IMG 20200724 WA0228

Ops Patuh Toba 2020, Sat lantas Polres Tanjung Balai Sampaikan Adaptasi Kebiasaan Baru Kepada Masyarakat

Headline Muhasabah Sumatera Utara

IMG 20200724 WA0229mascipoldotcom, Sabtu, 25 Juli 2020 (04 Dzulhijah 1441 H) 

Tanjung Balai – Ops Patuh Toba 2020, Polres Tanjung Balai Peduli kepada masyarakat tentang pencegahan virus corona, Sat lantas berupaya dalam menindak lanjuti kebijakan Kapolri dengan nomor surat telegram ; STR/80/II/PAM.3/2020, tentang mengantisipasi virus corona khususnya Sat lantas Polres Tanjung Balai

Berikan sosialisasi kepada masyarakat di Jalan Gereja dan di persimpangan Jalan Sisingamagaraja, Jumat (24/07/2020) Jam 15.30 Wib, Sat lantas juga berikan wajangan tentang “Adaptasi Kebiasaan Baru” dengan mengikuti peraturan pemerintah yang sesuai dengan protokoler kesehatan.

IMG 20200724 WA0230Demikian juga Ops Patuh Toba 2020 dilakukan oleh Kasat lantas AKP H,W. Siahaan.S,H bersama jajaran Polantas berpatroli dan berkeliling se – Kota Tanjung Balai, untuk memgajak masyarakat dakam mengantisipasi covid-19 yang sudah menjadi pandemi ini bisa cepat berakhir.

“Diharapkan kepada masyarakat yang masih beraktifitas dalam pekerjaan di daerah jalan Persimpangan Gereja dan jalan sisingamagaraja, untuk selalu mengikuti protokoler kesehatan, seperti gunakan masker setiap saat, jagalah kebersihan diri kita sendiri, rajin mencuci tangan dengan sabun di tempat yang sudah disiapkan, selalu menjaga jarak kepada sesama hingga 1 meter, jauhi ditempat kerumunan orang ramai”Terang Kasat lantas AKP H,W. Siahaan.S,H.

IMG 20200724 WA0231“Disarankan kepada masyarakat yang masih di luar rumah agar segera bubarkan diri, dari tempat keramaian untuk mengantisipasi terjadinya penyebaran wabah virus corona, di anjurkan kepada masyarakat kalau tidak ada berkepentingan harap di rumah saja” Papar Kasat lantas H,W.Siahaan.

“Dianjurkan kepada masyarakat apabila kondisi badan terasa demam dan ada  gangguan tenggorokan sakit maupun kurang fit cepat  cek kepuskesmas atau ke rumah sakit terdekat.

Hindari berita kebohongan atau “HOAX” Sebarkan informasi yang benar kepada keluarga ataupun sanak saudara, tentang “Adaptasi Kebiasaan Baru” sesuai peraturan pemerintah dan protokoler kesehatan.

IMG 20200724 WA0232“BERSAMA KITA PASTI BISA”

Peduli Sat lantas Polres Tanjung Balai kepada masyarakat tentang peraturan pemerintah “Physical & Sosial distancing” upaya mutus mata rantai penyebaran virus corona.

Ops Patuh Toba 2020, Sat lantas juga berpatroli di tempat permukiman padat penduduk untuk menyampaikan tentang “ Adaptasi Kebiasaan Baru” kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan disekitar tetap bersih dan juga mengubah pola hidup kita lebih sehat dengan mengikuti protokoler kesehatan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah”Disarankan Kasat lantas H,W. Siahaan. (Rahmat Hidayat/Selvi)

————

Renungan

MENYIKAPI REZEKI YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Oleh Ustadz Abu Ahmad Said Yai, Lc

Marilah senantiasa kita bertaqwa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana perintahkan kepada kita, seluruh kaum Muslimin. Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku, taqwa adalah sebuah kata yang sangat ringan dan mudah diucapkan, tetapi berat dalam melaksanakannya. Pada hari ini saja, cobalah kita mengingat berapa banyak dosa yang telah kita lakukan ? Berapa banyak dosa yang telah diperbuat oleh hati-hati kita ? Sebagai contoh, iri terhadap orang lain yang telah diberi kenikmatan lebih kepadanya, harta yang melimpah dan rezeki yang banyak. Sudahkah hati kita selamat darinya pada hari ini ?

Hadirin rahimakumullâh.

Ketahuilah ! Rezeki bagaikan hujan yang tidak terbagi secara merata. Hujan, terkadang turun di daerah pegunungan, tidak di padang sahara atau sebaliknya; Terkadang turun di pedesaan tidak di perkotaan atau sebaliknya dan begitu seterusnya.

Hujan bisa membawa rahmat, tapi terkadang bisa mendatangkan derita. Ingatlah ketika Allâh Azza wa Jalla menenggelamkan kaum Nabi Nûh Alaihissallam yang membangkang! Dengan apa Allâh Subhanahu wa Ta’ala membinasakan mereka? Dengan hujan yang menyebabkan banjir dahsyat.

Begitulah harta atau bahkan dunia secara umum ! Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak membagikannya merata kepada setiap orang. Ada yang kaya, ada yang miskin dan ada yang berkecukupan. Harta, terkadang bermanfaat bagi hamba, terkadang harta bisa menyeretnya kelembah nista yang berujung derita.

Hadirin rahimaniyallâhu wa iyyâkum (semoga Allâh Azza wa Jalla menganugerahkan rahmat-Nya kepada kita)

Jika kita semua sudah mengetahui dan menyadari bahwa rezeki telah diatur oleh Allâh Azza wa Jalla, semua telah dibagi oleh Allâh Azza wa Jalla, lalu apa yang harus kita lakukan ? Buat apa kita mengeluh dengan rezeki yang sedikit ? Buat apa kita iri dengan orang lain ? Buat apa merasa hina ? Apakah harta bisa menjamin pemiliknya akan masuk surga ? Apakah dunia bisa menjamin untuk mendapatkan keridhaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala ?

Kepada orang-orang yang telah diberikan harta lebih dan berkecukupan, kita katakan, ‘Buat apa kalian bangga dengan kekayaan kalian ? Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

)قُمْتُ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا الْمَسَاكِينُ …وَقُمْتُ عَلَى بَابِ النَّارِ فَإِذَا عَامَّةُ مَنْ دَخَلَهَا النِّسَاءُ

Saya pernah berdiri di pintu surga, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin…Dan saya pun pernah berdiri di pintu neraka, ternyata sebagian besar yang masuk ke dalamnya adalah para wanita [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Hadits yang kami bawakan adalah peringatan untuk semua orang kaya dan berkecukupan. Dalam hadits di atas, dengan sangat jelas, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa penghuni surga kebanyakan berasal dari orang-orang miskin. Lalu bagaimana dengan orang-orang kaya ? Oleh karena itu, kita memperhatikan harta-harta kita dengan lebih seksama lagi, dari mana diperoleh dan bagaimana pergunaannya ?

Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda :

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ ، خَمْسِ مِئَةِ عَامٍ

Orang-orang fakir yang beriman akan masuk surga mendahului orang-orang kaya selama setengah hari (di akhirat), (yang setara) dengan lima ratus tahun (di dunia).[1]

Suatu ketika, sesaat setelah membaca ayat :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu [ At-Takâtsur/102:1]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ : مَالِى مَالِى – قَالَ – : وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ, أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ, أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

(nanti) Seorang anak Adam akan berkata, “Hartaku! Hartaku!” (Allâh pun) berfirman, “Wahai anak adam! Tidaklah engkau mendapatkan sesuatu apapun dari hartamu kecuali apa-apa yang kamu makan kemudian engkau buang serta apa-apa yang engkau kenakan kemudian engkau menjadikannya lusuh atau apa-apa yang engkau sedekahkan kemudian engkau lupakan[2]

Orang kaya bisa saja membeli makanan yang sangat mahal sampai 100 porsi atau lebih. Tetapi, apakah dia sanggup menghabiskan semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak. Orang kaya bisa saja membeli pakaian yang sangat mahal sampai 1000 jenis pakaian atau lebih. Tetapi, apakah dia bisa memakai semuanya dalam satu waktu ? Tentu tidak.

Harta yang banyak ketika pemiliknya wafat, apakah akan dibawa mati pula ? Tidak ! Harta tersebut akan menjadi hak ahli warisnya. Jadi, apa yang sebenarnya yang dicari di dunia ini ?

Apakah ketenaran ? Apakah pujian ? Apakah kedudukan di dunia ?

Subhânallâh! Sungguh hina jika yang menjadi tujuan hidup adalah hal-hal tersebut.

Bersedekahlah! Ber-infaq-lah di jalan Allâh! Bukakanlah pintu-pintu kebaikan untuk orang lain. Sesungguhnya sedekah itu tidak akan mengurangi harta, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bisa mencari rezeki dengan cara yang halal dan baik serta dapat memanfaatkannya di jalan yang diridhai oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

Demi Allâh! Bukanlah kemiskinan yang saya takutkan pada kalian. Akan tetapi yang saya takutkan pada kalian adalah dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian, Sehingga kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya dan dunia akan menghancurkan kalian sebagaimana dia telah menghancurkan mereka. [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

Hadits yang kami bacakan tadi dengan gamblang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak terlalu mengkhawatirkan jika umatnya miskin. Justru yang beliau takutkan adalah keadaan umatnya yang berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melalaikan mereka dari akhirat. Apakah saya,

Setelah kita mendengar hadits Rasulullah n ini, mestinya kita mau mengaca diri dan menilai diri kita sejujurnya. Adakah kita yang saat ini sedang berkumpul di rumah Allah k termasuk orang-orang yang terlalaikan oleh keindahan dunia yang menipu ini ?

Kekayaan! Kekayaan apakah yang sebenarnya harus kita miliki ?

Allâh Azza wa Jalla berfirman di dalam surat adh-Dhuhâ :

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ ﴿٦﴾ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ ﴿٧﴾ وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. [Adh-Dhuha/93:6-8]

Bukankah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan tidak memiliki harta dan kekayaan ? Sebenarnya kekayaan apa yang telah diberikan oleh Allâh kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

Coba perhatikan hadits yang akan saya bacakan:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Bukanlah yang dinamakan kekayaan itu dengan banyaknya barang, akan tetapi kekayaan (yang sesungguhnya) adalah kekayaan jiwa/hati.[3]

Hadits yang baru disebutkan menjelaskan bahwa kekayaan hakiki adalah kekayaan hati yang dimiliki oleh seorang Mukmin, yaitu rasa puas, ridha dan bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allâh Azza wa Jalla. Inilah yang dinamakan dengan qanâ’ah. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan rasa qanâ’ah yang sangat tinggi.

Jika kita menginginkan dunia maka dunia tidak akan pernah ada habisnya. Jika seseorang memiliki satu gunung emas, niscaya dia akan menginginkan dua gunung emas atau lebih banyak lagi.

Sampai kapan orang-orang yang mengejar dunia akan puas ? Mereka tidak akan pernah puas kecuali kalau mulut-mulut mereka sudah dipenuhi dengan tanah, maksudhnya kematian telah menjemput.

Dunia bukan tujuan hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita fokuskan diri kita untuk benar-benar beribadah kepada Allâh dan mengisi sisa-sisa hari kita ini dengan takwa kepada Allâh Azza wa Jalla.

Hadirin rahimaniyallaahu wa iyyaakum.

Inilah beberapa nasihat yang bisa kami sampaikan pada khuthbah Jumat ini. Mudah-mudahan khutbah yang singat ini bisa bermanfaat.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIV/1432/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] HR. an-Nasâi dan Ibnu Mâjah dengan sanad yang hasan
[2] HR. Muslim no. 2958
[3] HR. Bukhari; no. 6446 dan Muslim; no. 1051