Polda Sulsel Ambil Paksa Jenazah di RS 8 dari 31 Warga Ditetapkan Tersangka 3

Polda Sulsel: Ambil Paksa Jenazah di RS, 8 dari 31 Warga Ditetapkan Tersangka

Headline Muhasabah Sulawesi Selatan
Polda Sulsel: Ambil Paksa Jenazah di RS, 8 dari 31 Warga Ditetapkan Tersangka

mascipoldotcom – Rabu, 10 Juni 2020 (18 Syawal 1441

Makassar – Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel menunjukkan keseriusannya menindak tegas warga yang mengambil paksa jenazah yang terduga PDP Covid-19 di beberapa rumah sakit di Makassar.

Hal itu dibuktikan dengan ditangkapnya 31 warga. Dari 31 warga yang diamankan, 8 orang diantaranya telah ditetapkan sebagai tersangka.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Ibrahim Tompo, S.I.K., M.Si., menjelaskan, penetapan tersangka berdasarkan gelar perkara di ruang Dirreskrimum Polda Sulsel dipimpin langsung Dirreskrimum Polda Sulsel juga dihadiri para Kasubdit, Kabag Wasidik, Kasat Reskrim Polrestabes Makassar dan seluruh penyidik yang menangani tersebut.

Polda Sulsel Ambil Paksa Jenazah di RS 8 dari 31 Warga Ditetapkan Tersangka“Ya dilakukan gelar perkara oleh penyidik terhadap kasus pengambilan paksa jenazah di Rumah Sakit Dadi Makassar, RS Stella Maris, RS Labuang Baji, RS Bhayangkara, dan prosesnya dinaikkan dari penyelidikan ke penyidikan dan menetapkan tersangka,” terang Kabid Humas Polda Sulsel.

Selain itu, Kabid Humas Polda Sulsel merincikan, kasus pengambilan paksa jenazah di RS Dadi diamankan 25 orang dan telah menetapkan 2 terangka yaitu SA dan MR . Untuk Kasus di RS Stella Maris diamankan 1 tersangka yaitu AW. Sedangkan Kasus di RS Labuang Baji, polisi mengamankan 5 orang tersangka.

“Jadi 31 orang diamankan, delapan sudah ditetapkan tersangka. Masing-masing lima orang untuk kasus di RS Labuang Baji, Dua orang untuk kasus di RS Dadi dan satu orang di RS Stella Maris,” jelas Kabid Humas Polda Sulsel.

Kabid Humas Polda Sulsel juga menambahkan bahwa, kemungkinan para tersangka akan bertambah karena akan dilakukan penangkapan terhadap para pelaku, tim gabungan di lapangan sudah dibentuk yaitu terdiri dari tim Resmob Polda, Brimob, Shabara Polda, Jatanras Polrestabes Makassar.

Polda Sulsel Ambil Paksa Jenazah di RS 8 dari 31 Warga Ditetapkan Tersangka 2Para tersangka pengambil paksa jenazah di rumah sakit ini akan dikenakan Pasal yang diterapkan yaitu pasal 214, 335, 207 KUHP dan pasal 93 UU no 6 thn 2018 dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara.

“Jadi sekali lagi, saya harap masyarakat jangan lagi ada yang melakukan pengambilan paksa jenazah tersebut, karena polisi pasti bertindak, bahkan tim gabungan di lapangan sudah dibentuk untuk menangkal kejadian ini terjadi lagi, tindakan tegas dan penegakan hukum tersebut dilakukan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas, agar tidak ada lagi aksi yang menjadi potensi penyebaran covid 19 ,” tegas Kabid Humas Polda Sulsel. (wm/bq/hy/Div Humas Polri).

———–

Renungan

Polda Sulsel Ambil Paksa Jenazah di RS 8 dari 31 Warga Ditetapkan Tersangka 1TIDAK MENGURUS KUBURAN KELUARGA, ADAKAH AKIBAT BURUKNYA?

Oleh Ustadz Anas Burhanuddin MA

Pertanyaan.

Assalâmu’alaikum warahmatullâhi wabarakâtuh. Para ustadz di Majalah As-Sunnah. Mohon kami diberi penjelasalan tentang permasalahan yang selama ini kami simpan. Anak saya meninggal pada usia 3 tahun 6 bulan karena sakit DBD yang tidak terdeteksi dokter. Masalahnya, usia pemakaman hingga saat ini sudah 18 tahun. Pada tahun-tahun awal pemakaman, kami sering ke makam, namun akhir-akhir ini hampir tidak pernah ke makam. Beberapa waktu yang lalu, kami pergi ke makam, namun kami dapatkan makam anak kami telah hilang. Bagaimana hukumnya dalam agama kalau makam anak tidak diurus? Adakah akibatnya di masa tua kami? Apa yang harus kami kerjakan guna menebus kesalahan kami dalam syariat Islam yang benar?

Jawaban.

Wa’alaikumussalâm warahmatullâh wabarakâtuh. Semoga putra bapak menjadi tabungan pahala untuk bapak dan ibu di akhirat dan semoga mengumpulkannya dengan orang tua dan keluarga besarnya di surga Firdaus. Aamiin

Para Ulama sepakat bahwa kuburan seorang Muslim adalah wakaf untuknya. Kuburan atau tempat itu tidak boleh dipakai mengubur orang lain jika didalamnya masih ada anggota tubuh atau tulang belulangnya. Jika sudah musnah, maka boleh dipakai mengubur orang lain.[1]

Jika kuburan seorang Muslim dipakai untuk mengubur jenazah lain, padahal tubuh atau tulangnya masih ada, maka yang salah dan yang bertanggungjawab bukanlah kedua orang tua si mayit, tapi orang yang menguburkan jenazah lain tersebut atau orang memerintahkannya.

Namun dari redaksi pertanyaan, tampaknya permasalahan tidak sampai ketingkat itu. Barangkali, kuburan putra bapak hanya hilang tandanya atau rata dengan tanah sekitar. Jika demikian, bisa ditanyakan kepada pengurus kuburan setempat tentang apa yang telah terjadi. Kondisi kuburan bisa dikondisikan seperti semula. Jika ditempati jenazah lain dan tulang putra bapak dipindahkan ke tempat lain, maka tempat yang sekarang itu yang menjadi kuburan putra bapak.

Tidak ada anjuran untuk merawat kuburan sedemikian rupa meski juga tidak ada larangannya. Jadi hukum merawat kuburan adalah mubah, tidak lebih dari itu. Bahkan dilarang berlebihan dalam merawat, misalnya dengan membangunnya atau menemboknya, memasang prasasti di atasnya atau memperingati haul kematiannya. Ini semua terladang dalam Islam. Yang dianjurkan adalah menziarahi kuburan dengan tujuan untuk mengingat kematian dan akhirat serta mendoakan mereka yang sudah meninggal. Dan itu tidak harus dilakukan dengan mendatangi kuburan putra bapak secara khusus. Ziarah kubur itu bisa dilakukan dengan berziarah dan mendoakan semua penghuni kuburan secara umum dan tidak harus mengetahui lokasi kuburan orang tertentu secara detail.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVIII/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
________
Footnote

[1]Lihat: al-Inshâf lil Mardawi 2/552