Malinau Gelar Serbuan Vaksinasi Nasional Dosis ke 2 Bagi Masyarakat 1

Kodim 0910/Malinau Gelar Serbuan Vaksinasi Nasional Dosis ke-2 Bagi Masyarakat.

Headline Kalimantan Utara Kombat TNI Polri & Abdi Negara Muhasabah

Kodim 0910/Malinau Gelar Serbuan Vaksinasi Nasional Dosis ke-2 Bagi Masyarakat.

Malinau – Dalam rangka mendukung program vaksin nasional Covid -19, Kodim 0910/Malinau menggelar Serbuan Vaksinasi Nasional (SVN) dosis ke-2 bagi masyarakat yang berlangsung di Aula Makodim 0910/Malinau Jalan Pusat Pemerintahan, Desa Malinau Hulu, Kecamatan Malinau Kota, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Kamis (12/08/2021).

Komandan Kodim 0910/Malinau Letkol Inf Sofwan Nizar S.Sos., M.Han saat di konfirmasi awak media mengatakan, bahwa hari ini kita sudah masuk vaksin tahap ke-2, Jadi vaksin tahap pertama sudah kita lakukan, sekarang kita mengejar vaksin tahap ke-2, baik itu anggota Militer Kodim 0910/Malinau, Batalyon 614 termasuk Satgas Pamtas, keluarga Militer dan juga masyarakat.

“Jadi kita sekarang fokus melaksanakan vaksin tahap ke-2, dimana yang menerima adalah masyarakat yang melaksanakan vaksin pertama di Kodim 0910/Malinau,” terangnya.

” Untuk jenis vaksin yang kita gunakan adalah vaksin jenis Sinovac untuk masyarakat dan ada juga jenis vaksin Astra Zeneca untuk anggota Militer maupun Keluarga,” sambunganya.

” Sampai dengan hari ini kita sudah melaksanakan vaksin gelombang ke-3 untuk Dosis ke-2, mudah-mudahan kita bisa mengejar vaksin seperti tahap pertama yang mana sekitar 2000 orang sudah melaksanakan vaksin tahap pertama, akan tetapi semua tergantung dari dukungan vaksin dari Kemenkes yang di salurkan melalui dinas kesehatan Kabupaten Malinau,” harapnya.

Orang nomor satu di Kodim tersebut juga menghimbau kepada masyarakat agar tetap melaksanakan Protokol Kesehatan, disiplin dari diri masing-masing, keluarga dan lingkungan.

“Meskipun kita sudah melaksanakan vaksin tahap ke-2, Dandim berharap jangan ada anggapan bahwa dapat terbebas dari Covid-19, vaksin ini fungsinya adalah untuk meminimalisir resiko gejala apabila kita terkena Covid-19,” ucapnya. (Ezl). Sumber : Pendim 0910, (Murdianto)

———–

Renungan

MEMBACA DAN MENDALAMI AL-QUR-AN SERTA PENGARUHNYA DALAM MENGHIDUPKAN MANHAJ[1] YANG LURUS DI DALAM DIRI KAUM MUSLIMIN

Setiap kali hilal bulan Ramadhan melintas, maka akan muncul kerinduan umat Islam kepada hari-harinya yang penuh dengan hembusan angin keberkahan, yang merupakan petunjuk dalam pancarannya. Dan itulah kekuatan dari kejernihan pokok dan dasarnya, al-Qur-an al-Karim, yang telah menghamparkan petunjuk, penerang bagi umat ini di sepanjang zaman, dan telah membuatkan dasar-dasar manhaj abadi bagi kehidupan manusia yang baru. Manhaj yang seimbang dan sejalan. Manhaj yang memberi kemudahan pada batas-batas kemampuan. Manhaj yang me-nyerukan kepada kemanusiaan yang bermartabat tinggi. Manhaj yang memiliki nilai yang mulia, yang di dalamnya berbagai perbedaan inderawi dan geografis melebur untuk bertemu dalam satu ‘aqidah serta satu sistem yang ideal.

Satu manhaj yang menyamakan antara seluruh manusia serta menjadikan keutamaan di antara mereka dalam ketakwaan:

نَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian…” [al-Hujuraat/49: 13]

Manhaj yang mendorong mereka untuk menghidupkan bulan puasa dalam kesatuan keislaman yang hakiki, yang mengatasi berbagai rintangan dan penyimpangan serta melintasi semua batasan dan kebangsaan. Serta menyatukan mereka dalam kesatuan tujuan, menggiring umat menuju kepada realisasi tujuan yang selalu diharapkan keberadaannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [Adz-Dzaariyaat/51: 56]

Dengan pandangan sekilas kepada para Salafush Shalih[2], kita akan mendapati salah satu dari mereka, dengan membawa beberapa surat al-Qur-an sanggup memperbaiki apa yang telah dirusak oleh bangsa Persia dan Romawi. Dan sanggup membuka hati (penduduk negeri) sebelum membebaskan negerinya.

Benar, inilah kewajiban orang-orang mukmin yang membaca al-Qur-an dengan sebenar-benarnya sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Demi Allah, seandainya hati kaum muslimin itu telah bersih dari segala macam penyakit serta menjernihkan hal-hal yang membuatnya keruh, niscaya mereka akan mengetahui nilai dan kewajiban mereka terhadap al-Qur-an, satu-satunya penyelamat sekaligus satu-satunya pelindung dari segala macam pemikiran yang merusak yang akan menghantam kejahatannya di zaman sekarang ini. Dan akal dari kebanyakan manusia yang menyimpang karena kekosongannya dari wahyu Allah Ta’ala yang membentengi dan melindunginya dari mereka, maka Dia wahyukan di dalam-nya petunjuk yang mencukupi, memadai, menyelamatkan, sekaligus melindungi dari segala macam godaan syaitan manusia yang merusak akal dan gangguan jin yang menyerang fitrah.

Di dalamnya juga terkandung penjelasan yang sangat jelas mengenai petunjuk dan pembeda, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memperjelas hikmah dalam pengkhususan bulan Ramadhan dengan syari’at puasa me-lalui firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)…” [al-Baqarah/2: 185]

Bacaan dan kajian terhadap al-Qur-an memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jiwa untuk melakukan perbaikan dan penyucian, yang berkonsekuensi pada penerimaan seorang hamba dan pendekatannya kepada Rabb-nya Azza wa Jalla. Oleh karena itu, orang-orang shalih sepanjang perjalanan zaman selalu memperbanyak bacaan al-Qur-an pada bulan Ramadhan dan menyambutnya dengan sepenuh hati.[3]

Al-Qur-an adalah kitab umat Islam yang abadi, yang menyelamatkan mereka dari kegelapan menuju sinar yang terang ben-derang. Lalu menumbuhkan keadaan ini serta menggantikan rasa takut mereka dengan rasa aman. Dia memberikan tempat bagi mereka di muka bumi ini, serta dia memberikan sendi-sendinya yang dengan itu mereka menjadi umat yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan. Di mana tanpa sendi-sendi tersebut, umat Islam tidak akan menjadi umat yang baik dan tidak akan menda-patkan tempat di muka bumi ini serta tidak juga disebut di langit. Maka wujud dari rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat al-Qur-an ini adalah minimal dengan memenuhi seruan Allah untuk berpuasa pada bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur-an.

Baca Juga Musafir, Manakah Yang Lebih Utama, Berpuasa Atau Tidak Berpuasa Ketika Dalam Perjalanan?
[Disalin dari buku “Meraih Puasa Sempurna”, Diterjemahkan dari kitab “Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab”, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir].
_______
Footnote
[1] Manhaj berarti jalan yang jelas dan mudah sebagaimana yang terdapat dalam Tafsiir Ibni Katsir tentang perkataan Sahabat Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan ayat (لِكُّلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا…) “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (al-Maa-idah: 48). Lihat Tafsiir Ibni Katsir (II/75-76), cet. Maktabah Darus Salam, th. 1413 H.-red.
[2] Para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in.-red.
[3] Ash-Shaum (hal. 73), karya ad-Dausari.