HMA Yusuf Siregar Beri Penjelasan Ranperda Tentang Perubahan Perda Nomor 3 Tahun 2016

HMA Yusuf Siregar Beri Penjelasan Ranperda Tentang Perubahan Perda Nomor 3 Tahun 2016

Headline Muhasabah Sumatera Utara

mascipoldotcom, Jum’at, 28 Agustus 2020 (09 Muharam 1442 H)

Lubuk Pakam – Wakil Bupati Deli Serdang HM Ali Yusuf Siregar memberikan penjelasan terhadap Rancangan Peraturan Daerah (RANPERDA) Kabupaten Deli Serdang mengenai pembentukan dan susunan perangkat daerah Kabupaten Deli Serdang. Sidang Paripurna ini dipimpin oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Deli Serdang, Amit Damanik beserta Nusantara Tarigan Silangit yang dilaksanakan di Ruang Sidang Paripurna Kantor DPRD Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (26/08/2020) Pagi.

Sesuai dengan Peraturan daerah (Perda) No 3 Tahun 2016, HMA Yusuf Siregar mengatakan bahwa pengusulan RANPERDA harus lebih disempurnakan lagi pada beberapa ketentuan yang mengatur tentang perangkat daerah bagi upaya perbaikan dan kemajuan daerah kedepan.

Pada penjelasan yang disampaikan oleh Wakil Bupati terdapat 7 perubahan peraturan yang diajukan oleh pemerintah Kabupaten Deli Serdang tentang perangkat daerah, hal ini bertujuan untuk menjadikan organisasi perangkat daerah yang tepat fungsi dan yang berorientasi pada efisiensi dan efektivitas agar berdaya guna dan berhasil guna.

Adapun 7 perubahan tersebut adalah penghapusan sekretariat Korpri dari perangkat daerah Kabupaten Deli Serdang berdasarkan peraturan pemerintah No 18 Tahun 2016 dan peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 tahun 2017, perubahan nomenklatur Dinas Kelautan dan Perikanan menjadi Dinas Perikanan berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 dan peraturan menteri kelautan No 26/PERMEN-KP/2016, perubahan nomenklatur Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu menjadi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu berdasarkan peraturan pemerintah nomor 18 tahun 2016 dan peraturan menteri dalam negeri Nomor 100 tahun 2016, penguatan kembali urusan pemerintahan bidang Kesatuan Bangsa dan Politik menjadi perangkat daerah Kabupaten Deli Serdang berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 11 tahun 2019, perubahan jabatan direktur RSUD Deli yang sebelumnya merupakan jabatan fungsional dokter atau dokter gigi diubah menjadi jabatan struktural atau jabatan Pimpinan Tinggi Pratama berdasarkan peraturan pemerintah nomor 72 tahun 2019, pembentukan Rumah Sakit Umum Daerah Pancur Batu dan Rumah Sakit Umum Bangun Daerah Bangun Purba berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1045/MENKES/PER/XI/2006 dan peraturan menteri kesehatan No 56 Tahun 2014, serta pembentukan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 2016 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 16 Tahun 2020

Selain itu, RANPERDA Kabupaten Deli Serdang tentang perubahan atas Perda Kabupaten Deli Serdang No. 3 Tahun 2006 tentang pembentukan dan susunan perangkat daerah Kabupaten Deli Serdang yang diajukan ini juga berkaitan pelaksanaan reformasi birokrasi yang di jalankan saat ini dan juga rancangan APBD tahun 2021 yang nantinya mengacu kepada perangkat daerah baru.

Berdasarkan Surat Kementrian Dalam Negeri No 061/4170/OTDA Tanggal 18 Agustus 2020 perihal pembinaan dan evaluasi perangkat daerah pada pemerintah daerah Kabupaten Deli Serdang yang menyatakan usulan penataan kelembagaan dinas pekerjaan umum serta penataan ruang Kabupaten Deli Serdang telah disesuaikan dengan hasil pemetaan menjadi Dinas Sumberdaya Air, Bina Marga, dan Bina Konstruksi Tipe B serta Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Tipe B,” ujar Wakil Bupati Deli Serdang.

Diakhir penjelasannya menyanpaikan harapannya demi terlaksananya Ranperda ini dengan baik.
“Dengan adanya pembentukan dan susunan perangkat daerah Kabupaten Deli Serdang yang baru, maka diharapkan RANPERDA ini dapat dirumuskan dengan baik dan secara nyata dapat terlaksana dengan baik sehingga dapat mendorong kemajuan Kabupaten Deli Serdang”, tutup Wabup.(Ezl)

————–

Renungan

Perintah Menyempurnakan Shaf

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

Shalat merupakan amal shalih terbesar di dalam Islam setelah syahadatain. Shalat juga merupakan pembeda antara orang beriman dengan orang kafir. Oleh karena itu shalat memiliki kedudukan yang sangat agung di dalam agama Islam. Demikian juga shalat jama’ah di masjid sangat ditekankan untuk dilakukan, bahkan mayoritas Ulama berpendapat bahwa laki-laki dewasa yang tidak ada halangan wajib shalat berjama’ah di masjid.

Tentang keutamaan yang sangat besar bagi yang menjalankan shalat fardhu (wajib) secara berjama’ah di masjid, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ رَجُلٌ خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيمَةٍ وَرَجُلٌ رَاحَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيمَةٍ وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلَامٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Tiga orang dijamin oleh Allâh Azza wa Jalla: Seseorang yang keluar berperang fii sabilillah. Dia dijamin oleh Allâh sampai Allâh wafatkan dia, lalu Allâh Azza wa Jallamemasukkannya ke surga, atau Allâh akan memulangkannya dengan meraih pahala dan ghanimah. Seseorang yang berangkat ke masjid, maka dia dijamin oleh Allâh sampai Allâh mewafatkannya, lalu memasukkan ke dalam surga, atau Allâh akan memulangkannya dengan meraih pahala dan ghanimah. Seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka dia dijamin oleh Allâh. [HR. Abu Dawud, no. 2496; dari Abu Umamah, dishohihkan syaikh Al-Albani]

Dalam menjalanan shalat jama’ah sangat dibutuhkan ilmu untuk mengatur jalannya shalat sehingga menjadi sempurna. Di antara yang penting dalam shalat berjama’ah adalah pengaturan shaf (barisan). Maka, pada edisi ini, kami akan menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan mengatur shaf di dalam shalat jama’ah, semoga bermanfaat bagi kita semua.

PERINTAH MELURUSKAN SHAF

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ

Dari Anas bin Malik, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda, “Luruskan shaf-shaf kamu, sesungguhnya meluruskan shaf itu termasuk tegaknya shalat”. [HR. Al-Bukhâri, no. 723]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ

Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Luruskan shaf-shaf kamu, sesungguhnya kelurusan shaf itu termasuk kesempurnaan shalat’” [HR. Muslim, no. 433; Ibnu Mâjah, no. 993 Dishahihkan oleh al-Albâni]

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اسْتَوُوا اسْتَوُوا اسْتَوُوا فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَاكُمْ مِنْ خَلْفِي كَمَا أَرَاكُمْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ

Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruskan, luruskan, luruskan! Demi (Allâh) Yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya aku melihat kamu dari belakangku sebagamana aku melihatmu dari depanku”. [HR. An-Nasai, no. 813]

CARA MELURUSKAN SHAF

1. Menyempurnakan Shaf Pertama, Lalu Belakangnya Dan Seterusnya.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ السُّوَائِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا قَالَ ((يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَلَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ))

Dari Jabir bin Samuroh as-Suwaai, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidakkah kamu berbaris sebagaimana para Malaikat berbaris di hadapan Rabbnya?’ Para Sahabat bertanya, “Bagaimana para Malaikat berbaris di hadapan Rabbnya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang pertama dan merapatkan shaf”. [HR. Ibnu Mâjah, no. 992; An-Nasai, no. 816. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani rahimahullah]

2. Meluruskan Shaf

عَنْ النُّعْمَانِ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي الصَّفَّ حَتَّى يَجْعَلَهُ مِثْلَ الرُّمْحِ أَوْ الْقِدْحِ قَالَ فَرَأَى صَدْرَ رَجُلٍ نَاتِئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوُّوا صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

Dari An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meluruskan shaf sehingga Beliau menjadikannya seperti tombak atau anak panah (karena sangat lurusnya-pen). Kemudian Beliau melihat dada seorang laki-laki menonjol, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Luruskanlah shaf-shaf kamu atau Allâh benar-benar akan menjadikan hati kamu berselisih”. [HR. Ibnu Mâjah, no. 994; An-Nasai, no. 810. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani rahimahullah]

3. Merapatkan Shaf Dan Menutup Celah-Celah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَأَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ فَقَالَ ((أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي))

Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Iqamat telah dikumandangkan, lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya kepada kami, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruskanlah shaf-shaf kamu, dan hendaklah kalian saling merapat, sesungguhnya aku melihat kamu dari balik punggungku”. [HR. Al-Bukhâri, no. 719]

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ((رَاصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيَاطِينَ تَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

Dari Anas bahwa Nabi shalAllâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rapatkanlah shaf-shaf kamu, dekatkanlah antara shaf-shaf, sejajarkanlah leher-leher. Demi (Allâh) Yang jiwa Muhammad di tanganNya, sesungguhnya aku melihat setan-setan masuk dari sela-sela shaf seolah-olah seekor anak kambing”. [HR. An-Nasâi, no. 815; Abu Dawud, no. 667. Hadits ini dinilai shahih oleh Al-Albani rahimahullah]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِى إِخْوَانِكُمْ ». لَمْ يَقُلْ عِيسَى « بِأَيْدِى إِخْوَانِكُمْ ». « وَلاَ تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ ».. قَالَ أَبُو دَاوُدَ وَمَعْنَى « وَلِينُوا بِأَيْدِى إِخْوَانِكُمْ ». إِذَا جَاءَ رَجُلٌ إِلَى الصَّفِّ فَذَهَبَ يَدْخُلُ فِيهِ فَيَنْبَغِى أَنْ يُلَيِّنَ لَهُ كُلُّ رَجُلٍ مَنْكِبَيْهِ حَتَّى يَدْخُلَ فِى الصَّفِّ.

Dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sempurnakan shaf-shaf, sejajarkan bahu-bahu, tutupi celah-celah, dan berlaku lembutlah dengan tangan-tangan saudara-saudara kamu.” Imam Abu Dawud berkata, “‘Isa (nama seorang perawi) tidak mengatakan ‘dengan tangan-tangan saudara-saudara kamu’. “Kamu jangan meninggalkan celah-celah untuk syaitan. Barangsiapa menyambung shaf, Allâh akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutus shaf, Allâh akan memutusnya”.

Abu Dawud berkata, “Lembutlah dengan tangan-tangan saudara-saudara kamu, maksudnya jika seseorang datang menuju shaf, lalu berusaha memasukinya, maka sepantasnya setiap orang melembutkan kedua bahunya sehingga orang itu bisa masuk ke dalam shaf. [HR. Ahmad, no. 5714; Abu Dawud, no. 666; Al-Baihaqi di dalam Sunan Kubra, no. 5391; Ath-Thabrani dalam Musnad asy-Syâmiyyin. Ini adalah lafazh Abu Dawud. Hadits ini dinilai shahih oleh syaikh Al-Albani dan Syu’aib al-Arnauth]

4. Cara Merapatkan Dan Meluruskan Shaf

Ada beberapa hadits yang menjelasakan praktek Sahabat terhadap perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyempurnakan shaf, sehingga hal ini termasuk sunnah taqrîriyah. Yaitu perkataan atau perbuatan para Sahabat yang tidak ditegur oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga hal itu merupakan kebenaran. Di antara hadits tentang cara meluruskan shaf:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ((أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي)) وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

Dari Anas bin Malik, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau bersabda, “Luruskan shaf-shaf kamu, sesungguhnya aku melihat kamu dari belakang punggungku!”. Anas bekata, “Setiap orang dari kami biasa menempelkan pundaknya dengan pundak saudaranya, dan menempelkan telapak kakinya dengan telapak kaki saudaranya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 725]

Imam al-Bukhâri rahimahullah memasukkan hadits ini ke dalam bab:

بَاب إِلْزَاقِ الْمَنْكِبِ بِالْمَنْكِبِ وَالْقَدَمِ بِالْقَدَمِ فِي الصَّفِّ

‘Menempelkan pundak dengan pundak, dan (menempelkan) telapak kaki dengan telapak kaki di dalam shaf’.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari bab ini dengan menyatakan.

الْمُرَاد بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفّ وَسَدِّ خَلَلِهِ ، وَقَدْ وَرَدَ الْأَمْرُ بِسَدِّ خَلَل اَلصَّفّ وَالتَّرْغِيب فِيهِ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ

Yang dimaksudkan dengan hal itu adalah bersungguh-sungguh dalam melurukan shaf dan menutupi celah-celah. Perintah dan anjuran untuk menutupi celah shaf itu ada dalam banyak hadits”. [Fathul Bâri, 3/77]

Di dalam hadits dijelaskan:

عَنْ أَبِى الْقَاسِمِ الْجَدَلِىِّ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ». ثَلاَثًا « وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ ». قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ.

Dari Abul Qâshim al-Jadali, dia berkata, “Aku mendengar an-Nu’man bin Basyir berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya kepada jama’ah lalu bersabda, “Luruskan shaf-shaf kamu” tiga kali, “Demi Allâh, kamu benar-benar harus meluruskan shaf kamu atau Allâh akan menjadikan hati kamu berselisih”.Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhu berkata, “Aku lihat laki-laki menempelkan bahunya dengan bahu kawannya, lututnya dengan lutut kawannya, mata kakinya dengan mata kaki kawannya”. [HR. Abu Dawud, no. 662; Al-Bazzar, no. 3285. Hadits ini dinilai shahih oleh al-Albani]

PERHATIAN SAHABAT DALAM MELURUSKAN SHAF

Para Sahabat Nabi Radhiyallahu anhum merupakan generasi terbaik umat ini. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika mereka berusaha mengamalkan tuntunan Nabi ini dengan sebaik-baiknya. Selain riwayat-riwayat di atas yang menunjukkan kesungguhan para Sahabat sebagai makmûm dalam mempraktekkan perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , juga ada riwayat-riwayat lain yang menunjukkan hal ini. Berikut ini di antaranya:

عَنْ مَالِكِ بْنِ أَبِيْ عَامِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ عُثْمَانَ وَهُوَ يَقُوْلُ اِسْتَوُوْا وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ فَإِنَّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ إِقَامَةَ الصَّفِ قَالَ : وَكَانَ لَا يُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيْهِ رِجَالٌ قَدْ وَكَّلَهُمْ بِإِقَامَةِ الصفوف.

Dari Malik bin Abi ‘Aamir, dia berkata, “Aku mendengar ‘Utsman mengatakan, “Luruslah! Sejajarkan bahu-bahu, sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat”. Malik bin Abi ‘Aamir berkata, “‘Dahulu, Utsman Radhiyallahu anhu tidak (mulai) bertakbir sampai datang orang-orang yang dia tugaskan untuk meluruskan shaf”. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 1/387]

Demikian juga sebagian Sahabat mengingkari keadaan jama’ah yang tidak bagus dalam masalah shaf.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَقِيلَ لَهُ مَا أَنْكَرْتَ مِنَّا مُنْذُ يَوْمِ عَهِدْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَنْكَرْتُ شَيْئًا إِلَّا أَنَّكُمْ لَا تُقِيمُونَ الصُّفُوفَ

Dari Anas bin Malik, bahwa dia datang ke kota Madinah, lalu dia ditanya, “Apakah yang anda ingkari dari (perbuatan) kami semenjak hari anda mengenal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?”. Dia menjawab, “Aku tidak mengingkari sesuatu, kecuali keadaan kamu yang tidak menegakkan shaf”. [HR. Al-Bukhâri, no. 724]

Inilah beberapa keterangan sekitar mengatur shaf di dalam shalat jama’ah, semoga yang singkat ini bisa menggugah hati kita untuk berusaha melaksanakan sunnah yang sudah banyak ditinggalkan ini.

Al-Hamdulillahi Rabbil ‘alaamiin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIX/1437H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]