Dirbinmas Polda Banten Tinjau Tempat Persiapan Panen Raya 2

Dirbinmas Polda Banten Tinjau Tempat Persiapan Panen Raya dan Persiapan Kampung Tangguh Nusantara

Headline Banten Muhasabah

Dirbinmas Polda Banten Tinjau Tempat Persiapan Panen Raya 3mascipoldotcom – Minggu, 5 Juli 2020 (14 Dzulqoidah 1441)

Tangerang – Dirbinmas Polda Banten Kombes Pol Riki Yanuarfi melakukan peninjauan guna persiapan tempat panen raya dan persiapan launching Kampung Tangguh Nusantara oleh Kapolri dan Panglima TNI di Taman Mangrove Desa Ketapang Mauk Kabupaten Tangerang Provinsi Banten.

Dalam peninjauan tempat kegiatan panen raya dan persiapan launching Kampung Tangguh Nusantara tersebut di hadiri oleh Kombes Pol Hendi Handoko Kabag Binopsnal Koorbinmas, AKBP Andaryoso Kasubagbinopsnal Ditbinmas Polda Banten, Kompol Joko, AKP Teguh Kasat Binmas Polresta Tangerang Polda Banten, AKP Kresna Kapolsek Mauk, Camat Mauk, Team IT Baharkam Polri dan Bhabinkamtibmas Desa Mauk.

Dirbinmas Polda Banten Tinjau Tempat Persiapan Panen Raya 4Saat ditemui di lokasi, Dirbinmas Polda Banten Kombes Pol Riki Yanuarfi mengatakan, “Hari ini saya meninjau tempat persiapan untuk melaksanakan panen raya dan persiapan launching Kampung Tangguh Nusantara yang akan dilakukan oleh Bapak Kapolri bersama Bapak Panglima TNI nantinya di Taman Mangrove Desa Ketapang Mauk Kabupaten Tangerang Provinsi Banten,” katanya. Sabtu, (04/07/2020).

“Dimana pada bulan Februari lalu, Bapak Kapolri dan Panglima TNI menyebarkan bibit disini, dan sebentar lagi akan dilakukan panen raya. Sehingga saya kesini untuk melakukan peninjauan,” lanjut Riki Yanuarfi.

Terkait Kampung Tangguh Nusantara tersebut, Riki Yanuarfi menjelaskan bahwa Kampung Tangguh Nusantara ini merupakan sebuah pilot projects dalam menjalani kehidupan baru atau New Normal.

Dirbinmas Polda Banten Tinjau Tempat Persiapan Panen Raya“Kampung Tangguh Nusantara ini merupakan sebuah pilot projects, kedepannya dengan adanya Gugus Tugas Kabupaten Tangerang Provinsi Banten yang bersama-sama dengan TNI-Polri dan Instansi terkait dapat bersinergi dalam memberikan pembinaan yang ada kaitannya dengan bagaimana cara kita beradaptasi dengan Covid-19, untuk tetap menjalankan kehidupan kita Kedepan menjadi New Normal,” jelas Riki Yanuarfi.

Riki Yanuarfi menambahkan, “Secara garis besar New Normal bukan berarti normal tanpa adanya pandemi yang saat ini kita hadapi, akan tetapi bagaimana masyarakat bisa jalan ekonomi secara normal dengan beradaptasi di tengah wabah ini, dan menjadikan desa tersebut menjadi desa Tangguh Sosial Ekonomi, Tangguh Kesehatan Jasmani dan Rohani, Tangguh Keamanan dan terakhir Tangguh Informasi dan Kreativitas,” tambah Riki Yanuarfi.

Dirbinmas Polda Banten Tinjau Tempat Persiapan Panen Raya 1Riki Yanuarfi berharap dengan adanya Kampung Tangguh Nusantara ini masyarakat dapat mencegah penyebaran virus Corona.

“Saya berharap dengan adanya Kampung Tangguh Nusantara ini, ke depan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi Covid-19 ini dan juga dapat mencegah penyebaran covid-19 yang sudah sangat meresahkan kita semua,” harapnya.

Ditempat yang terpisah, Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Edy Sumardi juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung program pemerintah.

“Buat masyarakat di wilayah hukum Polda Banten, mari sama-sama kita dukung program pemerintah tentang Kampung Tangguh Nusantara, semoga dengan membentuk Kampung Tangguh Nusantara ini dapat mencegah penyebaran virus Corona di era New Normal ini,” ujar Kombes Pol Edy Sumardi.

“Dan saya juga menghimbau kepada masyarakat agar selalu menggunakan masker saat diluar rumah, rajin mencuci tangan dengan sabun atau Handsanitizer dan terapkan Physical Distancing yaitu selalu menjaga jarak. Semoga dengan apa yang kita lakukan ini dapat mencegah penyebaran virus Corona ini,” lanjut Kombes Pol Edy Sumardi. (Berto Purba/Bid Humas Polda Banten)

————

Renungan

BALASAN SERUPA DENGAN AMALAN[1]

Perlu kita tahu, bahwa balasan adalah sejenis dan setipe dengan amalan. Bila kita beramal shalih, maka balasannya pun juga setipe dengannya; yaitu kebaikan dunia, juga akhirat. Allâh berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [An-Nahl/ 16: 97]

Juga firman-Nya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.[Thaha/ 20: 124]

Allâh membalas amal shalih dengan kehidupan yang baik. Sedangkan orang yang berpaling dari mengingat-Nya, maka iapun mendapatkan kehidupan yang sempit. Ia akan merasa terhimpit sebesar ia berpaling dari-Nya. Meski ia bergelimang nikmat di dunia, namun hatinya terasa gersang, penuh siksa mendera. Karena itulah ia mencari jalan untuk meringankan derita batinnya.

Maka khamr pun menjadi pelariannya; narkoba menjadi pelampiasannya, atau nyanyian, dan sejenisnya. Ia tidak merasa nyaman dan tenang; tidak dengan hartanya, anak, atau keluarganya. Ini semua adalah siksa yang disegerakan di dunia. Bila ia tidak bertaubat, siksa akhirat yang lebih dahsyat pun menunggunya.

لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ ۖ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ

Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia, dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras, dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allâh. [Ar-Rad/13: 34]

Allâh berfirman:

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ ﴿١٣﴾ وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. [Al-Infithâr/82: 13-14]

Mengenai firman di atas, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: Janganlah engkau sangka, bahwa firman tersebut khusus untuk hari akhirat saja. Bahkan kaum Muttaqin berada dalam kenikmatan di tiga fase negeri kehidupan; yakni negeri dunia, di alam kubur, dan hari akhirat; sedangkan para pendosa berada dalam siksa di tiga negeri tersebut.

Maksiat memang menorehkan dampak dan pengaruh buruk. Di antara efek maksiat adalah bahwa itu menyebabkan berbagai kerusakan dalam banyak hal; termasuk merusak air, udara, tanaman, pemukiman dan lain sebagainya. Setiap kali manusia melakukan dosa, Allâh pun memberikan balasan kepada mereka.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh menimpakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Ar-Rum/ 30: 41]

Sekiranya Allâh menimpakan kepada mereka akibat dari semua dosa mereka, pastilah Allâh tidak akan menyisakan apapun di muka bumi ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Di antara efek dari maksiat adalah bahwa maksiat memperpendek umur dan menghilangkan keberakahan umur. Sebagaimana umur bisa bertambah dengan perbuatan kebaikan, iapun berkurang karena dosa. Beliau menyebutkan bahwa ulama berselisih tentang penafsirannya dalam dua pendapat:

1.Bahwa maksiat mengurangi umur dalam artian menghilangkan keberkahannya.

2.Artinya bahwa maksiat mengurangi jatah waktu umurnya. Sebagaimana usia bisa bertambah karena sebab tertentu, demikian pula ia berkurang karena sebab tertentu.

Efek dan pengaruh dari maksiat banyaklah ragamnya. Bisa menimpa alam sekitar, atau melayangnya banyak nyawa, atau terusirnya mereka dari negeri, juga munculnya penyakit yang membuat para ahli medis tak berdaya. Padahal tidaklah Allâh menurunkan penyakit, melainkan Dia pun menurunkan penawarnya. Akan tetapi ketika manusia membangkang terhadap Allâh, mereka pun tidak bisa mengetahui obatnya; sebagai siksaan terhadap mereka.

Dan di antara hukuman atas maksiat adalah bahwa mereka ditindas dan dihinakan oleh kaum lalim lagi sewenang-wenang. Berbagai tekanan melanda mereka; dan hidup mereka pun menjadi sengsara penuh hina; atau dengan terjadinya berbagai gejolak dan kekacauan, sehingga stabilitas dan keamanan pun hilang. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan Allâh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allâh; karena itu Allâh merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. [An-Nahl/ 16: 112]

Sungguh, betapa merebak dan menyeruak maksiat dan dosa dewasa ini. Di pasar-pasar, di perkantoran, bahkan di rumah. Berbagai hal yang wajib, ditinggalkan; yang haram, diterjang, kemungkaran pun merajalela. Banyak rumah yang lengang dari shalat. Padahal shalat adalah tiang penyangga Islam; yang membedakan antara kekufuran dan keimanan. Atau sebagian penghuni rumah melakukan shalat, namun yang lain tidak.

Yang shalat pun tidak mengingkari yang tidak shalat. Para kaum wanita bertabarruj; mengumbar perhiasan dan auratnya di luar rumah. Mereka berikhtilath bercampur baur dengan kaum lelaki; tanpa ada rasa malu. Ada pula yang bermudah-mudah, sehingga membiarkan lelaki asing bersama istrinya. Atau membiarkan keluarganya mengkonsumsi tontonan cabul, yang merusak akhlak dan mengundang perbuaan keji. Atau membiarkan keluarganya menikmati kaset-kaset nyanyian cabul, atau percintaan, dan yang semacamnya. Ini semua adalah hal yang memporak-porandakan akhlak, sekaligus mengundang kehinaan.

Bila kita layangkan pandang pada hal lain, kita dapati hal-hal yang memiriskan hati. Berbagai tindakan penipuan, makar, khianat, memakan riba, suap, perjudian, mengkhianati amanat; ini semua dan hal lain yang tidak bisa disebut satu-satu, semuanya begitu menjamur di tengah kita. Ini semua adalah peringatan akan datangnya bahaya, bila kaum Muslimin tidak tanggap dalam mengupayakan perbaikan-perbaikan.

Masing-masing melakukan perbaikan sesuai kapasitasnya dan kemampuannya. Bila tidak begitu, maka sekedar mendeteksi tindakan maksiat dan saling melempar cela atas hal tersebut, itu tidaklah bermanfaat apapun. Dan ketahuilah, bila siksa telah menimpa, maka itu akan menimpa semuanya; termasuk mereka yang tidak mencegah kemungkaran, meski mereka tidak melanggarnya.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ

Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. [Al-A’raf/ 7: 165]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] Disarikan dari Al-Khuthab al-Minbariyyah fi al-Munasabat al-Ashriyyah Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah hlm. 131.