pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 41 1

Baksos DPD Sumenep Pembagian 150 Bungkus Nasi Dan Masker Kepada Tukang Becak Tukang Parkir Dan Kaum Duafa Lainnya

Headline Aksi Nyata Jawa Timur Muhasabah

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 1mascipoldotcom – Sabtu, 19 September 2020 (02 Safar 1442 H)

Sumenep – Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara dan Pengurus lainnya baik DPW dan DPD seluruh Indonesia dibawah kendali Koordinator Nasional dan Ketua Umum telah komitmen mendukung penuh Program Pemerintah ketahanan pangan Nasional yang dicanangkan langsung oleh Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P. dan Kapolri Jenderal Pol Drs. Idham Azis, M.Si.

Saat itu Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Pol Idham Azis meresmikan Program Kampung Tangguh Nusantara di objek wisata Aquaculture Mangrove Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (9/7/2020).

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengungkapkan bahwa “Acara yang bertajuk Masyarakat Produktif Wujudkan Ketahanan Pangan merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI Joko Widodo untuk meningkatkan sinergitas TNI-Polri sebagai penggerak dan pembantu ekonomi masyarakat di masa pandemi Covid-19”.

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 2Secara rutin minimal satu bulan sekali Program Pemerintah ketahanan pangan Nasional telah di laksanakan oleh pengurus Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara seluruh Indonesia, baik tingkat DPW atau Propinsi maupun tingkat DPD atau Tingkat Kota atau Kabupaten.

“Bakti Sosial pembagian paket sembako, nasi bungkus dan paket lainnya yang dilakukan oleh pengurus Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara baik tingkat DPP, DPW maupun tingkat DPD merupakan wujudkan dukungan ketahanan pangan yang merupakan tindak lanjut dari arahan Bapak Presiden RI Ir. Joko Widodo untuk meningkatkan sinergitas TNI-Polri sebagai penggerak dan pembantu ekonomi masyarakat di masa pandemi Covid-19”. ungkap Kornas Mascipol Indonesia Ustadz Abu Munzier Hafizdohulloh, Sabtu, 19/9/2020, pukul 21.30 WIB.

Program kerja Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara bukan hanya baksos pada masyarakat terdampak wabah covid-19 saja akan tetapi menjangkau sampai kedesa-desa khususnya pada korban bencana alam lainnya yang selalu bersinergi bersama TNI dan Polri yang merupakan bagian upaya inovasi mencegah meluasnya dampak dari wabah Covid-19.

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 3“Kami selalu bersinergi bersama TNI dan Polri serta Abdi Negara lainnya, memberikan imbauan agar masyarakat patuh dan taat dengan himbauan pemerintah dan penerapan protokol kesehatan, keamanan, dan sosial ekonomi secara ketat dalam kehidupan “new normal” yang telah ditetapkan oleh pemerintah, baik dilingkungan pengurus maupun di daerah bencana”. tutur Ustadz Abu Munzier selaku Kornas Mascipol Indonesia-Sahabat TNI Polri & Abdi Negara.

Masih menurut Kornas Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara, “Dalam pelaksanaan program kerja ketahanan pangan ini yang telah di wujudkan dengan bakti sosial pembagian paket sembako, paket daging dan beras minimal 5 Kg, paket nasi bungkus dan masker dengan melibatkan dan sinergitas bersama TNI dan Polri, kami juga bersinergi bersama perangkat desa setempat, baik Ketua RT maupun Ketua RW dan perangkat desa lainnya”. sambung Kornas.

Sesuai arahan Bapak Presiden Ir. Joko Widodo melalui Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jendreral Polisi Idam Azis, mengatakan bahwa kesediaan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu harus tetap terjaga.

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 4“Agar warga masyarakat khususnya kaum du’afa dilingkungan pengurus Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara seluruh Indonesia dan tetap dapat makan, maka minimal setiap bulan sekali kami anjurkan bagi para pengurus untuk menyambangi warga khususnya kaum duafa walau hanya dapat membantu minimal 5 Kg beras atau nasi bunkus”. sambung Ketum Komascipol-Kombat TNI Polri & Abdi Negara Bagus Sujoko.

Sebagai mana yang telah dilakukan pengurus DPD Sumenep telah melakukan pembagian 150 bungkus Nasi dan Masker kepada keluarga dhuafa sepanjang Jl. Pahlawan dan Jl. Diponegoro Sumebnep telah dilaksanakan pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak, tukang parkir dan pemulung

“Pada Hari Sabtu tanggal 19 September 2020 dimulai pukul 13.00 sampai dengan 15.00 WIB bertempat disepanjang Jl. Pahlawan dan Jl. Di ponegoro telah dilaksanakan pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak, tukang parkir dan pemulung”, Ketua Satgas percepatan pencegahan covid 19 Yakis bersama RSI Garam kab. Sumenep dr. Utomo, M.Kes. SP.KJ, Sabtu, 19/9/2020, pukul 21.30 WIB

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 5“Adapun petugas yang melaksanalan pembagian nasi bungkus dan masker kepada kaum duafa diantaranya Koordinator lapangan & sekretaris satgas Bapak Jhon Sony Karuiawan Margono, dibawah pengawasan Pembina Satgas dr. Budi herlambang, Wakil ketua satgas Ustadz Ali wafa, SH. M.Si, Divisi Sosial Bapak Heru Budi Santoso, M.Pd, Divisi Dakwah Ustadz Bismar, Tim Medis dr. Amin Kamaril”, sambung dr. Utomo, M.Kes. SP.KJ.

“Pelaksanaan dilapangan oleh Anggota satgas terdiri dari Bripka Andre Asmara dari Polres Sumenep dan dibantu oleh Bendahara satgas bapak Lutfi H, Bapak Budi, bapak Aldo, bapak Abdul majid, bapak Yusri dan bapak Alip, semua anggota satgas”. tutup Koordinator lapangan Bapak Jhon sony Karuniawan Margono.

————

Renungan
Keutamaan Menunjukkan Kebaikan

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ, فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 39Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” [HR. Muslim]

TAKHRIJ HADITS

Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dalam kitab al-imârah bab fadhlu I’ânat al-ghâzî fî sabîlillâh (bab keutamaan membantu orang yang berperang di jalan Allâh), no. 1893 dari jalur Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Abu Amr asy-Syaibani dari Abu Mas’ud al-Anshâri Radhiyallahu anhu ; ia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, ‘Sungguh, tungganganku telah binasa. Karena itu tolong berilah aku tumpangan (tunggangan).” Nabi menjawab, “Aku tidak punya.” Lalu ada seorang lelaki yang berkata, “Wahai Rasûlullâh! Aku bisa menunjukkan padanya orang yang bisa memberinya tumpangan (tunggangan).” Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda seperti yang tertera dalam hadits di atas.

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 40SYARAH LAFAZH

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ

Siapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan

Kata khair pada potongan hadits di atas adalah bentuk nakirah dalam redaksi kalimat bersyarat (kalimat majmuk bertingkat). Dalam tata bahasa arab, kata khair dalam kalimat seperti di atas bermakna umum, sehingga mencakup semua bentuk kebaikan, baik kebaikan duniawi maupun religi (terkait agama). Sehingga masuk dalam cakupan kata khair di atas yaitu ketika seseorang menunjukkan orang lain suatu perbuatan baik, termasuk pula memberi nasihat, wejangan, peringatan, menyusun buku tentang ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak 42Maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang melakukannya

Artinya orang yang menunjukkan kebaikan akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu sendiri. Semakin banyak orang yang melakukannya, maka semakin banyak pahala yang didapatkannya.

KANDUNGAN HADITS

Hadits ini berisi kandungan yang agung dan termasuk jawâmi’ al-kalim. Jawâmi’ al-kalim sendiri adalah istilah untuk ungkapan yang disampaikan dengan bahasa yang singkat, namun bermakna luas, padat dan berisi.

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang menunjukkan kepada orang lain suatu kebaikan atau suatu jalan hidayah, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya. Pengertian ini ada juga pada hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya, dan pahala orang yang melakukannya setelahnya; tanpa berkurang sesuatu apapun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelah dia, tanpa berkurang sesuatu pun dari dosa-dosa mereka.[HR. Muslim, no. 1017]

Ini juga mencakup dakwah dengan perkataan, seperti mengajar, memberikan wejangan, berfatwa dan mencakup pula dakwah dengan perbuatan, seperti dengan memberikan tauladan yang baik. Sebab orang yang menjadi panutan dan tauladan, bila mengerjakan atau meninggalkan sesuatu, akan diikuti orang banyak. Seolah-olah dengan perbuatannya ini, ia telah menyeru dan mendakwahi manusia untuk mengerjakan atau meninggalkan perbuatan tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allâh Azza wa Jalla :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar [Ali Imrân/3:110]

Para Ulama Salaf mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa predikat terbaik bisa diraih oleh umat ini, karena mereka adalah orang yang paling bermanfaat untuk orang lain. Ini terwujud dengan menunjukkan manusia pada perbuatan baik dan memperingatkan mereka dari perbuatan buruk.[1]

FAEDAH HADITS

pembagian nasi bungkus dan masker kepada tukang becak

Diantara faedah penting yang didapatkan dari hadits ini adalah:

1. Orang yang membimbing kepada kebaikan akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang dibimbingnya.

2. Membimbing orang menuju kebaikan adalah bentuk realisasi dari amar ma’ruf dan nahi munkar. Tentunya ini adalah sebuah bentuk partisipasi besar dalam memperbaiki masyarakat.

3. Anjuran kerja sama dalam kebaikan dan takwa, menyebarluaskan adab atau etika serta hukum Islam di antara individu masyarakat. Ini akan merealisasikan kehidupan yang bahagia dan penuh petunjuk ilahi bagi masyarakat.

4. Berdasarkan hadits ini dan dalil lainnya, para Ulama ahli Tahqiq ketika membicarakan masalah mengukur dan menimbang amalan yang paling utama, mereka menetapkan bahwa amalan-amalan yang manfaatnya bisa dirasakan orang lain (a’mâl muta’addiyah) lebih utama daripada amalan yang manfaatnya hanya untuk pelaku (a’mâl qâshirah) saja.

Contoh : Memberi pelayanan kepada kaum fakir, mengajarkan ilmu, menyibukkan diri dengan menyusun sebuah karya yang bermanfaat, memperhatikan kepentingan dan kemaslahatan serta memenuhi kebutuhan mereka, juga membantu mereka, baik dengan harta, dengan kedudukan ataupun dengan memberikan mediasi untuk kebaikan mereka.

Semua ini lebih utama karena amalan yang manfaatnya dirasakan orang lain akan mewujudkan manfaat yang merata dan memberikan pahala secara terus-menerus. Orang yang memberikan suatu kemanfaatan tidak akan terputus amal perbuatannya, selama kemanfaatan tersebut dinisbatkan kepadanya. Ini adalah tugas dari para nabi dan rasul, serta dai yang menyerukan agama ini dengan ikhlas yang meneladani mereka.[2]

5. Sudah sepantasnya bagi setiap Muslim, terutama para penuntut ilmu untuk giat dan bersemangat dalam menunjukkan kebaikan dan menyeru manusia kepada perkara yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan akhirat.

6. Hendaknya seorang Muslim tidak meremehkan apa yang ada pada dirinya; atau merasa pesimis untuk bisa mewujudkan kebaikan dan keistiqamahan pada audien (obyek dakwah)nya. Hendaknya ia memberi bimbingan kepada mereka sesuai kadar ilmu yang dimiliki. Sedangkan hidayah taufiq, itu ada di tangan-Nya Azza wa Jalla . Sehingga dengan itu ia bisa meraih pahala besar. Tugas ini menjadi semakin ditekankan pada diri seorang guru, imam masjid dan yang semacamnya yang mengemban amanah untuk menyampaikan risalah Allâh Azza wa Jalla kepada umat secara umum, terutama para pemuda dan remaja. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allâh, bila Allâh memberi petunjuk kepada satu orang melalui tanganmu, itu lebih baik bagimu daripada engkau mempunyai unta merah. [HR. al-Bukhâri, no. 3009, dan Muslim, no. 2406 dari hadits Sahl bin Sa’ad as-Sâ’idi Radhiyallahu anhu]

7. Perlu diperhatikan, bahwa ketika menekankan pentingnya amalan yang manfaatnya dirasakan orang lain, tidak berarti melupakan atau menyepelekan amalan yang sifatnya individualis yang manfaatnya kembali pada diri sendiri. Pemahaman seperti ini akan berakibat pada ketimpangan pemahaman dan amalan bagi sebagian pentuntut ilmu. Sehingga ia menyepelekan amalan ibadah yang sifatnya khusus, atau tidak memperhatikan hal-hal terkait istri dan anak-anaknya, dengan dalih ia sibuk berdakwah dan mengajarkan ilmu pada orang lain.

Sikap Terbaik pertengahan, itulah jalan yang benar, dan inilah jalan yang lurus. Perhatikanlah firman Allâh tentang ahli surga berikut:

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ

Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. [Adz-Dzâriyât/ 51: 16]

Ini bersifatnya umum dan menyeluruh, sehingga mereka berbuat baik kepada dirinya dengan beribadah kepada Rabb mereka dan berbuat baik kepada sesama hamba Allâh. Ini bisa diperhatikan dari lanjutan ayat tersebut:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ﴿١٧﴾ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴿١٨﴾ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (orang miskin yang tidak meminta-minta). [Adz-Dzâiyât/ 51: 17-19]

Dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menamakan ibadah dengan sebutan ihsân (berbuat baik), karena dimulai dengan ihsân (berbuat baik) terhadap diri sendiri yang Allâh Azza wa Jalla sebutkan dalam bentuk pujian dalam dua ayat (yaitu ayat 17 dan 18). Kemudian menyebutkan ihsân kepada orang lain dalam satu ayat.

Wallâhu a’lam.

Semoga bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

_______

Footnote
[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 2/77
[2] Madârij as-Sâlikîn, 1/87