Teknologi Command Centre Kejaksaan Agung 1

Efektifkan Kinerja Korps Adhyaksa, Sebanyak 34 Kejati Dengan 487 Kejari Pakai Teknologi Command Centre Kejaksaan Agung

Headline Muhasabah

Teknologi Command Centre Kejaksaan Agung 2mascipoldotcom, Selasa, 21 Juli 2020 (30 Dzulqoidah 1441 H)

Sebanyak 34 Kejaksaan Tinggi (Kejati) dengan 487 Kejaksaan Negeri (Kejari) di Seluruh Indonesia mempergunakan teknologi informasi yang sudah diadakan lewat Command Centre Kejaksaan Agung Bersama Badan Pendidikan Dan Pelatihan Kejaksaan Republik Indonesia (Badiklat Kejaksaan RI).

Hal itu ditegaskan Jaksa Agung Republik Indonesia Dr Sanitiar Burhanuddin saat menggelar acara peresmian Command Centre Kejaksaan Agung dan Badan Pendidikan dan Latihan Kejaksaan RI, di Gedung Utama Kejaksaan Agung, Blok M, Jakarta Selatan, pada Selasa pagi (21/07/2020).

Acara peresmian Command Centre Kejaksaan Agung dan Badn Pendidikan dan Latihan Kejaksaan RI dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB. Jaksa Agung Republik Indonesia Dr ST Burhanuddin, dengan didampingi Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia Dr Setia Untung Arimuladi, para Jaksa Agung Muda (JAM) di Kejaksaan Agung, serta Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Kejaksaan Republik Indonesia (Kabandiklat) Tony Tribagus Spontana, bersama beberapa Pejabat Eselon II.

Teknologi Command Centre Kejaksaan Agung 3Dalam sambutannya, Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia Dr Setia Untung Arimuladi, sebagai Ketua Komite Teknologi Informasi dan Komunikasi Kejaksaan Republik Indonesia menyampaikan, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang merupakan salah satu misi pembangunan nasional sesuai dengan Undang Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJM) Nasional 2005-2025 yang mengharuskan Kementerian/Lembaga membangun dan mengembangkan teknologi informasi untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif dan akuntabel serta pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya berbasis elektronik.

Maka, Kejaksaan Republik Indonesia sebagai salah satu institusi pemerintah yang memiliki satuan kerja sebanyak 34 Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan 487 Kejaksaan Negeri (Kejari), juga menghadapi pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Teknologi Command Centre Kejaksaan Agung“Untuk lebih efektif dan efesien dalam bekerja, memerlukan sarana dan prasarana teknologi informasi sebagaimana dimaksud dalam SPBE. Oleh karena itu, Command Centre ini kemudian dibangun dan diopersionalkan guna mendukung program kerja yang sudah ditetapkan,” tutur Setia Untung Arimuladi.

Mantan Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Kejaksaan Republik Indonesia (Kabandiklat Kejaksaan RI) ini mengatakan, Command Centre dibangun sebagai sarana untuk mengumpulkan dan memproses informasi yang dibutuhkan secara cepat dan efektif.

Dengan manfaat antara lain, pertama, agar Pimpinan Kejaksaan dapat memberikan instruksi atau arahan kepada Satuan Kerja di daerah.

Kedua, agar Unit Satuan Kerja dapat menyampaikan informasi dan pelaporan kepada pimpinan secara cepat dan akurat.

Tiga, agar pimpinan dapat melakukan pemantauan atau pengawasan kepada Unit Satuan Kerja di daerah.

Selain memperkenalkan 2 Command Centre, Setia Untung Arimuladi juga memperkenalkan sistem aplikasi digital lainnya, yang telah dibuat di lingkungan Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Yakni, Digital library, Dashpimp Case Management System(CMS), E- Anggaran, Profile Pegawai, Dashpimp Pegawai, E-PNBP, Jaringan Dokumen dan Informmasi Hukum (JDIH), Arssys, E-Piutang, E-Survey, dan E-Badiklat.

Teknologi Command Centre Kejaksaan Agung 3Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kajati Jabar) ini menambahkan, aparatur negara di Kejaksaan Republik Indonesia membutuhkan kesiapan dan kemampuan mempergunakan kemajuan teknologi informasi untuk menjalankan tugas dan fungsinya.

“Kesiapan aparatur negara di lingkungan Kejaksaan RI dalam menghadapi perkembangan kemajuan teknologi informasi, diperlukan untuk mengantisipasi proses globalisasi. Sehingga institusi Kejaksaan RI mampu bersaing dalam melakukan perubahan pada sistem dan mekanisme pelaksanaan program kerja Kejaksaan Republik Indonesia,” terang Setia Untung Arimuladi.

Pada acara peresmian Command Center ini, Jaksa Agung Republik Indonesia Dr ST Burhanuddin menyampaikan, kemampuan yang dibangun oleh Kejaksaan Agung dan Badiklat Kejaksaan RI ini patut disyukuri.

“Kita patut bersyukur atas dibangunnya Command Center Kejaksaan RI. Karena ini semua memiliki arti yang begitu penting dan strategis. Sebagai ikhtiar untuk membangun tempat penyedia kendali, koordinasi, dan pembuatan keputusan melalui sarana media teknologi informasi,” jelas ST Burhanuddin.

Dengan adanya 2 sarana Command Center, lanjut mantan Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) ini, Kejaksaan alah lebih mudah mengendalikan dan memantau aktivitas yang ada.

“Serta pengambilan keputusan secara efisien dan efektif, kapanpun dan dimanapun, tanpa dibatasi jarak dan waktu,” ucap Burhanuddin.

Burhanuddin juga menyampaikan, dalam waktu dekat juga, Kejaksaan akan meluncurkan sejumlah aplikasi berbasis tekonologi informasi lainnya. Seperti, Aplikasi e-PNBP, CMS Angka Kredit, e-Kinerja, e-library, dan Aplikasi Sistem Persuratan Digital (Sipede).

Burhanuddin melanjutkan, digitalisasi birokrasi merupakan salah satu fondasi teramat penting bagi terciptanya transparansi dan akuntabilitas kinerja, terutama dalam menghadirkan percepatan pelayanan publik.

“Apresiasi dan penghargaan sudah tentu kita harus sampaikan kepada para pihak yang telah menginisiasi pembangunan sarana dan aplikasi ini. Kita yakin dan optimis pemanfaatan teknologi melalui sarana Command Center Kejaksaan RI dan aplikasi lainnya akan menjadi sarana progresif yang dibutuhkan untuk menunjang optimalisasi pelaksanaan fungsi dan tugas yang dilakukan oleh jajaran Kejaksaan Republik Indonesia,” tandas Jaksa Agung ST Burhanuddin.

Sebelum mengakhiri sambutannya, Jaksa Agung RI ST Burhanuddin berpesan agar keberadaan sarana ini dapat dijaga, dimanfaatkan, serta dikembangkan dengan baik dan semaksimal mungkin.

“Dengan mengucapkan Bismillaahirrahmaanirrahiim Command Center Kejaksaan Agung dan Command Center Badiklat RI, serta Aplikasi e-PNBP, CMS Angka Kredit, e-Kinerja, e-library, dan Aplikasi Sipede dengan ini saya nyatakan diresmikan penggunaannya,” tutup Burhanuddin.*

———-

Renungan

PERJALANAN MENUJU MADINAH DAN KISAH SURAQAH

Setelah berdiam diri di gua Tsûr selama tiga hari, penunjuk jalan yang disewa Abu Bakar Radhiyallahu anhu datang menyusul mereka sembari membawa dua tunggangan yang telah dipersiapkan Abu Bakar Radhiyallahu anhu. Bersama mereka, ikut juga seorang budak milik Abu Bakar yang bernama Amir bin Fuhairah. Kemudian, empat orang ini memulai perjalanan menuju Madinah melalui daerah pinggiran.[1]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan dengan tenang, dan lisannya tidak berhenti berdzikir menyebut asma Allah Azza wa Jalla seraya terus berdoa. Lain halnya dengan Abu Bakar Radhiyallahu anhu, ia seolah selalu gelisah, sering menolehkan kepalanya, karena rasa khawatir dan sangat menginginkan keselamatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam [2].

Saat tiba waktu untuk istirahat siang pada hari itu dan suasana jalan sepi, Allah Azza wa Jalla meninggikan sebuah dataran sehingga memiliki bayangan. Mereka singgah di balik dataran tinggi ini. Abu Bakar Radhiyallahu anhumeratakan tanah dengan tangannya dan menggelar alas sebagai tempat istirahat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia pun mempersilahkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di tempat yang telah dipersiapkan itu. Kemudian Abu Bakar Radhiyallahu anhukeluar melihat-lihat keadaan.

Pada saat hampir bersamaan, ada seorang penggembala menuju tempat mereka tersebut dengan tujuan yang sama untuk berteduh. Abu Bakar Radhiyallahu anhumenanyai orang ini, sehingga ia tahu bahwa penggembala ini penduduk Makkah. Sang penggembala mengidzinkan mereka mengambil susu salah seekor dari kambing gembalaannya, kemudian mereka melanjutkan perjalanan.[3]

Selama dalam perjalanan, Abu Bakar Radhiyallahu anhusenantiasa bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas tunggangannya. Apabila ada yang bertanya tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu menjawab:

هَذَا الرَّجُلُ يَهْدِينِي السَّبِيلَ قَالَ فَيَحْسِبُ الْحَاسِبُ أَنَّهُ إِنَّمَا يَعْنِي الطَّرِيقَ وَإِنَّمَا يَعْنِي سَبِيلَ الْخَيْرِ

“Orang ini menunjukkan jalan untukku”. Anas bin Malik (sahabat yang meriwayatkan hadits ini) berkata: “Sehingga si penanya mengira yang dimaksudkan adalah pemandu perjalanan, padahal yang diinginkan oleh Abu Bakar adalah jalan kebaikan”.[4]

Pada waktu lainnya, Abu Bakar Radhiyallahu anhumenoleh ke arah belakang, tiba-tiba terlihat ada seseorang tengah berusaha menyusul mereka. Ternyata, ia adalah Surâqah bin Mâlik, salah seorang yang ingin memenangkan sayembara dan ingin mendapatkan hadiah yang disediakan oleh orang-orang kafir Quraisy bagi siapa saja yang berhasil menemukannya dan berhasil membawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke Makkah.

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dari Surâqah bin Mâlik, saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta rombongan melintasi pemukiman Bani Mudlaj, salah seorang penduduk pemukiman ini melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rombongannya. Kemudian orang ini bergegas mendatangi kaumnya yang sedang berkumpul, di antara mereka adalah Surâqah.

Orang yang melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini berkata: “Wahai Surâqah, aku tadi melihat beberapa orang di pinggiran, mungkin itu Muhammad n dan para sahabatnya”. Surâqah menceritakan dirinya setelah mendengar berita ini: “Saya yakin, orang-orang itu adalah mereka (namun) saya mengatakan kepada yang membawa berita ‘mereka itu bukan Muhammad dan para sahabatnya, tapi mereka adalah si anu dan anu yang baru saja melintas di hadapan kami”.

Inilah siasat Surâqah supaya berhasil memenangkan sayembara dan mendapatkan hadiah. Dia pun tetap di tempat duduknya beberapa saat. Kemudian ia bangkit dan masuk rumah. Dia menyuruh budaknya agar mengeluarkan kudanya dari belakang. Sejuruh kemudian dia pun mempersenjatai diri dan keluar menghampiri kudanya yang telah dipersiapkan oleh budaknya di tempat yang tersembunyi.

Dipaculah kudanya memburu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rombongannya. Begitu berhasil mengejar orang yang diinginkan dan kudanya semakin mendekati rombongan tersebut, tiba-tiba kuda tunggangannya terjerembab, dan ia pun terlempar dari punggung kuda.

Surâqah kemudian mengambil beberapa mata tombak untuk mengundi keputusannya. Ini merupakan kebiasaan kaum jahiliyah sebelum melaksanakan sesuatu. Dia melakukan undian untuk mengetahui, apakah perburuan itu tetap diteruskan ataukah tidak?

Ternyata, hasil undian tidak sesuai yang diinginkan oleh nafsunya. Maka, ia pun mengingkari undian yang dilakukannya sendiri. Diraihlah kudanya dan memacunya lagi memburu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rombongannya yang sudah berada di depan mata.

Ketika berhasil mencapai tempat yang memungkinnya untuk mendengar doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kedua kaki kudanya tertancap ke dalam tanah sampai sebatas lututnya. Diapun turun dan menghardik kudanya, sehingga kuda itu bangkit kembali. Saat kudanya mencabut kakinya yang tertanam, memancarlah cahaya dari bekas kaki kuda itu.

Dengan peristiwa ini, Surâqah merasa yakin jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlindungi dan akan mendapatkan kemenangan. Dia pun akhirnya memanggil mereka dan berjanji tidak akan mengganggunya lagi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rombongan berhenti. Surâqah menghampiri dan menceritakan kejadian yang dialaminya kepada mereka. Surâqah bercerita:

وَوَقَعَ فِي نَفْسِي حِينَ لَقِيتُ مَا لَقِيتُ مِنْ الْحَبْسِ عَنْهُمْ أَنْ سَيَظْهَرُ أَمْرُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ قَوْمَكَ قَدْ جَعَلُوا فِيكَ الدِّيَةَ وَأَخْبَرْتُهُمْ أَخْبَارَ مَا يُرِيدُ النَّاسُ بِهِمْ وَعَرَضْتُ عَلَيْهِمْ الزَّادَ وَالْمَتَاعَ فَلَمْ يَرْزَآنِي وَلَمْ يَسْأَلَانِي إِلَّا أَنْ قَالَ أَخْفِ عَنَّا

Setelah kejadian apa yang aku alami, yaitu tidak berhasil menyentuh mereka, terbetik dalam hatiku bahwa perkara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini akan menang. Aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kaummu telah menjanjikan tebusan untuk dirimu”. Aku juga memberitahukan tentang keinginan banyak orang berkaitan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rombongannya. Aku menawarkan bekal dan barang-barang, namun keduanya (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu) tidak menanggapi tawaranku, dan juga tidak menanyaiku. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya berseru: “Rahasiakan tentang kami”. [HR Imam Bukhâri]

Lalu Surâqah meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar membuatkan untuknya surat jaminan keamanan, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi permintaannya. Disuruhlah Amir bin Fuhairah menuliskannya di atas sepotong kulit.

Setelah perjumpaannya dengan Surâqah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali melanjutkan perjalanan hijrahnya. Selama dalam perjalananan ini banyak mengalami kejadian luar biasa yang membuktikan kebenaran kenabian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Imam Bukhâri rahimahullah juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Bakar Radhiyallahu anhu, ia Radhiyallahu anhu berkata: “Kami berangkat menuju Madinah, sementara banyak orang yang mencari kami. Tidak ada seorangpun yang berhasil menemukan kami kecuali Surâqah bin Mâlik bin Ju’syum yang menyusul dengan kudanya. Aku berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ‘Orang ini berhasil menemukan kita, wahai Rasulullah!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyahut: ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla bersama kita’.”

Imam Bukhâri rahimahullah juga meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu yang menjelaskan sebagian peristiwa ini. Setelah Surâqah gagal dengan apa yang menjadi keinginannya, ia berkata :

يَا نَبِيَّ اللَّهِ مُرْنِي بِمَا شِئْتَ قَالَ فَقِفْ مَكَانَكَ لَا تَتْرُكَنَّ أَحَدًا يَلْحَقُ بِنَا قَالَ فَكَانَ أَوَّلَ النَّهَارِ جَاهِدًا عَلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ آخِرَ النَّهَارِ مَسْلَحَةً لَهُ

“Wahai Nabiyullah, perintahkan aku semaumu!” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tetaplah kamu di tempatmu. Jangan engkau biarkan satu orangpun menyusul kami”.
Anas berkata: “Sehingga Surâqah menjadi orang yang memerangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat pagi hari dan (pada) sore harinya menjadi senjata yang melindunginya”.

Adapun surat jaminan keamanan yang diminta Surâqah tetap dipeliharanya sampai ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sembari membawa surat itu. Setelah perang Hunain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memenuhi janjinya kepada Surâqah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hari ini, adalah hari menepati janji dan hari berbuat baik,” dan pada hari itu juga, Surâqah menyatakan keislamannya.[5]

Apa Yang Bisa Dipetik Dari Kisah Di Atas?

Semua mukjizat yang diperlihatkan Allah Azza wa Jalla dalam perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Madinah, sebagaimana juga mukjizat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain merupakan wujud untuk memuliakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mukjizat ini juga menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla senantiasa menolongnya, dan menjadikan agamanya mendapatkan kemenangan. (Ustadz Ahmad Nusadi).

Diringkas dari kitab as-Sîratun-Nabawiyah fi Dhau`il Mashâdiril-Ashliyyah, halaman 277-281.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Shahîh al Bukhâri, 15/97, no. 3905. Ibnu Hisyâm menyebutkan riwayat mengenai tempat-tempat yang dilalui Rasulullah n dalam perjalanan ini, namun tanpa sanad.
[2]. Shahîh al-Bukhâri, 15/95, no. 3906.
[3]. Shahîh al-Bukhâri, 15/113,114, no. 3917 dan 3918.
[4]. Shahîh al-Bukhâri, no. 3911.
[5]. Ibnu Ishaq dengan sanad yang hasan. Perawinya adalah para perawi hadits-hadits shahih. Lihat Ibnu Hisyâm, 2/154.