IMG 20200728 WA0129

Kapolri Terima Anugerah Bintang Kartika Eka Paksi, Swa Bhuana Paksa Dan Jalasena

Headline DKI Jakarta Kombat TNI Polri & Abdi Negara Muhasabah

IMG 20200728 WA0130mascipoldotcom, Selasa, 28 Juli 2020 (07 Dzulhijah 1441 H)

Jakarta— Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjanjanto menganugerahi Kapolri, Jenderal Polisi Drs. Idham Azis, M.Si., tiga bintang utama yaitu Kartika Eka Paksi Utama, Jalasena Utama dan Swa Bhuana Utama. Upacara penganugerahan digelar di Ruang Hening, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (28/7).

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Raden Prabowo Argo Yuwono, S.I.K., M.Si., menyampaikan, pemberian bintang utama tersebut berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) No 58/TK/Tahun 2020, kemudian sesuai dengan usulan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, juga sesuai ketentuan pasal 28 ayat 12 huruf (b) UU No 20/2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

IMG 20200728 WA0131Penghargaan Bintang Utama tersebut merupakan bentuk penghargaan atas kerja sama dan kordinasi dua institusi TNI-Polri dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai lembaga yang menjaga keamanan serta ketertiban.

Untuk diketahui, Anugerah Bintang Kartika Eka Paksi Utama merupakan penghargaan yang diberikan TNI Angkatan Darat. Makna nama dari penghargaan ini adalah Kartika artinya bintang, Eka artinya satu, dan Paksi artinya burung. Secara harafiah, penghargaan tersebut memiliki makna burung gagah perkasa tanpa tanding menjunjung tinggi cita-cita. TNI Angkatan Darat yang kuat senantiasa menjunjung tinggi cita-cita, yaitu keluhuran nusa dan bangsa serta keprajuritan.

Sementara, Bintang Jalasena Utama dan Bintang Swa Bhuana Paksa Utama merupakan medali penghargaan yang dianugerahkan hanya kepada individu dengan kemampuan dan pencapaian khusus dan berkat kontribusi, upaya dan dedikasi yang luar biasa, serta pencapaian melampaui panggilan tugas.

“Penganugarahan tiga bintang utama itu dikarenakan Kapolri Jenderal Polisi  Idham Azis dianggap berjasa luar biasa untuk kemajuan dan pembangunan TNI Angkatan Darat, Laut dan Udara,” pungkas Kadiv Humas Polri. (Kombes Pol Edy Sumardi)

————–

Renugan

JUJUR MELAWAN DUSTA

Berani jujur hebat. Ungkapan singkat ini adalah apresiasiasi kepada siapa saja yang berlaku jujur sekaligus pengingat kepada mereka yang berlindung dibalik kebohongan yang direkayasa agar menjadi kebenaran.

Kehebatan orang jujur bukan hanya dihargai sekarang, tapi sejak ribuan tahuan yang silam, Nabi kita Muhammad n sudah memberi anjuran dan dorongan kepada umatnya untuk senantiasa berprilaku jujur dan mengharamkan prilaku bohong.

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Diwajibkan atas kalian untuk jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan. Dan keabikan itu akan membawa masuk surga. Senantiasa seseorang itu jujur dan benar-benar berusaha untuk salalu jujur, sehingga ia dicatatat di sisi Allâh sebagai orang yang paling jujur. Dan jauhilah oleh kalian sifat dusta, karena dusta akan membawa kepada perbuatan buruk. Dan perbuatan buruk itu akan membawa ke dalam neraka. Senantiasa seseorang itu suka berdusta, dan berusaha untuk selalu berdusta, sehingga ia dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang paling dusta.

Orang yang jujur, dia akan mendapatkan ketenangan hati, pengampunan dosa dan kenikmatan yang tiada tara di akhirat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ ، وَإِنَّ الكَذِبَ رِيبَةٌ

Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan sungguh kedustaan itu adalah keraguan

Kejujuran memiliki andil yang sangat besar dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang tentram. Dengannya, orang akan saling mempercayai, saling mendukung, tidak sebaliknya, saling mencurigai dan saling menjatuhkan. Sehingga hubungan antar individu masyarakat akan terjalin harmonis. Berbagai transaksi perniagaan ataupun sosial akan berjalan dengan baik dan tentu itu akan menjadi sarana peningkatan ekonomi masyarakat. Peningkatan taraf ekonomi yang disertai berkah dari Allâh Azza wa Jalla ini akan menjadikan kehidupan masyarakat semakin baik.

Kejujuran akan mendatangkan kebaikan terus-menerus, baik dalam kehidupan di dunia terlebih di akhirat, sebagaimana dikabarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits pertama di atas. Ini berbanding terbalik dengan desas-desus yang disebarkan oleh orang yang tidak jelas, yang menyatakan “jujur hancur.”

Dalam sepanjang sejarah umat manusia belum pernah Allâh Azza wa Jalla memberikan kehancuran kepada yang jujur. Kejujuran itu merupakan salah satu jalan yang dapat mengantarkan pelakunya ke dalam surga yang berisi berbagai kenikmatan yang tidak pernah terlihat mata, tidak pernah terdengar telinga dan tidak terbayang dalam hati. Lalu bagaimana bisa dikatakan: jujur hancur?!

Yang benar adalah kehancuran merupakan bagian tak terpisahkan dari orang-orang yang jauh dari kejujuran. Bagaimanapun pandainya seorang pendusta menutupi kebohongannya suatu saat pasti akan tercium. Perbuatan yang identik dengan kemunafikan ini akan mendatangkan keburukan bagi pelaku juga orang-orang sekitarnya. Terlebih jika yang melakukannya seorang tokoh masyarakat atau orang yang dianggap figur. Jika sebagian kebohongannya sudah tercium, maka untuk menutupinya dia harus melakukan kebohongan berikutnya dan begitu selanjutnya, akhirnya dia tercatat sebagai pembohong besar.

Alangkah ruginya orang yang tidak jujur, betapapun tinggi jabatannya dan dielukan oleh jutaan pengikutnya serta limpahan harta yang tidak terhitung. Di dunia, mungkin dengan sebab kelicikan dan berbagai faktor lainnya, kebohongannya bisa tertutupi, tapi di akhirat pasti dia akan merasakan akibatnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ ﴿٦﴾ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴿٧﴾ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. [Az-Zalzalah/99:6-8]

Semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]