IMG 20200817 WA0113

Camat Cibarusah Terapkan Protokol Kesehatan Dalam Upacara HUT ke-75 RI

Headline DKI Jakarta Jawa Barat Muhasabah

IMG 20200817 WA0107mascipoldotcom, Senin, 17 Agustus 2020 (27 Dzulhijah 1441H)

Cibarusah – Pemerintah daerah kecamatan Cibarusah Kabupaten Bekasi hari ini Senin, 17/8/2020, pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai menyelenggarakan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 75 (HUT RI) di aula kecamatan Cibarusah.

Upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia ini dalam penyelenggaraannya sesuai dengan protokol kesehatan yang sudah di tentukan oleh Dinas Kesehatan RI.

Penyelenggaraan upacara hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lebih sederhana dan peserta yang hadir juga di batasi.

IMG 20200817 WA0108Camat Cibarusah Drs. Muhammad Kurnaefi MM bertindak sebagai inspektur upacara dan telah mengedepankan protokol kesehatan,

Dalam upacara terdapat pengibaran bendera merah putih yang diikuti oleh jajaran Aparatur Sipil Negara di lingkungan Kecamatan Cibarusah.

Upacara 17 Agustus juga untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, serta memupuk rasa nasionalisme dan menanamkan nilai sejarah kemerdekaan Republik Indonesia sesuai dengan moto “Indonesia Maju”.

IMG 20200817 WA0109Turut hadir dalam upacara 17 Agustus diantaranya Komandan Koramil 09 Cibarusah Kapten ARH. Joedi Narko beserta beberapa perwakilan anggota Koramil Cibarusah,

Kapolsek Cibarusah AKP. Sukarman dan beberapa anggotanya sebagai perwakilan dari Polsek Cibarusah

Dalam pantauan mascipol.com yang meliput langsung jalannya upacara juga tampak hadir para kepala desa sekecamatan Cibarusah serta unsur muspika lainya

Tampak hadir juga perwakilan masyarakat yang di wakilkan kepada beberapa tokohnya

IMG 20200817 WA0093Untuk memeriahkan upacara peringatan 17 Agustus dalam kondisi terbatas, Camat Cibarusah juga mengundang sebagai perwakilan para tokoh agama Kecamatan Cibarusah.

Tahun ini yang terpilih sebagai komandan upacara adalah dari Koramil 09 Cibarusah yaitu Serma Mucson, pembacaan Pancasila Serma Djoko Puswito dari Koramil 09 Cibarusah, pembacaan UUD 45 oleh Bripka Sidik Purnama anggota Polsek Cibarusah, sedangkan pembacaan teks Proklamasi oleh kepala desa Ridogalih bapak Komarudin.

Drs Muhammad Kurnaefi MM camat Cibarusah selaku inspektur upacara dalam pidatonya menyatakan bahwa “Kemerdekaan Republik Indonesia ini adalah anugerah dari Allah Ta’ala lewat jasa para pahlawan yang dengan darah, tenaga dan pikiran untuk berjuang melawan penjajahan”, tutur Drs Muhammad Kurnaefi MM

IMG 20200817 WA0105Masih ucap Camat Cibarusah “Bekasi punya pahlawan dari ulama yaitu KH Noerali, Cibarusah juga ikut andil dalam perjuangan lewat ulama yaitu Kiyai Ma’mun Nawawi dan juga para pahlawan lainnya”. ungkap Camat Cibarusah.

“Dengan usia kemerdekaan yang ke 75 tahun ini semoga Indonesia lebih maju, adil, makmur dan sejahtera”. harap Camat Cibarusah.

Sementara Komandan Koramil 09 Cibarusah Kapten ARH. Joedi Narko, sejalan dengan sambutan dan harapan Camat Cibarusah mengatakan”Semoga bertambahnya usia yang ke 75 tahun Indonesia semakin solid, tangguh, kokoh dalam menghadapi cobaan dan rintangan dan semoga semakin jaya serta kembali di perhitungkan oleh negara-negara lain”.

IMG 20200817 WA0094Selain Komandan Koramil mascipol.com juga meminta komentar dan pendapat Kapolsek Cibarusah AKP Sukarman,SH, memberikan komentar, “Dengan semangat seperti para pejuang terdahulu, kita optimis bahwa Indonesia akan lebih baik dan lebih maju, optimis bahwa kita akan mampu untuk keluar dari ujian pandemi covid-19 dan juga harus optimis Indonesia bisa menjadi negara yang besar”.

—————-

Renungan

Mentaati Perintah Dan Mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Oleh Ustadz Ahams Faiz Asifuddin

Petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk dan syari’at Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syari’at paling sempurna. Tidak boleh seorangpun mengesampingkan syari’at Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengedepankan syari’at orang lain manapun.

IMG 20200817 WA0096Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ: «صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ»، وَيَقُولُ: «بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ»، وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ، وَالْوُسْطَى، وَيَقُولُ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»…الحديث…رواه مسلم

Dari Jâbir bin Abdillâh Radhiyallahu anhu yang mengatakan, “Pernah Rasûlullân Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkhutbah kedua mata Beliau memerah, suaranya meninggi, dan kemarahannya mengeras, sampai keadaannya seakan-akan seperti komandan perang yang mengingatkan pasukannya seraya berkata, ‘Awas kalian akan diserang pagi-pagi, awas kalian akan diserang petang hari.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diutus sedangkan (jarak) antara aku dengan hari kiamat (adalah) laksana dua hal ini.’ (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengah). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ammâ ba’du: Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitâbullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, seburuk-buruk perkara adalah perkara yang di ada-adakan secara baru dalam urusan agama, dan setiap yang bid’ah adalah sesat”…al-hadîts.. [HR. Muslim[1]]

IMG 20200817 WA0095Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah menegaskan bahwa orang yang menganggap petunjuk selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau hukum selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia kafir.[2] Beliau t juga menegaskan, siapa saja yang berkeyakinan bahwa ada sekelompok orang di antara umat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak wajib mengikuti petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bebas untuk tidak terikat dengan syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seperti halnya Khadhir bebas dan tidak terikat dengan syari’at Musa Alaihissallam, maka ia kafir.[3]

Dengan demikian, wajib bagi setiap Muslim untuk taat dan patuh menjalankan setiap perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta patuh meninggalkan setiap larangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dalam banyak ayat al-Qurʹân, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman di antaranya:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ ﮉ

IMG 20200817 WA0097Katakanlah (Hai Muhammad): Taatilah Allâh dan RasulNya. Jika kamu berpaling, maka Allâh tidak menyukai orang-orang yang kafir. [Âli ‘Imrân/3:32]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ، فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ، وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ. رواه مسلم

Apa saja yang aku larang kamu darinya maka jauhilah, dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah semaksimal kamu mampu. Sesungguhnya yang menyebabkan orang-orang sebelum kamu binasa adalah banyaknya pertanyaan mereka dan penyelewengan mereka terhadap (ketetapan) para nabinya. [HR.Muslim[4]]

Jadi keimanan seseorang terikat pada ketaatannya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Al-Qurʹân menjelaskan  bahwa keimanan yang ada di dalam hati itu sendiri menuntut amaliah secara lahir. Seperti yang tersebut dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala [5]:

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ ﴿٤٧﴾ وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ ﴿٤٨﴾ وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ ﴿٤٩﴾ أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ ۚ بَلْ أُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿٥٠﴾ إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan mereka berkata : Kami telah beriman kepada Allâh dan RasulNya dan kami mentaati (keduanya). Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali bukanlah mereka itu orang-orang yang beriman. Dan jika mereka dipanggil kepada Allâh dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka  menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu menguntungkan bagi hak mereka, mereka datang kepada Rasûlullâh dengan patuh…sampai pada firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya)…: Sesungguhnya jawaban orang-orang Muʹmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [An-Nûr/24:47-50]”

Syaikhul Islam rahimahullah menjelaskan, bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyatakan tidak adanya keimanan pada diri orang yang berpaling dari ketaatan kepada Rasul. Allâh juga memberitakan bahwa orang-orang beriman bila dipanggil kepada Allâh dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, maka mereka mendengar dan taat. Maka Allâh menjelaskan bahwa yang demikian ini merupakan konsekuensi keimanan.[6]

Dengan demikian, orang yang beriman adalah orang yang taat kepada Allâh Azza wa Jalla . Sedangkan orang yang taat kepada Allâh adalah orang yang taat kepada RasulNya. Siapapun yang mengaku beriman tetapi tidak taat kepada Allâh dan RasulNya, maka sesungguhnya ia bukan orang yang beriman.

Nah untuk mengharapkan terwujudnya sikap patuh seperti ini setelah manusia menjadi dewasa padahal mereka tidak mengenyam pendidikan agama yang benar, maka akan jauh panggang dari api, akan teramat sulit, kecuali jika Allâh menganugerahkan rahmat kepadanya.

Jelas, dengan taufiq Allâh Azza wa Jalla , akan lebih mudah membentuk sikap patuh itu pada saat seseorang masih berusia dini. Untuk itu setiap orang tua, setiap pendidik dan siapapun yang memiliki atensi terhadap masalah pendidikan, hendaknya tidak melewatkan kesempatan emas ini. Waffaqanallâh wa iyyâkum.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahîh Muslim, Tarqîm wa Tartîb : Muhammad Fuad Abdul Bâqi, Dâr Ibni al-Jauzi, Kairo, hal. 192. Kitâb al-Jumu’ah, Bâb : 13 (Takhfîf assh-Shalâti wa al-Khuthbah), no. 43 (867).

[2] Mutûn Thâlib al-‘Ilmi, muhaqqaqah, jam’u wa tartîb: Dr. Abdul Muhsin Muhammad al-Qâsim, al-Mustawâ al-Awwal; Nawâqidh al-Islâm, nawâqidh keempat, hal. 26.

[3] Ibid nawâqidh kesembilan, hal.27

[4] Shahîh Muslim, op.cit. hal. 561. Kitâb al-Fadhâˈil, Bâb 37 (Tauqîruhu n ..dst..) no. 130 (1337).

[5] Bisa dilihat dalam Kitab Al-Îmân karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah , al-Maktab al-Islâmi, cet. III, 1399 H. hal. 208-209.

[6] Ibid.