Bekasi Kamis/27/8/2020 pukul 09.00 sampai dengan 13.30 WIB telah berlangsung pelaksanaan Binrohtal yang rutin digelar seminggu sekali setiap hari Kamis.

Kegiatan dimaksudkan untuk meningkatkan iman dan taqwa para tahanan Polres Metro Bekasi yang menjadi tanggung jawab serta berada dalam pengawasan Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol Hendra Gunawan, SIK, Msi bekerjasama dengan Ponpes Ibnu Abbas Cikarang Selatan.

Program pembinaan rohani diharapkan mampu membentuk mental yang positif bagi warga binaan Polres Metro Bekasi disamping itu juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran untuk melaksanakan ajaran–ajaran agama mereka, khususnya Agama Islam bagi warga Binaan Polres Metro Bekasi.

“Polres Metro Bekasi Kabupaten mengadakan giat rutin pembinaan Rohani kepada para anggota dan warga binaan yang atas pemerintah Bapak Kapolres diadakan satu kali dalam seminggu, ungkap Kasat PLH AKP Triyono yang di dampingi Iptu Trimulyono, saat di temui mascipo.com, Kamis, 13/8/2020, Pukul 11.00 WIB

“Program ini di sampaikan dan di laksanakan oleh Kapolres Bekasi Kabupaten Kombes Hendra Gunawan, S.I.K.,M.Si melalui para Bimaspol”. imbuh AKP Triyono.

Kasat PLH AKP Triyono yang di dampingi oleh Iptu Trimulyono saat di temui mascipol.com mengatakan bahwa kegiatan ini akan dilaksanakan secara rutin setiap hari Kamis pukul 10.00 Wib sampai dengan pukul 13:30 WIB.

Masih menurut AKP Triyono kegiatan ini baik dan bagus sekali, bertujuan untuk membina mereka para warga binaan Polres Metro Bekasi, agar mereka menyadari kesalahan-kesalahan dan tidak mengulangi kembali perbuatan tersebut dan supaya dapat kembali kepada masyarakat.

“Untuk ustadz-ustadznya bergantian, kemarin Kamis, 13/8/2020, dari pukul 09.00 s/d 11.00 WIB yang di berikan amanah untuk pencerahan adalah ustadz Bibit Widodo atau ustadz Abu Migdad hafidzulahu dari pondok pesantren Ibnu Abbas Cikarang”. kata AKP Triyono.

Warga binaan Polres Metro Bekasi yang di bina adalah 136 orang, tiga di antaranya adalah wanita, warga binaan ini terdiri dari berbagai kasus”, tutup AKP Triyono.

Sementara itu Kasat Binmas Polres Metro Bekasi Kompol Suwardi menyampaikan kepada mascipol.com bahwa pelaksanaan Binrohtal dilakukan oleh Ustazd Salim (Yayasan Pondok Pesantren Ibnu Abbas Cikarang Selatan) yang didampingi oleh Ps Kanit Bintibmas dan Anggota Polres Metro Bekasi

“Dalam ceramah Ustad sampaikan kepada para tahanan untuk lebih memantapkan rasa Ke Imanan dan dan menambah Ilmu Agama untuk bekal Akherat”. tutup Kompol Suwardi.

Sementara itu ringkasan ungkapan ustadz Abu Migdad hafidhohulloh saat memberikan pencerahan mengatakan
“Alhamdulillah atas taufiq Allah Azza Wa jalla kita di berikan kesempatan untuk bisa menyampaikan tausiah kepada 130 tahanan di Polres Metro Bekasi banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya dari kegiatan ini:

1. Mari kita selalu bersyukur kepada Sang Kholiq yang selalu memberikan hidayah kebaikan kepada kita semuanya sehingga sampai saat ini kita selalu dijaga-Nya dari keburukan.

2. Sungguh betapa besarnya nikmat kebebasan…di dalam sel ini para tahanan segala sesuatunya serba terbatas…oleh karena itu dengan banyaknya kekurangan yg kita miliki baik rejeki yg kita rasa kurang dan segala sesuatunya yang jarang kita syukuri…namun Allah masih memberikan kenikmatan berupa sebuah kebebasan…akankah kita akan mendustakan banyknya kenikmatan yang telah Allah karuniakan pada kita???fabi ayyi ‘aalaa irobbiku maa tukadzziban..

3. Marilah kita selalu berdoa supaya selalu di jaga oleh Allah dari perbuatan2 yang buruk.

4. Janganlah meremehkan dan merendahkan mereka yang saat ini jadi tahanan karena bisa jadi mereka bertaubat dengn taubatan nasuha sehingga derajat mereka diangkat oleh Allah dengan derajat yg tinggi, disela-sela tausihah sempat tersendat suara krena terenyuh melihat banyak para tahanan yang meneteskan air mata…kita doakan semoga mereka bertaubat dengan taubatan nasuha..sehingga setelah melewati masa2 hukuman mereka bisa menjadi insan yg lebih baik lagi.

In syaa Alloh program ini akan terus berkelanjutan, semoga diberi keikhlasan serta kemudahan, mereka semua butuh bimbingan, pendampingan serta arahan

Orang salah bukan untuk di salah-salahkan namun untuk di luruskan tentunya dengan bahasa dan cara yang penuh hikmah

Semoga Allah menjaga kita semuanya”.ungkap dan harapan ustazd Abu Migdat Hagizdohulloh. (Wati Ummu Arfi).

————-

Renungan

Orang Yang Beruntung Menurut Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Di dunia ini, setiap manusia ingin menjadi orang-orang yang beruntung setiap saat dan di manapun berada. Mereka berharap menjadi manusia-manusia yang bernasib mujur dan baik di alam fana ini. Dan pandangan mereka tentang keberuntungan dan kemujuran lebih terpaku pada raihan materi- materi duniawi dan selamat dari keburukan dan semua yang mereka takuti.

Apakah demikian hakikat keberuntungan dan nasib baik? Di atas, keberuntungan didefinisikan dengan meraih yang baik dan selamat dari yang buruk, akan tetapi dalam urusan-urusan yang bersifat duniawi. Bagaimana pandangan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam orang-orang yang beruntungitu?

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan karakter orang-orang yang memperoleh keberuntungan dan menjadi manusia-manusia yang bernasib mujur. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَـنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ ..رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Sungguh telah beruntung orang yang memeluk Islam, dikaruniai rezeki yang cukup dan Allâh menjadikannya bersifat qanaah atas nikmat yang diberikan-Nya kepadanya. [HR. Muslim]

Dalam petunjuk di atas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan keberuntungan bagi orang-orang yang menggenggam tiga karakter tersebut. Sebab, tiga sifat tersebut telah memadukan kebaikan agama dan dunia.

Seorang manusia bila telah memperoleh hidayah untuk memeluk Islam yang merupakan agama Allâh Azza wa Jalla yang tidak ada ajaran agama yang diterima selainnya, ia telah memiliki kunci untuk memperoleh pahala dan selamat  dari siksa.

Selanjutnya, ia memperoleh rezeki yang mencukupi kebutuhan dirinya, sehingga dengan itu ia dapat menjaga kehormatannya untuk tidak meminta-minta atau mengemis kepada orang lain.

Lalu, Allâh Azza wa Jalla menyempurnakan anugerah pada dirinya dengan menjadikannya manusia yang bersifat qana’ah. Yaitu, orang yang ridha dengan rezeki yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepadanya. Jiwanya menerima, tidak lagi rakus dengan menginginkan yang lebih dari itu.

Tentang ridha dengan pembagian rezeki ini , dalam hadits lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

Ridhailah apa yang Allâh bagikan untukmu, maka engkau akan menjadi orang yang paling berkecukupan [HR. At-Tirmidzi dan lainnya]

Orang yang telah memperoleh tiga hal ini, ia telah mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat.

Ada kekurangan dengan tidak terpenuhinya tiga sifat ini atau salah satunya, semisal ia tidak mendapat hidayah untuk memeluk Islam, orang ini bagaimanapun keadaannya, sesungguhnya kesudahannya adalah hidup celaka selamanya, di neraka.

Atau orang tersebut sudah memeluk Islam, namun ia diuji dengan kekurangan harta yang menyebabkannya lupa kepada Allâh Azza wa Jalla, sehingga memforsir seluruh tenaganya untuk bekerja dan bekerja atau kekayaan yang menjadikannya berbuat melampaui batas, dua keadaan ini berbahaya dan lubang kelemahan yang besar bagi orang itu.

Demikan juga orang yang sudah dikaruniai rezeki yang banyak, namun ia tidak qana’ah dengan rezeki dari Allâh Azza wa Jalla tersebut, akibatnya hatinya masih gelisah dengan apa yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya. Orang ini orang yang berhati dan berjiwa miskin.

Sesungguhnya kekayaan hakiki itu bukanlah karena berlimpahnya materi. Kekayaan hakiki adalah kecukupan yang ada dalam hati. Berapa banyak pemilik kekayaan yang berlimpah-ruah, akan tetapi hatinya merasa kekurangan lagi kecewa. Dan sebaliknya, berapa banyak orang yang miskin dalam segi materi, akan tetapi hatinya kaya. Ia ridha dan menerima rezki pembagian dari Allâh Azza wa Jalla  dengan qana’ah.

Orang yang berpendirian teguh, ketika dunia menyempit di hadapannya, ia tidak menggabungkan pada dirinya kesempitan dunia dan kemiskinan hati. Ia tetap berusaha untuk meraih ketenangan jiwa dan ketentraman, sebagaimana ia berusaha untuk mencari rezeki.

Wallâhua’lam.

(Diadaptasi dari Bahjatu Qulûbil Abrâri Wa Qurratu ‘Uyûnil Abrârifii Syarhi Jawâmi’I al-Akhyâr, Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di, Cet. I, Th.1415H-1995M)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]