Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Panca Putra meminta kepada jajarannya simpatik 2

Kapolda Sulut Minta Operasi Yusitisi Yang Simpatik: Jangan Buat Warga Takut

Headline Muhasabah Sulawesi Utara

Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Panca Putra meminta kepada jajarannya simpatik 4mascipoldotcom – Senin, 14 September 2020 (26 Muharam 1442 H)

Manado – Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. meminta kepada jajarannya untuk menjalankan Operasi Yustisi terkait Corona (Covid-19) dengan simpatik. Irjen Pol Panca mengingatkan agar Operasi Yustisi tidak membuat warga ketakutan, resah dan khawatir.

“Kita laksanakan Operasi Yustisi ini untuk mengingatkan masyarakat, jangan sampai membuat masyarakat merasa takut, resah dan khawatir, buatlah Operasi Yustisi yang simpatik,” ucap Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. saat pimpin apel bersama TNI, Satpol PP dan Dishub Sulut, Senin (14/9/2020).

Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. menjelaskan Operasi Yustisi dimulai sejak hari ini, Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. menyebut operasi ini dilakukan untuk menegakkan peraturan daerah yaitu peraturan gubernur (Pergub), peraturan bupati atau peraturan wali kota soal pencegahan penularan Corona-19.

Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Panca Putra meminta kepada jajarannya simpatik 3“Sanksi bagi pelanggar ada macam-macam, ada yang bersifat administrasi berupa denda sesuai peraturan daerah, ada yang sifatnya pendekatan sosial seperti teguran atau sanksi fisik kerja di tempat sosial,” lanjut Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si.

Kapolda menuturkan saat ini kondisi Sulut dalam status oranye Corona-19, Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. meminta seluruh lapisan, mulai dari masyarakat, pengak hukum hingga pemerintah bersama-sama menahan laju penularan Corona agar Sulut bebas zona merah Corona-19.

“Covid-19 ini menjadi persoalan nasional, meskipun di Sulut saat ini masih zona orange, kita berupaya bersama agar tidak masuk ke zona merah Covid-19,” tambah Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si.

Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Panca Putra meminta kepada jajarannya simpatikKapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. menyampaikan tiga hal wajib ditaati adalah memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak serta protokol kesehatan.

“Hari ini secara nasional, Satgas Pusat memerintahkan seluruh jajaran untuk melaksanakan penegakan hukum terkait peraturan daerah yang ada untuk mencegah Covid-19, yaitu wajib menaati 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak,” tegas Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si.

Kapolda Sulawesi Utara Irjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. menerangkan dalam Operasi Yustisi, Satpol PP merupakan garda terdepan dalam penegakan perda. TNI-Polri hanya membantu.

Apel gabungan ini dihadiri juga Danrem 131/Santiago, Brigjen TNI Meyer Putong, pejabat utama Polda Sulut, Kasatpol PP Sulut dan perwakilan Dinas Perhubungan Sulut. (M Muhairo)

———–

Renungan

Bahaya Khurûj (Melawan) Terhadap Pemerintah

Oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari

Gerakan khurûj (pemberontakan) dan inqilâb (melancarkan kudeta) terhadap suatu pemerintahan (yang sah) bukanlah sarana untuk memperbaiki masyarakat. Bahkan justru mimicu timbulnya kerusakan di tengah masyarakat.

Khurûj terhadap pemerintah muslim, bagaimana pun tingkat kezhalimannya, merupakan bentuk penyimpangan dari manhaj Ahlus-Sunnah (Wal Jama’ah). Ada dua macam bentuk khuruj, (1) khurûj dengan memanggul senjata (2) khurûj dengan perkataan dan lisan.

Mereka yang selalu memunculkan perpecahan, pertikaian, dan pergolakan terhadap pemerintahan muslim, pada hakikatnya telah melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan tersebut. Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk bersabar, sebagaimana sabda beliau:

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَان ( متفق عليه).

Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah.[1]

Renungkanlah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “kecuali engkau melihat suatu kekufuran”. Penuturan beliau tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi diiringi dengan keterangan “kekufuran yang sangat jelas”. Lantas beliau menambahkan keterangan lebih lanjut “yang dapat engkau buktikan tentang itu di sisi Allah”.

Di dalam hadits ini, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan lima buah penekanan untuk mencegah orang dari khurûj and takfîr (mengkafirkan pemerintah atau pun individu muslim) yang merupakan perbuatan sangat buruk dan berbahaya. Karena dapat mengakibatkan kerusakan dan kehancuran di tengah masyarakat.

Bahkan Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata di dalam kitabnya, I’lâmul-Muwaqqi’în: “Tidak ada satu pemberontakan pun terhadap pemerintahan muslim yang membawa kebaikan terhadap umat pada masa kapan pun”.

Begitu juga hujatan terhadap pemerintah, manakala sebagian orang menjadikan hujatan terhadap pemerintah sebagi materi ceramah dan “nasihat-nasihat” yang mereka sampaikan untuk memperoleh simpati manusia. Manusia pada dasarnya menyukai hujatan terhadap pemerintah, juga terhadap para penguasa dan pemimpin, serta kepada setiap orang yang mempunyai posisi lebih tinggi dari mereka. Seakan-akan hujatan dan celaan tersebut berfungsi hiburan yang dapat menyenangkan hati mereka.

Sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan ketika kita menyaksikan hujatan, makian, serta cercaan terhadap pemerintah, saat ini menjadi materi-materi ceramah dan “masukan” bagi sebagian da’i zaman sekarang, khususnya pada waktu terjadinya fitnah. Hingga materi yang mereka sampaikan akan membuat orang-orang berkomentar: “Masya Allah, Syaikh ini orang yang berani”, atau “Syaikh ini orang yang kuat”. Padahal fakta ini sesungguhnya tidak mendatangkan manfaat apa pun, melainkan hanya akan menghasut dan mengotori jiwa.

Sebagian orang justru mengira, tindakan tersebut merupakan bentuk upaya menasehati pemerintah. Padahal terdapat metode dan prosedur dalam menasihati pemerintah, seperti termaktub dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ كَانَ عِنْدَهُ نَصِيْحَةٌ لِذِيْ سَلْطَانٍ فَلْيَذْهَبْ إِلَيْهِ وَ لْيُِسرَّهَا لَهُ

Barang siapa di antara kalian yang ingin menasihati penguasa, maka hendaklah dia pergi kepadanya, dan merahasiakan nasihatnya itu

Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjelaskan bahwa nasihat kepada para penguasa atau pemerintah, hendaklah disampaikan secara rahasia. Karena bila ditempuh secara terang-terangan akan menimbulkan gejolak di dalam hati yang dapat merusaknya.

Kalau di antara kita – para penuntut ilmu – ada yang terjatuh ke dalam suatu kesalahan, kemudian salah seorang menasihatinya di depan umum, ia akan langsung berkata: “Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah. Janganlah kamu membuka ‘aibku di depan umum. Kalau engkau ingin menasihatiku, maka lakukanlah dengan empat mata “.

Kalau para penuntut ilmu, para da’i yang mengajak manusia kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam – yang mengetahui keutamaan ilmu, keutamaan al-haqq dan kembali kepadanya (setelah mengalami kekeliruan) – tidak menyukai metode seperti ini dalam memberikan suatu nasihat, maka bagaimana mungkin para penguasa yang memiliki kedudukan, kekuasaan, senjata, serta tentara yang banyak -bagaimana mungkin mereka- akan dapat menerima nasihat dengan cara yang tidak simpatik ini. Justru yang lebih utama, tidak menasihati mereka di depan umum; kalau pun hal ini tidak mendatangkan maslahat bagi pemerintah, paling tidak akan memberi maslahat bagi diri kita sendiri. Hal ini, tentunya apabila mereka (para penguasa) adalah orang-orang muslim.

Batasan yang paling rendah untuk menghukumi mereka sebagai seorang muslim, ialah apabila mereka tunduk dan mengakui kebenaran agama Islam. Meskipun mereka melakukan suatu penyelewengan, mempunyai kesalahan yang banyak, dan berbuat dosa-dosa besar dan. Ini semua tidak menjadikan mereka sebagai orang kafir, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَان ( متفق عليه ).

Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah.[2]

Kemudian Syaikh Muqbil rahimahullah berkata:

وَلَا نَرَى الْانْقِلَاباَتِ سَبَبًا لِلْإِصْلَاحِ بَلْ لِإِفْسَادِ الْمُجْتَمَعِ

“Kami tidak memandang kudeta sebagai faktor untuk membenahi masyarakat. Bahkan gerakan tersebut, justru menimbulkan kerusakan dalam masyarakat“.

Marilah kita simak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim, dari hadits ‘Arfajah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوهُ ( رواه مسلم ).

Barang siapa yang datang kepada kalian, ketika kalian bersatu di bawah satu pimpinan, dia berkeinginan untuk memecah-belah persatuan kalian, maka bunuhlah dia.[3]

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa pemberontakan terhadap suatu pemerintah, yang dapat menimbulkan suatu perpecahan di kalangan masyarakat merupakan salah satu hal yang mewajibkan seseorang untuk dibunuh. Akan tetapi, perlu diingat, bahwa yang dapat menjatuhkan sanksi ini adalah waliyyul-amr, pemerintah yang memegang kekuasaan.

Dalam sebuah hadits dari ‘Ubâdah bin Shâmit Radhiyallahu anhu, ia menceritakan :

بَايَعْنَا رَسُولَ للَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ قَالَ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَان) متفق عليه )

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil kami, kemudian kami berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu patuh dan taat, baik terhadap apa yang kami suka maupun yang tidak kami suka, dan dalam keadaan sulit maupun lapang, dan untuk mendahulukan apa yang diperintahkan (di atas segala kehendak kami), dan untuk tidak merebut kekuasaan dari pemimpin yang sah. Kecuali engkau melihat suatu kekufuran yang sangat jelas, yang dapat engkau buktikan di sisi Allah.[4]

Akan tetapi, ketaatan ini tidak boleh berlawanan dengan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla , sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Sesungguhnya ketaatan itu hanya terhadap perkara yang ma’ruf (baik) saja.[5]

Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain:

لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ) أخرجه الطبراني في المعجم الكبير).

Tidak boleh taat kepada makhluk di dalam maksiat kepada Al-Khaliq.[6]

Kalau mau merenung sejenak, niscaya kita akan memperoleh fakta bahwa dalam sejarah Islam, tidak ada satu pemberontakan pun yang berhasil. Lain halnya dengan orang-orang kafir, kebanyakan pemberontakan yang mereka gerakkan berakhir dengan keberhasilan.

Di sini, seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedang menghendaki, supaya kita mau melihat dan memperhatikan bahwa cara seperti ini, bukanlah metode syar’i. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menginginkan kita supaya menempuh metode syar’i yang telah digariskan oleh-Nya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitab-Nya :

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. [ar-Ra’d/13:11].

إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ

Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu. [Muhammad/47:7].

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa. [al-Hajj/22:40].

Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa metode syar’i adalah tidak keluar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa. [al-An’âm/6:153].

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً خَطًّا ثُمَّ قَالَ :« هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ». ثُمَّ خَطَّ خُطُوطاً عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ :« هَذِهِ سُبُلٌ ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ». ثُمَّ تَلاَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِى مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat suatu garis, kemudian beliau berkata: ‘Ini adalah jalan Allah,’ kemudian beliau membuat garis-garis yang banyak di bagian kanan dan bagian kirinya, lalu beliau berkata: ‘Ini adalah jalan-jalan (yang dimaksud oleh Allah), dan pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru kepadanya,’ kemudian beliau membaca ayat: ‘Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa’.”

Dari sini jelaslah bagi kita, bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki kondisi masyarakat melainkan dengan mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi segala macam bentuk bid’ah. Mari kita simak firman Allah Azza wa Jalla yang sangat agung berikut ini :

وَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ

Dan adakalanya kami perlihatkan kepadamu (Muhammad) sebagian dari (siksaan) yang Kami janjikan kepada mereka, atau Kami wafatkan engkau (sebelum itu). [Yunus/10:46].

Banyak di antara manusia yang berkata “kami belum melihat kejayaan Islam”. Ketahuilah! Bahwa tidaklah mesti kita melihat segala apa yang telah dijanjikan Allah kepada kita, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak melihat segala apa yang di janjikan oleh Allah. Coba kita menyimak firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan janji-Nya kepada orang-orang beriman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan amal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama telah Dia ridhai bagi mereka. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Asalkan mereka (tetap) semata-mata beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. [an-Nûr/24:55].

Sungguh ini merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apabila kita dapat merealisasikan perintah Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan merealisasikan apa yang telah Dia janjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kita.

Wallaahu a’lam, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa shahbihi wa sallam.

(Diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Danil dari penjelasan Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi terhadap risalah Syaikh Muqbil bin Hâdi al-Wadi’i rahimahullah yang berjudul “Hâdzihi Da’watunâ Wa ‘Aqîdatunâ“).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

______

Footnote
[1] Muttafaq ‘alaih.
[2] Muttafaqun ‘alaih.
[3] HR Muslim.
[4] Muttafaqun ‘alaih.
[5] Muttafaqun ‘alaih.
[6] HR Thabrâni di dalam al-Mu’jamul Kabîr.