IMG 20210416 WA0002

Ditpolairud Polda Banten, Serahkan 20 Ekor Kambing Untuk Ketahanan Pangan Masyarakat Pulau Sanghiang Anyer

Headline Banten Muhasabah

mascipoldotcom – Jum’at, 16 April 2021 (04 Ramadhan 1442 H)

Serang, Banten – DirPolairud Polda Banten Kombes Pol Rustam Mansur S.I.K., memimpin langsung kegiatan penyerahan hewan ternak sebanyak 20 ekor Kambing yang didampingi WadirPolairud Akbp Abdul Majid SH.,MH., hewan ternak tersebut untuk ketahanan pangan di pulau sanghiang ayer kabupaten serang.”kamis 15/04/2021

Ditpolairud Polda Banten terus melakukan kegiatan gerakan ketahanan pangan demi menjaga ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi nasional serta perekonomian rakyat kecil, khususnya Petani, Peternak, Perikanan.”di tengah situasi pandemi COVID-19.

“Sesuai arahan Bapak Presiden dan Bapak Kapolri, dampak COVID-19 tidak hanya kesehatan saja tetapi, dampak ekonomi juga dirasakan masyarakat,” kata Rustam.

Kombes Pol Rustam Mansur.” mengatakan Polairud polda banten memanfaatkan lokasi-lokasi yang bisa digunakan untuk ketahanan pangan guna memberi kesejahteraan kepada masyarakat banten.

Selain itu, Polairud Polda Banten langkah ini sebagai upaya mendukung program pemerintah untuk pemulihan ekonomi nasional. Makanya, kegiatan ketahanan pangan melibatkan pemerintah, petani, dunia usaha, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan partisipasi masyarakat.”jelas DirPolairud Kombes Pol Rustam Mansur S.I.K

Di tempat yang sama WadirPolairud Polda Banten Akbp Abdul Majid SH.,MH.,Kabupaten Serang, Provinsi Banten sangat memungkinkan untuk melakukan pembudidayaan ternak dalam rangka membangun ketahanan pangan. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa berkontribusi kepada masyarakat khususnya banten,” ujarnya.

Namun, Kami berharap, program ketahanan pangan ini tidak hanya dilakukan selama masa pandemi COVID-19. Akan tetapi, harus terus berlanjut demi mewujudkan ketahanan pangan masyarakat banten.

WadirPolairud Akbp Abdul Majid.,SH.,MH.,Harapannya Indonesia ini betul-betul tangguh dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada,daratan dan laut ini kalau diberdayakan dengan optimal, sinergitas TNI, Polri semua pihak tentu kita bisa mewujudkan apa yang kita harapkan,” tutur Abdul Majid.

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Kades Pulau Sanghiang, TNI Angkatan Laut, Beserta Elemen Masyarakat Penerima bantuan secara simbolis guna kebutuhan bahan ketahanan pangan dikhususkan untuk petani, peternak dan nelayan yang terkena dampak ekonomi di masa pandemi COVID-19.tutup wadirPolairud Polda Banten Akbp Abdul Majid. (Creator AnalisNews HendraJaya)

https://youtu.be/vlmOVBnEVRU/AnalisNews

_________

Renungan

KEAJAIBAN DOA IBU

Ketika saya sedang duduk di ruang kerja di kantor Islamic Center di Jeddah, Saudi Arabia di penghujung bulan Dzulhijjah 1429 H atau di akhir bulan Desember 2008 M, masuklah seorang anak remaja dengan mengenakan gamis, kopiah dan sorban merah sambil mengucapkan salam.

Setelah saya berkenalan dengannya ternyata dia adalah keponakan salah seorang pengurus dan relawan di kantor Islamic Center yaitu ustadz Muhammad Ash Shubhi yang datang ke kantor tiap hari Jumat untuk memberikan ceramah kepada para mualaf yang berasal dari Philpina. Nama anak tersebut Muadz Ash Shubhi berumur 17 tahun dan masih duduk di kelas 2 SMA.

Tampak dari anak tersebut wibawa dan penuh kedewasaan, saya tinggalkan pekerjaan saya dan duduk menemani Muadz untuk mengenal dia lebih jauh lagi. Ternyata dia telah selesai menghapal Al Quran 30 Juz, dan sekarang dia rajin mengulang hapalannya agar tidak lupa dan hilang. Ia terkadang mengimami shalat berjamaah di Masjid dekat rumahnya jika imam terlambat atau berhalanagan hadir. Dia juga aktif berperan sebagai muadzin di masjid tersebut sejak umur 14 tahun. Hanya saja terakhir ini pengurus masjid menggantikannya dengan muadzin dari orang dewasa dengan alasan dia masih anak-anak dan menjanjikan kepadanya jika telah selesai sekolah maka dia bisa menjadi muadzin lagi.

Saya memberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara lebih banyak, diantara hal yang menarik dari pembicaraan Muadz yaitu ketika dia bercerita tentang masa kecil Syaikh Doktor Abdul Aziz Fauzan Al Fauzan. Ketika itu, orang tuanya memiliki banyak kambing dan anak-anaknya mendapatkan tugas untuk menggembalakan kambing secara bergantian sepulang mereka dari sekolah.

Hari ini bagian Muhammad kakaknya, keesokan harinya giliran Abdul Aziz dan besoknya lagi giliran adiknya. Saat giliran adiknya bertugas untuk menggembalakan kambing maka adiknya datang kepada ibunya sambil menangis dan berkeberatan untuk menggembalakan kambing. Karena merasa kasihan kepada anaknya yang paling kecil maka si ibu menyuruh kakaknya yang paling besar yaitu Muhammad untuk menggembalakan kambing.

Kakaknya menolak dengan alasan bahwa dia sudah menjalankan kewajibannya 2 hari yang lalu. Maka si ibu menyuruh Abdul Aziz untuk menggembalakan kambing, Abdul Aziz menuruti permintaan ibunya dan tidak membantahnya. Keesokan harinya giliran kakaknya yang tertua bertugas menggembalakan kambing, maka kakaknya datang kepada ibunya sambil menangis pula berkeberatan untuk mengembalakan kambing. Si ibu menyuruh Abdul Aziz lagi untuk menggembalakan kambing. Abdul Aziz menjalankan perintah ibunya tanpa membantah sedikitpun. Akhirnya setiap hari Abdul Aziz menggembalakan kambing milik orang tuanya.

Syaikh Abdul Aziz merasakan banyak sekali kemudahan yang Allah berikan kepadanya dan beliau berpendapat diantara sebabnya adalah bakti seorang anak dan doa kedua orang tuanya.

Kisah yang diceritakan Muadz sangat berkesan dihati saya, cerita tersebut mengingatkan saya kepada ucapan Profesor Doktor Abdul Karim Bakkar dan Profesor Doktor Shalih Al Ayid dalam bukunya.

Profesor Doktor Abdul Karim Bakkar berkata:
“Sesungguhnya doa kedua orangtua untuk anak-anaknya ada dua macam, ada yang disebabkan rasa iba dan kasihan, hal ini dilakukan oleh kedua orang tua meskipun anak-anaknya kurang berbakti kepada mereka. Ada lagi doa dari orang tua diucapkan dari lubuk hati yang paling dalam, doa tersebut merupakan ungkapan rasa senang, puas, ridha dan kagum kepada perbuatan dan bakti anak mereka, doa yang seperti inilah yang lebih pantas untuk dikabulkan oleh Allah.”[1]

Profesor Doktor Shalih Al Ayid berkata:
“Sesungguhnya doa ibu tidak mungkin meleset, ibuku –semoga Allah merahmatinya- selalu ridha terhadap anak-anaknya dan sangat mencintai mereka, oleh karena itu ia selalu berdoa memohon kebaikan untuk mereka di setiap waktu, berdoa dengan hati yang bersih tanpa ada dendam dan kebencian, oleh karena itu saya melihat dalam segala urusanku adalah hasil dari doa beliau secara nyata dan tidak ada keraguan sedikitpun, berapa banyak pintu kebaikan terbuka untukku dengan tidak disangka-sangka dan berapa banyak tipudaya orang-orang yang hasad dan dengki menjadi runtuh karena karunia Allah disebabkan doa ibuku yang dikabulkanNya.”[2]

February 2, 2009
Fariq Gasim Anuz
______
[1] 50 Lilin Untuk Menerangi Jalan Hidup Kalian
[2] Dam’ah ‘ala Qabri Ummi