Kapolres Majelengka Memberikan Penghargaan 1

Kapolres Majalengka Berikan Penghargaan Kepada 39 Personil Yang Berprestasi Karena Mengungkap Berbagai Kasus

Headline Jawa Barat Muhasabah
Kapolres Majelengka Memberikan Penghargaanmascipoldotcom, Rabu, 9 September 2020 (21 Muharam 1442 H)
Majalengka – Kapolres Majalengka, AKBP Dr.Bismo Teguh Prakoso memberikan penghargaan kepada 39 personil yang berprestasi, Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dari Kesatuan terhadap kinerja optimal yang telah ditunjukkan oleh para Personil.

Kapolres Majalengka AKBP Dr.Bismo Teguh Prakoso menyampaikan bahwa hari ini Polres Majalengka telah menggelar upacara khusus dalam rangka memberikan penghargaan terhadap personil yang berprestasi dalam melaksanakan tugas pengabdian kepada warga masyarakat.

Kapolres Majelengka Memberikan Penghargaan 2Adapun personil yang menerima penghargaan, yakni salah satunya IPTU Iwan Hendi Sutisna membantu warga mencari rumput Untuk Hewan Ternak, 35 Anggota mengungkap berbagai Kasus terdiri dari Kasus Curat, Curas dan Narkoba dan 3 Bhabinkamtibmas Polsek Sukahaji memberikan sarana prasarana berupa Tiang Bendera di Pos Ronda, Jam Dinding di Mesjid dan menyisihkan gajinya untuk Pembangunan Mesjid di Desa Binaannya.

Personil tersebut kami berikan penghargaan karena inovasi kreatifnya dan untuk terus berprestasi dalam penegakan hukum tetap mengabdi kepada masyarakat, bangsa dan negara, Pemberian penghargaan ini merupakan salah satu bukti perhatian kesatuan dan juga sebagai bentuk dukungan dan apresiasi atas kinerja personil.

Kapolres Majelengka Memberikan Penghargaan 1“Ini merupakan suatu wujud apresiasi terhadap dedikasi personil dalam mengemban tanggung jawab fungsi dan tugas, jangan hanya terfokus pada kegiatan rutin saja, terus berinovasi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” tegas Kapolres Majalengka.

“Ini juga menjadi pemicu bagi rekan – rekan yang lain untuk selalu memberikan yang terbaik bagi organisasi maupun masyarakat, bagi yang sudah mendapatkan penghargaan juga harus tetap rendah diri dan tetap jaga integritas dalam berdinas,” pungkasnya.

————

Renungan

Mengingat Kematian Dan Pendeknya Harapan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali ‘Imran/3: 185]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan di-usahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” [Lukman/31:34]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ﴿٩٩﴾لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan.” [Al-Mu’-minuun/23: 99-100]

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku dengan berkata:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ.

‘Hiduplah di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau pengembara.’”

Dan Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma pun berkata:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu waktu pagi dan jika engkau berada di waktu pagi, maka janganlah engkau menunggu waktu sore, manfaatkanlah kesehatanmu sebelum datang waktu sakit, dan hidupmu sebelum datang kematian.” [HR. Al-Bukhari]

6. Mengetahui nilai dunia dan kefanaannya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [Al-Kahfi/18: 45]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakanmu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.”[Faathir/35: 5]

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

اَللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ اْلآخِرَةِ.

“Ya Allah, tidak ada kehidupan (yang abadi) kecuali kehidupan akhirat.” [Muttafaq ‘alaihi].

Dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.

“Ada tiga hal yang mengikuti seorang mayit kekubur: keluarga, harta dan amalnya, yang dua kembali sedangkan yang satu tetap bersamanya, keluarga dan hartanya kembali sedangkan amal tetap bersamanya.” [Muttafaq ‘alaihi].

Dari beliau pula Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَـمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً، ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ! هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: لاَ وَاللهِ! يَا رَبِّ! وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ! هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ؟ لاَ وَاللهِ! يَا رَبِّ! مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

‘Seseorang yang mendapatkan nikmat dunia terbesar dari penghuni Neraka didatangkan pada hari Kiamat dan dicelupkan ke dalam Neraka satu celupan saja, lalu dia ditanya, ‘Wahai manusia! Apakah engkau pernah melihat kebaikan sedikit saja? Apakah pernah engkau merasakan kenikmatan sedikit saja?’ Dia menjawab, ‘Demi Allah, tidak wahai Rabb-ku.’ Dan didatangkanlah seseorang yang paling sengsara di dunia dari penghuni Surga dan dicelupkan ke dalam Surga, lalu dia ditanya, ‘Wahai manusia! Apakah engkau pernah melihat kesengsaraan? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sedikit saja?’ Dia berkata, ‘Demi Allah, tidak wahai Rabb-ku, aku sama sekali tidak pernah merasakan kesengsaraan dan tidak pernah melihat kesulitan sama sekali.’” [HR. Muslim]

Maka ketahuilah bahwa satu celupan saja di dalam Neraka akan melupakan semua nikmat yang Anda rasakan karena riya’ dan rasa cinta akan pujian orang lain atas diri Anda.

عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِالسُّوقِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَيْهِ فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ: أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَال:َ أَتُحِبُّونَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوا: وَاللهِ! لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيهِ ِلأَنَّهُ أَسَكُّ فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: فَوَاللهِ! لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ.

Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sebuah pasar sedangkan orang-orang ada di sekitarnya, lalu dia melalui seekor anak kambing yang telinganya kecil yang telah mati, lalu beliau mengambil dan memegang telinganya. Kemudian beliau berkata, ‘Siapakah di antara kalian yang berani membeli ini dengan satu dirham?’ Mereka semua menjawab, ‘Kami sama sekali tidak berani membelinya, dan apa yang dapat kita buat darinya?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Inginkah kalian jika semua ini diberikan kepada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, jika hidup saja merupakan aib, karena ia adalah anak kambing dengan telinga yang kecil, maka apalagi jika dia telah menjadi bangkai.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Allah, sungguh dunia lebih hina di hadapan Allah dari bangkai kambing ini bagi kalian.’1

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ.

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan Surga bagi orang kafir.”2

Jika Anda ingin berada di dalam penjara dunia dan berada di dalam Surga akhirat kelak, maka penjarakanlah jiwa Anda agar tidak melakukan riya’ dan tidak mencintai ketenaran dan pujian orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شُرْبَةَ مَاءٍ.

“Seandainya dunia sebanding dengan satu sayap lalat di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan mem-berikan seteguk air pun bagi seorang kafir.”3

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1 HR. Muslim.
2 HR. Muslim.
3 HR. At-Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih.”