Polri Keluarkan Surat Telegram 1

Kabaharkam Polri Teken Surat Telegram Kapolri Guna Percepatan Penangangan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Headline DKI Jakarta Muhasabah

Polri Keluarkan Surat Telegram 3mascipoldotcom, Selasa, 8 September 2020 (20 Muharam 1442 H)

Jakarta – Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri, Komjen Pol Agus Andrianto, selaku Kaopspus Aman Nusa II-Penanganan COVID-19 Tahun 2020, menandatangani Surat Telegram Kapolri guna percepatan penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Surat Telegram dengan nomor ST/2609/IX/OPS.2./2020 tertanggal 7 September 2020 itu ditandatangani atas nama Kapolri dan dialamatkan kepada para Kaopsda Aman Nusa II-2020, pejabat Opspus Aman Nusa II-2020, serta Kasatgasda dan Kasubsatgasda Ops Aman Nusa II-2020.

“Surat Telegram ini berisi perintah kepada alamat tersebut untuk melaksanakan penekanan hasil rapat analisa dan evaluasi (Anev) Operasi Aman Nusa II yang dilaksanakan pada tanggal 4 September 2020,” jelas Komjen Pol Agus Andrianto, Selasa, 8 September 2020.

Polri Keluarkan Surat Telegram 2Adapun isi perintah tersebut adalah sebagai berikut:

– Berkaitan dengan percepatan penanganan COVID-19:

1. Lakukan identifikasi dan mapping tempat-tempat keramaian yang berpotensi menjadi klaster baru COVID-19 (mall, perkantoran, pasar, dan lain-lain).

2. Bangun komunikasi dengan Pemda, tokoh agama, dan tokoh masyarakat yang berpengaruh di wilayah masing-masing agar bisa membantu TNI-Polri dalam mengkampanyekan protokol kesehatan.

3. Tingkatkan disiplin penerapan protokol kesehatan di internal Polri dan tempat-tempat pelayanan Polri, jangan sampai lingkungan internal Polri menjadi klaster baru COVID-19.

4. Pastikan personel yang ditugaskan khususnya yang melaksanakan tugas di lapangan dalam keadaan sehat dan tidak memiliki riwayat sakit kronis/penyerta/bawaan dan rentan terpapar COVID-19.

5. Berikan perhatian dan perawatan intensif terhadap anggota Polri dan keluarga yang terpapar COVID-19.

6. Hindari tindakan yang menambah beban masyarakat, tindakan kekerasan, dan tindakan kontraproduktif lainnya dalam melaksanakan pengawasan dan pendisiplinan penerapan protokol kesehatan kepada masyarakat.

– Berkaitan dengan pemulihan ekonomi nasional:

1. Dorong dan kawal percepatan belanja modal, belanja barang, belanja jasa, dan belanja Bansos dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional.

2. Lakukan pendampingan, koordinasi, kolaborasi, dan komunikasi dengan Pemda/Pemkot, kejaksaan tinggi/kejaksaan negeri untuk percepatan penyerapan anggaran belanja modal, belanja barang, belanja jasa, dan belanja Bansos, jangan justru melakukan tindakan yang menghambat (melakukan pemanggilan, klarifikasi, pemeriksaan, dan meminta/menyita dokumen).

3. Dukung, dorong, dan kawal produk-produk kearifan lokal (herbal) yang dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh, kesehatan, stamina, dan suplemen agar dapat berkembang dan membantu perekonomian masyarakat serta pemulihan ekonomi nasional (PEN). (Abink)

———-

Renungan

Nikmat Yang Lebih Baik Menurut Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Daripada Nikmat Harta

Di dalam kehidupan dunia, seorang Muslim tidak pernah lepas dari rahmat Allâh Azza wa Jalla yang luas, dalam bentuk kucuran nikmat-nikmat-Nya yang tiada putus. Anugerah dan nikmat Ilahi yang diperolehnya pun amat beragam: nikmat kesehatan, keselamatan, rezki dan nikmat-nikmat dunia lainnya. Maka, dalam hal ini, orang kaya dan orang miskin sama-sama merasakan nikmat dari Rabb mereka.

Karunia dan kenikmatan berharga yang membuat hati riang-gembira biasa dipahami manusia dalam bentuk kenikmatan duniawi yang melimpah dan karunia yang banyak, seperti gaji yang meningkat, bonus kendaraan, lahirnya buah hati yang dinanti-nanti, kesembuhan dari penyakit setelah sekian lama menerpa tubuh dan lain-lainnya.

Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pandangan lain tentang nikmat yang berharga dan lebih utama yang sepatutnya diteladani oleh umat Islam. Nikmat yang dimaksud tertuang dalam hadits mulia berikut ini.

Anas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ بِنِعْمَةٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ مَا أَعْطَى أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ

Tidaklah Allâh menganugerahkan kenikmatan apapun pada seorang hamba, lalu ia mengucapkan alhamdullillâh, kecuali apa yang Dia berikan (kepadanya berupa membaca alhamdullillâh) lebih utama daripada apa yang ia terima [HR. Ibnu Mâjah no.380. Syaikh al-Albâni menilai sebagai hadits berderajat hasan].

Dalam hadits ini, alhamdullillâh (pujian kepada Allâh) merupakan nikmat Allâh Azza wa Jalla yang paling agung yang tercurahkan kepada hamba-hamba-Nya, lebih agung daripada nikmat lain yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada mereka seperti rezki, keselamatan, kesehatan ataupun hidup dalam mewah di dunia ini.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah telah menguraikan makna hadits di atas yang mungkin membekaskan kebingungan pada benak seseorang dengan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dengan penjelasan yang jelas lagi gamblang dengan mengatakan, “Yang dimaksud dengan nikmat (yang disebutkan pertama dalam teks hadits) adalah nikmat-nikmat duniawi, seperti keselamatan, sehat, terhindar dari marabahaya dan lain sebagainya. Sementara ucapan alhamdullillâh adalah nikmat agama. Keduanya merupakan nikmat dari Allâh Azza wa Jalla. Akan tetapi, nikmat Allâh kepada hamba-Nya berupa hidayah kepadanya untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dengan membaca alhamdullillâh lebih utama daripada nikmat-nikmat duniawi yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya.

Nikmat-nikmat duniawi bila tidak dibarengi dengan syukur akan menjadi sumber petaka. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Hâzim rahimahullah, “Setiap nikmat tidak mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla, maka akan menjadi sumber petaka”. Maka, bila Allâhkmemberi taufik seorang hamba untuk mensyukuri nikmat-nikmat duniawi dengan membaca memuji-Nya (membaca alhamdullillâh) atau bentuk-bentuk syukur lainnya, maka nikmat (mensyukuri) iniakan menjadi lebih baik dari nikmat-nikmat tersebut dan lebih dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla daripada nikmat-nikmat (duniawi) itu.”. [1]

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Haatim dalam tafsirnya bahwa sebagian pegawai Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah pernah mengirim surat kepadanya yang isinya, “Sesungguhnya saya berada di daerah nikmat-nikmat (Allâh Azza wa Jalla ) sangat melimpah di sana. Dan aku kuatir warganya tidak mampu mensyukurinya”. Lalu ‘Umar bin ‘Aziz rahimahullah mengirim balasan surat itu dengan menulis, “Sesungguhnya sebelumnya aku memandangmu lebih mendalam dalam mengenal Allâh daripada kondisimu sekarang. Sesungguhnya tidaklah Allah menganugerahi seorang hamba dengan nikmat apapun, lalu ia memuji Allah atas nikmat itu, kecuali pujiannya kepada Allâh tersebut lebih utama dari nikmat-Nya (yang ia terima)”.

Dengan ini, menjadi jelas maksud hadits di atas, bahwa seorang hamba yang dikarunia taufik untuk bersyukur dengan membaca alhamdulillâh, dan alhamdulillâh itu sendiri juga anugerah dari Allâh Azza wa Jalla, seandainya tidak ada taufik Allâh Azza wa Jalla dan bantuan dari-Nya, maka hamba tersebut tidak akan mampu untuk memuji-Nya. Nikmat Allâh Azza wa Jalla kepada seorang hamba dengan memberinya taufik untuk memuji Allâh Azza wa Jalla lebih utama daripada nikmat Allâh Azza wa Jalla kepadanya berupa kesehatan, keselamatan, harta-benda dan lain-lain. Dan semuanya merupakan nikmat dari Allâh Azza wa Jalla .

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nikmat bersyukur lebih agung daripada nikmat harta, kedudukan, anak, istri dan lainnya”. [2]

Inilah ulasan ringkas tentang nikmat besar dan utama yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat Islam tentang dahsyatnya nikmat mengucapkanalhamdulillâh usai seseorang memperoleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dari Allâh Azza wa Jalla .

Ya Allâh, bagi-Mu pujian sampai Engkau ridha, dan bagi-Mu pujian wahai Rabb kami, ketika Engkau ridha.

Wallâhu a’lam.

(Diadaptasi dari Fiqhul Ad’iyati wal Adzkâr Prof. Dr. Abdur Razzâq bin ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd 1/256-2580).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] Jâmi al-‘Ulûmi wal Hikam 2/82-82.

[2] ‘Iddatush Shâbirîn hlm. 169.