IMG 20200829 WA0190

Mengenal Dekat Kabid Humas Polda Banten, KBP Edy Sumardi P SIK MH

Headline Banten Muhasabah Sosok Bhayangkara

IMG 20200829 WA0187mascipoldotcom, Sabtu, 29 Agustus 2020 (10 Muharam 1442 H)

Serang – Kombes Pol Edy Sumardi Priadinata merupakan seorang perwira menengah Polri yang mengemban amanah sebagai Kabid Humas Polda Banten sejak November 2018. Sejak Kecil, Edy mengaku tidak memiliki cita-cita menjadi seorang Polisi.

“Nah dulu, di tahun 1993 saat mendaftar sebagai calon taruna Akabri, pilihan pertama nya matra angkatan darat, kedua angkatan laut dan ketiga Kepolisian keempat angkatan udara.

Karena dulu pendafataran masih gabung, sehingga kita tidak bisa memilih dan mendaftar Masuk Catar Akabri dari Medan Kodam 1 Bukit Barisan di Sumatera Utara.

IMG 20200829 WA0188Karena hasil seluruh test mulai dari daerah hingga tingkat pusat, Edy dinyatakan diterima lulus Akabri di Matra Kepolisian, ditahun 1993,” kata Edy, Rabu (26/8/2020).

Perwira melati tiga kelahiran Padang 16 Maret 1974 tersebut mengawali karier di Polri sebagai Pamapta Polres Pinrang Polda Sulawesi Selatan pada Juni 1997, setelah menjalani pendidikan selama 3.5 tahun di AKABRI sejak masuk tahun 1993 hingga lulus akabri tahun 1996 dengan nama batalion Wirasatya.

Dia bercerita, awal meniti karier sejak memasuki pendidikan awal menjadi Taruna AKPOL merasa berat karena dia tidak begitu tahu tentang tugas seorang anggota Polisi dan memang awalnya bukan menjadi cita-citanya.

IMG 20200829 WA0189Edy lebih mengetahui tugas seorang tentara lantaran sejak kecil ia tinggal di lingkungan komplek ikan hiu jalan bawal, komplek TNI angkatan laut mengikuti sang ayah seorang bintara angkatan laut di lantamal 1 belawan medan.

Dari tujuh bersaudara hanya Edy menjadi seorang anggota Polisi, saudara yang lainnya jadi tentara dan pegawai negeri sipil serta swasta.

“Alhamdullah karena dorongan ibunda saya tercinta dan motifasinya dia mengatakan berbakti kepada bangsa dan negara itu bisa dari TNI dan Polri. Ayah dan ibu menganggap itu paling tepat karena itu adalah jati diri,”katanya.

1. Lahir di Padang Sumatera Barat

IMG 20200829 WA0190Perwira melati tiga kelahiran Padang 16 Maret 1974 tersebut mengawali karier di Polri sebagai Pamapta Polres Pinrang Polda Sulawesi Selatan pada Juni 1997 setelah menjalani pendidikan 3.5 tahun di AKABRI hingga lulus tahun 1996.

Dia bercerita, awal meniti karier sejak memasuki pendidikan awal menjadi Taruna AKPOL merasa berat karena dia tidak begitu tahu tentang tugas seorang anggota polisi. Edy lebih mengetahui tugas seorang tentara lantaran sejak kecil tinggal di lingkungan komplek tni angkatan laut mengikuti sang ayah Serma (Purn) H. Soewardi Chaniago seorang bintara TNI angkatan laut di belawan medan. Dari tujuh bersaudara hanya Edy menjadi seorang anggota polisi.

“Alhamdullah karena dorongan ibunda saya dan motifasinya dia mengatakan berbakti kepada bangsa dan negara itu bisa dari TNI dan Polri. Ayah dan ibu menganggap itu paling tepat karena itu adalah jati diri,”katanya

2. Karier di Kepolisian hingga menjabat Kabid Humas Polda Banten

Setelah menjalani tugas sebagai Polisi, dia sudah mengemban berbagai jabatan, mulai dari kapolsek di beberapa daerah di Polwil Bone dan Polda Jambi. Edy memiliki pengalaman dalam bidang lalu lintas terbukti beberapa kali menjabat sebagai perwira di Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) di Polda Riau.

Dari prestasi itulah dia pernah menjabat sebagai, Kapolres kuantan Singingi Polda Riau pada tahun 2015 dengan pangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), Kapolres Kampar Polda Riau pada tahun 2016 dan Wakapolresta Pekan Baru Polda Riau pada tahun 2017. Kemudian mendapat promosi jabatan sebagai Kabid Humas Polda Banten pada bulan november tahun 2018.

“Tugas Kepolisian berat karena harus hadir di masyarakat memberikan pengayoman dan perlindungan sekaligus menegakan hukum kepada masyarakat yang melakukan pelanggaran hukum, tentu ini bukan hal mudah karena kita hidup dari masyarakat,” katanya. Tapi sebagai insan bhayangkara dan abdi negara, semua itu mesti dilakoni dengan ikhlas dan tetap berjiwa pelayan.

3. Mendapat penghargaan Kabid Humas terbaik Polda tipe A se Indonesia.

Delapan bulan menjabat sebagai Kabid Humas Polda Banten, tepatnya pada bulan Agustus 2019 Edy Sumardi meraih penghargaan tertinggi dari Kapolri, sebagai Kabid Humas Polda Tipe A terbaik dalam amplifikasi berita Polri dan edukasi aktif masyarakat dalam manajemen media bersama Irjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono yang saat itu menjabat Kabid Humas Polda Metro Jaya dan masih berpangkat kombes pol.

Penghargaan tersebut dalam rangka melaksanakan tugas amplifikasi dan publikasi media secara aktif, semua kegiatan Polri sejak perhelatan pemilu Presiden dan wakil presiden, peringatan Hari Bhayangkara ke-73 tahun 2019 hingga hari kemerdekaan RI, yang pelaksanaan penerimaan penghargaan dilaksanakan di Rupatama Mabes Polri.

Disampaikan Edy, bertugas di bidang kehumasan di era keterbukaan dan digital saat ini memiliki tantangan yang sangat berat dalam rangka mempublikasikan kinerja dan citra Polri, khususnya Polda Banten ditengah maraknya kabar atau informasi hoaks yang kerap beredar di media sosial dan dapat menimbulkan kerawanan untuk keamanan dan ketertiban masyarakat.

4. Sosok Perwira peduli Sosial dengan Program Polisi Peduli dan Berbagi “Jum’at Barokah”

Perwira lulusan Akabri 1996 ini tak luput dari sorotan masyarakat tentang kepeduliannya terhadap masyarakat yang kurang mampu. Program Polisi Peduli dan Berbagi Jum’at Barokah yang didirikannya selalu iya (Edy,red) laksanakan dimanapun tempat bertugas.

“Jiwa sosial dan peduli emang saya tanamkan di diri saya, apalagi sosok alm Ayahanda selalu mengingatkan saya untuk selalu peduli dan berbagi kepada masyarakat yang kurang mampu di sekitar saya,”terang Edy

Program Jum’at Barokah yang mulai berawal dengan memberikan sendal jepit di Masjid, kini sudah ribuan masyarakat yang dibantu oleh program yang di dirikannya dengan memberikan bantuan paket sembako keapada setiap masyarakat yang kurang mampu sejak di polda riau sampai saat ini di Polda Banten.

“Alhamdulillah, berkat rahmad Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hingga saat ini program tersebut tetap saya jalankan. Jangan dilihat dari hasil yang kita berikan, melainkan adanya dari rasa kepudilian Polri terhadap masyarakat kurang mampu serta adanya keberadaan Polri di tengah masyarakat,”Imbuh Edy

Hingga saat ini, masyarakat mengenal diri edy dengan menjuluki sosok Polisi Jum’at Barokah (Kombes Pol Edy Sumardi)

———–

Renungan

Do‘a Jibril Alaihissallam Kepada Tiga Golongan Manusia Agar Mereka Semua Dijauhkan Dari Rahmat Allah

Oleh Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi

Ada tiga kelompok orang yang dido‘akan dengan kejelekan oleh Jibril dan diaminkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka itu adalah:

1.Orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dia tidak diampuni (setelah keluar darinya-pen.).

2. Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, tetapi ia masuk ke dalam Neraka.

3. Orang yang disebutkan di hadapannya nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi ia tidak bershalawat kepadanya.

Ada beberapa hadits yang menunjukkan hal tersebut, di antaranya adalah:

Pertama: Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, ketika beliau naik ke atas tangga, beliau berkata ‘Aamiin,’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat kedua) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat ketiga) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: ‘Aamiin.’”

Jibril berkata lagi, ‘Dan siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu dia masuk ke dalam Neraka, maka Allah akan menjauhkannya dari rahmat-Nya.’ Aku katakan, ‘Aamiin.’

Jibril berkata lagi, ‘Siapa saja yang ketika namamu disebutkan, lalu ia tidak bershalawat kepadamu, maka Allah akan melaknatnya, katakanlah aamiin, lalu aku katakan, ‘Aamiin.’ [1]

Kedua: Al-Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu anhu : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari keluar menuju mimbar, ketika dia naik ke sebuah tangga, beliau berkata, ‘Aamiin.’

Lalu beliau naik lagi dan berkata, ‘Aamiin.’

Lalu beliau naik lagi ke tangga yang ketiga dan berkata, ‘Aamiin.’

Ketika beliau turun dari mimbar dan selesai berkhutbah, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami telah mendengar sebuah perkataan darimu pada hari ini.’

Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kalian mendengarkannya?’
Mereka menjawab, ‘Benar.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya Jibril menampakkan dirinya ketika aku sedang menaiki tangga, lalu ia berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan kedua orang tuanya di waktu tua atau salah satunya, lalu ia tidak memasukkannya ke dalam Surga.’ Rasulullah berkata: ‘Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’’

Jibril berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang ketika namamu disebutkan tetapi ia tidak bershalawat kepadamu.’ Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’

Jibril berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan Ramadhan tetapi ia tidak diam-puni.’ Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’” [2]

Al-Imam ath-Thaibi menjelaskan sebab do‘a kepada tiga golongan ini ketika beliau menjelaskan hadits yang lainnya [3] sesungguhnya shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah pengagungan kepadanya. Maka, barangsiapa yang memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya Allah akan memuliakannya, meninggikan derajatnya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang tidak memuliakannya, maka Allah akan menghinakannya.

Begitupula bulan Ramadhan yang merupakan bulan yang dimuliakan, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barang-siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [Al-Baqarah: 185]

Maka, barangsiapa yang menemukan kesempatan untuk memuliakannya dengan melakukan qi-yaamul lail (Tarawih) dengan keikhlasan, tetapi dia tidak mengambil kesempatan itu, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakannya.

Memuliakan kedua orang tua berarti memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menghubungkan berbuat baik kepada keduanya dengan bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkan-lah kepada mereka perkataan yang mulia.” [Al-Israa’: 23]

Orang yang diberikan kesempatan untuk berbuat baik kepada keduanya, terutama di waktu tua (lanjut usia), sesungguhnya mereka berdua di rumahnya bagaikan daging di atas kayu potongan, dan tidak ada yang meladeninya kecuali ia, jika anak itu tidak menggunakan kesempatan ini, maka pantaslah jika dia dihinakan dan direndahkan kedudukannya. [4]

Semoga dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kita tidak di-masukkan oleh-Nya ke dalam tiga golongan ini. Aamiin yaa Dzal Jalaali wal Ikraam.

[Disalin dari buku Man Tushalli ‘alaihimul Malaa-ikah wa Man Tal‘anu-hum.” Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang yang Dilaknat Malaikat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

_______

Footnote
[1]. Al-Ihsan fii Taqriib Shahiih Ibni Hibban, kitab al-Bir wal Ihsan, bab Haqqul Waalidain (II/140 no. 409), al-Hafizh al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Tha-brani, di dalamnya ada ‘Umran bin Aban, yang ditsiqahkan oleh Ibnu Hibban, sedangkan yang lainnya mendha’ifkan, sedangkan perawi yang lainnya tsiqah. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits ini di dalam Shahiihnya dari jalan tersebut (Majma’uz Zawaa-id wa Manba-ul Fawaa-id X/166). Syaikh Syu’aib al-Arnauth berkata, “Ini adalah hadits shahih dengan yang lainnya, sedangkan sanadnya lemah.” (Hamisy al-Ihsaan fii Taqriib Shahiih Ibni Hibban II/140)

[2]. Majma’uz Zawaa-id wa Manba-ul Fawaa-id kitab al-Ad’iyah bab Fii Man Dzukira j ‘indahu falam Yushalli ‘alaihi (X/166). Al-Hafizh al-Haitsami berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan perawinya tsiqah.”

[3]. Yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ.

“Merugilah orang yang disebutkan namaku (nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) di hadapannya, tetapi ia tidak mau bershalawat kepadaku. Merugilah orang yang masuk Ramadhan, kemudian Ramadhan itu berlalu sebelum dosa-dosanya diampuni. Dan merugilah seorang yang mendapatkan kedua orang tuanya di waktu tua (lanjut usia), tetapi keduanya tidak dapat menyebabkannya masuk Surga.”

‘Abdurrahman (salah satu perawi) berkata: “Dan aku menyangka bahwa ia berkata, ‘Atau salah satunya.’” (Jaami’ at-Tirmidzi, bab ad-Da’awaat (X/372 no. 3545). Al-Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan gharib, dari riwayat ini.” Syaikh al-Albani berkata, “Hasan shahih.” (Shahiih Sunan at-Tirmidzi III/177). Lihat pula catatan pinggir kitab Misykaatul Mashaabiih karya Syaikh al-Albani (I/292).
[4]. Lihat Syarah ath-Thaibi (III/1044).