Warga Sipil Pakai Mobil Dinas TNI AD 2

Warga Sipil Beli Nasi Pakai Mobil Dinas TNI

DKI Jakarta Headline Muhasabah Video Streaming
Warga Sipil Pakai Mobil Dinas TNI AD 3mascipoldotcom – Ahad, 04 Oktober 2020 (17 Safar 1442 H)
Jakarta – Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Darat atau Puspomad akhirnya angkat bicara terkait kasus video viral sebuah mobil dinas TNI AD digunakan warga sipil di sebuah rumah makan.
Komandan Puspomad atau Danpuspomad, Letjen TNI Dodik Widjanarko membenarkan bahwa mobil dinas jenis Toyota Fortuner dengan nomor registrasi 3688-34 dikemudikan oleh seorang warga sipil bernama SW alias Ahon.
“Dikendarai oleh masyarakat sipil atas nama saudara SW alias Ahon, yang seharusnya mereka mengerti bahwa kendaraan tersebut tidak berhak mereka gunakan,” kata Dodik, Sabtu (3/10/2020).
Letjen TNI Dodik Widjanarko menyampaikan, pihaknya sudah memanggil SW untuk dimintai keterangan di Puspomad, Jakarta Pusat.
Mobil yang dipakai tersebut juga telah diamankan.
Warga Sipil Pakai Mobil Dinas TNI AD“Bahwa saudara Suherman Winata alias Ahon sudah dimintai keterangan di Mapuspomad dan kendaraan Fortuner pelat dinas nomor registrasi 3688-34 warna hijau army serta pelat nomor registrasi sudah diamankan,” ujarnya.
Menurut Letjen TNI Dodik Widjanarko, kendaraan tersebut jika dilihat pelat nomornya merupakan nomor registrasi Puspomad.
Namun, mobil tersebut bukan kendaraan dinas anggota organik Puspomad. Setelah ditelusuri mobil itu dipinjampkan ke seorang purnawirawan.
“Kendaraan tersebut dipinjampakaikan kepada sorang Perwira menengah berpangkat Kolonel CPM yang saat ini sudah Purnawirawan mulai tahun 2017 sampai saat ini atas permohonan dari yang bersangkutan,” tandasnya.
Viral di Media Sosial
Warga net digegerkan dengan unggahan video viral mengenai seorang warga sipil diduga menggunakan sebuah mobil dinas milik TNI Angkatan Darat (AD).
Video viral tersebut diunggah ke media sosial Twitter oleh akun bernama @ghanieierfan.
Tampak video berdurasi 2.08 menit menunjukan sebuah mobil diduga kendaraan dinas TNI AD jenis Toyota Pajero nomor 3688-34.
Kendaraan itu terparkir di depan warung nasi padang.
Dalam unggahan tak disebutkan kejadian tersebut terjadi di wilayah mana, hingga saat ini belum bisa diketahui.
Terlihat orang merekam video viral tersebut merasa heran dengan terparkirnya sebuah mobil diduga kendaraan dinas TNI di depan warung nasi padang.
Kemudian ia menghampiri sang pengemudi yang berada di dalam rumah makan tersebut.
“Pak mobil siapa?” kata perekam video.
“Emang tentara?” lanjut si perekam.
Kemudian sang pengemudi mobil tersebut menjawab bahwa ia mengaku sebagai tentara pemilik mobil tersebut.
“Emang tentara?” tanya perekam.
“Iya,” jawab tutur si pengemudi pria berkemeja putih.
“Anggota aktif? Mana ID card,” kata perekam
“Kenapa lu tanya gua? Yang boleh tanya gua polisi militer,” jawab pria pengemudi itu.
Lebih lanjut, perekam video tersebut terus mencecar pertanyaan kepada si pengemudi mobil tersebut lantaran merasa aneh.
Si perekam video meminta pengemudi itu untuk menunjukan kartu identitas anggota TNI nya.
Namun saat ditegaskan kembali ia mengaku sebagai seorang warga sipil saja.
“Abang ngaku anggota tadi ini saya rekam,” kata perekam video.
“Bukan anggota gua. Saya bercanda,” jawab pria pengemudi itu*(Suara.com).
https://www.youtube.com/watch?v=VFVCtdb-4aA
————
Renungan
Memanfaatkan Milik Orang Lain Harus dengan Izin

 

By Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Ini adalah suatu aturan dalam Islam sehingga kita tidak seenaknya melanggar hak yang menjadi milik orang lain. Para ulama juga membuat kaedah dalam bab fikih ketika membahas ghosob (harta curian), “Tidak boleh seseorang memanfaatkan milik orang lain tanpa izinnya.”

Kaedah yang Dimaksud

Kaedah tersebut berbunyi,

لا يجوز لأحد أن يتصرف في ملك الغير بلا إذن

“Tidak boleh seseorang memanfaatkan kepemilikian orang lain tanpa izinnya.”[1]

Di antara dalil kaedah tersebut adalah,

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلاَّ بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Tidak halal harta seseorang kecuali dengan ridho pemiliknya” (HR. Ahmad 5: 72. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa hadits tersebut shahih lighoirihi).

Izin di sini boleh jadi: (1) Izin secara langsung, (2) Izin tidak langsung (izin dalalah) yaitu misalnya secara ‘urf (kebiasaan), hal seperti itu sudah dimaklumi tanpa ada izin lisan atau sudah diketahui ridhonya si pemilik jika barangnya dimanfaatkan.

Mengenai bentuk izin jenis kedua ini kita bisa berdalil dengan kisah Khidr yang menghancurkan perahu orang miskin yang nantinya akan dirampas oleh raja. Ia sengaja menghancurkannya karena ia tahu bahwa mereka (para pemilik) ridho akan perbuatan Khidr. Allah Ta’ala berfirman,

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

“Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.” (QS. Al Kahfi: 79). Oleh karenanya, mengenai izin jenis kedua ini, Ibnu Taimiyah memiliki kaedah,

وَالْإِذْنُ الْعُرْفِيُّ كَالْإِذْنِ اللَّفْظِيِّ

“Izin secara ‘urf (kebiasaan) teranggap sama dengan izin secara lisan” (Majmu’ Al Fatawa, 11: 427).

Di tempat lain, beliau rahimahullah mengatakan,

وَكُلُّ مَا دَلَّ عَلَى الْإِذْنِ فَهُوَ إذْنٌ

“Segala sesuatu yang bermakna izin maka dihukumi sebagai izin” (Majmu’ Al Fatawa, 28: 272).

Contoh Kaedah

1- Tidak boleh masuk dalam rumah atau kebun seseorang tanpa izinnya.

2- Dalam akad mudhorobah (usaha bagi hasil), jika pengelola telah diberi syarat oleh pemodal untuk menjalankan usaha di tempat tertentu, atau menjual barang tertentu, atau ditentukan waktu tertentu, lalu syarat ini dilanggar, maka itu berarti telah memanfaatkan sesuatu tanpa izin.

3- Jika ada seseorang yang dititipi sejumlah uang, lantas ia memanfaatkannya tanpa izin orang yang menitipkan, maka jika ada kehilangan, dialah yang mengganti rugi karena ia telah memanfaatkan barang tanpa izin.

4- Jika suatu jalan khusus terlarang dilewati lalu pintunya sengaja dibuka tanpa meminta izin pada pemiliknya, itu berarti telah memanfaatkan milik orang lain tanpa izin.

5- Jika seseorang mengetahui dari keadaan sahabatnya bahwa ia selalu ridho jika diambil sesuatu miliknya, maka barang milik sahabatnya tadi boleh diambil tanpa izinnya. Ini termasuk izin jenis kedua yang disebutkan di atas.[2]

6- Di antara contoh lain dari izin jenis kedua, misalnya ada orang yang dititipkan uang. Lalu ia meminjam uang tersebut dan ia tahu si pemilik uang ridho apalagi pada orang yang sifatnya amanah, maka boleh saja ia manfaatkan. Namun jika ia ragu apakah si pemilik meridhoi ataukah tidak, maka tidak boleh ia memanfaatkannya.[3]

Wallahul muwaffiq.

 

Referensi Utama:

Al Mufasshol fil Qowa’idil Fiqhiyyah, Dr. Ya’qub ‘Abdul Wahab Al Bahisin, taqdim: Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrahman As Sudais (Imam Masjidil Haram), terbitan Dar At Tadmuriyah, cetakan kedua, tahun 1432 H, hal. 557-558.

Al Qowa’id wadh Dhowabith Al Fiqhiyyah lil Mu’amalat Al Maaliyah ‘inda Ibni Taimiyyah, ‘Abdussalam bin Ibrahim bin Muhammad Al Hushoin, terbitan Dar At Ta’shil, cetakan pertama, tahun 1422 H, 2: 117-125.

 

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh-KSA, 20 Shafar 1434 H

www.rumaysho.com

 

[1] Lihat Ad Durul Mukhtaar fii Syarh Tanwirul Abshor pada Kitab Ghoshob, oleh ‘Alaud-din Al Hashkafiy.

[2] Shorim Al Maslul, Ibnu Taimiyah, hal. 195.

[3] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 30: 394-395.