Alumni AKABRI 95 Bimacakti Gelar Bakti Almamater di AAL 2

Genap 25 Tahun Pengabdian, Alumni AKABRI 95 Bimacakti Gelar Bakti Almamater di AAL

Headline Jawa Timur Muhasabah

Alumni AKABRI 95 Bimacakti Gelar Bakti Almamater di AALmascipoldotcom, Jum’at, 24 Juli 2020 (03 Dzulhijah 1441 H)

Surabaya – Diusia pengabdian ke-25 tahun, Alumni Akabri tahun 1995 “Bimacakti TNI-Polri” wilayah Surabaya menggelar Bakti Almamater yang digelar di Akademi Angkatan Laut, Kesatrian Bumimoro, Surabaya, Kamis (23/7).

Sebelum acara Bakti Almamater, perwakilan Akabri lulusan Tahun 1995 yang terdiri dari Kolonel Laut (P) Arief Budiman (Danmen AAL), Koloner Laut (E) Umar Winarno, S.T., M.M. (Kadeplek AAL), Kolonel Laut (E) Kasito, S.T. (Kadep Gadik AAL), Kolonel Dwi Prasetyo, Kolonel Mar Budi, Kolonel Sugeng, Letkol Haris (AD), Kolonel Roland Manalu, Kombespol Arnapi dan Kombespol Trunoyudo melakukan courtesy call kepada Gubernur AAL.

Alumni AKABRI 95 Bimacakti Gelar Bakti Almamater di AAL 3Gubernur AAL Laksda TNI Edi Sucipto, S.E.,M.M. menerima perwakilan Akabri 1995 ini di Loby Gedung Mako R. Soebijakto. Kehadiran lulusan AKabri 95 di AAL ini juga tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19, bahkan sebelum kegiatan melaksanakan rapid test terlebih dahulu di Satkes AAL.

Usai CC Gubernur AAL, dilanjutkan dengan Bakti Bimacakti yang digelar di Ruang Makan Hadi Winarso AAL yang dihadiri Gubernur AAL, Wagub AAL Brigjen TNI Endi Supardi, S.E, para Pejabat Utama AAL dan seluruh Taruna Tingkat lll, ll dan l.

Alumni AKABRI 95 Bimacakti Gelar Bakti Almamater di AAL 1Dalam kesemptan tersebut, lulusan Akabri 95 ini menyerahkan bantuan berupa Rak Tas dan topi untuk menunjang perkuliahan Taruna dan paket sembako kepada para pekerja harian lepas yang ada di AAL.

Menurut Gubernur, Moro Emas merupakan nama Alumnus 95 di AAL Angkatan ke-41, sedangkan untuk Alumnus Akabri atau gabungan Darat, Laut, Udara dan Kepolisian diberi nama Bima Cakti.

Gubernur menggambarkan tentang nama Alumnus Abituren 1995 yang disebut dengan Bima Cakti mempunyai arti Galaxy yang besar yang mana ada ribu bintang diantara galaxy itu. Ia berharap untuk Alumnus ini bisa sukses dan menjadi besar sesuai dengan namanya.

Gubernur juga mengucapkan terimakasih atas perhatian kepada AAL. Karena sudah menyerahkan Bakti Almamater berupa rak penyimpanan tas dan topi yg digunakan taruna saat akan melaksanakan makan di ruang makan.

Gubernur berpesan untuk menjaga soliditas dengan melihat keberagaman Masyarakat Indonesia TNI dan Polri harus menjadi Leading sektornya. Maka dari itu, sebagai generasi penerus harus menjaga itu dengan sungguh sungguh terutama keutuhan NKRI dan landasan Pancasila.(Ezl)

———–

Renungan

NIKMAT YANG LEBIH BAIK MENURUT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DARIPADA NIKMAT HARTA

Di dalam kehidupan dunia, seorang Muslim tidak pernah lepas dari rahmat Allâh Azza wa Jalla yang luas, dalam bentuk kucuran nikmat-nikmat-Nya yang tiada putus. Anugerah dan nikmat Ilahi yang diperolehnya pun amat beragam: nikmat kesehatan, keselamatan, rezki dan nikmat-nikmat dunia lainnya. Maka, dalam hal ini, orang kaya dan orang miskin sama-sama merasakan nikmat dari Rabb mereka.

Karunia dan kenikmatan berharga yang membuat hati riang-gembira biasa dipahami manusia dalam bentuk kenikmatan duniawi yang melimpah dan karunia yang banyak, seperti gaji yang meningkat, bonus kendaraan, lahirnya buah hati yang dinanti-nanti, kesembuhan dari penyakit setelah sekian lama menerpa tubuh dan lain-lainnya.

Rasûlullâh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pandangan lain tentang nikmat yang berharga dan lebih utama yang sepatutnya diteladani oleh umat Islam. Nikmat yang dimaksud tertuang dalam hadits mulia berikut ini.

Anas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ بِنِعْمَةٍ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ إِلَّا كَانَ مَا أَعْطَى أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ

Tidaklah Allâh menganugerahkan kenikmatan apapun pada seorang hamba, lalu ia mengucapkan alhamdullillâh, kecuali apa yang Dia berikan (kepadanya berupa membaca alhamdullillâh) lebih utama daripada apa yang ia terima [HR. Ibnu Mâjah no.380. Syaikh al-Albâni menilai sebagai hadits berderajat hasan].

Dalam hadits ini, alhamdullillâh (pujian kepada Allâh) merupakan nikmat Allâh Azza wa Jalla yang paling agung yang tercurahkan kepada hamba-hamba-Nya, lebih agung daripada nikmat lain yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada mereka seperti rezki, keselamatan, kesehatan ataupun hidup dalam mewah di dunia ini.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah telah menguraikan makna hadits di atas yang mungkin membekaskan kebingungan pada benak seseorang dengan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dengan penjelasan yang jelas lagi gamblang dengan mengatakan, “Yang dimaksud dengan nikmat (yang disebutkan pertama dalam teks hadits) adalah nikmat-nikmat duniawi, seperti keselamatan, sehat, terhindar dari marabahaya dan lain sebagainya. Sementara ucapan alhamdullillâh adalah nikmat agama. Keduanya merupakan nikmat dari Allâh Azza wa Jalla.

Akan tetapi, nikmat Allâh kepada hamba-Nya berupa hidayah kepadanya untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dengan membaca alhamdullillâh lebih utama daripada nikmat-nikmat duniawi yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-Nya. Nikmat-nikmat duniawi bila tidak dibarengi dengan syukur akan menjadi sumber petaka. Sebagaimana dikatakan oleh Abu Hâzim rahimahullah, “Setiap nikmat tidak mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla, maka akan menjadi sumber petaka”. Maka, bila Allâhkmemberi taufik seorang hamba untuk mensyukuri nikmat-nikmat duniawi dengan membaca memuji-Nya (membaca alhamdullillâh) atau bentuk-bentuk syukur lainnya, maka nikmat (mensyukuri) iniakan menjadi lebih baik dari nikmat-nikmat tersebut dan lebih dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla daripada nikmat-nikmat (duniawi) itu.”. [1]

Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Haatim dalam tafsirnya bahwa sebagian pegawai Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah pernah mengirim surat kepadanya yang isinya, “Sesungguhnya saya berada di daerah nikmat-nikmat (Allâh Azza wa Jalla ) sangat melimpah di sana. Dan aku kuatir warganya tidak mampu mensyukurinya”. Lalu ‘Umar bin ‘Aziz rahimahullah mengirim balasan surat itu dengan menulis, “Sesungguhnya sebelumnya aku memandangmu lebih mendalam dalam mengenal Allâh daripada kondisimu sekarang. Sesungguhnya tidaklah Allah menganugerahi seorang hamba dengan nikmat apapun, lalu ia memuji Allah atas nikmat itu, kecuali pujiannya kepada Allâh tersebut lebih utama dari nikmat-Nya (yang ia terima)”.

Dengan ini, menjadi jelas maksud hadits di atas, bahwa seorang hamba yang dikarunia taufik untuk bersyukur dengan membaca alhamdulillâh, dan alhamdulillâh itu sendiri juga anugerah dari Allâh Azza wa Jalla, seandainya tidak ada taufik Allâh Azza wa Jalla dan bantuan dari-Nya, maka hamba tersebut tidak akan mampu untuk memuji-Nya. Nikmat Allâh Azza wa Jalla kepada seorang hamba dengan memberinya taufik untuk memuji Allâh Azza wa Jalla lebih utama daripada nikmat Allâh Azza wa Jalla kepadanya berupa kesehatan, keselamatan, harta-benda dan lain-lain. Dan semuanya merupakan nikmat dari Allâh Azza wa Jalla .

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nikmat bersyukur lebih agung daripada nikmat harta, kedudukan, anak, istri dan lainnya”. [2]

Inilah ulasan ringkas tentang nikmat besar dan utama yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat Islam tentang dahsyatnya nikmat mengucapkanalhamdulillâh usai seseorang memperoleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dari Allâh Azza wa Jalla .

Ya Allâh, bagi-Mu pujian sampai Engkau ridha, dan bagi-Mu pujian wahai Rabb kami, ketika Engkau ridha.

Wallâhu a’lam.

(Diadaptasi dari Fiqhul Ad’iyati wal Adzkâr Prof. Dr. Abdur Razzâq bin ‘Abdul Muhsin al-‘Abbâd 1/256-2580).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] Jâmi al-‘Ulûmi wal Hikam 2/82-82.

[2] ‘Iddatush Shâbirîn hlm. 169.