panglima tni dan kapolri pimpin rapat 2

Panglima TNI dan Kapolri Apresiasi Program Pendekar Waras Madiun Diungkapkan Saat Pimpin Rapat Penanganan Covid-19

DKI Jakarta Headline Jawa Timur Muhasabah
Pimpin Rapat Penanganan Covid-19, Panglima TNI dan Kapolri Apresiasi Program Pendekar Waras Madiun

mascipoldotcom, Jum’at 10 Juli 2020 (19 Dzulqoidah 1441 H)

Madiun – Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P., dan Kapolri Jenderal Pol. Drs. Idham Azis, M.Si., mengapresiasi program Pendekar Waras (Penegakan Disiplin Protokol Kesehatan Agar Warga Sehat), dalam upaya menekan penyebaran Covid-19 yang digagas Wali Kota Madiun.

Apresiasi ini disampaikan saat Panglima TNI dan Kapolri memimpin rapat dan mendengarkan penjelasan dari gugus tugas daerah terkait Covid-19 di Jawa Timur. Rapat digelar di Ruang rapat Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, Jumat (10/07/20).

Dalam kegiatan ini, turut hadir Pangkogabwilhan-III Letjen TNI Ganip Warsito, Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah Indar Parawansa, Asops Panglima TNI, Asops Kapolri, Aslog Panglima TNI, Kadiv Humas Polri, Kadiv Propam Polri, Pangdam V/Brawijaya, Kapolda Jawa Timur, Bupati Madiun serta segenap pejabat TNI-Polri dan Pemerintah setempat.

panglima tni dan kapolri pimpin rapat 1Pertemuan yang berlangsung di ruang rapat Lanud Iswahjudi itu, Wali Kota Madiun, Maidi yang juga Kepala Gugus Tugas Covid-19 Kota Madiun menjelaskan soal program Pendekar Waras.

Saat ini, Wali Kota menuturkan, Pendekar Waras berjumlah lebih dari 2.000 personel yang berasal dari berbagai unsur elemen masyarakat, seperti OPD (Organisasi Perangkat Daerah), Pokja, Kader, hingga masyarakat umum dengan berbagai profesi.

Wali Kota Madiun menjelaskan, para pendekar itu bertugas memantau dan memberikan imbauan kepada masyarakat tentang pentingnya disiplin menghindarkan diri dari Covid-19. Salah satunya, penggunaan masker di tempat umum.

Mendengar paparan itu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengapresiasi program yang diluncurkan Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun.

panglima TNI dan Kapolri Panen Raya 5“Saya yakin dengan Program Pendekar Waras ini, dapat menekan laju penularan Covid-19,” ungkap Panglima TNI.

Meski begitu, Panglima TNI mengingatkan agar semua pihak dapat bahu membahu dalam mendukung program Pemerintah. Panglima menyebut, semua pihak untuk tetap optimis terhadap segala upaya yang telah dilakukan.

“Saat ini kita menghadapi krisis kesehatan, oleh karena itu perlu upaya extra-ordinary (luar biasa) untuk menanggulanginya,” tegas Panglima TNI.

Panglima TNI mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Madiun yang memaparkan penanganan Covid-19.

“Semoga setiap pihak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan membawa masyarakat tetap produktif dan aman dari Covid-19,” tutur Mantan Kasau itu.

Dalam kesempatan itu, Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis juga mengapresiasi program Pendekar Waras di Madiun itu.

“Saya mengapresiasi apa yang telah dilakukan Pemerintah Kota Madiun dan Jajaran untuk menekan angka penyebaran Covid-19,” ungkap Kapolri. (ng/bq/hy/Div Humas Polri).

————

Renungan

MEMBACA DAN MENDALAMI AL-QUR-AN SERTA PENGARUHNYA DALAM MENGHIDUPKAN MANHAJ[1] YANG LURUS DI DALAM DIRI KAUM MUSLIMIN

Setiap kali hilal bulan Ramadhan melintas, maka akan muncul kerinduan umat Islam kepada hari-harinya yang penuh dengan hembusan angin keberkahan, yang merupakan petunjuk dalam pancarannya. Dan itulah kekuatan dari kejernihan pokok dan dasarnya, al-Qur-an al-Karim, yang telah menghamparkan petunjuk, penerang bagi umat ini di sepanjang zaman, dan telah membuatkan dasar-dasar manhaj abadi bagi kehidupan manusia yang baru. Manhaj yang seimbang dan sejalan. Manhaj yang memberi kemudahan pada batas-batas kemampuan. Manhaj yang me-nyerukan kepada kemanusiaan yang bermartabat tinggi. Manhaj yang memiliki nilai yang mulia, yang di dalamnya berbagai perbedaan inderawi dan geografis melebur untuk bertemu dalam satu ‘aqidah serta satu sistem yang ideal.

Satu manhaj yang menyamakan antara seluruh manusia serta menjadikan keutamaan di antara mereka dalam ketakwaan:

نَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian…” [al-Hujuraat/49: 13]

Manhaj yang mendorong mereka untuk menghidupkan bulan puasa dalam kesatuan keislaman yang hakiki, yang mengatasi berbagai rintangan dan penyimpangan serta melintasi semua batasan dan kebangsaan. Serta menyatukan mereka dalam kesatuan tujuan, menggiring umat menuju kepada realisasi tujuan yang selalu diharapkan keberadaannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [Adz-Dzaariyaat/51: 56]

Dengan pandangan sekilas kepada para Salafush Shalih[2], kita akan mendapati salah satu dari mereka, dengan membawa beberapa surat al-Qur-an sanggup memperbaiki apa yang telah dirusak oleh bangsa Persia dan Romawi. Dan sanggup membuka hati (penduduk negeri) sebelum membebaskan negerinya.

Benar, inilah kewajiban orang-orang mukmin yang membaca al-Qur-an dengan sebenar-benarnya sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Demi Allah, seandainya hati kaum muslimin itu telah bersih dari segala macam penyakit serta menjernihkan hal-hal yang membuatnya keruh, niscaya mereka akan mengetahui nilai dan kewajiban mereka terhadap al-Qur-an, satu-satunya penyelamat sekaligus satu-satunya pelindung dari segala macam pemikiran yang merusak yang akan menghantam kejahatannya di zaman sekarang ini.

Dan akal dari kebanyakan manusia yang menyimpang karena kekosongannya dari wahyu Allah Ta’ala yang membentengi dan melindunginya dari mereka, maka Dia wahyukan di dalam-nya petunjuk yang mencukupi, memadai, menyelamatkan, sekaligus melindungi dari segala macam godaan syaitan manusia yang merusak akal dan gangguan jin yang menyerang fitrah.

Di dalamnya juga terkandung penjelasan yang sangat jelas mengenai petunjuk dan pembeda, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memperjelas hikmah dalam pengkhususan bulan Ramadhan dengan syari’at puasa me-lalui firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)…” [al-Baqarah/2: 185]

Bacaan dan kajian terhadap al-Qur-an memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jiwa untuk melakukan perbaikan dan penyucian, yang berkonsekuensi pada penerimaan seorang hamba dan pendekatannya kepada Rabb-nya Azza wa Jalla. Oleh karena itu, orang-orang shalih sepanjang perjalanan zaman selalu memperbanyak bacaan al-Qur-an pada bulan Ramadhan dan menyambutnya dengan sepenuh hati.[3]

Al-Qur-an adalah kitab umat Islam yang abadi, yang menyelamatkan mereka dari kegelapan menuju sinar yang terang ben-derang. Lalu menumbuhkan keadaan ini serta menggantikan rasa takut mereka dengan rasa aman. Dia memberikan tempat bagi mereka di muka bumi ini, serta dia memberikan sendi-sendinya yang dengan itu mereka menjadi umat yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan.

Di mana tanpa sendi-sendi tersebut, umat Islam tidak akan menjadi umat yang baik dan tidak akan menda-patkan tempat di muka bumi ini serta tidak juga disebut di langit. Maka wujud dari rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat al-Qur-an ini adalah minimal dengan memenuhi seruan Allah untuk berpuasa pada bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur-an.

[Disalin dari buku “Meraih Puasa Sempurna”, Diterjemahkan dari kitab “Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab”, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir].
_______
Footnote
[1] Manhaj berarti jalan yang jelas dan mudah sebagaimana yang terdapat dalam Tafsiir Ibni Katsir tentang perkataan Sahabat Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan ayat (لِكُّلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا…) “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (al-Maa-idah: 48). Lihat Tafsiir Ibni Katsir (II/75-76), cet. Maktabah Darus Salam, th. 1413 H.-red.
[2] Para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.-red.
[3] Ash-Shaum (hal. 73), karya ad-Dausari.