IMG 20200820 WA0174

Gedung Flat B-1 Lantai 4 Satkat Koarmada II dilalap si Jago Merah

Headline Jawa Timur Muhasabah

IMG 20200820 WA0175mascipoldotcom, Kamis, 10 Agustus 2020 (01 Muharam 1442 H)

Surabaya – Kejadian ini diketahui setelah Ketua RT Flat B-1 melaporkan kepada penjagaan Satkat Koarmada II untuk meminta bantuan mobil Damkar dan tim kesehatan. Rabu (19/02/2020).

Laporan tersebut diteruskan ke divisi jaga Denma untuk meminta bantuan mobil pemadam dan tim kesehatan guna melaksanakan pemadaman dan pertolongan korban di Flat B-1. Dengan sigap Dua Mobil Damkar Denma dan ambulans bergerak menuju Lokasi Flat B-1 untuk pemadaman api, namun api yang begitu besar dan asap yang membumbung tinggi belum mampu ditaklukan dengan dua mobil damkar tersebut, sehingga Tim Damkar Denma berkoordinasi dengan Damkar Lantamal V untuk membantu penanggulangan kebakaran.

Kurang dari satu jam, empat mobil damkar Denma Koarmada II dan Lantamal V berhasil memadamkan kebakaran di lantai 4 menggunakan peralatan pemadam dan pipa hidrant yang ada di Flat. Bersamaan dengan kegiatan tersebut, Tim Dinas Kesehatan Koarmada II bergerak ke lokasi untuk mengevakuasi korban akibat luka bakar.

“Kejadian tersebut merupakan simulasi yang dilakukan oleh gabungan Prajurit Satkat, Denma, Diskes, Dempom, Denintel Koarmada II bersama dengan Lantamal V untuk melatih prajurit, akan perlunya kesigapan dari tiap-tiap satuan terkait, antara tim Pemadam Kebakaran, Tim Kesehatan dan Personil Polisi Militer dalam penanggulangan kebakaran, baik dilingkungan Koarmada II maupun untuk membantu pemerintah provinsi, ” ungkap Komandan Satuan Kapal Cepat Kolonel Laut (P) Haryo Purnomo sebagai penanggung jawab latihan .

Sementara itu Kepala Staf Koarmada II, Laksma TNI Teguh Isgunanto yang meninjau langsung latihan tersebut, menghimbau “Dengan diadakannya latihan ini, para prajurit diharapkan selalu siap dan sigap apabila dibutuhkan untuk menangani bahaya kebakaran. Terutama pada situasi pandemi saat ini yang masih belum turun tingkat eskalasinya, ditambah dengan musim kemarau, maka tingkat suhu udara cenderung meningkat dan hal tersebut dapat dengan mudah menimbulkan terjadinya bahaya kebakaran, ” pungkas Kasarmada II.(Ezl/Sumber : Hdx/Pen2)

————-

Renungan

Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Bertakbir Untuk Memadamkan Kebakaran

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA

رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا رَأَيْتُمُ الحَرِيْقَ فَكَبِّرُوْا، فَإِنَّ التَّكْبِيْرَ يُطْفِئُهُ

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Âsh Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Kalian melihat kebakaran maka bertakbirlah (ucapkanlah: ‘Allahu Akbar’/ Allâh Maha Besar), karena sesungguhnya takbir akan memadamkannya.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani, Ibnu as-Sunni dan al-‘Uqaili[1] dengan sanad mereka semua dari al-Qâsim bin ‘Abdullah bin ‘Umar al-‘Umari, dari ‘Abdurrahman bin al-Hârits, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Âsh Radhiyallahu anhu  dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Hadits ini sangat lemah atau bahkan palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama al-Qâsim bin ‘Abdillah bin ‘Umar al-‘Umari.

Imam Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Dia ditinggalkan (riwayatnya karena kelemahannya yang sangat parah), (bahkan) Imam Ahmad menuduhnya berdusta.”[2]

Hadits ini juga diriwayatkankan dari jalur lain dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Âsh Radhiyallahu anhu yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil fi adh-Dhu’afâ’, (4/151), dari jalur Muhammad bin Mu’âwiyah an-Naisaburi, dari ‘Abdullah bin Lahi’ah, dari ‘Amr bin Syu’aib, seperti sanad di atas.

Tapi riwayat ini adalah riwayat yang salah dari ‘Abdullah bin Lahi’ah karena buruk dan tercampurnya hafalannya[3]. Yang benar jalur ini diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Lahi’ah dari Ziyâd bin Yûnus al-Hadhrami, dari rawi di atas, yaitu al-Qâsim bin ‘Abdillah bin ‘Umar al-‘Umari, sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Sa’îd bin Abi Maryam dan Yahya bin Ma’în.[4]

Maka jalur inipun sanadnya sangat lemah karena rawi tersebut di atas.

Ada juga jalur lain dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Âsh Radhiyallahu anhu , dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani.[5] Tapi jalur ini juga sangat lemah karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin ‘Umar al-‘Umari. Imam Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Dia ditinggalkan (riwayatnya karena kelemahannya yang sangat parah).”[6]

Hadits yang semakna juga diriwayatkan dari beberapa Shahabat lain Radhiyallahu anhum ; ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma , ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma , al-Husein bin ‘Ali Radhiyallahu anhuma  dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .

Hadits riwayat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma dikeluarkan oleh Imam Hamzah as-Sahmi dalam Târîkh Jurjan, hlm. 414. Hadits ini juga sangat lemah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abdurrahman bin ‘Abdillah bin ‘Umar.

Imam Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Dia ditinggalkan (riwayatnya karena kelemahannya yang sangat parah)”[7]. Demikian pula tentang ayahnya, Ibnu Hajar t berkata, “Dia lemah (riwayatnya).”[8]

Hadits riwayat ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma dikeluarkan oleh Imam Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil fi Dhu’afâ ar-Rijâl (5/112). Hadits ini juga sangat lemah atau bahkan palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Amr bin Jumai’. Imam Yahya bin Mâ’in mendustakannya, dan Imam Ibnu ‘Adi berkata, “Dia tertuduh memalsukan hadits-hadits.”[9]

Hadits ini diisyaratkan kelemahannya yang fatal oleh Imam Ibnu ‘Adi dalam al-Kâmil fi Dhu’afâ ar-Rijâl (5/112).

Hadits riwayat al-Husein bin ‘Ali Radhiyallahu anhuma dikeluarkan oleh Imam ad-Daulabi dalam al-Kuna wal Asmâ’ (6/104). Hadits ini juga lemah atau bahkan sangat lemah, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Yahya bin Katsir Shahibul Bashri. Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentangnya, “Dia lemah (riwayatnya)

[10] Bahkan beberapa Ulama Ahli hadits lainnya menyatakan kelemahannya yang parah, seperti Imam Abu Hâtim ar-Râzi, al-Fallas, al-‘Uqaili, Ibnu Hibbân dan as-Saji.[11]

Hadits riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani dalam kitab al-Mu’jamul Ausath, (8/258) dan kitab ad-Du’â’, hlmn 307.

Hadits ini juga lemah karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Muhammad bin ‘Ajlân, yang hafalannya tercampur dalam meriwayatkan hadits-hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu .[12] Dalam sanadnya juga ada beberapa rawi yang tidak dikenal oleh para Ulama Ahli hadits, sehingga dengan sebab ini Imam al-Haitsami rahimahullah dan Syaikh al-Albâni rahimahullah mengisyaratkan kelemahan hadits Abu Hurairah Radhiuyallahu anhu ini[13].

KESIMPULAN

Hadits ini adalah hadits yang sangat lemah dan semua riwayat yang semakna dengannya ada yang lemah, sangat lemah dan bahkan palsu.

Syaikh al-Albani rahimahullah menghukumi hadits ini sebagai hadits yang lemah dan menjelaskan kelemahan beberapa riwayat yang kami sebutkan di atas.[14]

Oleh karena itu, tidak disyariatkan untuk mengamalkan kandungan hadits ini, yaitu mengucapkan takbir ketika terjadi kebakaran, dengan tujuan untuk memadamkannya. Karena dalam Islam, kita hanya disyariatkan untuk mengamalkan dzikir yang benar penisbatannya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

________

Footnote

[1] Kitab ad-Du’â’, hlm. 307, ’Amalul yaumi wal lailah, (2/59), dan adh-Dhu’afâ’ al-Kabîr, (2/295)

[2] Kitab Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 450

[3] Lihat kitab Taqrîbut Tahdzîb (hlmn 319) dan Silsilatul Ahâdîts adh-Dha’îfah wal Maudhû’ah, (6/111)

[4] Lihat kitab adh-Dhu’afâ’ al-Kabîr, (2/295) dan Târîkh Ibni Ma’in Riwayah ad-Duri (4/482).

[5] Kitab ad-Du’â’, hlm. 307

[6] Kitab Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 344

[7] KItab Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 344

[8] KItab Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 314

[9] Lihat kitab Lisânul Mîzân (4/358).

[10] KItab Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 3595

[11] Lihat kitab Tahdzîbut Tahdzîb, (11/234).

[12] Lihat kitab Tahdzîbut Tahdzîb (9/304) dan Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 496

[13] Lihat kitab Majma’uz Zawâ-id (10/200) dan adh-Dha’îfah (6/112)

[14] Dalam kitab Silsilatul Ahâdîts adh-Dha’îfah wal Maudhû’ah (6/110-113, no. 2603)