BAKSOS KAPOLRES METRO BEKASI 2

Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Pimpin Baksos Dari Rumah Kerumah Hantarkan Paket Sembako Bagi Warga Kurang Mampu Terdampak Covid-19

Headline Muhasabah Video Streaming

BAKSOS KAPOLRES METRO BEKASI 2mascipoldotcom – Minggu, 17 Mei 2020 (Ahad, 24 Ramadhan 1441 H)

Bekasi – Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol Hendra Gunawan, S.Ik,. M.Si, dan didampingi Waka Polres Metro Bekasi AKBP Rickson P.M Situmorang, serta para Pejabat Utama Polres Metro Bekasi dan para Kapolsek, bukan hanya melakukan bakti sosial pembagian APD kerumah Sakit rujukan Covid-19 dan ke Puskesmas jajaran wilayah hukum Polres Metro Bekasi Kabupaten, akan tetapi Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol Hendra Gunawan, S.Ik,. M.Si, juga membagikan sembako dan masker serta parsel hari raya idhul fitri 1441 H yang dihantarkan langsung dari rumah kerumah bagi warga yang sangat membutuhkan ditengah pandemi Corona virus disease 2019 (Covid-19).

Sebelumnya, Kapolres Metro Bekasi Kombes Pol. Hendra Gunawan, S.Ik,. M.Si,. memimpin apel pelepasan bakti sosial serentak sebagai bentuk peduli Polri kepada masyarakat terdampak Covid 19 di wilayah hukum Polres Metro Bekasi Kabupaten.

BAKSOS KAPOLRES METRO BEKASI 1Pembagian sembako dan masker serta parsel hari raya idhul fitri 1441 H dibagikan langsung kepada masyarakat yang terdampak Covid 19 meliputi, yatim piatu, pedagang, tukang ojek pangkalan dan online, sopir angkot, DKM Masjid, masyarakat miskin dan panti rehabilitasi jiwa, secara berkesinambungan termasuk APD kepada para tenaga medis, RS rujukan Covid-19 dan Puskesmas di jajaran Wilayah Hukum Polres Metro Bekasi Kabupaten.

Menurut Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol Hendra Gunawan, S.Ik,. M.Si, pembagian sembako kepada warga dan APD kepada para tenaga medis akibat terdampak bencana Virus Corona atau Covid-19, merupakan wujud kepedulian anggota Polres Metro Bekasi Kabupaten guna meringankan beban masyarakat dan para tenaga medis di jajaran wilayah hukum Metro Bekasi.

“Dengan kegiatan ini, kita harapkan bisa membawa manfaat untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19, sekaligus memohon keridhoan Allah subhanhu Wa Ta’ala didalam kita menjalankan puasa di bulan ramadhan 1441 H”, tandas Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol Hendra Gunawan, S.Ik,. M.Si.

Pantauan dilapangan Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol Hendra Gunawan, S.Ik,. M.Si, tampak sangat antusias memasuki rumah-rumah sambil menyapa dan memberikan salam dengan lemah lembut kepada kaum duafa, tuna wisma yang berada di pinggir rel kereta api sambil memberikan bingkisan paket sembako serta infaq.

Dilanjutkan dan terus menelusuri jalan-jalan setapak serta gang-gang sempit, Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol Hendra Gunawan, S.Ik,. M.Si, menunjukan keprihatinan yang sangat tinggi serta menyapa kaum duafa dengan ramah, sehingga para kaum duafa pun tidak merasa enggan dan segan justru sebaliknya, kaum duafa merasa senang saat di kunjungi Kapolres Metro Bekasi Kabupaten, seraya berharap “Semoga bencana covid-19 segera berelalu dan kita dapat menjalankan aktifitas kita sebagai mana biasa”. Harap Kapolres Metro Bekasi Kabupaten, yang diaminkan oleh para kaum duafa yang diajak dialog oleh Kapolres Metro Bekasi Kabupaten Kombes Pol Hendra Gunawan, S.Ik,. M.Si, (Bagus Sujoko DPP Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara/Wati Ummu Arfi).

 

———

Renungan

KEDERMAWANAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril Alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhân untuk menyimak bacaan al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh:
1. Al-Bukhari (no. 1902, 3220, 3554, 4997)
2. Muslim (no. 2308)
3. An-Nasa’i (IV/125)

KOSAKATA HADITS

وَكَانَ أَجْوَدُ النَّاسِ : Manusia yang paling dermawan.

اَلْمُدَارَسَةُ : Seseorang membacakan al-Qur’ân kepada temannya, lalu temannya mengulang bacaannya.

الرِّيْحُ الْمُرْسَلَة : Angin yang berhembus yang banyak memberikan manfaat.

SYARH HADITS

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan dermawan merupakan sifat yang terpuji. Di bulan Ramadhan, kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah. Karena bulan tersebut merupakan musim kebaikan. Dan nikmat yang Allâh berikan kepada hamba-Nya di bulan tersebut lebih banyak dibandingkan bulan lainnya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti sunnah Allâh pada hamba-Nya dengan berderma melebihi bulan-bulan lainnya. Bahkan dijelaskan dalam hadits di atas, kecepatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbuat dermawan lebih cepat dari angin yang berhembus. Diserupakannya kedermawanan Nabi dengan angin yang berhembus ialah karena kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan manfaat yang menyeluruh seperti angin yang berhembus yang memberikan manfaat pada apa yang dilewatinya.[1]

Kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berlipat ganda di bulan Ramadhan secara khusus mengandung faidah yang banyak sebagaimana disebutkan oleh imam Ibnu Rajab rahimahullah, diantaranya[2]:

Kemuliaan waktu itu dan dilipat gandakan ganjaran amal di dalamnya.

Membantu orang-orang yang berpuasa, shalat, dan orang-orang yang berdzikir dalam melaksanakan ketaatan mereka. Sehingga dengan demikian, beliau akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran pelakunya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Zaid bin Khalid al-Juhani Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa yang memberi makan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapat ganjaran yang serupa dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikit pun ganjaran orang yang berpuasa itu.[3]

Di bulan Ramadhan, Allâh Azza wa Jalla memberikan pemberian (karunia) yang banyak kepada para hamba-Nya, baik itu berupa rahmat, ampunan, maupun pembebasan dari api neraka. Terlebih lagi pada saat lailatul qadar. Dan Allâh Azza wa Jalla menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka, siapa yang berderma kepada para hamba-Nya, Allâh pun akan berderma kepadanya dengan pemberian dan karunia, dan balasan tergantung dari jenis pebuatan hamba.

Memadukan antara puasa dan sedekah merupakan amalan yang dapat memasukkan seseorang ke surga, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ فِيْ الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا ، وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا ، أَعَدَّهَا الله لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ ، وَأَلاَنَ الْكَلاَمَ ، وَتَابَعَ الصِّيَامَ ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ

Sesungguhnya di surga ada kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalam, dan bagian dalamnya terlihat dari luarnya. Allâh siapkan kamar-kamar tersebut bagi orang-orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, selalu berpuasa, dan shalat di tengah malam saat manusia tidur.[4]

Mengumpulkan antara puasa dan sedekah lebih ampuh dalam menghapus dosa, melindungi serta menjauhkan diri dari neraka jahannam, terlebih lagi jika kedua perkara itu digabung dengan shalat malam. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Mu’adz Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

… الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ ، وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ …

“… Sedekah akan menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam …”[5]

maksudnya, bahwa shalatnya seseorang ditengah malam pun dapat menghapus kesalahan (dosa).

Dalam puasa seseorang pasti ada kekurangannya, dan penambal kekurangan puasa tersebut dengan sedekah (zakat) fitrah dan macam-macam sedekah lainnya.

Menghibur orang-orang miskin merupakan salah satu wujud seseorang mensyukuri nikmat Allâh. Seorang yang berpuasa, apabila ia merasakan kelaparan, maka ia tidak akan melupakan saudaranya yang fakir dan miskin.

Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata, “Aku menyukai apabila seseorang menambah kedermawanannya di bulan Ramadhan, sebagai bentuk peneladanan dia terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan juga karena kebutuhan manusia serta kesibukan sebagian mereka dengan puasa dan shalat sehingga mata pencaharian mereka terabaikan.

Sifat dermawan dan pemurah itu tidak terbatas pada pemberian harta, akan tetapi bisa bermacam-macam. Diantaranya: memberikan harta, memberikan ilmu, memanfaatkan kedudukannya untuk membantu orang dan memenuhi kebutuhan mereka dan lain sebagainya. Al-Hâfizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berderma dengan berbagai macam bentuk kedermawanan, seperti: memberikan ilmu, harta, mengorbankan jiwanya untuk Allâh Azza wa Jalla dalam mendakwahkan agama dan menunjuki hamba-hamba-Nya, serta memberikan manfaat kepada manusia dengan berbagai cara, seperti: memberikan makan orang yang kelaparan, menasihati orang yang bodoh, menunaikan hajat manusia, dan menanggung beban mereka.”[6]

Sifat dermawan dan pemurah termasuk diantara kemuliaan akhlak yang dimiliki oleh orang-orang arab. Ketika Islam datang, maka kedua sifat tersebut lebih ditekankan lagi. ‘Urwah bin az-Zubair Radhiyallahu anhu berkata, “Ketika Islam datang, masyarakat arab memiliki enam puluh lebih akhlak yang mulia. Dan semuanya sangat ditekankan di dalam Islam. Diantaranya, menjamu tamu, menepati janji, dan bertetangga yang baik.”[7]

FAWÂ-ID
1. Sedekah sebagai bukti iman dan penghapus dosa.
2. Dianjurkan banyak sedekah, terutama di bulan Ramadhan.
3. Anjuran untuk bersifat dermawan dan larangan dari sifat bakhil (pelit).
4. Anjuran untuk menambah sifat dermawan tersebut pada bulan Ramadhan dan ketika berkumpul dengan orang-orang shalih.
5. Anjuran menziarahi (berkunjung) orang-orang shalih dan baik.
6. Disunnahkan membaca al-Qur’an dengan tadabbur dan mengkhatamkannya pada bulan Ramadhan melebihi dzikir-dzikir yang lain.
7. Adanya isyarat bahwa permulaan turunnya al-Qur’an adalah di bulan Ramadhan.[8]
8. Sepatutnya bagi penuntut ilmu dan ulama untuk mempelajari al-Qur’an sesama mereka, agar tidak lupa dan hilang dari ingatan mereka.

MARAJI’
1. Shahîh al-Bukhâri
2. Shahîh Muslim
3. Sunan an-Nasâ’i
4. Sunan at-Tirmidzi
5. Sunan al-Baihaqi
6. Fathul Bâri syarh Shahîhil Bukhâri
7. Lathâ’iful Ma’ârif
8. Nuzhatul Muttaqîn Syarh Riyâdhis Shâlihîn
9. Bahjatun Nâzhirîn syarh Riyâdhis Shâlihîn
10. Anwârul Bayân fii Ahkâmis Shiyâm

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196].
_______
Footnote
[1] Fathul Bâri (I/68-69 -cet. Daar Thaybah) dengan ringkas.
[2] Lathâ’iful Ma’ârif (hlm. 310-315).
[3] Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 807).
[4] Hasan: HR. al-Baihaqi (IV/301).
[5] Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 2616).
[6] Lathâ’iful Ma’ârif (hlm. 306).
[7] Al-Jûd was Sakhâ’ (hlm. 280, no. 59), dinukil dari Anwârul Bayân fii Ahkâmis Shiyâm (hlm. 93). Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله