Peran Direktorat Samapta Polda Sumut Ditengah Pandemi Covid 19 1

Dialog Interaktif : Peran Direktorat Samapta Polda Sumut Ditengah Pandemi Covid-19.

Headline Muhasabah Sumatera Utara

mascipoldotcom, Rabu, 28 Juli 2021 (18 Dzulhijjah 1442 H)

Medan – Secara garis besar Samapta di tubuh Polri merupakan satuan atau Direktorat kewilayahan yang memiliki fungsi pengendalian masyarakat (Kamtibmas).
Satuan yang berasal dari bahasa Sansekerta (Samapta = keadaan siap sedia/waspada) ini dibentuk di daerah, di bawah naungan Kepolisian Daerah (Polda).

Samapta diberi wewenang untuk melakukan patroli ke wilayah-wilayah yang potensial memicu tindakan kriminal. Hal ini sesuai dengan salah satu tugas pokok Samapta, yaitu meniadakan kesempatan atau peluang bagi masyarakat yang berniat melakukan pelanggaran hukum, dan bagaimana fungsinya pada masa pandemi Covid-19 ini, kata narasumber Kompol Adam Malik Lubis Kasubditgsum Dit Samapta Polda Sumut didampingi dari Humas Polda Sumut Penata TK I Jamaluddin S Sos Ps Kaur Mitra Subbid Penmas Bid Humas Polda Sumut saat Dialog Interaktif dengan RRI Medan.

Dialog Interaktif Halo Polisi Polda Sumatera Utara kali ini mengangkat Topik, ” Peran serta Direktorat Samapta Polda Sumut ditengah pandemi Covid-19.”

Dialog Interaktif yang dilaksanakan melalui Daring Telpon /By Phone bersama RRI Medan di Pro 1 Medan Channel 94,3 FM ini dipandu oleh Presenter Imelda Adnin, Rabu 28/07/2021 pukul 15.00-16.00 WIB.

Dalam Dialog Interaktif ini, baik Presenter maupun para pendengar melontarkan pertanyaan-pertanyaan ke narasumber, sekitar tentang kinerja Direktorat Samapta Polda Sumut ditengah Pandemi Covid-19.

Dalam rangka mempercepat penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi masyarakat, Direktorat Samapta Poldasu dibawah pengawasan Kabaharkam Polri dan Kapoldasu melaksanakan
patroli Rutin ditingkatkan, diantaranya patroli antisipasi gangguan Kamtibmas yaitu curat, curas dan curanmor (C3), patroli blue langht malam hari.
Dan juga patroli PPKM Darurat dan level IV Kota Medan yaitu melakukan Ops yustisi (razia Masker), pantauan terhadap pos penyekatan dan menyambangi para pedagang k5, warung makanan dan cafe-cafe yang masih menyiapkan makanan di tempat, juga melaksanakan patroli himbauan kepada masyarakat Kota Medan yang tidak patuh kepada Protokol Kesehatan, serta quick Respon (pelayanan prima) kepada masyarakat yang mengalami/mengetahui dan melaporkan segala bentuk kejadian dimasyarakat, laksanakan pembagian Sembako yang disalurkan secara langsung kepada masyarakat yang terdampak terhadap Covid-19, dan melaksanakan penyemprotan Disinfektan di tempat-tempat pemukiman warga dan area publik lainnya, kata Kompol Adam Malik secara lugas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

Acara Dialog Interaktif berjalan tertib dan lancar dengan mematuhi protokol Kesehatan (Prokes) secara ketat.(Ezl)

————-

Renungan

KEUTAMAAN MENGUCAPKAN SALAM KEPADA SETIAP MUSLIM YANG DIKENAL MAUPUN TIDAK DIKENAL

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الإِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ : تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma bahwa ada seorang yang bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Apakah (amal dalam) Islam yang paling baik? Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Yaitu) kamu memberi makan (orang yang membutuhkan) dan mengucapkan salam kepada orang (Muslim) yang kamu kenal maupun tidak kamu kenal”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan mengucapkan salam kepada setiap Muslim yang dikenal maupun tidak dikenal, karena ini termasuk amal kebaikan yang paling utama dalam Islam dan sebab besar untuk masuk Surga, dengan taufik dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلا تُؤْمِنُونَ حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلامَ بَيْنكُم

Kalian tidak akan masuk Surga sampai kalian beriman (dengan benar) dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai (karena Allâh Azza wa Jalla ). Maukah kalian aku tunjukkan suatu amal yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai ? Sebarkan salam di antara kamu”[2].

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat motivasi besar untuk mengucapkan dan menyebarkan salam kepada semua kaum Muslimin, yang kita kenal maupun tidak”[3].

Beberapa Mutiara Faidah Yang Dapat Kita Petik Dari Hadits Ini:

Makna yang terkandung dalam hadits ini adalah “Janganlah kamu mengkhususkan ucapan salam kepada orang tertentu karena kesombongan atau berpura-pura menampakkan kebaikan, tapi ucapkanlah salam dalam rangka mengagungkan syi’ar-syi’ar (lambang kemuliaan dan kebesaran) Islam dan mempertimbangkan persaudaraan sesama Muslim[4].

Mengkhususkan pengucapan salam hanya kepada orang yang dikenal adalah perbuatan buruk dan termasuk tanda-tanda datangnya hari Kiamat. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda hari Kiamat adalah jika salam diucapkan (hanya) kepada orang yang dikenal”. Dalam riwayat lain, “…seorang muslim mengucapkan salam kepada muslim lainnya, tidak lain karena dia mengenalnya”[5].

Mengucapkan salam kepada orang Muslim yang dikenal dan tidak dikenal menunjukkan keikhlasan karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, sikap merendahkan diri dan sekaligus menyebarkan salam yang merupakan syi’ar Islam[6].

Yang dimaksud dengan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak dikenal dalam hadits ini adalah khusus hanya bagi orang-orang Muslim, berdasarkan penjelasan dari hadits-hadits shahih lainnya[7].

Dalam hadits ini juga terdapat keutamaan besar memberi makan kepada orang yang membutuhkannya, terutama orang-orang miskin, dengan niat ikhlas karena mengharapkan wajah Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata-mata. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

Dan mereka (orang-orang yang bertakwa) selalu memberikan makanan yang mereka sukai kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (Dan mereka berkata): Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan wajah Allâh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” [Al-Insȃn/76:8-9]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] HSR. Al-Bukhâri, no. 12 dan 28 dan Muslim, no. 39
[2] HSR. Muslim, no. 54
[3] Kitab Syarhu Shahȋh Muslim, 2/36
[4] Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bȃri, 1/56
[5] HR Ahmad, 1/387 dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabȋr, 9/297. Hadits ini dihukumi shahih oleh Syaikh al-Albani karena beberapa jalurnya yang saling menguatkan, dalam ash-Shahȋhah, no. 648
[6] Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bȃri, 11/21
[7] Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bȃri (1/56) dan (11/21).