IMG 20200915 WA0418

Polres Metro Bekasi Kampanyekan Penggunaan Masker di Pasar Central Guna Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Akan Bahaya Covid-19

Headline DKI Jakarta Jawa Barat Muhasabah

IMG 20200915 WA0415mascipoldotcom – Selasa, 15 September 2020 (27 Muharam 1442 H)

Bekasi – Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol Hendra Gunawan, SIK, M.Si  diwakilkan kepada Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi, siang tadi Selasa 15/9/2020, pukul 09 sampai dengan 11.30 WIB, menggelar kampanye penggunaan masker kepada masyarakat di pasar Central yang berada di Desa Sukaresmi, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Bara.

Puluhan personel Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi dibawah kendali Wakasat Reskrim Polres Metro Bekasi, Kompol M. Salahudin.

Kepada mascipol.com Kompol M. Salahudin menuturkan, kegiatan ini merupakan kegiatan atensi Kapolres Metro Bekasi yang disukseskan oleh para PJU Polres Metro Bekasi dan Kapolsek Jajaran Polres Metro Bekasi sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat agar masyarakat terhindar dari bahaya wabah covid-19.

IMG 20200915 WA0416Dan kegiatan ini juga demi meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

“Di antaranya dengan mengampanyekan penggunaan masker di di pasar Central yang berada di Desa Sukaresmi, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi,” ungkap Wakasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kompol M. Salahudin, Selasa (15/09/2020) pukul 18.00 WIB

Menurut Wakasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kompol M. Salahudin, para personel Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi di lokasi memberikan imbauan sekaligus membagikan masker kepada pedagang, pengunjung pasar, serta warga sekitar agar selalu menerapkan protokol kesehatan.

IMG 20200915 WA0419“Selain kampanye, kita juga melakukan teguran dan pemberian masker kepada pengunjung pasar yang tidak menggunakan masker,” sambung Kompol M. Salahudin.

Di lokasi, petugas masih mendapati banyak pedagang dan pengunjung pasar yang tidak menggunakan masker.

Hal ini mencerminkan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya Covid-19, mengingat Kabupaten Bekasi yang kembali berstatus zona merah.

“Kami mengingatkan pembeli dan masyarakat untuk selalu patuhi protokol kesehatan agar dapat mengurangi dan menghentikan penyebaran Covid-19,” tandas Kompol M. Salahudin. (A.riri/Wati Ummu Arfi).

————–

IMG 20200915 WA0421Renungan

Kisah Ibu Yang Membakar Uang Anaknya

Di kota Riyadh,  Saudi Arabia, ada seorang janda yang memiliki dua anak laki-laki yang bekerja sebagai sopir taksi. Dua pemuda tersebut sangat berbakti kepada ibunya. Mereka menabung untuk membayar kontrak apartemen yang harga sewa pertahunnya mencapai 24 ribu real atau sekitar 80 juta rupiah (th 2019).

Keduanya dengan susah payah menabung, sampai terkumpul uang sebesar sepuluh ribu real (sekitar tiga puluh delapan juta rupiah).

Uang tersebut mereka ikat dengan karet, lalu mereka masukkan kedalam plastik, setelah itu direkatkan dengan lakban hingga benar-benar rapat dan tertutup, kemudian bungkusan uang tersebut disimpan di bawah bantal kamar mereka berdua.

Ketika keduanya pergi bekerja, si Ibu merapikan kamar anaknya. Tanpa sengaja beliau menemukan bungkusan tadi di bawah bantal. Ia terkejut, wajahnya langsung memerah dan alisnya mengerut.

“Baru beberapa hari lalu aku marah kepada mereka karena ketahuan main kartu di kamar! Hmm… Ini dia benda yang sudah membuat anak-anakku lalai!” Gumamnya. Dengan kesal ia menggenggam erat bungkusan yang disangka kartu domino.

Meskipun tanpa uang dan bukan judi, tapi bermain kartu itu melalaikan waktu dan termasuk permainan yang kurang terpuji. Masih banyak permainan lain yang lebih baik.

Ketika anak yang bungsu pulang ke rumah, langsung saja Ibunya menumpahkan amarahnya karena merasa perintahnya telah diacuhkan.

Pemuda ini termenung, ia merasa tidak bersalah karena ia sudah meninggalkan kebiasaan main kartu. Ia menunduk diam tidak membantah saat dimarahi ibunya karena ia sangat memuliakan dan menghormati Ibunya.

Si anak rupanya menyadari bahwa hak orang tua adalah sesuatu yang agung setelah hak Allah untuk diibadahi semata dan tidak dipersekutukan dengan apapun.

Setelah Ibu selesai memarahinya, lalu si bungsu bertanya, “Ibu menemukan kartu dimana?”

“Dibawah bantal!” jawab Ibunya dengan mantap.

“Dimana sekarang kartu tersebut?” tanya anaknya.

“SUDAH IBU BAKAR!”

Jawab Ibunya dengan nada puas telah menghukum anaknya.

Menurut pembaca, kira-kira bagaimana respon anaknya? Apakah ia akan menyalahkan Ibunya? memprotes Ibunya dengan suara yang tinggi bahwa Ibunya telah memfitnah dirinya? Atau apakah anak tersebut akan menjelaskan bahwa yang dibakar oleh Ibunya itu bukan kartu melainkan UANG yang telah susah payah mereka tabung?!

TIDAK!

Si bungsu menundukkan kepalanya, dengan suara perlahan ia meminta maaf kepada Ibunya dan berjanji tidak akan bermain kartu lagi. Amarah Ibu pun mereda lalu beliau melanjutkan kesibukan lainnya di rumah.

Ketika anak pertama pulang ke rumah, si adik langsung menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya bersama ibunya.

Kakaknya bertanya, “Apakah kau ceritakan bahwa yang dibakar oleh Ibu adalah uang?!”

Si adik menjawab, “Tidak! Saya hanya meminta maaf dan berjanji untuk tidak main kartu lagi.”

“Bagus! Jangan kau ceritakan hal itu agar Ibu tidak bersedih yang akan mengganggu pikirannya.”

Allah Akbar! Betapa halusnya perasaan kedua anak itu. Meskipun terlihat jelas bahwa Ibu yang bersalah tapi kedua anaknya tidak ingin mengeruhkan perasaannya, tidak ingin membuat Ibunya kepikiran dan sedih serta menyesali ketergesaannya dalam memvonis.

Kedua pemuda ini hasil didikan orang tua yang shalih. Keduanya memiliki kepekaan hati dan perasaan yang halus. Kedua anak ini tahu betapa berat perjuangan seorang ibu.

Keletihan demi keletihan saat mengandung, fisik yang melemah, mual yang berkepanjangan, muntah-muntah dan dahsyatnya pengorbanan ibu saat melahirkan. Keduanya menyadari bahwa pengorbanan dan kasih sayang orang tua sangat besar, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengorbanan mereka mengumpulkan uang itu.

Mereka memahami bahwa jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan berbakti dan memuliakan kedua orang tua.

Allah berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada Ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” [Al Israa/17: 23]

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan berterimakasihlah kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu” [Lukman/31: 14]

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau Shallallahu Alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ ‘Ibumu.’  ‘Kemudian siapa lagi?’  ‘Ibumu’.  ‘Kemudian siapa lagi?’  ‘Kemudian Ayahmu.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Alhamdulillah tidak lama setelah musibah tersebut, Allah menggantikan untuk kedua anak yang shalih itu uang sepuluh ribu real dari jalan lain yang tidak disangka.

Cirebon, Maret 2019 M
Fariq Gasim Anuz