Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 11

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan Penerapan Protokol Kesehatan di Dua Perusahaan di Wilayah Hukum Polres Metro Bekasi

Headline DKI Jakarta Muhasabah

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 3mascipoldotcom, Rabu, 02 September 2020 (14 Muharam 1442 H)

Bekasi – Guna memutus mata rantai wabah pandemi covid 19 diwilayah hukum Polda Metro Jaya khususnya wilayah hukum Polres Metro Bekasi, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM bersama unsur Forkopimda Bekasi melakukan kunjungan kerja ke Kawasan Industri Ejip yang terletak di Desa Sukaresmi, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (02/08/2020).

Kapolda Metro Jaya beserta unsur Forkopimda Bekasi berupaya semaksimal mungkin memberikan penanganan dan edukasi kepada semua lapisan masyarakat dibawah kendali Kapolres Metro Bekasi Kombes Hendra Gunawan, SIK, M.Si.

Dalam Kunjungan tersebut, Kapolda Metro Jaya akan memastikan berjalan dan berlangsungnya pelaksanaan serta pengawasan penerapan protokol kesehatan di sektor Industri, setelah adanya penetapan dari pemerintah untuk warga dan masyarakat luas Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 10“Hari ini Rabu, 02/08/2020 pukul 10.00 WIB, sampai dengan selesai terdapat dua perusahaan yang dikunjungi Kapolda Metro Jaya yang didampingi oleh unsur Forkopimda Bekasi, diantaranya PT Omron Indonesia dan PT Epson Indonesia”. ungkap Ketua Umum Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara, Bapak Bagus Sujoko.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM ingin memastikan langsung standar protokol kesehatan yang telah diterapkan di dua perusahaan besar tersebut, dan dapat menjadi role model bagi perusahaan lainnya, guna memutus mata rantai wabah Covid-19 pada sektor industri agar karyawan yang menopang berlangsungnya perekonomian pada bidang penindustrian tidak terinfeksi kasus wabah Covid-19.

“Kami ingin mengecek langsung bagaimana kesiapan dua perusahaan tersebut dalam pelaksanaan masalah protokol kesehatan yang sudah dilaksanakan,” ungkap Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM, Rabu (02/09/2020) pukul 11.00 WIB.

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 12Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM beserta unsur Forkopimda Bekasi dan Instansi terkait lainnya dalam kunjungan tersebut guna memberi semangat dan motivasi kepada para petugas medis yang tergabung dalam tim gugus tugas penanganan virus covid-19 di wilayah hukum Polres Metro Bekasi dibawah kendali Kapolres Metro Bekasi Kombes Hendra Gunawan, SIK, M.Si.

“Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM, kunjungan ini juga mengecek langsung akan kesiapan dan kewajiban bagi perusahaan untuk memastikan kesehatan dan keselamatan para karyawannya, karena itu penerapan standar protokol kesehatan yang diberla kukan secara ketat di perusahaan dapat mengurangi rasa kekhawatiran karyawan saat bekerja, sehingga kinerja yang dihasilkan pun akan lebih optimal”, sambung Ketum Bagus Sujoko.

Masih menurut Kapolda Metro Jaya, kunjungan ini nantinya diharapkan peran aktif sektor industri dalam menerapkan standar protokol kesehatan, juga akan dapat meminimalisir penyebaran virus Covid-19 di tengah kebijakan AKB yang dikeluarkan Pemerintah.

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 6“Ini demi memutus mata rantai dan penyebaran Covid-19,” tegas Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM.

Lebih lanjut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM menjelaskan, aparatur pemerintah, lembaga dan badan yang menangani penanganan Covid- 19 tingkat pusat sampai dengan tingkat daerah jauh dari memadai. Oleh karena itu, perlu strategi khusus yang tepat komprehensif dan masif.

“Strategi tersebut yaitu dengan cara melibatkan masyarakat secara luas dalam penanganan Covid 19 ini, masyarakat harus memiliki tanggung jawab dan berpatisipasi aktif dalam penaganan Covid 19 sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya masing masing,” imbuh Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM, menambahkan, saat ini Forkopimda Kabupaten Bekasi menerapkan strategi “Mang Jaka (masyarakat nyang jaga kampung) yang dibagi menjadi 5 sektor / area, yakni Sektor industri, Sektor Pariwisata, Sektor Sentral Ekonomi, Sektor Pemukiman dan Sektor Moda Transportasi.

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 5“Didalam setiap sektor terdapat empat satuan tugas, yakni satgas kesehatan, satgas keamanan, satgas ekonomi serta satgas sosialisasi edukasi,” papar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM.

Strategi untuk memutus mata rantai Covid-19, tersebut diwilayah hukum Polres Metro Bekasi sudah berjalan dan terus dikembangkan serta sudah dilakukan pembentukan satgas- satgas dimasing-masing sektor juga sudah terealisasi walaupun jumlahnya masih belum sesuai dengan harapan pada sektor pemukiman kampung tangguh “Mang Jaka” tersebut.

“Oleh karena itu hari ini merupakan momentum yang sangat baik untuk menumbuh kembangkan komitmen masyarakat di berbagai sektor untuk bersama sama menangani Covid 19 di Kabupaten Bekasi,” lanjut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM.

Kapolda Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Drs Nana Sudjana, MM bersama rombongan dan Forkopimda Bekasi juga menghadiri lounching “Masker Sehati” di Maxx Box Orange County Lippo Cikarang, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi.

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 4“Acara selanjutnya di lakukan di Maxx Box Orange County Lippo Cikarang dengan menghadiri lounching “Masker Sehati”, penyematan ban lengan, rompi dan masker kepada gugus tugas Covid-19 perwakilan masing-masing kawasan Industri. Selain itu, dilakukan juga penanda tanganan komitmen bersama oleh 10 perwakilan kawasan industri di Kabupaten Bekasi,” tutup Ketua Umum Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara Bagus Sujoko. (Wati Ummu Arfi).

———–

Renungan

Cara Meraih Cinta Allâh : Mendahulukan Kecintaan-Nya Daripada Kecintaanmu Saat Hawa Nafsu Mendominasi, Dan Mendaki Menuju Kecintaan

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madârij as-Sâlikîn memaparkan tingkatan kedua dari berbagai tingkatan îtsâr yaitu: lebih mendahulukan ridha Allâh daripada ridha selain-nya; meskipun harus menghadapi ujian yang dahsyat, beban yang berat, serta meski fisik begitu lemah.

Pengaruh dari perbuatan yang lebih mendahulukan apa yang dicinta Allâh Azza wa Jalla daripada yang lainnya bisa terlihat jelas dalam tiga hal.

1. Menundukkan Hawa Nafsu

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 2Tak ada yang bisa mendaki menuju kecintaan Allâh Azza wa Jalla kecuali orang yang bisa menundukkan dan mengekang hawa nafsunya yang terlarang. Hawa nafsu yang terlarang adalah ketika seseorang cenderung pada setiap yang batil dan haram.

Syaikh Muhammad as-Saffarini rahimahullah dalam Manzhûmat al-Âdâb berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa ketika jiwa seorang melawan hawa nafsunya; di sanalah letak kemuliaan dan kekuatan jiwanya dalam menghadapi syetan dan bala tentaranya; dan jiwanya tidak hina. Ketika ia dera hawa nafsunya dengan cambuk mutaba’ah dan iqtida’ (mengikuti dan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam), serta mengarahkannya dengan kendali takwa, maka terwujudlah bagi jiwanya kemuliaan, kekuatan dan keluhuran karena ia menerapkan ittiba’ kepada Nabi dan menyelisihi bid’ah.[1]

Mengapa melawan hawa nafsu bisa mendatangkan kecintaan Allâh?

Jawabnya, karena saat hawa nafsu mendominasi, seseorang harus memilih satu dari dua pilihan: memilih ucapan atau perbuatan yang membuat Allâh ridha, ataukah memilih hal yang memuaskan hawa nafsunya.

Kapolda Metro Jaya Cek Langsung Pelaksanaan Pengawasan 1Oleh sebab itulah melawan hawa nafsu dan bersabar dalam menghadapinya termasuk dalam kategori jihad; bahkan termasuk tingkatan jihad tertinggi.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Seorang Muslim harus takut kepada Allâh Azza wa Jalla , dan mencegah diri dari hawa nafsunya. keberadaan nafsu dan syahwat itu sendiri tidak menjadi sebab seseorang dihukum, namun ia dihukum dan disiksa karena ia memperturutkan nafsu dan syahwatnya. Bila seseorang ingin (mengerjakan yang terlarang), namun ia menahan dirinya, berarti ia telah mencegah nafsunya, sebagai bentuk ibadah kepada Allâh dan bentuk amal shalih.”

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

المُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فيِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Orang yang berjihad adalah orang yang berperang melawan (hawa nafsu) dirinya karena Allâh Azza wa Jalla .[2]

Jadi, semua orang diperintahkan untuk melawan (nafsunya) sebagaimana ia diperintahkan untuk melawan orang yang memerintahkan dan menyerukan maksiat.

2. Menyelisihi Hawa Nafsu Orang Lain

Maksudnya, tidak ikut-ikutan ketika orang-orang di sekitarnya menyimpang atau menyelisihi kebenaran. Seorang Mukmin harus mengedepankan apa yang Allâh Azza wa Jalla cintai daripada apa yang disukai manusia. Konsekuensinya adalah dia harus menyeru kepada kebenaran dan kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran serta siap menanggung resiko dakwahnya.

3. Melawan Syaitan dan Memerangi Para Walinya
Cinta kepada Allâh Azza wa Jalla dan tunduk kepada syaitan adalah dua kutub yang tidak akan pernah bertemu. Sang musuh terlaknat senantiasa mengintai iman hamba hingga ia berhasil melenyapkannya dari hati para hamba. Lalu bagaimana mungkin seseorang akan menang, bila ia sadar bahwa hatinya sedang diserang syaitan dan bala tentaranya namun dia tidak melakukan perlawanan?

Sebagian Ulama membuat permisalan untuk hal tersebut. Iman diumpamakan sebagai sebuah negeri yang punya 5 benteng. Benteng pertama dari emas, kedua dari perak, ketiga dari besi, keempat dari batu bata, dan kelima dari batu bata mentah. Selama para penjaga benteng menjaga dengan baik benteng dari bata mentah, maka musuh pun tidak akan tamak untuk bisa menghancurkan benteng selanjutnya.

Namun bila mereka teledor, musuh akan bertekad kuat merobohkan benteng yang selanjutnya, lalu berikutnya, dan begitu seterusnya; hingga akhirnya semuanya luluh lantak. Demikian pula iman, ada lima benteng yaitu keyakinan, lalu keikhlasan, lalu menunaikan yang wajib, kemudian menunaikan yang sunnah, selanjutnya menjaga adab-adab. Selama hamba menjaga adab-adab dengan baik, syaitan pun tak akan tamak untuk bisa merobohkannya. Namun bila ia meninggalkan adab, syaitan akan rakus untuk merongrong yang sunnah, lalu yang wajib, kemudian merongrong keikhlasan, dan akhirnya menghancurkan keyakinan.[3]

Mengenai berperang melawan syaitan dan para tentaranya, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allâh, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. [An-Nisa’ / 4: 76]

Di antara tanda kecintaan kepada Allâh adalah mencintai syariat Allâh, sehingga seorang hamba komitmen dengannya dan mendakwahkannya. Ia akan memerangi musuh-musuh syariat Islam, tak gentar dengan apapun jua. Maka seorang mujahid muslim yang rela mengorbankan ruhnya agar manusia mau masuk ke agama Allâh, maka amalnya ini patutlah untuk menjadi puncak Islam.

Allâh pun mencintai para mujahidin yang berjuang demi tegaknya kalimat Allâh. Dia Azza wa Jalla berfirman.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allâh akan mendatangkan suatu kaum yang Allâh mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allâh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allâh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allâh Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al-Maidah/ 5: 54]

Dan jihad punya cakupan yang luas karena jihad merupakan upaya mengerahkan segala daya untuk menolak segala hal yang menjauhkan diri dan manusia dari agama Allâh. Dalam al-Quran jihad ditautkan dengan hidayah; petunjuk; baik untuk diri sendiri maupun manusia secara umumnya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. [Al-Ankabut/ 29: 69]

Maka yang paling sempurna petunjuknya adalah yang paling besar jihadnya. Dan jihad yang paling wajib adalah jihad melawan diri, melawan hawa nafsu, melawan syaitan dan melawan dunia (hal-hal duniawi). Maka barangsiapa yang berjihad melawan empat hal ini di jalan Allâh, Allâh pun akan menunjukkan kepadanya jalan-jalan keridhaan-Nya yang akan menambatkannya ke surga Allâh. Dan barangsiapa yang meninggalkan jihad, maka luput darinya petunjuk sesuai dengan jihad yang ia tinggalkan.[4]

Kecintaan kepada Allâh berkonsekuensi pada jihad. Karena seorang pecinta akan mencinta apa yang dicinta oleh kekasihnya, dan membenci apa yang dibenci kekasihnya; Mereka inilah orang yang Allâh ridha dengan apa yang mereka ridha, yang Allâh murka karena marah mereka. Karena, mereka ini sejatinya tidaklah ridha kecuali pada yang diridhai-Nya, dan tidak marah selain pada hal yang Dia k murkai.[5]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______

Footnote

[1] Ghidzâ’ al-Albâb 2/ 455.
[2] HR. At-Turmudzi 1621 (5/345) dan ia berkata: hadits hasan shahih; juga Ahmad dalam Musnadnya 6/20, 22; dan ini lafaz Imam Ahmad.
[3] Ghidzâ’ al-Albâb Syarh Manzhûmat al-Âdâb Syaikh Muhammad As-Saffarini al-Hanbali 1/37.
[4] Al-Fawâ’id oleh Ibnul Qayyim rahimahullah hlm. 59.
[5] Majmû’ al-Fatâwâ 10/57, 58.