IMG 20210628 WA0004

Mencegah Meluasnya Covid-19 Semprotkan Cairan Disinfektan Secara Serentak Sebagai Sumbangsih Komascipol

Aksi Nyata Headline Jawa Tengah Muhasabah

mascipoldotcom – Ahad, 27 Juni 2021 (17 Zdulkaidah 1442 H)

Blora – Komascipol dibawah kendali Kordinator Nasional Ustadz Abu Munzdir al Ghifary Hafizdohulloh bersama tem dan Ketua RT setempat di lingkungan Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Jawa Tengah telah melakukan penyemprotan cairan desinfektan secara serentak dan masif di ruang publik, rumah ibadah dan Ponpes serta perumahan – perumahan di jajaran Kecamatan Cepu Kabupaten Blora Jawa Tengah

Momentum dan menyambut HUT Bhayangkara ke 75 serta mencegah meluasnya dampak wabah virus corona atau yang dikenal covid-19 diwilayah Kecamatan Cepu ini sebagai penggerak bersatunya masyarakat yang berada di Kecamatan Cepu dalam mencegah meluasnya wabah virus Corona diwilayah Kecamatan Cepu

“Penyemprotan cairan desinfektan ini selain di lingkungan tempat tinggal para pengurus Komascipol juga kami lakukan dilingkungan perumahan simpatisan dan warga yang tinggal di lingkungan sekretariat pengurus Komascipol DPD Blora di Kecamatan Cepu, ungkap Ustadz Abu Munzdir al Ghifary Hafizdohulloh, ahad (27/6/2021)

Masih menurut Kornas, “Bertahab akan kami laporkan dan sekaligus menggandeng stakeholder agar penyemprotan cairan desinfektan merata diseluruh perkantoran Polsek dan Koramil serta kecamatan dan tempat-tempat keramaian lainnya dan kegiatan ini juga termasuk kami lakukan di rumah ibadah dan fasilitas umum lainnya”, imbuh Kornas.

Lanjut Kornas, “Alhamdulillah Masyarakat menyambut dengan antusias dan menyumbang berbagai peralatan serta bahu membahu membantu dan mensukseskan program penyemprotan cairan desinfektan sekaligus hadiah kepada Polri dalam rangka HUT Bhayangkara ke 75”, tambah Kornas.

“Termasuk Bapak Kris Heryanto selaku ketua RT04 RW10 Sitimulyo sangat mendukung dan memprakarsai terlaksananya kegiatan penyemprotan disinfektan di wilayahnya yang telah kami lakukan seharian penuh pada Ahad, 26/6/2021, lanjut Kornas.

Dilain tempat Pengawas Komascipol Drs. Imron Syuaebi, mengatakan kegiatan ini tidaklah menjadi seremonial dan kegiatan pencegahan dengan penyemprotan disinfektan saja tapi juga program kerja Komascipol seperti pembagian sembako bulanan dan pertiga bulan sekali disetiap wilayah tetap di jalankan sebagai bentuk Sumbangsih Komascipol kepada para korban danya wabah virus corona atau covid-19

“Ini merupakan sebagai momentum penting dalam bersatunya masyarakat dan kompak bersama melawan covid-19, sekaligus membantu aparatur Pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat agar bahu-membahu bersatu memerangi adanya virus corona dan sekaligus meringankan korban Covid-19”. tutur Pengawas Drs.Imron Syuaebi.

“Sebagaimana arahan bapak presiden dan panglima TNI serta Kapolri yang di tindaklanjuti oleh para gubernur, para Pangdam dan Kapolda seluruh Indonesia, kita semua diminta agar gotong royong, membendung meluasnya wabah covid-19 dan meringankan beban masyarakat terdampak adanya wabah covid-19” tutup Kornas.

——–

Renungan

ABU DARDA RADHIYALLAHU ANHU, SAHABAT YANG ZUHUD DAN TAAT BERIBADAH

Nama beliau adalah Uwaimir bin Amir bin Mâlik bin Zaid bin Qais bin Umayyah bin Amir bin Adi bin Ka`b bin Khazraj bin al-Harits bin Khazraj. Ada yang berpendapat, namanya adalah Amir bin Mâlik, sedangkan Uwaimir adalah julukannya. Ibunya bernama Mahabbah binti Wâqid bin Amir bin Ithnâbah. Beliau termasuk Sahabat yang akhir masuk Islam. Akan tetapi, beliau termasuk Sahabat yang bagus keislamannya, seorang faqih, pandai dan bijaksana.

Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakannya dengan Salman al-Fârisi Radhiyallahu anhu . Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Uwaimir adalah hakîmul ummah (seorang yang sangat bijaksana).” Beliau Radhiyallahu anhu mengikuti berbagai peperangan setelah perang Uhud. Adapun keikutsertaan beliau dalam perang Uhud masih diperselisihkan. [Usudul ghâbah 5/97]

BELIAU ADALAH SAHABAT YANG ZUHUD DAN RAJIN BERIBADAH

Abu Juhaifah Wahb bin `Abdillâh Radhiyallahu anhu berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan Salman al-Fârisi dan Abu Darda` Radhiyallahu anhuma.” Setelah itu Salmân Radhiyallahu anhu mengunjungi Abu Darda` Radhiyallahu anhu. Dia melihat Ummu Darda`Radhiyallahu anha memakai pakaian kerja dan tidak mengenakan pakaian yang bagus. Salman Radhiyallahu anhu bertanya kepadanya, “Wahai Ummu Darda`, kenapa engkau berpakaian seperti itu?”

Ummu Darda` Radhiyallahu anha menjawab, “Saudaramu Abu Darda` Radhiyallahu anhu sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu shalat malam.”

Lantas datanglah Abu Darda` Radhiyallahu anhu dan menghidangkan makanan kepadanya seraya berkata, “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa”

Salman Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku tidak akan makan hingga engkau makan.” Lantas Abu Darda` Radhiyallahu anhu pun ikut makan.

Tatkala malam telah tiba, Abu Darda` Radhiyallahu anhu pergi untuk mengerjakan shalat. Akan tetapi, Salman Radhiyallahu anhu menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah” dan dia pun tidur. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan hendak shalat, dan Salman Radhiyallahu anhu berkata lagi kepadanya, “tidurlah.” (dia pun tidur lagi-pen)

Ketika malam sudah lewat Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu , “Wahai Abu Darda`, sekarang bangunlah”. Maka keduanya pun mengerjakan shalat”

Setelah selesai shalat, Salman Radhiyallahu anhu berkata kepada Abu Darda` Radhiyallahu anhu, “ (Wahai Abu Darda`) sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.”

(selanjutnya) Abu Darda` Radhiyallahu anhu mendatangi Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut kepadanya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salman benar” [HR. al-Bukhâri no. 1867., kitab Ash-Shahâbah hlm.462]

Dalam riwayat lain yang lain, Abu Darda` Radhiyallahu anhu mengatakan, “Tatkala Nabi diutus menjadi rasul, ketika itu aku adalah seorang pedagang. Aku ingin menggabungkan ibadahku dan pekerjaanku, namun keduanya tidak bisa bersatu.

Kemudian aku pun meninggalkan pekerjaanku dan memilih beribadah kepada Allah Azza wa Jalla . Demi Allah Azza wa Jalla , alangkah senangnya seandainya aku memiliki toko di jalan menuju pintu masjid hingga aku tidak meninggalkan shalat. Aku bisa mendapatkan keuntungan empat puluh dinar dan bisa aku sedekahkan semua di jalan Allah Azza wa Jalla .”

Seseorang bertanya kepada beliau, “Wahai Abu Darda` Radhiyallahu anhu , kenapa engkau membenci hal (harta) itu?”

Beliau menjawab, “Aku takut (hisab yang dahsyat). Pada hari kiamat Allah Azza wa Jalla akan menghisab hartaku ini dan bertanya kepadaku dua hal :

Pertama : Darimana harta itu diperoleh, dan
Kedua : Kemana harta itu dibelanjakan. Harta yang halal ada hisabnya dan harta yang haram ada siksanya.” [Ash-Shahâbah hlm. 461-463]

Dalam riwayat lain Abu Darda` Radhiyallahu anhu mengatakan, “Aku senang seandainya aku bisa berdagang di jalan dekat pintu masjid, setiap harinya aku bisa memperoleh 300 dinar dan aku bisa mengerjakan shalat lima waktu di masjid. Aku tidaklah mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Akan tetapi aku lebih senang menjadi orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari beribadah kepada Allah Azza wa Jalla .’” [Al-Hilyah 1/20 / Ash-Shahabah hlm. 463]

KISAH BERPULANGNYA BELIAU RADHIYALLAHU ANHU MENGHADAP ALLAH AZZA WA JALLA

Syumaith bin Ajlân rahimahullah berkata, “Tatkala Abu Darda` Radhiyallahu anhu hendak meninggal dunia, beliau merasa gelisah. Ummu darda` Radhiyallahu anha berkata kepadanya, ‘(Wahai Abu Darda`), bukankah engkau pernah memberitahuku bahwa engkau mencintai kematian?’ Abu Darda` Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Demi Allah, benar’, akan tetapi tatkala aku yakin akan meninggal dunia, aku menjadi benci kepada kematian, kemudian Abu Darda` Radhiyallahu anhu menangis dan mengatakan, ‘Sekarang adalah detik-detik akhir hidupku di dunia ini.

Bimbinglah aku mengucapkan lâ ilâha illallâh.’ Akhirnya Abu Darda` Radhiyallahu anhu senantiasa mengucapkan kalimat itu hingga meninggal dunia.” Beliau wafat dua tahun sebelum pembunuhan Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu . Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat setelah perang Siffin. Ada yang mengatakan tahun 23 atau 24 H. di kota Dimasyq dan ada juga yang mengatakan tahun 38 atau 39. Akan tetapi, yang masyhur dari kebanyakan para ahli ilmu adalah beliau wafat pada masa kekhalifahan Utsmân Radhiyallahu anhu . [Usudul Ghâbah 4/18-19, no. 4136]

DI ANTARA PESAN-PESAN ABU DARDA RADHIYALLAHU ANHU

Beliau mengatakan, “Seandainya kalian mengetahui apa yang akan kalian lihat setelah kematian, pasti kalian tidak akan berselera untuk makan, minum, dan berteduh di dalam rumah. Kalian akan keluar menuju tempat-tempat yang tinggi dan memukul-mukul dada kalian serta menangisi diri-sendiri. Sungguh, aku lebih senang menjadi sebatang pohon yang dikunyah kemudian ditelan. [Az-Zuhd, Imam Ahmad/ Ash-Shahâbah hlm. 465]

Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Siapa yang banyak mengingat kematian, maka ia akan sedikit gembira dan jarang berbuat hasad”

Beliau berkata, “Ada 3 hal yang membuatku tertawa dan 3 hal yang membuatku menagis. 3 hal yang membuatku tertawa yaitu :

Pertama : Orang yang cita-citanya adalah duniawi, padahal kematian selau mengintainya

Kedua: Orang yang lalai dari kematian, padahal kematian tidak pernah lalai kepadanya, dan

Ketiga: Orang yang berlalu banyak tertawa, ia tidak tahu apakah Allah Azza wa Jalla murka atau ridha kepadanya.

Adapun 3 hal yang membuatku menangis adalah, dahsyatnya kiamat, terputusnya amal, dan keadaanku di hadapan Allah Azza wa Jalla , apakah akan dimasukkan di surga atau neraka.”

Beliau juga pernah berkata, “Wahai manusia, injakkan kakimu ke tanah. Sesungguhnya sebentar lagi ia akan menjadi kuburmu. Wahai manusia, sesungguhnya hidupmu hanya beberapa hari, tiap kali waktu berlalu, berarti sebagian hidupmu telah pergi. Wahai manusia, engkau sekarang ini selalu menghabiskan umurmu sejak lahir dari rahim ibumu. ” Seorang penyair mengatakan:

نَسِيْرُ إِلَى اْلآجَالِ مِنْ كُلِّ لَحْظَةٍ وَأَيَّامُنَا تُطْوَى وَهُنَّ مَرَاحِلُ
وَلَمْ أَرَ مِثْلَ الْمَوْتِ حَقًّا كَأَنَّهُ إِذَامَا تَخَطَّتْهُ اْلأَمَانِيَّ بَاطِلُ
وَمَا أَقْبَحَ التَّفْرِيْطَ فِيْ زَمَنِ الصِّبَا فَكَيْفَ بِهِ وَالشَّيْبُ لِلرَّأْسِ شَاعِلُ
تَرَحَّلْ مِنَ الدُّنْيَا بِزَادٍ مِنَ التُّقَى فَعُمْرُكَ أَيَّامٌ وَهُنَّ قَلاَ ئِلُ

Kita berjalan menuju ajal dalam setiap detiknya
Hari-hari kita selalu berlalu, dan memiliki tahapan-tahapan

Aku belum pernah melihat ada sesuatu yang lebih meyakinkan daripada kematian

Seolah-olah, semua yang tidak dijangkau oleh angan-angan (kematian-pen), tidak bisa diterima.

Alangkah buruknya perbuatan kita (meninggalkan agama-pen) tatkala muda

Lantas, bagaimana seseorang itu tetap meninggalkan agama, padahal ubannya telah menyala

Berjalanlah kamu di dunia ini dengan bekal takwa
Karena, umurmu hanyalah beberapa hari, dan itu sangatlah sedikit

Demikian sosok sahabat yang agung, mudah-mudahan bisa kita jadikan sebagai suri teladan yang baik. Wallâhu a`lam

Referensi

1. Kitab Ash-Shahabah,Dr, Shalih bin Thaha Abdul Wahid, Maktabah Ghuraba

2. Usudul Ghâbah fi Makrifati Shahabah, Izzudin bin Atsir Abil Hasan Ali bin Muhammad al-Jaziri

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]