Polda Sumut Siap Dukung KPU Sukseskan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Sumut 3

Polda Sumut Siap Dukung KPU Sukseskan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Sumatera Utara

Headline Muhasabah Sumatera Utara

Polda Sumut Siap Dukung KPU Sukseskan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Sumut 4mascipoldotcom, Jum’at 10 Juli 2020 (19 Dzulqoidah 1441 H)

Medan – Kapolda Sumut Irjen Pol. Drs. Martuani Sormin, M.Si mengatakan bahwa Polda Sumut siap bekerja sama dengan KPU Sumut dalam mensukseskan penyelenggaraan Pilkada serentak tahun 2020, hal tersebut diungkapkan Kapolda Sumut terima audiensi KPU Provinsi Sumut yang bertempat di ruang perjamuan Lt. II Mapolda Sumut, Selasa (07/07/20).

Dalam audiensi tersebut rombongan KPU Sumut terdiri dari Ketua Herdensi, Sekretaris Irwan Zuhdi Siregar beserta anggota dan Kapolda Sumut didampingi oleh Karo Ops, Dir Intelkam serta Dirreskrimum Polda Sumut.

Polda Sumut Siap Dukung KPU Sukseskan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Sumut 2Irjen Martuani menyampaikan bahwa Sumut adalah wilayah yang sangat rentan dengan isu negatif terkait Pilkada, apalagi akan menghadapi pilkada serentak 2020 di 23 Kab/Kota,

Adapun wilayah yang sangat rawan Pilkada di Sumut antara lain Kota Medan, Nias, dan Tapanuli Selatan yang disebabkan oleh indikator suara yang terkadang curang, “Maka dari itu diperlukan ketegasan dan keselarasan dalam pelaksanaan pilkada serentak 2020 di Sumut”, ujar Irjen Martuani

Polda Sumut Siap Dukung KPU Sukseskan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Sumut 5Dalam pelaksanaan Pilkada ada beberapa hal yang harus dirancang apalagi ditengah wabah pandemi Covid-19, seperti mendisiplinkan protokol kesehatan kepada masyarakat yang masuk ke TPS dan panitia senantiasa menggunakan APD serta melakukan managemen terhadap penghitungan suara sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, protokol kesehatan tetap diutamakan jangan sampai kita lengah dan pelaksanaan Pilkada menjadi terganggu meski pandemi Covid-19, saya harap Pilkada serentak di Sumut berjalan aman dan kondusif, kami siap mendukung pengamanan pelaksanaan Pilkada serentak tahun 2020 dan juga mendukung dalam bantuan distribusi logistik agar pelaksanaan Pilkada serentak dapat berjalan dengan sehat meskipun ditengah wabah pandemi Covid-19, ujar Kapolda Sumut.

Polda Sumut Siap Dukung KPU Sukseskan Pilkada Serentak Tahun 2020 di SumutIrjen Martuani juga berharap kepada para petugas KPU Sumut serta panitia di setiap TPS dapat melaksanakan tugas pada Pilkada Serentak 2020 ini berjalan dengan lurus, jujur dan adil

Sementara itu Ketua KPU Sumut Herdensi menyampaikan pada 15 Juli 2020 mendatang KPU Sumut akan melakukan pemutahiran data dan akan melakukan rapid test terhadap 19 ribu petugas pemutahiran data disetiap TPS dengan berkoordinasi kepada Pemprovsu. (Erizal Syahputra/Bid Humas Polda Sumut)

————–

Renungan

STABILITAS KEAMANAN NEGARA[1]

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MEMOHON KEAMANAN

Wasiat dari seseorang yang mencintai saudaranya, agar saudara-saudaranya tersebut senantiasa mengucapkan doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari, ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu pagi dan ketika mulai memasuki waktu petang hari. Juga doa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan tatkala melihat hilal (bulan sabit) sebagai tanda permulaan bulan baru.

Doa ini terkait erat dengan tema kita ini, yaitu masalah keamanan dan bagaimana kita menjaga serta melestarikannya? Dari Abdullah bin Umar c berkata, “Aku telah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap dalam doanya tatkala memasuki waktu petang dan pagi; di mana beliau tidak pernah meninggalkannya hingga beliau meninggalkan dunia ini, atau sampai beliau wafat:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْأَلُك الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي ، اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي ، اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي ، وَعَن يَمِينِي وَعَن شِمَالِي وَمِنْ فَوْقِي ، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي

Ya Allâh, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allâh, sungguh aku mohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan untuk agamaku, duniaku, keluargaku dan dan hartaku. Ya Allâh, tutuplah auratku (aib celaku), berilah keamanan dari rasa takutku. Ya Allâh, perliharalah aku dari arah depan, belakang, kanan, kiri, dan dari arah atasku. Aku berlindung dengan keagungan-Mu, agar aku terhindar kebinasaan dari bawahku (dibenamkan ke dalam bumi). [HR. Abu Daud, An-Nasâ’i, Ibnu Mâjah]

Ini adalah doa yang sangat agung berkaitan dengan masalah keamanan. Sebagai seorang Muslim, kita sangat membutuhkannya setiap hari, sebagai bukti dari meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuknya.

Keamanan yang diperoleh dari doa ini adalah keamanan yang sifatnya menyeluruh, meliputi keamanan dari segala sisi. Keamanan dari segala sisi yang dikhawatirkan oleh seseorang terhadap dirinya, keluarganya, atau masyarakatnya. Oleh karena itu, doa ini perlu untuk disebarluaskan di antara semua kaum Muslimin agar mereka selalu menjaga dan melestarikan doa ini secara berulang-ulang, dengan bergegas memohon perlindungan kepada Allâh, memohon agar keamanan dilimpahkan untuk mereka.

Dalam hadits yang datang dari riwayat Ath-Thabrani dari Anas Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يَسْتُرَ عَوْرَاتِكُمْ، وَأَنْ يُؤَمِّنَ رَوْعَاتِكُمْ

Mintalah kepada Allâh agar Dia berkenan untuk menutup aib cela kalian, dan memberikan kepada kalian rasa aman dari rasa takut.

Doa ini telah kita sebutkan di muka dalam hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma :

اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي

Ya Allâh! Tutupilah aib celaku dan berilah rasa aman kepadaku dari rasa takutku

Adapun berkenaan dengan masuknya bulan baru (bulan Qamariyah), maka telah datang hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila melihat hilal (yaitu hilal awal bulan) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

]اللَّهُ أَكْبَرُ [اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالْإِيمَانِ ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ

[Allâh Maha Besar], Ya Allâh munculkanlah hilal ini kepada kami dengan rasa aman dan iman, keselamatan dan Islam. Rabb ku dan Rabb mu adalah Allâh.

Perhatikanlah, permohonan yang berulang-ulang ini; yang terus diperbaharui seiring dengan munculnya bulan yang terus bergulir dan berjalan. Demikianlah petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; di mana Beliau memohon kepada Allâh Azza wa Jalla pada setiap kali datangnya bulan baru, agar Allâh Subhanahu wa Ta’ala memunculkan bulan baru tersebut kepada umat Islam; dengan disertai rasa keamanan dan iman; dengan membawa keselamatan dan Islam.

Kala kita merenungi doa yang agung ini, tentang permohonan diberi keamanan dan iman, keselamatan dan Islam; akan kita dapati adanya korelasi dan pertautan yang begitu menakjubkan antara rasa aman dan iman, antara keselamatan dan Islam. Inilah yang akan kita bicarakan kali ini.

Bila kita sudah memanjatkan doa ini pada pagi dan petang hari; juga doa yang dipanjatkan pada permulaan bulan, dalam rangka mengikuti Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka hendaknya kita mengiringi doa tersebut dengan ikhtiar. Hendaknya berusaha meniti sebab dan jalan guna menyemai keamanan. Hendaknya masing-masing kita menjadi perangkat yang bisa mewujudkan keamanan di tengah masyarakat.

Dan janganlah sekali-kali kita nodai hal tersebut. Janganlah mengoyak benih-benih keamanan yang telah kita semai. Berdoalah kepada Allâh agar berkenan memberi rasa aman. Jadilah orang yang menjadi sumber rasa aman; Orang yang tidak dikhawatirkan menjadi sumber keburukan atau kejahatan. Dan hendaknya selalu waspada, agar jangan sampai mencederai dan mengganggu rasa keamanan. Karena itu pula, berkenaan dengan doa terkait masalah keamanan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali keluar dari rumah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa.

Dari Ummu Salamah berkata: Tidaklah sekali-kali Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumahku melainkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat pandangannya ke langit dan berdoa:

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

Ya Allâh, sungguh aku berlindung kepada-Mu agar aku tidak jatuh dalam kesesatan atau disesatkan; agar tidak jatuh dalam ketergelinciran (kesalahan) atau digelincirkan, tidak berbuat zalim atau dizalimi, dan agar aku tidak berlaku seperti perbuatan orang-orang bodoh (menyakiti dan mengganggu) atau orang lain bertindak bodoh terhadapku. [HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Ini juga merupakan doa yang memperhatikan dan menekankan realisasi keamanan. Yaitu mewujudkan rasa aman yang datang dari diri kita, yaitu setiap kali kita keluar dari rumah. Juga mewujudkan rasa aman dari sisi lain, yaitu agar tidak ada sesuatu keburukan apapun yang menimpa kita yang datang dari pihak orang lain. Sehingga ketika kita keluar, kita pun merasakan bahwa inilah harapan dan dambaan kita di tengah masyarakat kita; ketika seseorang bertemu atau berinteraksi dengan orang lain. Dengan senantiasa berharap dan berdoa kepada Allâh, agar Dia berkenan untuk mewujudkannya untuk kita.

Sebagian kaum salaf, bila keluar dari rumahnya ia berkata, “Ya Allâh, selamatkanlah aku, dan selamatkanlah (orang-orang) dari diriku.” Dan, tentu saja doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna dan lebih menyeluruh.

Ringkasnya; bahwa wajib atas setiap Muslim untuk menghadirkan perasaan pentingnya hal tersebut secara terus menerus. Dan agar berusaha sekuat tenaga untuk merealisasikan keamanan di tengah masyarakat; dengan berdoa, memohon kepada-Nya, juga dengan berikhtiar meniti sebab-sebab keamanan, dan dengan menjauhi segala perkara yang bisa menodai rajutan keamanan.

KEAMANAN ADALAH ANUGRAH ALLAH AZZA WA JALLA

Keamanan adalah anugerah Ilahiah, dan keutamaan yang diberikan Allâh kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dalam al-Quran banyak dijumpai dalil yang menunjukkan hal tersebut. Jadi, keamanan adalah anugerah dan keutamaan yang Allâh limpahkan kepada yang dikehendaki-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَىٰ إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. [Al-Qashash/ 28: 57]

Allâh juga berfirman:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. [Al-Ankabût/ 29: 67]

Jadi, keamanan merupakan pemberian tamkîn dari Allâh Azza wa Jalla ; yakni pemberian kedudukan kuat dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala ; di mana Allâh Azza wa Jalla yang menjadikannya di tempat yang dikehendaki-Nya; dan diberikan kepada yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, seorang Muslim wajib untuk meresapi dan merenungi makna ini, sehingga ketika kita mencari keamanan, baik untuk diri kita, keluarga maupun masyarakat, maka kita pun hanya bergegas mencarinya dari Allâh Azza wa Jalla semata.

Tentunya dengan menghadirkan ketulusan dan kejujuran terhadap Allâh Azza wa Jalla ketika kita berlindung dan bertumpu kepada-Nya, dalam tawakkal kita kepada-Nya; ketika kita memohon kepada-Nya; dan saat kita mencari keamanan dari-Nya. Karena anugerah tersebut tidak lain adalah pemberian dari-Nya; dan segala perkara ada di tangan-Nya. Dia memberikannya kepada yang Dia kehendaki. Allâh Azza wa Jalla adalah Dzat Yang mempunyai anugerah yang besar.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] Disarikan dari ceramah Syaikh Prof Dr Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad di Masjid Istiqlal Jakarta pada tanggal 26 Februari 2017 M