Polda Banten Gelar Test Psikologi Gelombang I

Polda Banten Gelar Test Psikologi Gelombang I Bintara Polri dan Kompetensi Khusus TA 2020

Banten Headline Muhasabah

Polda Banten Gelar Test Psikologi Gelombang Iamascipoldotcom – Kamis, 24 September 2020 (07 Safar 1442 H)

SERANG – Polda Banten melaksanakan test psikologi gelombang 1 bagi Bintara Polri dan Bintara Kompetensi Khusus Tahun Anggaran 2020.

Dalam pelaksanaan tes psikologi gelombang 1 ini dilakukan di Gedung Aspirasi KP3B.

Saat ditemui, Kapolda Banten Irjen Pol Drs Fiandar melalui Dirbinmas Polda Banten Kombes Pol Riki Yanuarfi mengatakan pelaksanaan tes tersebut dalam rangka untuk mendapatkan calon siswa Bintara Polri yang terbaik.

“Hari ini kita melaksanakan rangkaian tes Bintara Polri dan Bintara Kompetensi Khusus Tahun Anggaran 2020, dimana tes kali ini kita melaksanakan tes psikologi gelombang 1,” kata Riki Yanuarfi selaku Katim Psikologi di Gedung Aspirasi KP3B. Kamis, (24/09/2020).

Polda Banten Gelar Test Psikologi Gelombang Ib“Dan tujuan dari tes psikologi ini untuk mendapatkan calon anggota Polri yang berkompeten dan memenuhi syarat dalam hal kesehatan Psikologi, guna mewujudkan tujuan Polri yang Promoter,” lanjut Riki Yanuarfi.

Riki Yanuarfi menjelaskan dalam pelaksanaan tes psikologi gelombang 1 tersebut diikuti oleh 209 calon siswa.

“Dan pelaksanaan test Psikologi gelombang 1 Bintara Polri dan Bintara Kompetensi Khusus tahun anggaran 2020 Polda Banten ini berjumlah 209 calon siswa, dengan rincian 44 orang calon siswa Bakumsus dan 165 PTU,” jelas Riki Yanuarfi.

Riki Yanuarfi menekankan bahwa dalam penerimaan calon Bintara Polri tahun anggaran 2020 ini mengambil prinsip BETAH.

“Pelaksanaan tes penerimaan calon Bintara Polri ini kita memiliki prinsip BETAH, yaitu Bersih, Transparan, Akuntabel dan Humanis. Dimana tujuannya untuk mewujudkan Polri yang promoter,” ujar Riki Yanuarfi.

Polda Banten Gelar Test Psikologi Gelombang Ic

Masih kata Riki Yanuarfi, “Jadi jangan percaya dengan adanya calo yang bisa membantu untuk meloloskan, kami sangat transparan terkait rekrutmen Polri ini, tidak ada celah untuk KKN,” tutup Riki Yanuarfi.

Masih terkait penerimaan calon anggota Polri, Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi juga mengajak kepada seluruh calon siswa Bintara Polri agar mengikuti test dengan sungguh-sungguh.

“Terkait rangkaian test penerimaan calon anggota Bintara Polri ini, saya mengajak kepada seluruh casis yang mengikuti seleksi test ini agar mengikuti dengan sungguh-sungguh, persiapkan diri adik-adik semua dengan berlatih dan belajar,” ujar Edy Sumardi di tempat yang terpisah.

Kegiatan test psikologi gelombang 1 tersebut di hadiri oleh Karo SDM Kombes Pol. Tomi Wibisono, Kabag Psi Kompol Ahli Rumekso, Propam AKP H. Asmar Tanjung, Kompol Karep, Perwakilan Ormas Pemuda Pancasila Ade Ahmad Farizal, Psikolog Dessy Eka Purnama M.Psi., dan dari akademisi Universitas Serang Raya M. Ibrahim. (Kombes Pol Sumardi Kabid Humas Polda Banten)

Polda Banten Gelar Test Psikologi Gelombang Id

————–

Renungan

Hukum Memberi Uang Suap Agar Memperoleh Pekerjaan Dan Sejenisnya

Oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Bagaimana hukum syrai’at tentang orang yang memberi uang dengan terpaksa agar bisa memperoleh pekerjaan atau bisa mendaftarkan anaknya di suatu perguruan tinggi atau hal-hal lain yang sulit diperoleh tanpa memberikan uang kepada petugas yang berwenang. Apakah orang yang memberi uang itu berdosa dalam kondisi seperti demikian ? Berilah kami fatwa, semoga anda mendapat pahala.

Jawaban.

Tidak boleh memberi uang untuk memperoleh pekerjaan atau untuk bisa belajar di suatu perguruan tinggi atau fakultas tertentu, karena lembaga-lembaga pendidikan dan lowongan-lowongan pekerjaan itu terbuka bagi siapa saja yang berminat atau diprioritaskan bagi yang lebih dulu mendaftar atau yang lebih professional, maka tidak boleh dikhususkan bagi yang memberi uang atau bagi yang mempunyai hubungan dekat.

Memberikan uang seperti itu disebut menyogok, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melaknat orang yang menyogok dan yang disogok, karena uang/pemberian itu akan mempengaruhi kinerja para petugas yang memegang tugas-tugas tersebut atau lembaga-lembaga pendidikan tersebut sehingga mereka tidak obyektif dan tidak selektif, mereka hanya menerima orang yang mau memberi uang sejumlah yang diminta.

Seharusnya mereka bekerja sesuai dengan peraturan dan tata tertib yang telah ditetapkan oleh atasan-atasan mereka, seperti ; mengutamakan orang-orang yang potensial dan para professional, mengutamakan yang lebih dulu mendaftar atau menentukan dengan di undi jika kualifikasinya sama. Dengan demikian setiap muslim akan rela dengan keputusan yang ditetapkan dan tidak ada paksaan untuk menyerahkan sejumlah uang untuk memperoleh pekerjaan-pekerjaan tersebut. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya dan mengaruniainya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Wallahu ‘alam.

[Diucapkan dan didiktekan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Pengumpul Khalid Juraisy, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]