Desa Lama Pancurbatu Juga Marak Beroperasi Judi Tembak Ikan 1

Lapor Pak Kapolda Sumut : Desa Lama Pancurbatu Juga Marak Beroperasi Judi Tembak Ikan-ikan

Headline Muhasabah Sumatera Utara

Desa Lama Pancurbatu Juga Marak Beroperasi Judi Tembak Ikanmascipoldotcom, Selasa, 01 September 2020 (13 Muharam 1442 H)

Pancurbatu – Terkait Pemberitaan beberapa waktu yang lalu mengenai mesin judi ketangkasan tembak ikan di daerah Kecamatan Pancurbatu, Deli Serdang, Sumatera Utara, kini hasil pantauan Tim pada hari Minggu (31/08) sekitar pukul 20.00 WIB, ternyata semakin eksis aja mereka, dan arena judi tersebut sudah terang-terangan/tidak sembunyi-sembunyi lagi,
bahkan di Desa Lama baik di pangkalan angkot 97 ada 2 mesin, ironisnya hanya berjarak 200 meter dari kantor Polsek Pancurbatu, Namosalak ada 2 mesin dekat dengan kolam pancing, Jalan Ketaren ad 1 mesin, dan Semalingkar di doorsmeer dekat dengan pangkalan 108 ada satu mesin, Simpang Rambung Merah ada 1 mesin.

Ternyata benar-benar semakin menjamur, yang keberadaannya bukan hanya dipinggir jalan raya, bahkan sampai pelosok Gang-gang Desa.

Keberadaan mesin judi ketangkasan tembak ikan ini sudah benar-benar meresahkan masyarakat sekitar, belum lagi kaum ibu-ibu merasakan sekali dampaknya, seharusnya anak-anak mereka melakukan pembelajaran dari sekolah secara online di rumah malah lebih senang mereka di lokasi judi tersebut, belum lagi para suami sudah jarang di rumah, kerjanya bermain judi yang cukup menjanjikan kecanduannya, walaupun harus sampai mengorbankan waktu, kerja dan biaya kebutuhan rumah tangga, belum lagi tentang anjuran pemerintah mengenai ” Protokol Kesehatan” dimasa Covid-19 ini, sudah jelas tidak berlaku anjuran tersebut.

Apakah dianggap mesin judi ketangkasan tembak ikan ini bukan merupakan permainan berbentuk judi. ” Mesin ketangkasan ini memberikan janji yang menggiurkan, dengan modal kecil bisa mendapat hadiah berpuluh kali lipat, tak bedanya judi togel, kalau mesin judi ketangkasan ini bukan merupakan judi, berarti salah dong Polsek Medan Labuhan menggerebek dan menyita mesin tersebut, penggerebekan itu dilakukan oleh Reskrim Polsek Medan Labuhan, telah berhasil mengamankan satu unit mesin judi ketangkasan tembak ikan di Lokasi rumah milik warga atas nama Yus Indra (43) warga Jalan Jala IX, Gang Kambing, Lingkungan IV, Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, Senin (03/08/2020) sekira pukul 21.00 Wib”, ucap Dedi S yang merupakan seorang pakar hukum dan berprofesi sebagai pengacara melalui telepon seluler (31/08).

Berpuluh media online maupun cetak mengapresiasi kinerja Polsek Medan Labuhan karena keberhasilannya menggerebek mesin judi ketangkasan tembak ikan, sesuai dengan himbauan dari Kapdasu berbentuk Benner maupun Baleho yang yang terpajang di pinggir-pinggir jalan, belum lagi dipemberitaan-penberitaan baik Media online maupun cetak, tetap selalu mengingatkan dan intruksi-intruksi ke jajarannya maupun ke masyarakat, “Tidak ada tempat bagi penjahat, Narkoba, dan Judi”, adakah artinya tulisan atau himbauan dari Toba Satu tersebut bagi Polsek Pancurbatu…? Atau lain daerah, lain peraturan/hukumnya, bak kata pepatah “Lain lubuk lain ikannya”. (Tim10)

———-

Renungan

Jauhi Judi Supaya Anda Tidak Rugi

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim Atsari

Mencintai harta merupakan fitrah manusia. Oleh karena itu, sebagian orang berusaha meraih harta dengan segala cara, tanpa peduli halal maupun haram. Di antara cara meraih harta yang disukai banyak orang adalah dengan berjudi. Karena jika beruntung, pelakunya akan bisa meraup harta dalam jumlah fantastis tanpa bersusah payah. Perjudian itu memang memiliki manfaat, akan tetapi keburukannya jauh lebih besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” [Al-Baqarah/2:219]

Allâh Azza wa Jalla tidak mengingkari manfaat perjudian, seperti kemenangan yang mungkin diperoleh sebagian orang, lalu dia gunakan untuk kebutuhan diri dan keluarganya. Namun manfaat-manfaat itu tidak sebanding dengan kerusakannya yang akan menghancurkan agama pelakunya. Oleh karena itu Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang perjudian. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. [Al-Mâidah/5: 90]

MAKNA MAISIR (JUDI)

Memahami hakikat suatu larangan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap orang. Sehingga ketika larangan itu berubah bentuk, dia tidak mudah terkecoh dan tetap tahu bahwa sesuatu itu tetap terlarang. Termasuk dalam hal ini, misalnya memahami makna dan hakikat maisir (judi) yang dilarang oleh agama Islam?

Sebagian Ulama’ menjelaskan bahwa maisir artinya taruhan.

Ibnu Hajar al-Makki rahimahullah berkata,

الْمَيْسِرُ: الْقِمَارُ بِأَيِّ نَوْعٍ كَانَ

Al-Maisir (judi) adalah taruhan dengan jenis apa saja [Az-Zawâjir ‘an Iqtirâfil Kabâ‘ir, 2/200]

Al-Mahalli rahimahullah berkata:

صُورَةُ الْقِمَارِ الْمُحَرَّمِ التَّرَدُّدُ بَيْنَ أَنْ يَغْنَمَ وَأَنْ يَغْرَمَ

Bentuk taruhan yang diharamkan adalah adanya kemungkinan mendapatkan keberuntungan atau kerugian. [Al-Minhaj bi Hâsyiyah al-Qalyubi, 4/226]

Tetapi sebagian Ulama’ yang lain menjelaskan bahwa maisir mencakup taruhan atau bentuk yang lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Demikian juga lafazh maisir menurut mayoritas Ulama mencakup permainan dengan kartu dan catur (yakni walaupun tidak ada taruhan-pen), dan mencakup jual-beli gharar (jual beli yang tidak terang sifat dan barangnya sehingga membahayakan-pen) yang dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena di dalamnya terdapat makna qimâr (judi/taruhan) yang sama dengan maisir (dalam istilah al-Qur’ân-pen).

Karena makna qimâr adalah terambilnya harta seseorang dalam sebuah taruhan antara mendapatkan gantinya atau tidak. Seperti orang yang membeli budak yang lari, onta yang kabur, habalul habalah (binatang yang akan dikandung oleh binatang yang masih dalam kandungan-pen), dan semacamnya, yang bisa jadi dia akan mendapatkannya atau tidak mendapatkannya. Berdasarkan ini maka lafazh maisir dalam kitabullâh mencakup semua ini.” [al-Majmû’ al-Fatâwâ, 19/283].

Di Antara Bentuk-Bentuk Perjudian

Bentuk-bentuk perjudian tidak terbatas, namun intinya sama, yaitu taruhan yang memungkinan untuk mendapatkan keberuntungan atau kerugian, sehingga bisa meraih atau kehilangan harta dengan sangat mudah.

Perjudian bisa dengan sarana kartu, domino, dadu, rolet atau lainnya.

Atau dengan sarana aduan, seperti adu ayam jantan, adu nyali menyeberang sungai, adu panco dan lainnya.

Atau dengan sarana perlombaan, seperti lomba lari, bola voli, sepak bola, dan lainnya.

Atau dengan sarana menebak nomor atau huruf atau lainna.

Atau dengan sarana menebak pemenang pemilihan kepala desa, bupati, gubernur, dan lainnya.

Dan lain-lain yang tidak terbatas bentuknya.

HIKMAH LARANGAN JUDI

Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan bahwa judi merupakan dosa, sebagaimana tersebut dalam surat al-Baqarah ayat ke-219 di atas.

Demikian juga Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan berbagai keburukan minum khamr dan berjudi, supaya orang yang menggunakan akalnya segera menjauhinya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allâh dan shalat; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). [Al-Maidah/5: 91]

Di dalam ayat di atas Allâh Azza wa Jalla menyebutkan berbagai keburukan lantaran (meminum) khamar dan berjudi. Seharusnya itu sudah cukup sebagai peringatan bagi orang-orang yang berakal agar meninggalkannya.

Dosa judi itu tidak hanya di dapatkan oleh orang yang melakukannya, bahkan sekedar ucapan mengajak berjudi sudah terkena dosa dan diperintahkan untuk membayar kaffarah (penebus dosa) dengan bershadaqah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: وَاللَّاتِ وَالعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ “

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa bersumpah dengan mengatakan ‘Demi Latta dan ‘Uzza, hendaklah dia berkata, ‘Lâ ilâha illa Allâh’. Dan barangsiapa berkata kepada kawannya, ‘Mari aku ajak kamu berjudi’, hendaklah dia bershadaqah!”. [HR. Al-Bukhâri, no. 4860; Muslim, no. 1647]

Lihatlah sekedar berkata saja diperintahkan untuk membayar kaffârah, maka bagaimana dengan melakukannya? Tentu lebih besar dosanya.

Para Ulama juga menjelaskan berbagai keburukan berjudi, antara lain sebagai berikut:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Sesungguhnya kerusakan maisir (judi) lebih besar daripada kerusakan riba. Karena kerusakan maisir mencakup dua kerusakan: kerusakan (karena) memakan harta dengan cara haram dan kerusakan (karena) permainan yang haram. Karena perjudian itu menghalangi seseorang dari mengingat Allâh dan dari shalat, serta menimbulkan permusuhan dan kebencian. Oleh karena itu maisir (judi) diharamkan sebelum pengharaman riba”. [Majmû’ al-Fatâwâ, 32/337]

Semoga Allâh selalu menjaga kita dari segala keburukan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]