IMG 20200726 WA0081

Polda Banten Siap Bantu Pemda Tangerang, Dalam Perpanjangan PSBB

Headline Banten Muhasabah

IMG 20200726 WA0038mascipoldotcom, Minggu, 26 Juli 2020 (Ahad, 05 Dzulhijah 1441 H)

Tigaraksa – Tangerang |Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di Tangerang Raya kembali diperpanjang sesuai kondisi didaerah masing-masing.

Keputusan perpanjangan kebijakan PSBB ini merupakan hasil rapat evaluasi PSBB Provinsi Banten yang digelar secara virtual melalui video conference yang diikuti oleh Forkopimda Se-Banten serta Bupati Tangerang, Walikota Tangerang dan Tangerang Selatan pada Sabtu (25/07/2020)

IMG 20200726 WA0043” Perpanjangan PSBB ini merupakan bagian dari penguatan terhadap warga , agar setiap hari warga menggunakan protokol kesehatan Covid 19 dalam beraktivitas diluar,”terang Bupati Tangerang Ahmad Zaki Iskandar kepada wartawan usai mengikuti rapat evaluasi PSBB sevara virtual dengan Gubernur Banten, di ruang Cituis lantai 5 Gedung Bupati Tangerang.

Zaki mengatakan, dengan diperpanjangnya PSBB dapat meningkatkan sikap disiplin masyarakat. Pihaknya menilai, dengan beberapa kelonggaran disiplin masyarakat cenderung menurun. Ia khawatir apabila kebijakan PSBB dicabut, gaya hidup masyarakat kembali seperti kehidupan sebelum pandemi Covid-19 terjadi.

IMG 20200726 WA0034“Diharapkan PSBB bisa membuat masyarakat bisa terus disiplin dengan protokol Covid 19 dengan memakai masker jika keluar rumah, membiasakan cuci tangan, menjaga jarak aman, soscial distancing,”terang Zaki.

Zaki menambahkan, Dilihat dari kasus penularan dan penyebaran di Kabupaten Tangerang memang sudah menurun. Namun, dirinya khawatir terjadi kasus-kasus import dari Ibukota Jakarta serta aktivitas di Bandara Soekarno-Hatta. Apalagi, saat ini Jakarta kembali memasuki zona merah.

“Dengan PSBB diperpanjang diharapkan kita meningkatkan kedisiplinan masyarakat dan kita sangat mengkhawatirkan terjadinya kasus import (diluar Tangerang) dari DKI Jakarta karena daerah Kabupaten Tangerang maupun Tangerang Raya sangat berdekatan dengan DKI Jakarta,” terang Zaki.

IMG 20200726 WA0048Dalam kesempatan tersebut Bupati Zaki juga memberikan masukan dan saran kepada Gubernur Banten terkait aspirasi Masyarakat Kabupaten Tangerang untuk kembali bisa membuka sekolah tatap muka di semua jenjang pendidikan.
Sementara itu, Gubernur Banten Wahidin Halim mengucapkan terima kasih kepada jajaran pemerintah daerah di Tangerang Raya.

Gubernur Banten berharap dengan perpanjangan PSBB ini, Propinsi Banten dapat mempertahankan wilayahnya sebagai zona hijau. Tidak hanya itu, sikap disiplin masyarakat terus meningkat.

IMG 20200726 WA0050“Jadi saya berharap bahwa target perpanjangan PSBB kita yang ingin kita capai adalah seluruh masyarakat Banten sadar akan protokol kesehatan, seluruh warga Banten sadar akan tanggung jawabnya, dan kita perpanjang dengan beberapa catatan dan pengecualian,” Ujar WH.

Di Tempat Terpisah, Kapolresta Kab. Tangerang Kombes Pol Ade Ary Menyatakan Kesiapannya Membantu dan Mendukung Kebijakan Perpanjangan PSBB dalam rangka penguatan tingkat disiplin masyarakat terhadap protokol kesehatan. Polri bersama TNI dan Dinas Terkait akan bahu membahu turun bersama awasi kedisiplinan warga dalam penerapan protokol kesehatan.

IMG 20200726 WA0049Sedangkan Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi Menambahkan, Bahwa Polda Banten Terus Konsisten memback up satuan wilayah, untuk membantu Pemda dalam penerapan kebijakan perpanjangan PSBB Tangerang ini. Personil Polri dan TNI terus di terjunkan kelapangan untuk melakukan edukasi, patroli keliling beri himbauan serta teguran kepada warga jika di temukan belum disiplin. Kata Edy Sumardi. (Kabid Humas Polda Banten)

———-

Renungan

MENTAATI PERINTAH DAN MENGIKUTI SUNNAH RASÛLULLÂH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Oleh Ustadz Ahams Faiz Asifuddin

Petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk dan syari’at Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syari’at paling sempurna. Tidak boleh seorangpun mengesampingkan syari’at Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengedepankan syari’at orang lain manapun.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ»، وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»، وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ، وَالْوُسْطَى، وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»…الحديث…رواه مسلم

Dari Jâbir bin Abdillâh Radhiyallahu anhu yang mengatakan, “Pernah Rasûlullân Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkhutbah kedua mata Beliau memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya mengeras, sampai keadaannya seakan-akan seperti komandan perang yang mengingatkan pasukannya seraya berkata, ‘Awas kalian akan diserang pagi-pagi, awas kalian akan diserang petang hari.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diutus sedangkan (jarak) antara aku dengan hari kiamat (adalah) laksana dua hal ini.’ (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ammâ ba’du: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitâbullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang di ada-adakan secara baru dalam urusan agama, dan setiap yang bid’ah adalah sesat”…al-hadîts.. [HR. Muslim[1]]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah menegaskan bahwa orang yang menganggap petunjuk selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau hukum selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia kafir.[2] Beliau t juga menegaskan, siapa saja yang berkeyakinan bahwa ada sekelompok orang di antara umat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak wajib mengikuti petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bebas untuk tidak terikat dengan syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seperti halnya Khadhir bebas dan tidak terikat dengan syari’at Musa Alaihissallam, maka ia kafir.[3]

Dengan demikian, wajib bagi setiap Muslim untuk taat dan patuh menjalankan setiap perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta patuh meninggalkan setiap larangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dalam banyak ayat al-Qurʹân, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman di antaranya:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ ﮉ

Katakanlah (Hai Muhammad): Taatilah Allâh dan RasulNya. Jika kamu berpaling, maka Allâh tidak menyukai orang-orang yang kafir. [Âli ‘Imrân/3:32]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ، فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ، وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ. رواه مسلم

Apa saja yang aku larang kamu darinya maka jauhilah, dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah semaksimal kamu mampu. Sesungguhnya yang menyebabkan orang-orang sebelum kamu binasa adalah banyaknya pertanyaan mereka dan penyelewengan mereka terhadap (ketetapan) para nabinya. [HR.Muslim[4]]

Jadi keimanan seseorang terikat pada ketaatannya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Al-Qurʹân menjelaskan bahwa keimanan yang ada di dalam hati itu sendiri menuntut amaliah secara lahir. Seperti yang tersebut dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala [5]:

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ ﴿٤٧﴾ وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ ﴿٤٨﴾ وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ ﴿٤٩﴾ أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ ۚ بَلْ أُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿٥٠﴾ إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan mereka berkata : Kami telah beriman kepada Allâh dan RasulNya dan kami mentaati (keduanya). Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali bukanlah mereka itu orang-orang yang beriman. Dan jika mereka dipanggil kepada Allâh dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu menguntungkan bagi hak mereka, mereka datang kepada Rasûlullâh dengan patuh…sampai pada firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya)…: Sesungguhnya jawaban orang-orang Muʹmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [An-Nûr/24:47-50]”

Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan, bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tidak adanya keimanan pada diri orang yang berpaling dari ketaatan kepada Rasul. Allâh juga memberitakan bahwa orang-orang beriman bila dipanggil kepada Allâh dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, maka mereka mendengar dan taat. Maka Allâh menjelaskan bahwa yang demikian ini merupakan konsekuensi keimanan.[6]

Dengan demikian, orang yang beriman adalah orang yang taat kepada Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan orang yang taat kepada Allâh adalah orang yang taat kepada RasulNya. Siapapun yang mengaku beriman tetapi tidak taat kepada Allâh dan RasulNya, maka sesungguhnya ia bukan orang yang beriman.

Nah untuk mengharapkan terwujudnya sikap patuh seperti ini setelah manusia menjadi dewasa padahal mereka tidak mengenyam pendidikan agama yang benar, maka akan jauh panggang dari api, akan teramat sulit, kecuali jika Allâh menganugerahkan rahmat kepadanya.

Jelas, dengan taufiq Allâh Azza wa Jalla , akan lebih mudah membentuk sikap patuh itu pada saat seseorang masih berusia dini. Untuk itu setiap orang tua, setiap pendidik dan siapapun yang memiliki atensi terhadap masalah pendidikan, hendaknya tidak melewatkan kesempatan emas ini. Waffaqanallâh wa iyyâkum.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] Shahîh Muslim, Tarqîm wa Tartîb : Muhammad Fuad Abdul Bâqi, Dâr Ibni al-Jauzi, Kairo, hal. 192. Kitâb al-Jumu’ah, Bâb : 13 (Takhfîf assh-Shalâti wa al-Khuthbah), no. 43 (867).

[2] Mutûn Thâlib al-‘Ilmi, muhaqqaqah, jam’u wa tartîb: Dr. Abdul Muhsin Muhammad al-Qâsim, al-Mustawâ al-Awwal; Nawâqidh al-Islâm, nawâqidh keempat, hal. 26.

[3] Ibid nawâqidh kesembilan, hal.27

[4] Shahîh Muslim, op.cit. hal. 561. Kitâb al-Fadhâˈil, Bâb 37 (Tauqîruhu n ..dst..) no. 130 (1337).

[5] Bisa dilihat dalam Kitab Al-Îmân karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah , al-Maktab al-Islâmi, cet. III, 1399 H. hal. 208-209.

[6] Ibid.