PNS Polresta Tangerang Wakili Mabes Polri Lomba Dakwah se Indonesia 1

PNS Polresta Tangerang Wakili Mabes Polri Lomba Dakwah se-Indonesia

Headline Banten DKI Jakarta Muhasabah

mascipoldotcom – Senin, 9 November 2020 (23 Robiul Awal 1442 H)

Jakarta – Pegawai Negeri Sipil (PNS) Polresta Tangerang Polda Banten Pengda Jamaludin mewakili Mabes Polri dalam Lomba Dakwah se-Indonesia. Lomba itu diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian Hut Korpri ke-49.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi menerangkan, Pengda Jamaludin adalah PNS Polresta Tangerang yang bertugas di Bagian Sumber Daya. Kata Ade, Pengda Jamaludin sebelumnya mewakili Polda Banten dalam seleksi yang diikuti seluruh Polda dengan jumlah peserta 60 orang.

“Alhamdulillah, Pengda Jamaludin lolos seleksi seluruh Polda dan akan menjadi perwakilan Mabes Polri,” kata Ade, Senin (9/11/2020).

Ade menambahkan, saat ini Pengda Jamaludin sedang mempersiapkan diri untuk lomba dakwah yang akan diikuti PNS dari berbagai institusi se-Indonesia itu. Dia berharap, Pengda Jamaludin dapat menuai prestasi sehingga dapat mengharumkan nama Mabes Polri.

Meski demikian, lanjutnya, keikutsertaan Pengda Jamaludin yang mewakili institusi Polri tidak semata untuk meraih posisi pertama. Melainkan, fokus pada keterlibatan Polri dalam mengisi hari jadi Korpri ke-49.

“Meski lomba, dakwah Pengda Jamaludin tetap akan diisi pesan-pesan damai dan pesan kamtibmas,” ujarnya.

Ade melanjutkan, kegiatan lomba dakwah merupakan kegiatan positif yang patut diapresiasi. Sebab lomba itu dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan ajakan berbuat kebaikan.

“Selain itu dapat dijadikan sarana institusi pemerintah menyampaikan gagasan untuk kemaslahatan masyarakat,” pungkasnya. (Muhairo)

———

Renungan

HUKUM BERDAKWAH DAN KEUTAMAANNYA

Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Kami mohon kiranya Syaikh berkenan menerangkan tentang hukum berdakwah dan keutamaannya?

Jawaban

Hukumnya, telah ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah tentang wajibnya berdakwah mengajak menusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu bahwa berdakwah termasuk kewajiban. Dalilnya sangat banyak, di antaranya, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran/3 : 104]

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” [An-Nahl/16 : 125]

ادْعُ إِلَىٰ رَبِّكَ ۖ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan serulah mereka ke (jalan) Rabbmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” [Al-Qashash/28 : 87]

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” [Yusuf /12: 108]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan, bahwa para pengikut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para dai dan para pemilik ilmu yang mapan. Dan yang wajib sebagaimana diketahui, adalah mengikutinya dan menempuh cara yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab/33 : 21]

Para ulama menjelaskan, bahwa mengajak manusia ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala hukumnya fardhu kifayah di negeri-negeri atau wilayah-wilayah yang sudah ada para da’inya yang melaksanakannya. Jadi, setiap negeri dan setiap wilayah memerlukan dakwah dan aktifitasnya, maka hukumnya fardhu kifayah jika telah ada orang yang mencukupi pelaksanaannya sehingga menggugurkan kewajiban ini terhadap yang lainnya dan hanya berhukum sunnah muakkadah dan sebagai suatu amalan yang agung.

Jika di suatu negeri atau suatu wilayah tertentu tidak ada yang melaksanakan dakwah dengan sempurna, semuanya berdosa, dan wajib atas semuanya, yaitu atas setiap orang untuk melaksanakan dakwah sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya. Adapun secara nasional, wajib adanya segolongan yang konsisten melaksanakan dakwah di seluruh penjuru negeri dengan menyampaikan risalah-risalah Allah dan menjelaskan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbagai cara yang bisa dilakukan, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengutus para dai dan berkirim surat kepada para pembesar dan para raja untuk mengajak mereka ke jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala

[Majalah At-Buhuts Al-lslamiyyah, edisi 40 hal. 135-136]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid al-Juraisiy, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq – Jakarta]