Bripda Taufiq Hidayat 3

Bripda Taufik, Polisi Jujur Yang Tinggal di Kandang Sapi Yang Diviralkan Oleh Masyarakat

Headline Muhasabah Sosok Bhayangkara Yogyakarta

Kisah Haru Bripda Taufik Polisi Yang Tinggal di Kandang Sapi

mascipoldotcom  – Selasa, 23 Juni 2020 (2 Dzulqoidah 1441) 
Semua orang bisa menggapai cita – cita mereka menjadi polisi. Tidak peduli anak pejabat, anak PNS, anak petani, hingga anak buruh yang ingin mengabdi untuk negeri.  Sama halnya dengan polisi yang satu ini.Adalah Bripda Muhammad Taufik Hidayat, polisi muda yang baru lulus Sekolah Polisi Negara akhir tahun 2014 kemarin. Polisi muda yang kerap disapa Bripda Taufik ini berasal dari keluarga kurang mampu yang memiliki cita – cita mulia untuk mengabdi pada negara.Berprofesi sebagai polisi tidak membuat Bripda Taufik merasa gengsi dengan kehidupan aslinya. Bahkan, saat dirinya sudah masuk sebagai anggota Polri, dia dan keluarga masih tinggal di sebuah rumah yang merupakan bekas kandang sapi. Simak kisahnya lebih lanjut yuk!

1. Broken home

Bripda Taufiq HidayatBripda Taufik hidup dalam keluarga yang sederhana bersama orang tua serta ketiga adiknya. Begitu juga dengan rumah sederhana yang mereka tempati. Namun sayangnya, orang tua Bripda Taufik, Triyanto dan Martinem bercerai dua tahun yang lalu.

Kisah Haru Bripda Taufik, Polisi Yang Tinggal di Kandang Sapi

Dia kemudian memilih untuk tinggal bersama sang ayah beserta ketiga adiknya. Sementara sang ibu bersama dengan suami barunya. Ibu Bripda Taufik menjual rumah mereka dan ingin membeli rumah yang baru. Akan tetapi, uang tersebut tidak cukup membeli rumah baru.

Bripda Taufiq Hidayat 4Tak cukup untuk membeli rumah baru, Bripda Taufik bersama sang ayah serta ketiga adiknya mendapat sumbangan bangunan dari kelompok ternak di kampung mereka di Jongke Tengah, Sleman. Bangunan tersebut merupakan kandang sapi semi permanen yang kemudia dialihfungsikan menjadi tempat tinggal bagi keluarga Bripda Taufik.

Bangunan dengan dinding batako serta rongga besar yang hanya tertutup dengan kain. Tidak ada lemari untuk menyimpan baju. Begitu pula dengan kondisi kasur yang sudah tidak layak untuk digunakan. Ditambah lagi aroma kotoran sapi dari kandang sekitar rumahnya.

3. Tanpa sepengetahuan sang ayah

Bripda Taufiq Hidayat 2Sewaktu SMA, Bripda Taufik termasuk siswa yang aktif di dunia organisasi. Dia mengikuti organisasi pramuka dan dari situ pula dia termotivasi untuk menjadi seorang polisi. Dia juga bekerja sebagai staf perpustakaan sekolahnya, SMKN 1 Sayegan. Dan tanpa sepengetahuan ayahnya, Bripda Taufik membulatkan tekad mendaftar menjadi polri.

“Bapak tidak tahu kalau saya mendaftar di kepolisian, saat sidang kelulusan baru saya mengajak bapak saya,” cerita Bripda Taufik.

4.  Jalan kaki sejauh 5 km

Bripda Taufiq Hidayat 1Di hari pertamanya dinas, dia mendapatkan hukuman karena datang terlambat. Bukan karena bangun kesiangan melainkan dia harus jalan kaki sejauh 5 kilometer karena tidak punya kendaraan bermotor. Bripda Taufik datang terlambat apel yang seharusnya pukul 06.30 sementara dia baru sampai Polda DIY sekitar pukul 08.00.

Akan tetapi, atasannya tidak percaya jika dia harus jalan kaki. Mereka kemudian mengecek rumah Bripda Taufik. Dan dari sana lah terungkap bahwa rumah Bripda Taufik awalnya adalah bekas kandang sapi.

5. Gaji pertama untuk sang ayah

Bripda Taufiq Hidayat 5Mulanya, ayah Bripda Taufik tidak percaya anaknya bisa masuk dalam jejeran kepolisian Yogyakarta. Beliau bahkan meragukan apakah anaknya bisa diterima di kepolisian atau tidak. Beliau juga jika harus disuruh membayar sejumlah uang yang tidak sedikit untuk bisa diterima sementara beliau sendiri hanya pekerja serabutan.

Namun, Bripda Taufik telah mewujudkan bisa menggapai cita – citanya. Dia saat ini sudah bertugas di satuan Sabhara Polda DIY. Dengan hati yang begitu mulia, Bripda Taufik ingin memberikan gaji pertamanya nanti untuk sang ayah. https://www.boombastis.com/bripda-taufik/10791

———

Renungan

KEMULIAAN SEORANG HAMBA TERLETAK PADA IBADAHNYA KEPADA ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA

Oleh Syaikh Hudzaifi hafizhahullah

Sesungguhnya kemulian seorang hamba terletak pada ketaatannya menjalankan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ; Kekuatan seorang Muslim, terletak pada rasa tawakkalnya kepada Allâh Azza wa Jalla ; Rasa berkecukupannya, terletak pada keistiqamahannya berdoa memohon semua hajatnya kepada Allâh Azza wa Jalla ; Keselamatannya, terletak pada baiknya kwalitas shalat yang ditunaikan; Bagusnya kesudahan, terletak pada ketaqwaannya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ; Kelapangan dada atau kebahagiannya, terletak pada baktinya kepada orang tua, silaturrahmi, dan berbuat baik kepada makhluk.

Ketenangan hatinya, terletak pada dzikirnya kepada Allâh Azza wa Jalla yang Maha Pemberi Nikmat. Keteraturan dan keistiqâmahan mereka, terletak pada ketaatannya menjalankan syariat dan meninggalkan yang diharamkan, seraya menyerahkan semua perkara kepada Sang Pencipta yang Maha Mengatur, dan menyelesaikan perkerjaan tepat waktu, tidak menunda dan bermalasan.

Sebaliknya, kerugian serta kehinaan seorang hamba, terletak pada kecondongan dan kecintaannya kepada dunia, lupa terhadap kehidupan akhirat, serta berpaling dan tidak melaksanakan ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ﴿٧﴾ أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. [Yûnus/10:7-8].

Firman-Nya.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا ۚ إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang dosa.” [s-Sajadah/32:22].

Sungguh Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan banyak pelajaran pada kisah ummat-ummat terdahulu. Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberi mereka umur panjang, mengalirkan sungai-sungai buat mereka, memberi kemampuan sehingga bisa membangun istana; Mereka diberi kekuatan fisik, pendengaran, dan penglihatan. Allâh kokohkan mereka di muka bumi, dan memudahkan bagi mereka segala sebab, akan tetapi semua itu tidak bermanfaat bagi mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. [al-Ahqâf/46:26].

Ketahuilah, bahwa semua kebaikan terkumpul pada ibadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Ibadah yang sesuai dengan Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibarengi rasa ikhlas serta cinta kepada Allâh dan Rasul-Nya. Seseorang tidak akan mendapatkan ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala , tidak akan masuk surga, dan tidak akan bahagia di dunia dan setelah meninggalnya, kecuali dengan ibadah kepada Allâh. Dan untuk ibadah inilah, Allâh Azza wa Jalla menciptakan makhluk-Nya

Salah satu bentuk kasih sayang Allâh kepada hamba-Nya dan kedermawanan-Nya yang luas adalah Allâh Azza wa Jalla mensyariatkan berbagai ibadah kepada semua hamba yang sudah baligh dan berakal sehat agar mereka bisa mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengannya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan waktu-waktu yang pahala ibadah padanya berlipat ganda agar mereka memperbanyak kebaikan. Jikalau Allâh tidak menyampaikan, niscaya mereka tidak mengetahuinya. Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “…serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. [al-Baqarah/2:151]

Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk mendekatkan diri dengan ibadah. Saat sebagian mereka tidak mampu melakukannya, maka Allâh membukakan pintu-pintu ketaatan lainnya. Allâh syariatkan ibadah yang sejenis dengan ibadah yang tidak mampu mereka lakukan, agar setiap hamba mendapatkan kemulian ketaatan dan pahala ibadah-ibadahnya. Seperti, seseorang yang tidak berjumpa dengan kedua orang tuanya, maka Allâh mensyariatkan kepadanya untuk berdoa, bersedekah, dan juga berhaji atas nama mereka berdua, kemudian menyambung silaturahmi mereka, memuliakan kawan-kawan mereka. Dan barang siapa yang berjumpa dengan kedua orang tuanya kemudian mereka meninggal dunia, maka ia tetap wajib berbakti kepada keduanya.

Begitu pula, orang yang tidak mampu bersedekah maka hendaklah ia bekerja untuk kemaslahatan pribadinya kemudian bersedekah dengan hasilnya. Dari Sa’id bin Abi Burdah, dari bapaknya dan dari kakeknya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَجِدْ ؟ قَالَ : يَعْتَمِلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؟ قَالَ : يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ . قَالَ : قِيلَ لَهُ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ ؟ قَالَ : يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوِ الْخَيْرِ. قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ ؟ قَالَ : يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ

“Wajib bagi setiap muslim bersedekah,” kemudian dikatakan kepada beliau: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah ia bekerja dengan kedua tangannya untuk kemaslahatannya, kemudian ia bersedekah,” dikatakan lagi kepada beliau, “Kalau ia masih belum mampu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia bisa membantu orang yang membutuhkan.” Dikatakan lagi, “Bagaimana kalau masih belum mampu?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia bisa memerintahkan kepada yang ma’ruf atau kebaikan.” Ada yang berkata, “Bagaimana kalau ia tidak bisa melakukannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia menahan diri dari keburukan. Itu adalah sedekah”. [Riwayat Muslim].

Sedangkan untuk mereka yang belum mampu berhaji dan berumrah, mereka masih bisa meraih pahala kedua ibadah besar itu dengan ibadah yang lain. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ»، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «تَامَّةٍ، تَامَّةٍ، تَامَّةٍ

“Barangsiapa shalat Shubuh secara berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allâh sampai terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat, maka dia mendapat pahala seperti pahala haji dan umrah” Perawi mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sempurna, Sempurna, Sempurna!”

Juga bagi mereka yang belum mampu menunaikan ibadah haji, maka disyariatkan baginya puasa Arafah. Dalam hadits disebutkan bahwa puasa Arafah menghapus dosa, setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Disyariatkan juga baginya untuk berkurban, maka dengan ini ia telah menyamai jamaah haji di Arafah dan kurban. Allâh Azza wa Jalla juga mensyariatkan untuk taqarrub kepada-Nya dengan berbagai ibadah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu , beliau berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada hari yang lebih Allâh cintai amal shalih padanya selain amalan pada hari-hari ini,” maksudnya sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah. Perawi hadits ini mengatakan, ‘Para sahabat bertanya, ‘Tidak pula jihad, wahai Rasûlullâh?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak pula jihad fi sabilillâh, kecuali seorang laki-laki yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali dengannya sedikitpun.’ [HR. al-Bukhâri]

Pada hari-hari yang penuh keutamaan, diantaranya 10 hari pertama bulan Dzulhijjah nanti, dzikir merupakan amalan yang paling afdhal, dan ibadah yang paling mulia. Dulu, para salafush-shalih mengeraskan suara mereka untuk berdzikir kepada Allâh pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Begitulah Umar bin Khaththab dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma keluar ke pasar seraya bertakbir, kemudian para sahabat ikut bertakbir bersama mereka.

عن عبد الله بن بسر – رضي الله عنه – أنَّ رجلًا قَالَ: يَا رسولَ الله، إنَّ شَرَائِعَ الإسْلامِ قَدْ كَثُرَتْ عَليَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ قَالَ: لا يَزالُ لِسَانُكَ رَطبًا مِنْ ذِكْرِ الله

Dalam hadits Abdullah bin Yusr Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Ada seorang lelaki yang berkata, ‘Ya, Rasûlullâh! Sesungguhnya syariat Islam telah banyak, maka beritahukanlah kepadaku ibadah yang akan aku lakukan terus,” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allâh.” [HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan oleh al-Albani]
Adapun sebaik-baik dzikir ialah membaca al-Qur`ân al-Karim. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. [al-Ahzab/33:41-42].

Akhirnya, kita berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla , semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua untuk senantiasa beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla . Karena hanya dengan hidayah dan pertolongan dari-Nya kita bisa beribadah.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]