Anggota Polsek Cibarusah yg ngusir wartawan mascipol 2

Kapolsek Cibarusah Pimpin Pers Rilis Tindak Pidana Pencurian Berat Di Rumah Kosong

DKI Jakarta Headline Jawa Barat Muhasabah

Anggota Polsek Cibarusah yg ngusir wartawan mascipol 4mascipoldotcom, Jumat, 24 Juli 2020 (03 Dzulhijah 1441 H)

Cibarusah – Polsek Cibarusah menggelar pers rilis terkait kasus pencurian rumah kosong di Perum Griya Mutiara Asri Blok CB 2 No. 20 Rt.005/014 Desa Sindang Mulya Kecamatan Cibarusah Kabupaten Bekasi, dipimpin langsung oleh Kapolsek Cibarusah AKP Sukarman, SH, Jum’at, 24/7/2020, pukul 10.30 WIB.

Pelaku berinisial AB, (24) Pekerjaan Pencari barang-barang rongsok, alamat Kampung Sawah Kecamatan Jaya Karta Kabupaten Kerawang

Pelaku pencurian rumah kosong (Rumsong) yang sebelumnya sudah diamankan oleh keamanan dan warga setempat, dipimpin langsung oleh Kapolsek Cibarsah AKP Sukarman, SH, dengan didampingi Iptu Jamil Kanit bimas, Aipda Baum Anggota Unit Reskrim, Aipda Bowo.S Anggota unit Patroli dan Bripka Widi.P.

Anggota Polsek Cibarusah yg ngusir wartawan mascipol 3Awal penangkapan pelaku pencuri spesialis rumah kosong,berawal dari informasi masyarakat yang telah berhasil menangkap dan mengamankan barang bukti hasil curian serta mengamankan kendaraan yang disambung dengan gerobak yang dipakai oleh pelaku untuk mencari barang-barang rongsokan menuju ke TKP.

“Kamis 23/7/2020 pukul 13.00 WIB, kami mendapat informasi dari masyarakat bahwa telah di tangkap pelaku pencurian berat rumah kosong, di Perum Griya Mutiara Asri Desa Sindang Mulya, kami pimpin langsung bersama piket fungsi mendatangi TKP, selanjutnya dari TKP kami mengamankan tersangka inisial AB berikut barang bukti”, beber Kapolsek Cibarusah AKP Sukarman, SH, kepada mascipol.com pukul 18.30 WIB

Anggota Polsek Cibarusah yg ngusir wartawan mascipol 1“Pelaku sebagai tukang rongsok lanjut Kapolsek Cibarusah AKP Sukarman, SH, datang ke TKP, dengan mengendarai sepeda motor yang digandeng dengan gerobak sebagai tempat barang rongsok, hasil pemeriksaan pelaku mengaku mencari rumah kosong yang terlihat di tinggal penghuninya”, sambung Kapolsek Cibarusah.

Masih menurut Kapolsek Cibarusah “Setelah pelaku mendapatkan rumah kosong kemudian melalui pintu belakang rumah korban dengan cara menarik dengan tenaga menggunakan tangan pelaku, setelah pintu terbuka pelaku masuk dan memasukan barang-barang milik korban kedalam karung yang sudah pelaku siapkan, selanjutnya barang-barang yang sudah masuk dalam karung pelaku bawa ke gerobak pelaku”, tutur Kapolsek Cibarusah.

Anggota Polsek Cibarusah yg ngusir wartawan mascipol 5“Saat pelaku akan mengambil barang-barang yang ke 3 (tiga) kalinya, keamanan setempat yang sudah kami didik dan kami bekali saat ikut rapat minggon pada Rabu (15/07/2020) di aula kantor Kecamatan Cibarusah dan juga sebelumnya mendapat penyuluhan dari anggota Bhabinkamtibmas Polsek Cibarusah bersama warga yang curiga akan gerak gerik pelaku langsung menangkap pelaku”. tandas Kapolsek Cibarusah.

Barang bukti yang berhasil diamankan dari pelaku diantaranya 1 set Blender merk Cosmos, 1 buah Kompor gas merk Quantum, 1 buah sprei merk Bonita, 1 buah Pompa air merk Shimitzu, 1 buah Ampli payer merk NAD, 3 buah pendingin amplifire, 1 buah baling-baling kipas, 3 buah unit DVD berbagai merk, 8 buah handphone bekas berbagai merk, 1 buah jaket levis warna biru, 1 buah switer warna merah, 1 unit tipe Compo, 1 kaleng ukur literan beras, 1 buah jemuran aluminium, 1 unit tv mobil, 1 buah gerobak motor dan 1 buah karung berwarna putih.

Anggota Polsek Cibarusah yg ngusir wartawan mascipol 6Selanjutnya barang-barang tersebut di masukan ke dalam karung berwarna putih oleh pelaku dengan cara di cicil sebanyak 2 kali bolak balik, kemudian barang-barang tersebut di masukkan ke dalam gerobak motor. Saat pelaku hendak kembali lagi ke dalam rumah tersebut, tiba-tiba beberapa orang warga memergoki pelaku di dalam rumah kosong dan akhirnya pelaku berhasil di tangkap, selanjutnya pelaku di bawa ke Polsek Cibarusah.

“Tarsa (35) sebagai korban mengalami kerugian materil sebesar Rp. 3.000.000 (tiga juta rupiah) dan saksi-saksi yang telah kami periksa sebagai saki diantaranya Baban Supriyadi (50) Pekerjaan TNI AL, Husni (40) Sukamto (42) Rahmat Wibowo, (29) semua domisili di alamat TKP dan pelaku kami kenakan pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun,” Kapolsek Cibarusah Cibarusah memungkas keterangannya. (Wati Ummu Arfi).

————

Renungan

Anggota Polsek Cibarusah yg ngusir wartawan mascipolSEMUA AKAN MEMASUKI NERAKA

Oleh Ustadz Ashim bin Musthafa, Lc

وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوا وَّنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا

Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut. [Maryam/19: 71-72]

PENJELASAN AYAT :

Ayat ini (ayat pertama) merupakan kabar berita dari Allah Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk ; baik orang-orang yang shaleh ataupun durhaka, Mukmin maupun orang kafir. Setiap orang akan mendatangi neraka. Ini sudah menjadi ketentuan Allah Azza wa Jalla dan janji-Nya kepada para hamba. Tidak ada keraguan tentang terjadinya peristiwa itu. Allah Azza wa Jalla pasti akan merealisasikannya. [1]

Yang perlu diketahui, Ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian kata al-wurûd [2] (mendatangi neraka) dalam ayat tersebut. Sebagian Ulama menyatakan, maksudnya neraka dihadirkan di hadapan segenap makhluk, sehingga semua orang akan merasa ketakutan.

Setelah itu, Allah Azza wa Jalla menyelamatkan kaum muttaqîn (orang-orang yang bertakwa). Atau menurut penafsiran yang lain, semua makhluk akan memasukinya. Meski kaum Mukminin memasukinya, akan tetapi neraka akan menjadi dingin dan keselamatan bagi mereka. Di samping itu, terdapat penafsiran lain yang memaknainya dengan mendekati neraka. Dan ada yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah panas badan yang dialami kaum Mukminin saat menderita sakit panas. [3]

Syaikh ‘Abdul Muhsin menyatakan bahwa penafsiran paling populer mengenai ayat di atas ada dua pendapat. Pertama, semua memasuki neraka, akan tetapi mereka (kaum Mukminin) tidak mengalami bahaya. Kedua, mereka semua melewati shirâth (jembatan) sesuai dengan kadar amal shalehnya.Jembatan ini terbentang di atas permukaan neraka Jahannam. Jadi, orang yang melewatinya dikatakan telah mendatangi neraka. Penafsiran ini dinukil Ibnu Katsîr rahimahullahdari Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu ‘anhu. [4]

Dari dua pendapat ini, Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullah (wafat tahun 792 H) memandang bahwa pendapat kedua itulah yang paling kuat dan râjih. Beliau berkata: “Ulama tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian al-wurûd dalam firman Allah Surat Maryam ayat 71, manakah pendapat yang benar? Pendapat yang paling jelas dan lebih kuat adalah melintasi shirâth.” [5]

Untuk menguatkan pendapat ini, Imam Ibnul Abil ‘Izzi rahimahullah berhujjah dengan ayat selanjutnya (QsMaryam/19:72) dan hadits riwayat Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahihnya no. 6354. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Umm Mubasysyir Radhiyallahu ‘anha, ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat berada di samping Hafshah Radhiyallahu ‘anha , “Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon (ikut serta dalam perjanjian Hudaibiyah, red) yang akan masuk neraka”.

Hafshah (bertanya-tanya dengan) berkata, “Mereka akan memasukinya wahai Rasulullah”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyanggahnya. Hafshah Radhiyallahu ‘anha berdalil dengan membaca ayat (yang artinya): “Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. (Mendengar ini) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian (mendudukkan masalah seraya) bersabda, “Sungguh Allah telah berfirman setelahnya: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut)”.

Usai mengetengahkan hadits di atas, Imam Ibnu Abil ‘Izzi rahimahullah mengatakan bahwa beliau (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan (dalam hadits) bahwa maksud alwurûd (mendatangi neraka) tidak mesti memasukinya.

Begitu juga selamatnya (seseorang) dari mara bahaya tidak mesti ia telah mengalaminya. Akan tetapi, dengan adanya kondisi (genting) yang terjadi itu sudah cukup (kemudian dia selamat dari ancaman itu). Barang siapa dikejar musuh yang hendak membunuhnya, namun musuh tidak sanggup menangkapnya, maka untuk orang yang tidak tertangkap ini bisa dikatakan: Allah telah menyelamatkannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا هُودًا

Dan ketika adzab Kami datang, Kami selamatkan Hûd…[Hûd /11:58],

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Saleh…[Hûd /11:66],

وَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا

Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib [Hûd /11:94]

Siksa Allah Azza wa Jalla tidak ditimpakan kepada mereka, akan tetapi menimpa orang selain mereka Jika tidak ada faktor-faktor keselamatan yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan bagi mereka secara khusus, niscaya siksa akan menimpa mereka juga. Demikian pula pengertian al-wurûd (mendatangi neraka), maksudnya orangorang akan melewati neraka dari atas shirâth. Kemudian Allah Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di neraka dalam keadaan berlutut” [6]

Senada dengan keterangan di atas, sebelumnya Imam Nawâwi rahimahullah (wafat tahun 676 H) pun menguatkan arti menyeberangi shirâth. Beliau rahimahullah berkata dalam menerangkan hadits Umm Mubasysyir Radhiyallahu ‘anha : “Yang benar, maksud al-wurûd (mendatanginya) dalam ayat adalah melewati shirâth. Shirâth adalah sebuah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam. Para penghuni neraka akan terjatuh di dalamnya. Sementara selain mereka akan selamat”. [7]

Dalam kitab al-Jawâbuss Shahîh (1/228), Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimaullah juga merâjihkan pengertian al-wurûd dengan menyeberangi shirâth [8]. Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafizhahullâh juga memilih pendapat ini dalam tafsirnya [9].

ORANG-ORANG BERTAKWA SELAMAT MELINTASI SHIRÂTH

Amal shaleh akan sangat berpengaruh dalam proses melewati shirâth ini. Semakin banyak amal shaleh seseorang di dunia, maka ia akan semakin cepat dalam menyeberanginya. Allah Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya sesuai dengan amal mereka.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan: “Orang-orang menyeberanginya sesuai dengan kadar amaliahnya (di dunia). Sebagian melewatinya secepat kedipan mata, atau secepat angin, secepat jalannya kuda terlatih maupun seperti kecepatan larinya hewan ternak. Sebagian (menyeberanginya) dengan berlarilari, berjalan dan merangkak. Sebagian yang lain tersambar dan terjerumus jatuh di dalam neraka. Masing-masing sesuai dengan ketakwaannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan membiarkan orang-orang zhalim (yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran dan maksiat) di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.” [10]

Semoga Allah k dengan rahmat dan kasih-Nya berkenan menyelamatkan kita sekalian dari neraka.

PELAJARAN DARI AYAT:

1. Mengandung penetapan kewajiban beriman keberadaan neraka.
2. Penetapan kewajiban mengimani shirâth.
3. Penetapan kepastian menyeberangi jembatan di atas neraka.
4. Ketetapan Allah Azza wa Jalla pasti terjadi.
5. Orang-orang bertakwa akan selamat dari siksa neraka.
6. Orang-orang fâjir (berbuat jahat) akan binasa karena kesyirikan dan maksiat mereka.

Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Silahkan lihat 532 Adhwâul Bayân 4/381, al-Aisar (1/738)
[2]. Mashdar (bentuk pembendaan) dari kata kerja warada yaridu yang merupakan asal kata dari wâridu (wâridûhâ) yang tertera dalam ayat
[3]. Silahkan lihat Adhwâul Bayân 4/372, Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 498
[4]. Jâmiur Rasâil Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd (1/260) dengan diringkas
[5]. Syarhul Aqîdatith Thahâwiyah hlm. 416, takhrîj Syaikh al-Albâni
[6]. Ibid
[7]. Syarhu Shahîh Muslim (16/275)
[8]. Nukilan dari Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah, Khâlid ‘Abdullah al-Mushlih, hlm. 145
[9]. Aisarut Tafâsîr (1/738)