IMG 20200824 WA0069

Baharkam Polri dan Ditjen Bea Cukai Jalin Kerja Sama Perkuat Sinergi dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi

DKI Jakarta Headline Muhasabah

IMG 20200824 WA0066mascipoldotcom, Senin, 24 Agustus 2020 (05 Muharam 1442 H)

Jakarta – Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan RI jalin kerja sama untuk memperkuat sinergi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing.

Pagi ini, Senin, 24 Agustus 2020, bertempat di Kantor Pusat Ditjen Bea Cukai Jakarta, Dirjen Bea Cukai, Heru Pambudi, dan Kabaharkam Polri, Komjen Pol Agus Andrianto (atas nama Kapolri) menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Peningkatan Sinergi Tugas Operasional dan Sumber Daya dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi.

Ruang lingkup PKS tersebut meliputi: pertukaran data dan/atau informasi; kegiatan patroli bersama; pelibatan dan pembinaan Satwa Polri (Unit K-9) dan Unit K-9 Ditjen Bea Cukai; latihan patroli bersama Korpolairud dengan Bea dan Cukai; dan bantuan pengerahan sarana patroli dan/atau personel dalam keadaan mendesak.

IMG 20200824 WA0067“Tujuan dari Perjanjian Kerja Sama ini adalah untuk meningkatkan komitmen, koordinasi, dan sinergi di antara PARA PIHAK sebagai bentuk tanggung jawab bersama untuk melaksanakan tugas dan fungsi serta pelaksanaan tindak lanjutnya sesuai ketentuan peraturan perundangan-undangan,” demikian bunyi Pasal 2 ayat (2) PKS tersebut yang menjabarkan tujuan kerja sama.

Kabaharkam Polri berharap sinergitas polisional melalui penandatanganan PKS ini mampu meningkatkan upaya Polri-DJBC menjadi lebih baik dalam penegakan hukum di darat, perairan, dan udara.

“Penegakan kukum yang telah dilakukan bersama juga merupakan upaya mencegah terjadinya kerugian negara dan/atau mencegah upaya pihak-pihak lain untuk mengambil keuntungan dari kondisi-kondisi pandemi saat ini,” kata Komjen Pol Agus Andrianto.

IMG 20200824 WA0068Ia mengungkapkan, Baharkam Polri melalui Korpolairud ke depan diharapkan mampu menjadi garda depan bersama dengan DJBC dalam menangkal setiap upaya pelanggaran hukum sekaligus memastikan kondisi keamanan yang kondusif sesuai tupoksi masing-masing.

Sekaligus mengingatkan kondisi pandemi, agar selalu waspada dalam menjaga kesehatan diri melalui social distancing, penggunaan masker, serta turut mengimbau setiap masyarakat agar selalu mengikuti prosedur kesehatan.

“Kiranya upaya melalui kebijakan strategis ini dapat memberikan kekuatan dan keyakinan kepada para pemangku di seluruh wilayah Indonesia,” harap Komjen Pol Agus Andrianto.

IMG 20200824 WA0070“Ada penurunan ekonomi di bangsa kita. Tugas kita menjamin perputaran uang di masyarakat dengan menjalin kerja sama untuk meningkatkan ekonomi dan menjaga ketahanan pangan di lingkungan masyarakat.

Semoga recovery ekonomi bisa berkembang dan belajar dengan berdiri sendiri serta mandiri, merapatkan barisan di setiap sektor dalam percepatan penanganan COVID-19,” tambahnya.

Dalam sambutannya, Dirjen Bea Cukai membenarkan perlunya kolaborasi untuk menangkal penyelundupan yang menyebabkan kerugian negara. Menurutnya, penyelundup yang bekerja dengan membentuk sindikat-sindikat harus di-counter dengan penegak hukum yang membentuk kolaborasi-kolaborasi.

IMG 20200824 WA0072“Penyelundup sangat kolaboratif karena tidak mengenal background dan bangsa, yang mereka pikirkan adalah cara menyelundupkan suatu barang ke dalam negera. Apresiasi atas penangkapan yang banyak dilakukan oleh Polri dan Bea Cukai, karena itu adalah ukuran komitmen dan kekuatan yang sudah kita lakukan,” ungkap Heru Pambudi.

“Perlunya satu pemikiran dalam menjaga keamanan dalam negeri pada situasi pandemi COVID-19 seperti ini,” tegasnya. (Abink)

———

Renungan

Bekerja Sama Dalam Perkara Yang Disepakati Saling Memperingatkan Dalam Perkara Yang Diperselisihkan

Oleh Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Bazz

IMG 20200824 WA0071Berkata Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Bazz –rahimahullahu- di dalam Majmu’ Fatawa III/58-59 mengomentari kaidah ‘saling bekerjasama dalam perkara yang disepakati dan saling memaklumi terhadap perkara
yang diperselisihkan sebagai berikut :

“Na’am, wajib atas kita saling menolong terhadap perkara-perkara yang kita bersepakat di atasnya dalam rangka membela kebenaran dan berdakwah kepada al-Haq, dan mentahdzir dari perkara-perkara yang Allah dan Rasul-Nya melarangnya.

Adapun saling memaklumi terhadap perkara yang kita perselisihkan antara satu dengan lainnya, maka tidaklah (dimaklumi) secara mutlak, namun memerlukan perincian, seperti pada perkara-perkara ijtihadi yang tersembunyi (samar) dalilnya, maka tidak boleh mengingkari antara satu dengan lainnya (dalam perkara ijtihadi ini, pent).

Adapun perkara yang menyelisihi nash al-Kitab dan as-Sunnah, maka wajib mengingkari orang yang mengingkari nash tersebut dengan cara yang hikmah, nasehat yang baik dan berdebat dengan cara yang baik, sebagai pengejawantahan firman Allah Ta’ala :

“Artinya : Saling tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam permusuhan dan dosa.”[Al-Maidah : 2]

dan Firman-Nya subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, adalah penolong satu dengan lainnya, dan beramar ma’ruf nahi munkar.” [At-Taubah : 7]

Dan firman-Nya Azza wa jalla.

“Artinya : Serulah mereka ke jalan tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang baik.” [An-Nahl : 125]

Dan sabda Nabi-Nya.

“Artinya : Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka hendaklah dengan hatinya, dan inilah selemah-lemah iman.”

Dan sabdanya pula.

“Artinya : Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka baginya balasan yang serupa dengan pelakunya”.

Kedua hadits ini dikeluarkan oleh Muslim dalam shahihnya. Ayat-ayat dan hadits-hadits tentang perkara ini adalah banyak.”

[Majmu’ Fatawa III/58-59

Oleh Syaikh al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin

Berkata Syaikh al-Allamah Faqihuz zaman Muhammad bin Sholih al-Utsaimin –rahimahullahu- dalam ash-Showah Islamiyyah Dhowabith wa Taujiihat (I/218-219) yang dikumpulkan oleh Syaikh Ali Abu Luzz sebagai berikut :

“Ucapan mereka, ‘kita bersatu dalam perkara yang disepakati’ maka ucapan ini adalah ucapan yang benar. Adapun ucapan (setelahnya -pent), ‘dan kita saling memaklumi terhadap perkara-perkara yang kita perselisihkan’, maka ucapan ini memerlukan perincian.

Jika (perselisihan ini -pent) terjadi pada perkara yang memang dibolehkan ijtihad di dalamnya (bersifat ijtihadi -pent) maka kita saling memaklumi antara satu dengan lainnya dan kita tidak boleh saling berselisih hati (membenci -pent) terhadap perselisihan macam ini.

Adapun dalam perkara yang tidak diperbolehkan ijtihad di dalamnya, maka kita tidak saling memaklumi terhadap perselisihan macam ini di dalamnya, dan wajib bagi kita tunduk kepada kebenaran.

Pernyataan yang pertama (saling bekerjasama dalam perkara yang disepakati -pent) adalah ungkapan yang benar, adapun pernyataan yang kedua (saling memakumi terhadap perkara yang diperselisihkan -pent) adalah memerlukan perincian (sebagaimana di atas -pent).

[Ash-Showah Islamiyyah Dhowabith wa Taujiihat (I/218-219) yang dikumpulkan oleh Syaikh Ali Abu Luzz]

[Dialih bahasakan oleh Abu Salma dari kitab Zajrul Mutahaawin bidharari qooidah al-Ma’dzurah wat Ta’awun karya asy-Syaikh Hamd bin Ibrahim al-Utsman hal 128-129]