Polda Jateng Perketat Larangan Mudik di Pintu Exit Tol Pejagan 1

Polda Jateng Perketat Larangan Mudik di Pintu Exit Tol Pejagan

Headline Muhasabah

Polda Jateng Perketat Larangan Mudik di Pintu Exit Tol Pejagan 1mascipoldotcom – Kamis, 14 Mei 2020 (21 Ramadhan 1441 H)

Semarang – Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Brigjen. Pol. Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St., M.K., beserta para Pejabat Utama Polda Jateng terjun langsung untuk melakukan pengecekan pengawasan di Exit Tol Pejagan perbatasan Kabupaten Brebes dari arah Jawa Barat, Rabu (13/05/2020).

WhatsApp Image 2020 05 14 at 11.31.17

Dalam penjelasannya, Kapolda Jateng mengatakan bahwa saat ini Polda Jateng telah melakukan penyekatan dan pengawasan kendaraan akan semakin ditingkatkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah sejumlah kendaraan yang akan hendak mudik di beberapa titik diantaranya di Brebes, Cilacap, Purworejo, Magelang, Klaten, Sragen, Karanganyar, Blora, dan Rembang.

WhatsApp Image 2020 05 14 at 11.31.17 1

Polda Jateng Perketat Larangan Mudik di Pintu Exit Tol Pejagan 2“Hingga saat ini sudah ada 3.843kendaraan yang hendak masuk ke Jateng yang diputar balik ke arah Jakarta. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi pemudik yang masih berusaha nekat masuk ke Jateng, penyekatan kendaraan di setiap wilayah akan terus dilakukan. Termasuk di jalur tikus yang ada di kabupaten atau kota akan dijaga ketat oleh personel Polres jajaran,” tambah Kapolda Jateng.

WhatsApp Image 2020 05 14 at 11.33.17

“Penyekatan kurang lebih akan dilakukan 37 hari hingga hari Sabtu kedepan tanggal 30 mei 2020. Hal ini dilakukan sesuai himbauan pemerintah dan maklumat Kapolri untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 dan larangan untuk melakukan mudik ke kampung halaman. Semoga dengan adanyan kegiatan ini dapat mengurangi penyebaran Covid-19 khususnya di wilayah Jawa Tengah,” tutup Kapolda Jateng. (Bid Humas Polda Jateng).

———

Renungan

 

RAMADHAN, BULAN KEMENANGAN

Puasa memiliki ikatan yang sangat kuat dengan jihad. Puasa memberikan persiapan yang mantap untuknya. Puasa senantiasa menemaninya dalam perjalanan kehidupan yang terus-menerus sampai Allah mewariskan bumi dan seisinya. Dengan demikian, puasa akan senantiasa tetap ada sampai hari Kiamat sebagai fase persiapan untuk jihad. Jihad itu sendiri akan senantiasa tetap ada sampai hari Kiamat sebagai fase amaliah bagi puasa.

Umat Islam adalah umat yang suka berpuasa sekaligus mujahid (pejuang) yang mampu mengambil manfaat dari lembaga pendidikan puasa sebagai tempat penggemblengan untuk jihad. Selama umat Islam masih terus menjalankan puasa yang hakiki, maka ia tetap sebagai mujahid. Oleh karena itu, banyak kemenangan yang diperoleh kaum muslimin pada bulan Ramadhan.

Di tahun ke-2 Hijriyyah, terjadi perang Badar al-Kubra pada bulan Ramadhan. Perang ini berakhir dengan kemenangan Islam atas kesyirikan di awal perlawanan perang fisik. Kemenangan ini sangat lekat dengan perjalanan sejarah, di mana kelompok orang-orang beriman yang jumlahnya sedikit berhasil mengalahkan kesyirikan dan kelompok yang jauh lebih kuat.

Pada bulan Ramadhan di tahun ke-5 Hijriyyah, kaum muslimin melakukan persiapan untuk melakukan perang Khandaq, di mana perang ini berlangsung pada bulan Syawwal di tahun yang sama. Pada bulan Ramadhan di tahun yang sama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan pasukan untuk menghancurkan patung-patung berhala. Ini merupakan tugas kemiliteran yang sangat penting, karena adanya kemungkinan terjadinya kontak senjata.

Pada bulan Ramadhan di hari ke-21 dari tahun ke-8 Hijriyyah, berakhir pembebasan teragung, yaitu pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah), hingga akhirnya para pemimpinnya menyerahkan diri setelah lama melakukan permusuhan. Akhirnya mereka pun berbondong-bondong memeluk agama Allah. Patung-patung juga berjatuhan oleh “pukulan” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menggunakan alat pemukulnya yang kokoh. Mahabenar Allah Yang Mahaagung ketika berfirman:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha-penerima taubat.” [An-Nashr/110: 1-3]

Pada bulan Ramadhan di tahun ke-9, terjadi perang Tabuk.

Pada bulan Ramadhan pula di tahun ke-10, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu untuk memimpin pasukan ke Yaman, dengan mengirimkan bersamanya sepucuk surat yang ditujukan kepada mereka.

Masih banyak lagi peperangan dahsyat lainnya yang dilakukan oleh kaum muslimin di bulan Ramadhan dalam melawan musuh-musuh mereka. Peperangan penting di antaranya adalah peperangan yang dipimpin oleh seorang pahlawan muslim, Shalahuddin al-Ayyubi ketika melawan pasukan Salib dan pertempuran ‘Ain Jalut, yang di dalamnya kaum muslimin berhasil mengusir pasukan dari bangsa Tartar. Semuanya itu terjadi pada bulan Ramadhan, yang merupakan bulan ibadah dan kemenangan. Akankah kaum muslimin mengulangi kemenangan-kemenangan tersebut serta mengembalikan sejarah Salafush Shalih?[1]

[Disalin dari buku “Meraih Puasa Sempurna”, Diterjemahkan dari kitab “Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab”, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir].
________
Footnote
[1] Haakadza Nashuum (hal. 110-111), Nafahaat Ramadhaan (hal. 171). Sebagai tambahan, lihat Siirah Ibni Hisyam (II/257, III/224, IV/31).