IMG 20210602 WA0052

Hari Bhayangkara ke-75, Ini Kata Kabareskrim Polri

DKI Jakarta Headline Muhasabah

mascipoldotcom – Rabu, 30 Juni 2021 (20 Zdulkaidah 1442 H)

Jakarta – Hari Bhayangkara yang diperingati setiap tanggal 1 Juli memberi makna dan arti tersendiri dimata Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto.

Jenderal Bintang 3 Kelahiran Blora, 16 Februari 1967 ini menyebut Hari Bhayangkara ke-75 harus menjadi momentum bagi seluruh anggota Polri untuk terus berbenah guna memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan terbaik kepada Masyarakat.

“Program Polri Presisi yang digagas Pak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo harus kita sukseskan”, ujar Komjen Pol Agus Rabu (30/6/2021).

Lebih lanjut Komjen Pol Agus mengatakan pandemi Covid-19 saat ini masih menghantui Indonesia, akhir-akhir ini tren kasus juga meningkat yang membuat Pemerintah terus berupaya mencegah penyebaran dan memulihkan perekonomian yang juga terdampak.

“Selain menjaga Kamtibmas, Polri juga mendukung penuh Pemerintah dalam pencegahan penyebaran virus Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional”, tegas Komjen Pol Agus.

Komjen Pol Agus juga menyampaikan bahwa tanggung jawab yang dipikul Pak Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Negara dan Pak Kapolri bukanlah hal yang mudah.

“Kita semua ikut memikul tanggung jawab itu demi masyarakat, bangsa dan negara, hal-hal yang menjadi penyebab meningkatnya penyebaran Covid-19 dan penghalang pemulihan ekonomi nasional harus kita selesaikan”, ujar Komjen Pol Agus.

Mantan Kabaharkam Polri ini juga menyampaikan bahwa kesadaran masyarakat juga sangat menentukan.

“Apapun yang dilakukan Pemerintah tidak akan mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan, bila masyarakat justru tidak mematuhi protokol kesehatan”, ujar Komjen Pol Agus.

Jadikan momentum Hari Bhayangkara ke-75 ini sebagai semangat mewujudkan Polri yang Presisi dan dicintai oleh masyarakat, Insya Allah setiap langkah pengabdian kita bernilai ibadah.

“Karena setiap hembusan nafas yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan hanya berkah, tapi juga merupakan tanggung jawab, Selamat Hari Bhayangkara ke-75”, tutup Komjen Pol Agus.

———

Renungan

MENGETAHUI PENYAKIT RIYA’ DAN BERLEPAS DIRI DARINYA(2/6)

Mengetahui siksa dan nikmat kubur1

Ketahuilah bahwa di antara sebab riya’ dan syirik adalah tidak adanya petunjuk hati untuk takut terhadap siksa kubur, Neraka dan segala sesuatu yang menakutkan setelah kematian, dan karena masalah ini adalah masalah yang sangat luas, karena itu saya hanya dapat menyebutkan sedikit sekali dari sesuatu yang sangat banyak, dengan harapan semoga apa yang saya ungkapkan ini menjadi sebuah pelajaran dan wejangan, di dalam pembahasan ini saya merujuk kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“… Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi/18: 110]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyertakan taufiq di dalam amal shalih dengan berharap bertemu Allah, karena itu dia harus mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan perjumpaan dengan Allah, berupa nikmat dan siksa, kebahagiaan dan kesengsaraan. Hanya kepada Allah-lah kita semua memohon pertolongan.

Diriwayatkan dari al-Barra bin ‘Azib Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju jenazah seseorang dari kalangan Anshar, sampailah kami di kuburnya dan ternyata dia belum disimpan di liang lahad, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dengan menghadap kiblat sedangkan kami duduk di sekitarnya dan seakan-akan di atas kepala kami ada burung, di tangan beliau ada sebuah tongkat yang dipukulkan ke bumi, (beliau menatap langit dan melihat bumi (tanah), mengangkat pandangannya dan menurunkannya, (sampai tiga kali). Lalu beliau bersabda, ‘Mintalah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur (sebanyak dua atau tiga kali).’ Kemudian beliau berkata: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ‘Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur (sebanyak tiga kali).’

Kemudian beliau bersabda, ‘Jika seorang mukmin meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, maka para Malaikat dengan wajah yang putih akan turun dari langit kepadanya, seakan-akan wajahnya itu adalah matahari, mereka membawa kain kafan dan hanut2 dari Surga, kemudian mereka akan duduk sejauh pandangan, lalu datanglah Malaikat maut, sehingga dia duduk di kepalanya seraya berkata, ‘Wahai jiwa yang baik (di dalam satu riwayat, yang tenang), keluarlah menuju ampunan dan karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.’’”

Beliau berkata, “Kemudian ruh itu keluar bagaikan setetes air yang keluar dari mulut wadah, lalu ia (Malaikat maut) mengambilnya (di dalam satu riwayat: Sehingga ketika ruhnya itu keluar, maka semua Malaikat yang berada di antara langit dan bumi mendo’akannya, dibukakan baginya pintu-pintu langit dan tidak ada seorang pun penjaga pintu kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh orang itu dibawa oleh mereka).

Ketika dia mengambilnya, dia tidak meletakkannya di tangan sekejap mata pun, akan tetapi mereka mengambilnya dan meletakkannya di atas kafan dengan hanutnya (itulah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: …تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُوْنَ ‘…Ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami, dan Malaikat-Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya),’ ruh hamba tersebut keluar dengan wangi semerbak bagaikan misik yang paling wangi di dunia.”

Beliau berkata, “Lalu mereka membawa ruh tersebut naik ke atas, tidak melewati satu Malaikat pun, kecuali mereka akan berkata, ‘Ruh siapakah yang baik ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan putera Fulan’ –dengan menyebutkan namanya yang paling baik di dunia– sehingga mereka membawanya sampai ke langit dunia, mereka meminta agar pintu dibukakan dan dia (penjaga) membukakannya, setiap penghuni langit akan mengantarkannya sampai ke langit berikutnya, sehingga sampai di langit ke tujuh, maka Allah berfirman, ‘Tulislah kitab hamba-Ku ini di ‘Illiyyin.’

وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ ﴿١٩﴾كِتَابٌ مَرْقُومٌ﴿٢٠﴾يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

“(Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh Malaikat-Malaikat yang didekatkan (kepada Allah)” [Al-Mu-thaffifiin/83: 19-21]

Maka kitabnya itu di tuliskan di dalam ‘Illiyyin, kemudian dikatakan, ‘Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku (menjanjikan bahwasanya Aku) menciptakannya dari tanah, mengembalikannya ke tanah dan darinya Aku akan mengeluarkannya sekali lagi.’”

Beliau berkata, ‘Maka (ruh itu dikembalikan ke bumi) dan ruhnya dikembalikan ke jasadnya, (beliau berkata, ‘Sesungguhnya dia mendengarkan suara sendal para pengantarnya ketika mereka pulang’).

Lalu datanglah dua Malaikat yang sangat keras bentakannya, mereka berdua membentaknya dan mendudukkannya, lalu bertanya, ‘Siapakah Rabb-mu?’ ‘Allah Rabb-ku,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Apakah agamamu?’ ‘Islam agamaku,’ jawabnya.

Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Siapakah orang ini yang diutus kepadamu?’ ‘Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Apakah pekerjaanmu?’ ‘Aku membaca al-Qur-an, lalu aku mempercayainya dan membenarkannya,’ jawabnya. Lalu mereka membentaknya dengan berkata, ‘Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Dan siapa Nabimu?’ Itulah cobaan terakhir yang diberikan kepada seorang mukmin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” [Ibrahim/14: 27]

Karena itu sang hamba menjawab, ‘Rabb-ku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan Nabiku adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam,’ lalu berserulah yang berseru di langit, ‘Hambaku benar, maka bentangkanlah baginya permadani dari Surga, berilah pakaian dari Surga, dan bukakanlah baginya satu pintu menuju Surga.’ Beliau berkata, ‘lalu datanglah semerbak mewangi dan dibentangkan baginya sejauh pandangan.’”

Beliau berkata, “Datanglah kepadanya (di dalam satu riwayat, dengan menjelma menjadi) seseorang dengan paras yang indah, baju yang bagus dan wangi, dia berkata, ‘Aku datang kepadamu dengan membawa kabar gembira (aku membawa kabar gembira dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan Surga yang di dalamnya terdapat nikmat yang kekal), ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu,’ lalu dia berkata,

‘(Semoga Allah memberikan kabar gembira kepadamu), siapakah engkau? Wajahmu menampakkan kebaikan!’ Dia berkata, ‘Aku adalah amalmu yang shalih,’ (demi Allah, tidak ada yang aku ketahui darimu, kecuali engkau selalu bersegera di dalam melakukan ketaatan dan lamban di dalam melakukan kemaksiatan, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).’

Kemudian dibukakan baginya satu pintu Surga dan satu pintu Neraka, dikatakan kepadanya, ‘Ini adalah tempatmu jika engkau bermaksiat kepada Allah, tetapi Allah menggantikannya dengan ini untukmu.’ Jika dia melihat Surga, maka dia berkata, ‘Ya Allah percepatlah hari Kiamat!! Agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku!’ Dikatakan kepadanya, ‘Tenanglah!’”

Beliau berkata, “Sedangkan hamba yang kafir (dalam satu riwayat yang fajir), jika dia meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, datanglah kepadanya para Malaikat yang sangat keras dengan wajah yang hitam dengan membawa misuh3 (dari Neraka), mereka duduk sejauh pandangan, kemudian datanglah Malaikat maut dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata, ‘Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .’”

Beliau berkata, “Kemudian jiwa itu berpecah belah di dalam tubuhnya, lalu dia (Malaikat maut) mencabutnya bagaikan tongkat (dengan cabang yang banyak) dicabut dari kain wol yang basah, (lalu urat dan otot pun putus), (maka semua Malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan yang ada di langit melaknatnya, ditutup baginya pintu-pintu langit dan tidak ada seorang pun penjaga pintu kecuali mereka memohon kepada Allah agar ruh orang itu tidak dibawa oleh mereka), ketika dia mengambilnya, dia tidak meletakkannya di tangan sekejap mata pun, akan tetapi dia meletakkannya di atas misuh, ruh tersebut keluar dengan bau bangkai yang paling busuk di muka bumi, lalu mereka membawa ruh tersebut naik ke atas, tidaklah melewati satu Malaikat pun, kecuali mereka akan berkata, ‘Ruh siapakah yang busuk ini?’ Mereka menjawab, ‘Fulan putera Fulan’ -dengan menyebutkan namanya yang paling buruk di dunia- sehingga mereka membawanya sampai ke langit dunia, mereka meminta agar pintu dibukakan dan dia (penjaga) tidak membukakannya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“…Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.. ..” [Al-A’raaf/7: 40]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Tulislah kitab hamba-Ku ini di Sijjin di bumi yang paling bawah,’ (kemudian dikatakan, ‘Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku (menjanjikan bahwasanya Aku) menciptakannya dari tanah, mengembalikannya ke tanah dan darinya Aku akan mengeluarkannya sekali lagi.’ Maka ruh itu dilemparkan dari langit sehingga jatuh pada jasadnya, kemudian beliau membacakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

‘…Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.’ [Al-Hajj/22: 31]

Beliau berkata, “Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya, (beliau berkata, ‘Sesungguhnya dia mendengarkan suara sendal para pengantarnya ketika mereka pulang’).

Lalu datanglah dua Malaikat yang sangat keras bentakannya, mereka berdua membentaknya dan mendudukannya, lalu bertanya, ‘Siapakah Rabb-mu?’ ‘Ah, ah, aku tidak tahu,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Apakah agamamu?’ ‘Ah, ah, aku tidak tahu,’ jawabnya. Mereka berdua bertanya (lagi), ‘Siapakah orang ini yang diutus kepadamu?’

Dia sama sekali tidak mendapatkan petunjuk untuk mengenalinya, lalu dikatakan kepadanya ‘Muhammad,’ dia berkata, ‘Ah, ah aku tidak tahu (aku mendengar orang lain mengatakannya!’ Dikatakan kepadanya, ‘engkau tidak tahu’) (dan engkau tidak mengikutinya),” lalu berserulah yang berseru di langit, ‘Hamba-ku pembohong, maka bentangkanlah baginya hamparan dari Neraka, dan bukakanlah baginya satu pintu menuju Neraka.’”

Beliau berkata, “Lalu datanglah panas dan anginnya yang panas dan kubur disempitkan baginya sehingga tulang-tulangnya berantakan. Datanglah kepadanya (di dalam satu riwayat, dengan menjelma menjadi) seseorang dengan paras yang buruk, baju yang jelek dan bau yang busuk, dia berkata, ‘Aku datang kepadamu dengan membawa kabar buruk, ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu.’

Lalu dia berkata, ‘(Semoga Allah memberikan kabar buruk kepadamu), siapakah engkau? Wajahmu membawa keburukan!’ Dia berkata, ‘Aku adalah amalmu yang jelek, (Demi Allah, tidak ada yang aku ketahui darimu, kecuali engkau selalu lamban dalam melakukan ketaatan dan cepat di dalam melakukan kemaksiatan),

(Semoga Allah membalasmu dengan kejelekan.’ Kemudian didatangkan kepadanya seseorang yang buta, tuli dan bisu, di tangannya terdapat sebuah mirzabah (sebuah palu besar yang biasa digunakan oleh tukang besi), jika alat itu dipukulkan ke gunung, niscaya gunung pun akan berubah menjadi tanah.

Lalu dia memukulkannya kepada orang tersebut dan akhirnya berubah menjadi tanah, kemudian Allah mengembalikannya seperti semula, lalu dipukulkannya lagi, dia berteriak sehingga terdengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan baginya pintu Neraka dan dihamparkan baginya hamparan dari Neraka), dia berkata, ‘Ya Rabb-ku janganlah hari Kiamat itu didatangkan!!’”4

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______

Footnote

1  Untuk lebih jelas lagi baca buku saya Nikmat dan Siksa Kubur.
2  Minyak khusus yang dicampur untuk kain kafan mayit dan badannya.
3  Pakaian yang terbuat dari bulu kasar.
4  Ditakhrij oleh guru kami di dalam kitab Ahkaamul Janaa-iz, hal. 159.