IMG 20210111 WA0044

Kunjungan Kapolres Blora Ke Sekretariat Komascipol

Aksi Nyata Headline Jawa Tengah Muhasabah

IMG 20210111 WA0043mascipoldotcom – Senin, 11 Januari 2021 (27 Jumadil Awal 1442 H)

Cepu – Sinergitas Polri dengan Ulama dan tokoh masyarakat sangatlah penting dalam menjaga kamtibmas agar tetap kondusif, khususnya diwilayah hukum Polres Blora.

Sebagai pejabat baru Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama, SIK beserta segenap pejabat jajaran Polres Blora melakukan kunjungan ke Sekretariat Komascipol, yang beralamat di Jl. Diponegoro V No. 14 Sitimulyo, Cepu Kabupaten Blora, dan disambut serta ditemui langsung oleh Kornas Komascipol–Kombat TNI Polri dan Abdi Negara Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary.

Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama, SIK yang sebelumnya menjabat sebagai Kabag Ops Polres Metro Jakarta Pusat, Polda Metro Jaya, menyampaikan bahwa tujuan dari kunjungan tersebut untuk menjalin hubungan yang erat antara tokoh masyarakat, ulama dan umaroh.

Kegiatan ini melanjutkan program kerja sama yang telah dirintis oleh Pejabat lama AKBP Ferry Irawan, S.Ik dalam upaya menciptakan kondisi kamtibmas yang kondusif diwilayah hukum Polres Blora.

”Keamanan dapat terwujud bukan hanya peran Polri semata namun perlu dukungan para Ulama dan tokoh masyarakat, dimana perannya juga sangat penting untuk menyampaikan himbauan kamtibmas kepada ummat melalui pengajian dan ceramah keagamaan serta kegiatan-kegiatan bakti sosial lainnya” terang Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama, SIK, yang disampaikan oleh Koordinator Nasional Komascipol–Kombat TNI Polri dan Abdi Negara, Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary. Senin,11 Januari 2021, pukul 12.30 WIB.

Masih menurut Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary, di kesempatan ini pula, Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama, SIK, juga menyampaikan maksud kedatangannya ke Sekretariat Komascipol–Kombat TNI Polri dan Abdi Negara, disamping untuk memperkenalkan diri juga meminta agar Komascipol–Kombat TNI Polri dan Abdi Negara, membantu sebagai mana yang telah dilaksanakan bersama pejabat lama AKBP Ferry Irawan, S.Ik.

Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary, menyampaikan dan memperkenalkan sekilas Komascipol–Kombat TNI Polri dan Abdi Negara kepada Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama, SIK,

“Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara yang sudah berdiri sejak tanggal 20 Juli 2013, telah banyak mlakukan kegiatan bersama-sama dengan elemen masyarakat dan relawan serta yayasan as sunnah lainnya telah sangat sering melakukan bhakti sosial dimanapun pengurus Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara berada, dari mulai membantu penanganan avakuasi korban banjir, korban banjir bandang, pembagian selimut, pembagian baju layak pakai, pembagian sembako, pembagian air mineral, pembagian masker korban bencana kebakaran hutan, pembagian nasibungkus, pembuatan sumur korban kekeringan dan pipanisasi air bersih, sunatan masal, pembagian mushab Al Qur’an, pembagian buku do’a dan zikir pagi petang serta bhaksos lainnya seperti pembuatan dapur umum, diberbagai daerah terdampak gempa bumi”, papar Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary.

Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary, melanjutkan penjelansannya kepada Kapolres Blora AKBP Wiraga Dimas Tama, SIK, “Selama adanya bencana Covid-19, Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara sudah melukan pembersihan dan penyemprotan cairan disinfektan di berbagai tempat seperti Kantor Polres, Kantor Kodim, Kantor Koramil, Kantor Polsek, Kantor Camat, dan khusus Rumah Sakit serta Puskesmas telah distribusikan APD, hazmat, Faceshield, kacamata safety, sarung tangan rubberex, sepatu boot, masker, thermometer gun, dan kebutuhan lainnya dalam membantu penanganan pasien korban wabah Covid-19, termasuk bantuan ambulan, Kantor Kelurahan serta Masjid-Masjid, Mushollah, pasar, kampus, sekolahan dan tempat-tempat keramaian lainnya, dimanapun pengurus Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara berada”. lanjut Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary.

“Komunitas Masyarakat Cinta Polri-Komunitas Sahabat TNI Polri dan Abdi Negara merupakan Komunitas perkumpulan para relawan yang bergerak membatu aparatur negara salah satunya pada bidang bantuan para korban bencana Alam yang dipimpin Bapak Bagus Sujoko sebagai ketua umum dan Bapak Ibnu Ustadi sebagai ketua
harian yang terjun langsung sebagai kordinator lapangan dibawah kendali Koordinator Nasional”

“Dan para pengurus Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara terdiri dari berbagai profesi dari praktisi hukum sampai dengan para disiplin ilmu yang profesional pada bidangnya masing masing termasuk dokter, ustadz, mahasiswa, pengusaha dan para profesional lainnya”. sambung Ustadz Abu Mundzir Al Ghifary.

“Untuk di Kecamatan Cepu dan jajarannya arahan pejabat lama AKBP Ferry Irawan, S.Ik, telah dilaksanakan dengan baik oleh Kapolsek Cepu AKP Agus Budiana, SH, sejak menjabat menjadi Kapolsek Cepu, Senin (13/04/2020) dimana markas Komascipol–Kombat TNI Polri dan Abdi Negara, berada diwilayah hukum Polsek Cepu, Kapolsek Cepu AKP Agus Budiana, SH telah membantu mensukseskan baik langsung maupun mengirimkan Kanit Binmas dan anggota Binmas untuk mengawal, mendamping dan mendukung penuh kegiatan Komascipol–Kombat TNI Polri dan Abdi Negara DPD Blora dari mulai pelaksanaan bakti sosial penyemprotan desinfektan, pembagian hand sanitizer, pembagian masker sampai pembagian paket sembako dan bingkisan lebaran atau parcell kepada masyarakat kurang mampu terdampak adanya bencana wabah Covid-19”.

“Saat diskusi menyinggung antisipasi gerakan teror dan gangguan kamtibmas, sambung Ustadz Abu Munzier Al Ghifari, telah memaparkan perlunya melakukan tindakan pencegahan secara bersama sama dengan elemen masyarakat terhadap faham faham yang mengarah kepada anarkhisme, radikalisme dan terorisme serta gangguan kamtibmas lainnya”. tutup Kornas Ustadz Abu Munzier Al Ghifari hafizdohullohu ta’ala.

———

Renungan

KEBERKAHAN TAAT KEPADA PEMIMPIN

Oleh Ustadz Anas Burhanuddin MA

Ajaran Islam dalam semua aspeknya memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Hikmah dan tujuan ini diistilahkan oleh para ulama dengan Maqâshid Syari’ah, yaitu berbagai maslahat yang bisa diraih seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat.

Tidaklah ada satu ajaran dalam syariat Islam, melainkan dalam ajaran tersebut ada maslahat dan kebaikan untuk umat Islam, bahkan umat manusia. Menjalankan ajaran-ajaran ini akan membawa limpahan berkah dari penjuru langit dan bumi, sebagaimana janji Allâh  Azza wa Jalla dalam firmanNya,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sebagai akibat perbuatan mereka.” [Al-A’raf/7:96]

Begitu juga dengan syariat taat kepada pemimpin Muslim , yang zhalim sekalipun. Apalagi perkara ini merupakan salah satu pokok ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah dan disepakati oleh para ulama. Jika umat Islam mau mengamalkan wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, niscaya mereka akan terlimpah kebaikan dan berkah.

Di antara berkah ketaatan kepada pemimpin adalah sebagai berikut:

1. Pahala Besar Di Akhirat

Karena Allâh  Azza wa Jalla mewajibkan ketaatan kepada pemimpin, perkara ini menjadi ibadah utama. Menjalankan kewajiban adalah ibadah yang paling Allâh  Azza wa Jalla cintai. Saat rakyat diuji dengan pemimpin yang zhalim dan mereka bisa sabar, mereka akan mendulang pahala besar, karena telah menjalankan kewajiban. Demikian pula ketika seorang Muslim berhenti di depan lampu merah sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah. Juga jika ia meyakini bahwa di akhir zaman akan muncul pemimpin-pemimpin zhalim yang wajib dia taati, karena itu adalah kabar yang disampaikan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sekedar mengimani berita tersebut sudah mendulang pahala di sisi Allâh  Azza wa Jalla .

2. Keamanan Dan Stabilitas

Keamanan adalah salah satu nikmat terbesar yang harus dijaga bersama. Di antara kiatnya adalah iman dan taqwa dalam semua ajaran Islam, termasuk taat kepada pemimpin.

Agar aman dan stabil, sebuah negara memerlukan pemimpin yang kuat dan disegani. Dan di antara perusak keamanan yang harus diwaspadai adalah kudeta dan pemberontakan kepada pemimpin Muslim yang sah. Konflik Revolusi Arab yang terjadi dari akhir tahun 2010 dan masih berlangsung hingga hari ini adalah contoh paling mutakhir untuk tercabutnya keamanan karena tidak menepati aturan Islam dalam bab ketaatan kepada pemimpin yang zhalim. Kita bisa melihat bagaimana negara-negara yang dahulu aman sentosa menjadi luluh lantak. Ratusan ribu korban jiwa jatuh. Di Libya saja, lebih dari 50.000 nyawa melayang. Hingga Februari 2016, jumlah korban jiwa di konflik Suriah sudah mencapai 470.000.[1]

Korban luka, kerugian materi dan non materi juga sangat banyak bahkan tidak bisa dihitung lagi. Saat Libya masih bergolak, kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum diperkirakan mencapai lebih dari 240 milyar dollar.[2] Masih ada beberapa negara yang membara hingga hari ini. Sedangkan negara-negara yang konfliknya sudah reda belum lagi bisa mengembalikan permata keamanan dan stabilitas yang dahulu pernah dimiliki. Padahal banyak dari pemimpin negara-negara ini masih Muslim -meski zhalim-. Dan jika ada yang sudah dihukumi kafir oleh para ulama, umat Islam yang dipimpinnya tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menggulingkannya tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Di antara sisi indah Islam adalah Islam tidak hanya memerintahkan untuk taat kepada pemimpin yang adil, tapi juga kepada pemimpin yang zhalim. Kalau seandainya Islam hanya mewajibkan taat kepada pemimpin yang adil saja, niscaya lembaran sejarah umat Islam akan kelam dan berlumuran darah, karena pemimpin-pemimpin yang zhalim ternyata sudah mulai muncul di era generasi awal umat Islam.

3. Terwujudnya Maslahat Besar Rakyat Dan Terhindarnya Kerusakan Yang Lebih Besar

Kewajiban taat kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim bukanlah karena Islam pro kezhaliman. Tapi justru karena Islam melihat ke depan dan mementingkan rakyat, karena jika wibawa penguasa jatuh, stabilitas menjadi tercabik. Jika sudah begitu, rakyat kecil-lah yang akan menjadi korban pertama dan terbesarnya. Apalagi jika sampai terjadi kudeta berdarah.

Dalam Islam, sebagian mafsadah (kerusakan) bisa saja dibiarkan untuk menghindarkan mafsadah yang lebih besar. Dalam permasalahan ini, adanya pemimpin yang zhalim adalah mafsadah. Tapi memberontak mereka akan menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar. Maka Islam tetap mewajibkan umatnya untuk taat kepada pemimpin zhalim tersebut. Toh, jika mereka selamat dari perhitungan dunia, mereka tidak akan selamat dari perhitungan akhirat.

Allâh  Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allâh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allâh memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. [Ibrahim/14 :42]

Di sisi lain, Islam juga mengajarkan rakyat untuk menasehati mereka dan tidak mentaati mereka dalam perintah yang sifatnya maksiat.

Dalam Revolusi Arab, korban yang luar biasa besar sudah jatuh. Kerugiannya tidak bisa dihitung lagi. Keamanan berganti menjadi rasa takut dan kekacauan. Sementara kebaikan yang diharapkan belum terwujud. Korupsi tetap jalan, yang berubah hanya pelakunya. Sementara kezhaliman masih merajalela dan ekonomi justru semakin terpuruk. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وَلَعَلَّهُ لا يَكَادُ يُعْرَفُ طَائِفَةٌ خَرَجَتْ عَلَى ذِي سُلْطَانٍ، إِلَّا وَكَانَ فِي خُرُوجِهَا مِنَ الْفَسَادِ مَا هُوَ  أَعْظَمُ مِنَ الْفَسَادِ الَّذِي أَزَالَتْهُ.

“Barangkali hampir tidak diketahui ada sekelompok orang yang melakukan kudeta terhadap pemimpin, melainkan dalam kudeta tersebut terdapat kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang dihilangkan.”[3]

Keberhasilan kudeta membuat rakyat tidak lagi hormat kepada penguasa. Jika sudah demikian, tinggal kekacauan yang ditunggu.

4. Masuk Dalam Barisan Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Menjadi bagian dari Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah impian sekaligus kewajiban bagi setiap Muslim, karena merekalah kelompok yang selamat (al-Firqah an-Najiyah). Untuk mencapainya, setiap Muslim wajib meniti jalan dan mengikuti ajaran mereka.

Dan di antara pokok ajaran ahlussunnah adalah taat dan patuh kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim, sebagaimana ditegaskan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits shahih yang banyak. Tidak diragukan lagi bahwa itu adalah wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga para ulama dari masa ke masa bersepakat (ijma’) dan tidak berselisih mengenai hal ini.

Menepati pokok ajaran ini dan pokok ajaran yang lain akan membuat seseorang digolongkan sebagai sunni. Sebaliknya menyelisihi pokok ini akan membuatnya digolongkan kepada ahlul bid’ah, karena penyelisihan tersebut adalah penyelisihan dalam perkara pokok (Ushul Ahlissunnah). Fatal! Para ulama tidak segan mengeluarkan pemilik penyimpangan seperti ini dari lingkaran ahlussunnah.

Al-Hasan bin Shalih bin Hay (w. 169 H) adalah seorang ulama dan ahli ibadah pada zamannya. Ada banyak riwayat tentang keshalihan dan kedalaman ilmunya. Namun para ulama menggolongkannya sebagai ahlul bid’ah karena berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa yang zhalim, meski tidak pernah ikut kudeta.

Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Beliau termasuk imam dalam Islam andai saja tidak jatuh dalam satu bid’ah.” [4] Hal ini selaras dengan sikap keras para imam yang sezaman dengan al-Hasan. Mereka menolak pengakuannya sebagai sunni dan menolak hadits-hadits yang diriwayatkannya.

Ya, kedudukan tingginya dalam ilmu dan keshalihan tidak lagi menyelamatkannya dalam hal ini. Hanya karena satu penyimpangan, namun dalam pokok ajaran ahlussunnah.

Penutup

Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa tetap menjaga ketaatan kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim adalah ajaran Islam bahkan merupakan prinsip ajaran ahlussunnah. Dengan demikian, tentu ajaran ini mengandung maslahat besar dan akan memberikan keberkahan bagi umat Islam yang meyakini dan mengamalkannya.

Namun ironisnya, banyak umat Islam yang karena dorongan semangat semata atau tidak memahami hukum Islam seputar bab ini atau mengetahuinya tapi tidak mengamalkannya, sehingga banyak dari negeri mereka yang dilanda konflik berkepanjangan dan jauh dari berkah. Hal itu tidak aneh, karena memang demikianlah janji Allâh  Azza wa Jalla bagi umat yang menyelisihi mendustakan ajaran agama mereka.

Semoga Allâh  Azza wa Jalla membimbing umat Islam untuk kembali mempelajari agama mereka dan mengamalkannya dalam semua aspek kehidupan. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] Versi al-Markaz as-Suri lil Buhuts as-Siyasiyyah.
[2] Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/ الثورات العربية
[3] Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 3/391.
[4] Siyar A’lam an-Nubala` 7/361.